Setabah-tabahnya Hujan Bulan Juni, Masih Lebih Tabah Pelayan Toko

MOJOK.COJadi pelayan toko itu berat dan bikin frustrasi.

Sebab saya percaya surga ada di bawah telapak kaki ibu, maka ketika Mama nggremeng, “Kamu bantu Mama di toko dulu sementara ini, jangan ke mana-mana,” saya tak kuasa menolak meski tawaran kerja di Ibu Kota kian menggiurkan. Jadilah saya sang anak toko, mendampingi orangtua mengelola bisnis yang usianya lebih tua dari saya. Nama toko kami “Kak Latip”, diambil dari nama Mama, Latifah.

Pada akhirnya, mendekam di toko ini nggak cuma memberi saya ruang buat belajar bisnis, tapi juga belajar bersabar karena pembeli kami banyak nggak wajarnya, bosqu~ Ketidakwajaran ini membuat saya tergoda untuk menempel banner “DI TOKO KAMI, PEMBELI BUKAN RAJA”, soalnya mereka benar-benar menjadikan dirinya raja.

Mau tahu, tipe pembeli di toko kelontong kami? Kencangkan sabuk pengaman, syapa tahu kamu satu di antaranya, khukhukhu.


Tipe Pertama, tipe barbar. Pembeli tipe ini suka seenak bodongnya sendiri. Mereka tahu kami sedang pusing melayani pembeli lain yang datang lebih dulu, tapi mereka tetap naik ke toko kami dan langsung ngedumel, “Kak, beli gas 3 kilo ya, Kak. Kak? Gas satu! Kak? Gas satu, ini uangnya. ‘Lapan belas setengah, tho? Kembali seribu lima ratus, ya. Ini kosongannya saya taruh sini ya, Kak. Kak?”

Mana mungkin saya mendengarmu, wahai Ukhti, sementara di depan saya para bocah berteriak kesetanan sambil mengayun-ayunkan selembar dua ribuan hasil merengek kepada ibunya, “Kak Laatiiip? Beli es susu, Kaaak. Es susu satu sama makaroni satu. Sama pilus yang cokelat itu. Ini uangnya, Kaaak!”

Duh, Gusti.

Kalau masih bisa bersabar, kami hanya menegur, “Iya sebentar, ya,” seadanya. Tapi… kalau level ketegangan sudah menyentuh langit ketujuh, kami tak segan membentak. Seringnya sih ke anak-anak kecil yang bawel ini, “Oi, oi, oi! Diem! Kalau nggak diem nggak dijuali. Habis. Cari tempat lain!” Baru deh pada kicep.

Yang paling membuat ingin lari ke hutan lalu belok ke pantai adalah kalau ada orang beli pulsa dan bertanya, “Sudah masuk Mbak, pulsanya?” padahal dia baru saja nulis nomernya di atas kertas dan saya baru mulai mengetik SMS pegiriman pulsa di depan dia. Yo seng nggenah wae, Maaas. SMS ke center saja belum, gimana bisa masuk pulsa lu? Ini bukan warungnya Dimas Kanjeng!

Baca juga:  Cerita Lucu Sopir Truk: Ke Ostrali-lah Maka Kau Enggak Bakal Lucu Lagi

Tipe barbar ini maunya enak dan cepat. Kadang mereka masih duduk di atas motor yang masih menyala, tapi sudah teriak-teriak ke kami. Tanpa memarkir kendaraan, tanpa mematikan motor, tanpa turun dan bicara baik-baik. Mereka tetap di atas motor dan menjerit, “KAK! JUAL PLASTIK BUAT STNK, NDAK?” lengkap dengan backsound suara deru motor yang nggak dimatikan, juga rengekan anak mereka yang ingin turun dari motor dan jajan es krim di toko. Kafah sudah. Mau belanja atau ngajak berantem, coba?

Dan percayalah, tipe ini ada buanyaaak di toko kami. Entah mencari plastik STNK, gas 3 kilo, buku tulis batik, fotokopi, ah… takutnya mereka berhenti dadakan di pinggir jalan gitu terus ditabrak mobil atau motor dari belakangnya. Sedih akutu kalo kalian nggak sabaran. Aku aja belum pernah ngobrol langsung sama Cak Mahfud Ikhwan masih sabar-sabar aja, kok.

Uhuk.

Kedua, tipe “penghuni surga”. Hmm, ada masanya juga kami ketar-ketir waktu mendadak dibangun minimarket kembar Alfa dan Indo di dekat rumah. Tapi, kekhawatiran kami perlahan luntur, karena… karena pembeli kami memang kebanyakan malas. Penginnya berdiam diri, dilayani, dan tinggal bayar. Plus, semua harus serbaada.

Pernah seorang ibu mencari penggaris busur untuk anaknya. Saya jawab, “Maaf habis, Mbak. Itu ke koperasi sekolah saja. Di seberang situ.” Koperasi yang saya maksud benar-benar dekat. Suer. Tinggal nyebrang, cuy. Kelihatan pula itu koperasi dari tempat kami berdiri. Tapi, seperti bisa kamu duga, si Mbak menjawab, “Aduh, nyebrang segala, Mbak. Nggak usah. Males.”

Karepmu….

Contoh lagi, seorang bapak naik ke toko mencari Panadol anak. “Oh, di sini sudah ndak jual obat, Pak,” kata saya. “Ke apotek aja, cuma selisih 3 rumah dari sini, sederet sama toko ini.”

Muka si Bapak langsung bete. Katanya, “Haduh. Ya udah, Mbak,” dan berjalan pulang ke rumah, bukannya ke apotek.

Baca juga:  Jadi Tentara Itu Mo Baku Tembak Atau Baku Gigit?

Satu cerita lain yang bikin ngelus dada adalah saat seorang bapak bertanya, “Mbak, jual buku maulud Habsyi?” Kebetulan toko kami memang jual buku cerita dan perlengkapan sekolah lainnya. Saya jawab, “Nggak jual, Pak. Coba bapak ke toko X di Tambra. Itu lengkap kitabnya. Pasti ada.”

Dan jawaban Bapak ini… apa coba? “Hmm, kalau Mbak aja yang beli gimana? Nanti 2 atau 3 hari lagi saya ke sini.”

Sudah? Sudah ngelus dada? Elus dulu, lah~


Sambil menahan rasa gemas yang membuncah, saya jawab, “Pak, maaf, jalan Tambra itu kan deket. Bapak ke sana saja. Di sini soalnya ndak pernah jual buku maulud.” Kemudian, si Bapak pergi. Bawa koper. Tereliminasi.

Seriusan, gaes. Jalan Tambra itu deket banget, lho. Nggak sampai 5 menit!!212!

Hasrat untuk memasang tulisan “Kami manusia biasa, kalau mau dilayani dengan cepat ya beli di surga aja~” makin menggebu.

Ketiga, tipe sabaran. Iya, untungnya tipe ini masih ada. Nggak semua ibu-ibu seberingas itu saat belanja di toko. Masih ada yang dalam diam mereka bersabar. Kalau toko ramai betul, biasanya mereka keliling lihat-lihat jajanan dua ribuan macam kerupuk gendar, sarmier, atau intip yang bisa mereka pilih lebih dulu. Pelanggan macam ini jelas menenangkan lahir batin. Begitu giliran mereka tiba, kami pun lebih happy melayaninya.

Kesayanganlah pokoknya~

Keempat, tipe curhat. Ini nih, yang nggak bisa pembeli kami lakukan di toko lain: belanja sambil curhat. Mereka nggak hanya mengeluhkan soal anaknya yang minta dibelikan motor sampai mengancam nggak mau sekolah, atau curhat tentang suaminya yang nggak mau kerja, tapi juga perkara lain, seperti macetnya proses pembuatan KTP akibat kasus korupsi e-KTP kemarin. Tempo pagi, puluhan orang naik ke toko kami membawa lembaran berjudul SURAT KETERANGAN untuk diperbanyak. Saya pun tanya, itu apa? Kok isinya data diri semua?

Sebagian pembeli langsung emosi, “Ini KTP saya, Mbak! E-KTP itu ndak jadi-jadi! Dikorupsi ki tho!”

Lha yo, masak KTP segede kertas folio gini ditenteng-tenteng tho, Mbak? Ora mashoook!”

Wes, ini saya minta tolong Mbak fotokopi seukuran KTP biasa biar muat di dompet saya! Di-laminating sisan! Tulisane cilik-cilik rak popo, ben mripate polisine seng rusak!” Katanya, dilaminating sekalian, tulisannya kecil-kecil nggak apa-apa, biar mata polisinya rusak.

Baca juga:  Anak Rambat yang Ingin Tahu Bagaimana Cara Membuat Anak

Kalau ibu-ibu yang agak kalem biasanya menyahut, “Duit korupsi itu kan bisa buat mbangun rumah tho, Mbak. Mbangun rumah! Bukan jalan saja yang dibangun! Jalan makin tinggi dan makin bagus tapi rumah saya mendelep lha malah nambah perkara! Bantuan uang aja sedikit juga ndak papa. Daripada dikorupsi.”

“Wes dipilih kok isih korupsi! Mbek pitik wae isih manfaat pitik!” (Udah dipilih kok masih korupsi! Sama ayam aja masih lebih bermanfaat ayam.)

ALLAHUAKBAR!

Ah tapi, chaos ter-chaos adalah tiap jam masuk sekolah.

Kebetulan toko kami berlokasi di seberang sekolah. Jadi kalau pagi bukan cuma ramai dengan anak-anak yang mau beli bekal atau sarapan, tapi juga orangtua yang pusing mencari perlengkapan sekolah anaknya. Begitulah, budaya “mepet deadline” sungguh diimani oleh warga sini. Misalnya nih, si murid disuruh bawa kertas bufalo untuk tugas kerajinan tangan. Bukannya beli dari malam hari sebelumnya, tapi ini pagi harinya. Sudah bukan H-1, tapi J-1. Toko jadi superriuh, apalagi ditambah ibu-ibu rumah tangga yang belanja keperluan dapur, yang tentu juga tak mau kalah dari pembeli lain.

Ibu 1: “Mbak, jual kertas bufalo?”
Saya: “Warna apa?”
Ibu 2: “Mbak, aku juga kertas bufalo!”
Saya: “Iya, warna apa kertasnya, Ibu?”
Ibu 1: “Warna apa, Dek? DEK, ADEK! SINI DULU! WARNA APA BUFALONYA?”
Ibu 2: “Mbak, aku bufalo.”
Ibu 3: “Minyak sekilo, Nok. Sama White Coffee satu renteng.”
Ibu 1: “ADEK SINI DULU! WARNA APA KAMU BUFALONYA! PIYE THO KOK MALAH MLAYU!”
Ibu 2: *malah memeriksa uang saku anaknya*
Ibu 4: “Kopi yang lima ratusan satu.”

Kalau sudah begitu, saya biasanya menyapu keringat menggunakan ujung jilbab, lalu berjalan pelan mengambilkan kopi lebih dulu.

Duh, nyari duit kok ya segininya….