Saya sempat tercengang saat menghadapi fakta bahwa “alpukat”, kata yang sehari-hari saya (dan insya Allah orang  awam lain) pahami sebagai pohon yang menghasilkan buah berkulit hijau itu, ternyata tidak ada dalam kamus.

Kata yang mirip alpukat dan ada di dalam kamus adalah “alpukah”. Saya sempat mengira bahwa alpukah adalah alpukat, atau setidaknya masih saudaraan sama alpukat karena perbedaan keduanya hanya di huruf akhirnya saja. Akan tetapi, saat membaca artinya, ia ternyata tidak mewakili tanaman, buah-buahan apalagi sayuran. Saya tercengang dengan kebodohan saya, dan takjub dengan kecanggihan kamus itu.       

Tetapi kemudian saya senyam-senyum saat memikirkan sebuah kalimat yang, amat saya yakini, belum pernah ditulis di mana pun, “Dia gagal karena seumur hidupnya tidak mempunyai alpukah.”

Orang yang terbiasa dengan transliterasi bunyi kalimat Arab akan tertipu habis-habisan. Ia akan beranggapan bahwa alpukah pada kalimat tersebut adalah alpukat yang ta’ marbutoh-nya dibaca sukun sebab diwakafkan, sebagaimana “jannatun” yang di KBBI ditulis janah (sorga). Kalau ia lugu sekaligus malas, ia akan menerima begitu saja bahwa untuk berhasil ia harus memiliki alpukat. Padahal alpukah, seturut KBBI, adalah kemauan untuk berbuat; daya upaya; inisiatif. 

Berbahasa, terutama bagi para penganjur syari’at bahasa, tak ubahnya memasuki ruangan yang memiliki dua kamar. Kamar pertama; berbahasa dengan menggunakan ragam baku. Kamar kedua, berbahasa dengan memakai ragam tidak baku. Pemisah keduanya jelas, yakni kamus. Implikasi dari jelasnya sekat ini pun tidak remang-remang. Bahwa penggunaan ragam baku menunjukan kualitas intelektual, pendidikan, dan prestise seseorang. Sebaliknya, pemakaian ragam tidak baku adalah indikasi tunaintelektual.

Lantas apa arti “baku”? Masih seturut KBBI, baku (yang relevan dengan permasalahan ini) mempunyai arti; 1. Pokok; utama. KKBI memberi contoh; nasi adalah makanan pokok/utama bagi rakyat Indonesia. 2. Tolok ukur yang berlaku untuk kualitas atau kuantitas yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan; standar. Contoh; Baku emas berarti penilaian berdasarkan nilai harga emas.

Kata alpukat tidak ada dalam kamus. Oleh karena itu, alpukat adalah kata yang tidak baku. Melihat arti baku dalam KBBI di atas, perkara ini menghasilkan dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama, alpukat bukan kata pokok, utama, dan bagus bagi orang Indonesia. Artinya, bagi orang Indonesia, kata alpukat ini adalah kata kelas bawah, berkasta rendah, dan jelata. Kemungkinan kedua, alpukat adalah kata yang tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan orang Indonesia. Itu berarti alpukat adalah sejenis lema asing bagi orang Indonesia yang jika Anda datang ke kafe kemudian memesan jus alpukat, si pelayan akan kebingungan dan bertanya kepada Anda apa definisi alpukat.

Yang baku, yang bagus, dan yang benar untuk simbol buah berkulit hijau, dagingnya tebal lunak berwarna kuning kehijau-hijauan dan rasanya lezat itu adalah AVOKAD. Buah avokad, begitu seharusnya Anda bilang karena demikianlah menurut KBBI. Kenapa avokad, karena kata itu diserap dari bahasa Inggris; avocado, dan yang mendekati bahasa aslinya setelah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia adalah avokad. Canggih benar!

Apakah avokad ini tanaman asli Inggris atau negara yang berbahasa Inggris? Bukan. Buah ini berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah (seperti Guatemala, Honduras, Kosta Rika, dsb). Apakah buah ini dibawa ke Indonesia oleh orang Inggris? Juga bukan. Buah ini diperkenalkan ke Indonesia oleh orang Belanda pada abad ke 19. Terus hubungane karo Inggris opo, Ndul ?! Yo, embuh.

Tapi kita boleh berasumsi bahwa kata avokad bisa jadi dipetik dari langit, tepatnya langit Inggris, lalu dengan pertimbangan yang hanya bisa dipahami oleh para kampiun bahasa, diletakkanlah kata itu ke KBBI.

Oleh karena itu, jangan pernah berkhayal bahwa kamus adalah kumpulan kata dan penjelasan maknanya, yang disusun dengan bersumber pada penuturnya. Jangan pula memimpikan kamus yang sekedar memuat kata menurut abjad tanpa menjadi hakim. Terimalah apa adanya, bahwa kamus berfungsi untuk menentukan nilai sebuah kata. Bahwa cengkeh, sebagaimana alpukat, adalah kata yang tidak baik dan tidak benar. Begitu juga kata hembus, hisap, himpit, hadang, kempes, dan tentu saja ostrali, itu semua tidak baik dan tidak benar.

Sejuta orang bisa mengucapkan kata-kata itu setiap hari, sejuta orang bisa juga menuliskannya setiap menit, tapi sekali tidak baik, tetap tidak baik, sekali salah, tetap salah, dan karena itu amit-amit jabang bayi kalau kata-kata kotor itu dimasukkan ke KBBI. Populer belum tentu baik dan benar, bukan?

Lalu siapa yang menentukan suatu kata bernilai baik dan benar? Siapa yang menentukan kata embus yang jarang digunakan dimasukan ke KBBI, sementara “hembus” yang lebih populer tidak dimasukan? Atau jelas-jelas yang dipakai itu “hadang”, kenapa yang dimasukan ke KBBI “adang”, siapa yang menentukan?

Yang menentukan itu jelaslah bukan orang kebanyakan yang setiap hari membanting pikiran untuk memikirkan cara bayar kontrakan tiap bulan. Orang-orang bodoh ini jelas tidak punya waktu untuk memikirkan bahasa. Jadi, masalah kata yang baik dan benar itu cukuplah ditangani secuuil cerdik pandai yang sepenuh hidupnya diabdikan untuk bahasa. Demokrasi sudah punya bilik sendiri. Biarlah dalam urusan bahasa ini diberlakukan sistem aristokrasi. 

Kaum aristokrat bahasa itu tentulah bukan para penulis mojok.co yang sudah melampaui syariat berbahasa. Bukan pula serupa wartawan dan tuan redaktur koran Lampu Merah yang menulis judul berita, “Ketika Alay Putus Cinta. 3x Bunuh Diri, Nggak Mati-Mati: Nabrakin Diri ke Mobil, Ditarik Orang; Mau Loncat Dari Jembatan, Ketauan; Loncat Ke Sungai, Eh Dalemnya 1 Meter. PADAHAL PACARNYA COWOK JUGA.” Keduanya terlalu revolusioner dan karena itu  berpotensi merusak bahasa Indonesia.

Adapun para aristokrat itu, melihat besarnya tanggung jawab yang dibebankan pada mereka, sudah barang tentu adalah para malaikat—ini menurut lamunan saya, ya, namanya juga melamun.

Satu hal yang pasti, jika dulu kita sering mendapat pesan agar “berbahasalah dengan baik dan benar”, kini hal tersebut justru terancam punah dengan lahirnya sebuah kredo baru yang diam-diam, baik secara sadar atau tidak, telah disepakati umat manusia seluruh alam semesta, termasuk Anda sendiri. Apa itu?

BACA JUGA:  [MOVI EPS 6] Mudik Lebaran dan Tragedi-Tragedi di Dalamnya

“Berbahasalah dengan jenaka sesuai kaidah ketatabahasaan Mojok.”

No more articles