• 519
    Shares

MOJOK.COSetelah mengulik apakah UMK Jogja sebesar 1,7 juta bisa untuk hidup layak, kali ini Om Haryo akan membahas tentang peluang para pekerja di Jogja untuk mempunyai rumah sendiri dari hasil gaji mereka. Kira-kira bisa nggak sih?

Sahabat Celengers di mana pun tabunganmu berada,

Saya baru saja menemui pertanyaan:

“Kami nggak berlebihan kalau mengatakan penghasilan ini pas-pasan. Pas butuh, seringnya pas nggak ada. Lalu kapan kami bisa punya rumah sendiri? Please bantu jawab, Om.”

Nangis nggak sih kalau kalian dikasih pertanyaan seperti itu?

Bagi sebagian orang, pengelolaan uang itu hanya persoalan matematika, bukan empati. Misalnya ngajari orang untuk menghitung pengeluaran, maka caranya adalah: tentukan sejumlah rupiah dikalikan kebutuhan didapat jumlah yang dibutuhkan. Maka, rekomendasi yang bisa diberikan adalah: kalau cukup jalankan, kalau kurang hentikan.

Tanpa perlu bertanya pun para buruh sudah paham, di Yogyakarta uang enam ribu rupiah tidak lagi cukup untuk makan di rumah makan padang dengan lauk telor balado, daun singkong, dan bumbu rendang. Apalagi UMK Jogja saat ini belum bisa dibilang tinggi, meski tidak terlalu rendah juga.

Oleh sebab itu, secara otomatis, mereka akan mempertahankan konsumsinya dengan membelanjakannya di warung makan yang lebih murah.

Ini perlu dijelaskan nggak mengapa rumah makan padang mahal? Harusnya sih nggak, karena orang harusnya sudah paham masakan tersebut menggunakan banyak bumbu untuk menjaga cita rasa. Jangan sampai, isu ini digoreng dan dipelintir kalau orang Padang jualan makanan terlalu mahal.

Itu baru kebutuhan pangan. Untuk urusan sandang, saya kira mereka tidak berlebihan. Tidak kemudian mempunyai baju lebih dari jumlah hari dalam sebulan. Juga tau pasti tempat membeli baju sesuai isi dompet.

Beberapa waktu lalu, saya mencoba menjawab pertanyaan bagaimana para buruh dapat hidup layak dengan UMK Jogja. Tanpa harus hidup menderita, seharusnya pekerja di Jogja masih bisa makan layak dan menabung. Ya, sesekali puasa, atau biar agak halus: sekadar jeda tidak makan, selain diniatkan untuk ibadah, juga berhemat.

Layak di sini menurut standar kebanyakan orang, ya. Bukan malah sengsara seperti mie instan untuk makan satu hari, isi pulsa hanya untuk memperpanjang masa tenggang, beli makan siang hanya pakai kuah sayur bening, dan pengorbanan-pengorbanan lain yang justru begitu lekat dengan penderitaan.

Namun, meskipun sudah hidup layak yang paling minimal, melihat UMK Jogja sebesar 1,7 juta rupiah, impian punya rumah sendiri akan sulit terwujud. Boro-boro punya rumah, menikah pun pasti berpikir seribu kali. Biaya pernikahan dengan balutan gengsi masih belum bisa dihindari, terutama bagi orang Jawa.

Baca juga:  Tips Manajemen Keuangan untuk Mahasiswa Tajir tapi Boros

Desain pembangunan ekonomi yang seragam dan kapitalistik di dunia memang pada akhirnya membuat hidup bagi sebagian orang seperti para pekerja bergaji UMK Jogja 1,7 juta menjadi penuh catatan dan asumsi.

Nah, di dalam asumsi-asumsi yang disertakan tersebut, nantinya akan ada asumsi lagi. Berat bossque, Dilan yang kemlinthi sok kuat itu pun nggak bakal kuat.

Kira-kira, ini adalah asumsi-asumsi yang paling masuk akal untuk dilakukan oleh para buruh jika mereka ingin menabung untuk membangun rumah mereka sendiri.

Bisa menabung, tapi harus tetap jomblo.

UMK Jogja adalah 1,7 juta. Dalam perhitungan sebelumnya, banyak asumsi yang saya sertakan agar para pekerja dapat menabung. Tidak banyak jajan, tidak bayar kos, dan irit biaya transportasi. Padahal sepemahaman saya, kehidupan pekerja membutuhkan biaya sosial yang tidak bisa diabaikan juga.

Kalian mungkin masih muda dan belum berkeluarga, tetapi di lingkungan kerja akan bertemu dengan banyak pekerja lain yang usianya variatif. Sebentar lagi musim liburan, mereka yang punya anak bisa jadi tidak akan berlibur, tapi menyunatkan anaknya. Itu artinya akan mengundang kalian juga. Makan-makan sudah pasti, tapi masak datang dengan tangan kosong sih?

Bulan selanjutnya, giliran pekerja senior yang mengundang.

“Minggu depan ke rumah ya, Bapak mau mantu. Kecil-kecilan aja sih, saudara dan temen deket yang diundang. Maaf ini nggak pake undangan, kepake buat yang lain.”

Kalian pasti akan datang. Nggak enak kalau nggak datang. Tetapi kalian tidak mungkin mengatakan seperti ini pas salaman.

“Maaf, Pak. Saya datang bawa badan saja nih. Tau sendiri, pak, udah abis buat nutup utang koperasi.”

Hak sebagai makhluk ekonomi yang penuh perhitungan sering dibatasi oleh kewajiban kita sebagai makhluk sosial.

Boleh menikah, tapi sama-sama bekerja.

Apa mungkin sebuah hubungan cinta yang sudah berlangsung sekian tahun dikandaskan oleh perhitungan ekonomi? Rasanya kok tidak adil banget. Tiba-tiba kita mengatakan hal yang bisa jadi akan mengakibatkan luka yang teramat dalam.

“Dik, ini Mas gajinya cuma 1,7 bagaimana kalau rencana menikah kita tunda sampai nasib baik menghampiriku? Apalagi adik tidak bekerja. Pasti nanti kurang.”

Baca juga:  Milenial Tanpa ATM Bukanlah Dosa, Tapi Masa Sih Hari Gini Nggak Punya ATM?

“Maksudnya, Mas? Bukankah aku sudah paham risikonya dan itu pernah kita bahas. Mas sendiri yang menyuruh aku tidak usah bekerja sehinga aku tidak pernah berusaha mencari kerja lagi. Trus kapan? Aku harus ngomong bagaimana sama Bapak?”

“Entah, dik. Apalagi tahun depan UMK Jogja kenaikannya lebih rendah dari tahun sebelumnya, hanya 8% jadi 1,8 juta. ”

*sunyi, air mata menetes deras*

Huuu… dosaaa banget, lo!

Menikah, hidup pas-pasan, tapi kudu kreatif.

Keterbatasan sering membuat orang menjadikan kreatif. Semangat tersebut yang harusnya dibangun.

“Dik, kamu kan aktif main Instagram, ya? Foto tahu susu mu kemarin canggih banget, pro banget hasilnya. Nangis itu Darwis Triadi kalo lihat saking kagumnya. Itu kalau dimanfaatin pasti akan ada hasilnya”

“Caranya bagaimana, Mas?”

“Coba itu dibaca status yang dibagikan Pak Puthut kemarin soal tips sukses jualan buku online. Ya nggak harus buku, apalagi kamu kalau kena debu buku gebres-gebres. Kamu bisa jualan gereh, kripik welut, atau apalah. Amis tapi menghasilkan.”

UMK Jogja 1,7 juta, lalu kapan punya rumah?

Secara perhitungan matematika, tahun depan ada kenaikan UMK Jogja. Jika mengacu pada tingkat inflasi 3,6% dan pertumbuhan ekonomi 5,6%, pembuat kebijakan sudah fair dengan menaikan UMK menjadi 1,8 juta.

Secara matematis, ya. Secara empati, tetap belum. Para pekerja tidak akan pernah punya rumah kalau tidak ada kebijakan yang mendukungnya.

Lewat formula penentuan UMK Jogja, menimbang kekuatan perusahaan, menimbang kebijakan pemerintah kota, dan tentu saja keterbatasan lahan permukiman yang berakibat pada tingginya harga rumah di Yogyakarta, dapat dipastikan para buruh tidak akan pernah memiliki rumah hanya dengan mengandalkan gaji.

Ini problem struktural. Hanya level gubernur yang bisa menjawab atau bahkan presiden, pemerintah kota alias pemkot nggak akan sanggup. Kota Yogya membutuhkan perumahan vertikal sewa berharga murah dan nyaman.

Jangan dikira negara-negara kinclong seperti Hongkong itu sejahtera semua para pekerjanya. Trenyuh kalian kalau melihat cage dwellers yang kehidupannya tidak lebih baik dari binatang.

Serikat pekerja harus memikirkan itu, bukan lagi sekadar memasukkan item-item di KHL yang terkadang dicemooh oleh kelas menengah kita yang lebih banyak nyinyir daripada mengingat perjuangan buruh saat memperjuangkan THR, cuti, dan lembur.

Jadi, kapan ada rencana demo lagi supaya bisa punya rumah?

 

 

  • 519
    Shares


Loading...



No more articles