Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Razia Buku Kiri adalah Candu

Is Harjatno oleh Is Harjatno
8 Agustus 2019
A A
buku kiri
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Buku kiri selalu kena razia. Bahkan, buku-buku yang berisikan kritik terhadap pemikiran kiri. Lama-lama razia buku kiri memang jadi candu.

Jika ada penghargaan untuk bangsa yang paling istikamah untuk tidak mau belajar dari sejarah, maka bangsa ini mungkin salah satu kandidat terkuatnya.

Iklan

Seperti ada semacam obsesi untuk mengulangi kekeliruan memersepsi, bersikap, dan berperilaku untuk membuktikan betapa konsistennya karakter yang dimiliki. Contoh paling aktualnya adalah razia buku-buku yang terindikasi bersinggungan dengan paham kiri.

Modusnya selalu sama: mengendus apakah ada lapak yang berjualan buku-buku kiri atau ada acara yang memuat diskusi wacana-wacana kiri, kemudian gerebek (tentu saja tanpa tabayun apalagi beradu argumentasi pemikiran secara adil), lalu ditutup dengan agenda berdamai ala Giant-nya Doraemon. “Kita damai ya? Awas kalau nggak mau damai!”

Semua karya yang memuat judul dan nama yang berbau kiri wajib dirazia. Bahkan, termasuk buku-buku yang berisikan kritik terhadap pemikiran kiri yang ditulis oleh tokoh-tokoh anti-kiri sekalipun!

Tentu saja kurang afdol jika belum dilengkapi dengan narasi-narasi soal betapa para pelaku razia buku adalah representasi dari umat terzalimi, lalu merengek betapa negara sudah abai, serta betapa bangsa ini dalam bahaya komunisme.

Dasarnya, apalagi jika bukan pemahaman serampangan bahwa pemikiran Marxisme plus segala keturunannya, termasuk komunisme, mengusung pemikiran ateisme dan anti-agama. Pemikiran kayak gitu berasal dari kalimat terkenal dari Karl Marx.

Dari salah satu karyanya “A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right”, yakni kalimat “Agama adalah Candu Masyarakat (Die Religion ist das Opium des Volkes)”, yang dikutip sepenggal-sepenggal dan kemudian ditafsirkan secara ngawur, semena-mena, dan fatal.

Padahal, kalimat tersebut maupun keseluruhan karya tersebut sebenarnya lebih sebagai kritik atas penyalahgunaan secara terorganisir dan manipulatif atas praktik keberagamaan. Jauh dari tuduhan bahwa kalimat tersebut menganjurkan orang untuk menjadi ateis.

Tentu saja sebagai kader umat militan yang baik, berpikir jernih dan tabayun bukanlah opsi bagi para pecandu razia buku yang mentalitasnya selalu memandang bahwa medan kehidupannya senantiasa terancam oleh segala apapun yang berbeda dengan dirinya ini.

Orang-orang ini adalah semacam antitesis dari apa yang dijeritkan Descartes, “Aku tidak berpikir, maka aku ada,” plus, “aku merasa terancam, ngamukan, dan doyan merazia, maka aku ada,” dan tentu saja tak lupa, “razia buku kiri itu candu.”

Ditambahi lagi dengan asosiasi yang tak kalah serampangannya bahwa Marxisme pastilah PKI, dan oleh karenanya maka harus senantiasa dibasmi. Demikian pula dengan aksi massa pemberangusan massal sepanjang sisa 1965 dan berlanjut hingga era 1970-1980-an terhadap orang-orang yang dianggap anggota dan simpatisan PKI beserta keluarga dan kerabatnya.

Padahal, belum tentu juga mereka-mereka itu tahu menahu dengan apa yang terjadi di Jakarta pada dini hari terkutuk itu, apalagi terlibat. Bahkan, belum tentu juga mereka itu benar-benar anggota atau simpatisan atau konstituen PKI.

Bodo amat dengan berbagai studi yang menemukan bahwa tak sedikit dari yang terpersekusi dan terbantai pasca tragedi Lubang Buaya itu tidak memiliki afiliasi langsung dengan PKI. Pokoknya, asal dituduh sebagai PKI, maka baginya layak dihabisi.

Iklan

Karena apa? Ya, karena premis awal itu tadi: 1) PKI itu komunis, dan komunis itu ateis dan keji, dan 3) Oleh karenanya layak dan wajib diberangus. “I can kill cause in God I trust!” teriak Eddie Vedder menyindir, “It’s evolution, Baby!”

Ini sebenarnya lucu, mempersepsikan secara sempit dan semena-mena bahwa Marxisme adalah PKI, dan semua PKI adalah ateis yang biadab dan berbahaya serta wajib diberangus. Akan tetapi, di saat yang sama menolak keras ketika agamanya diasosiasikan dengan berbagai perilaku segelintir umat yang bertolakbelakang dengan ajarannya sendiri.

Kalau kelompok lain berbuat kesalahan, itu memang karakter dan faham kelompok tersebut memang keji dan jahat. Tetapi, jika dari kelompok sendiri ada yang berbuat jahat, maka itu adalah kekhilafan dengan embel-embel “oknum” semata. Lalu buru-buru bikin klarifikasi, “mereka bukan bagian dari kami.”

Tapi, ya itu tadi. Jika berpikir jernih saja pun bukanlah opsi, maka apalagi berpikir adil. Lupakan jargon “Adil Sejak dalam Pikiran”-nya Pramoedya Ananta Toer itu, karena alih-alih itu, bahkan ajaran agama yang bertutur, “Janganlah ketidaksukaanmu terhadap suatu kaum sampai menghalangimu berbuat adil,” saja tak sudi diamalkan.

Setelah razia buku hari ini dan besok, lalu apa? Bahkan, andaikata seluruh buku Kiri di seluruh dunia ini sudah tuntas kamu razia, lalu apa? Kamu dapat apa? Apakah dengan begitu lantas kamu terlihat pintar dan bijaksana?

Apakah lantas orang-orang yang bukunya kamu berangus itu akan jadi terkagum-kagum lantas terpanggil hatinya untuk bergabung dengan kelompokmu? Apakah lantas pemikiran Kiri akan  musnah? Apakah dengan begitu lantas nama baik kelompokmu akan menjadi harum dan mulia ke seantero dunia sebagai kelompok yang penuh kasih sayang dan kedamaian? Apa, Gonzalo, apa?

Nyatanya, sejauh ini kan tidak begitu yang terjadi. Yang ada adalah semakin ditekan, justru pemikiran-pemikiran Kiri menjadi semakin tersebar.

Karena apa? Karena semangat awal pemikiran Kiri itu lahir atas dasar keprihatinan dan perlawanan atas penindasan. Melawan pemikiran Kiri dengan razia buku ya sama aja kayak mencoba memadamkan kebakaran dengan cara menyiram bensin.

Ah, saya lupa. Saya kan lagi bicara soal bangsa yang istikamah yang terus mengulang kekeliruan cara berpikir dan bertindak. Wah, ya maaf, jadi saya yang salah karena menegur kesalahan berpikir yang sudah istikamah.

Jika Karl Marx dianggap pernah berujar agama itu candu, maka saat ini aktivitas razia buku kiri jauh lebih candu. Lalu kamu sambat mereka mau diajak berpikir gimana lagi? Ya sulit. Lha sudah kecanduan.

Terakhir diperbarui pada 8 Agustus 2019 oleh

Tags: buku kirikomunismeMarxismeraziarazia buku kiri
Is Harjatno

Is Harjatno

Artikel Terkait

Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung MOJOK.CO
Esai

Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung

17 Juni 2026
Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO
Esai

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026
Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika MOJOK.CO
Esai

Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika

11 Maret 2026
bti, petani, tani.MOJOK.CO
Ragam

Rumus “3S-4J-4H” Wajib Dijalankan Pemerintah Kalau Mau Petani di Indonesia Maju

28 Januari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Angkringan di Stasiun Lempuyangan Jogja jadi tempat meleram kegelisahan MOJOK.CO

Angkringan Lempuyangan Jogja Berisi Rindu, Kegagalan, dan Beban Finansial Para Pejuang Perantauan

22 Juni 2026
Gen Z Habiskan Gaji untuk Konser K-Pop. MOJOK.CO

Gen Z Habiskan Gaji demi Konser K-Pop: “Balas Dendam” Terbaik untuk Penuhi Inner Child

25 Juni 2026
Jupiter Z1 Adalah Motor Yamaha Terbaik Idola Orang Jambi MOJOK.CO

Setelah Melakukan Pengamatan, Saya Menemukan Fakta Bahwa Jupiter Z1 Adalah Motor Yamaha yang Menemukan Habitat Alaminya di Jambi

25 Juni 2026
Bisa kuliah di ITB berkat beasiswa ojol. MOJOK.CO

Menangis di Hadapan Bapak yang Sehari-hari Ngojol agar Diizinkan Kuliah di ITB, Gadis Malah Dapat Beasiswa dari Pekerjaan Sang Ayah

24 Juni 2026
Ragam karya dan pertunjukan dalam Ars Longa: Generatio sebagai pembuka Trilogi Seni ARTJOG MOJOK.CO

Ragam Karya dan Pertunjukan dalam “Ars Longa: Generatio” sebagai Pembuka Trilogi Seni ARTJOG

24 Juni 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO

Punya WiFi di Rumah Desa Bikin Bocil Tetangga Jadi Kurang Ajar dan Hilang Adab, Saya yang Bayar Tagihan Cuma Dapat Emosinya

25 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.