MOJOK.COMengapa pengemis itu menggunakan salawat badar untuk mencari uang?

Siang bolong yang terik dan berdebu. Dalam sebuah bis kelas ekonomi tanpa AC tujuan Jakarta. Bau keringat, apak pakaian yang tak tercuci, aroma rambut yang tak sempat atau mungkin tak pernah, dikeramasi, serta busuk makanan basi berbaur dengan kepul kretek dan asap kendaraan.

Bis berhenti. Para penumpang seperti roti yang dipanggang dalam oven. Para pedagang asongan naik dan menjajakan jualan mereka. Pura-pura tidur, melengos, atau menebar pandang saja. Mereka letih dan mengantuk. Para pedagang asongan misuh-misuh karena para penumpang tak membeli dagangan mereka. Para penumpang jenuh dan menggerundel menunggu bis yang ngetem menanti tambahan penumpang.

Generasi zaman now mungkin belum pernah mencicipi naik bis seperti ini, ya?

Lalu naik seorang lelaki dengan “celana, baju, dan kopiah hitam”. Ia mengucapkan salam dengan fasih. Tak lama kemudian ia mendendangkan salawat badar. Suaranya merdu dan indah: salatulllah, salamullah, ‘ala thoha rasulillah….

Bis melanjutkan perjalanan. Suara salawat badar timbul tenggelam beradu dengan bising mesin tua bis. Para penumpang yang lelah dan mengantuk tak banyak ambil peduli. Bahkan mungkin ada yang mencibirnya. Kernet bis marah-marah kepada pengemis salawat badar karena tak turun: “Kenapa kamu tidak turun? Kamu jadi gembel di Jakarta? Kamu tidak tahu gembel di sana pada dibuang ke laut dijadikan rumpon?”

Pengemis itu diam saja.

“Turun!” bentak kernet. Lalu ia bertanya, “Tadi siapa suruh kamu naik?”

“Saya naik sendiri. Tapi saya tidak ingin ikut. Saya cuma mau ngemis kok….”

Baca juga:  Kisah Sandiaga Uno yang Memergoki Pengemis Naik Fortuner

Kernet bis kehabisan kata-kata. Ia akhirnya diam saja. Si pengemis jalan ke belakang dan mengambil posisi agak di pojok lalu melanjutkan bersalawat. Salatullah… salamullah…. Bis tambah laju dan para penumpang tenggelam dalam lelah dan lantuknya. Banyak yang jatuh tertidur.

Tiba-tiba terjadi insiden. Bus mengalami kecelakaan. Tokoh “aku” yang menjadi narator cerita ini memberikan kesaksian.

“… Mula-mula kudengar guntur meledak dengan suara dahsyat. Kemudian kulihat mayat-mayat beterbangan dan jatuh di sekelilingku. Mayat-mayat itu terluka dan beberapa di antaranya kelihatan sangat mengerikan. Karena merasa takut aku pun lari. Namun sebuah batu tersandung dan aku jatuh ke tanah. Mulut terasa asin dan aku meludah. Ternyata ludahku merah. Terasa ada cairan mengalir dari lubang hidungku. Ketika kuraba, cairan itu pun merah. Ya Tuhan. Tiba-tiba aku tersadar bahwa diriku terluka parah. Aku terjaga dan di depanku ada malapetaka. Bus yang kutumpangi sudah terkapar di tengah sawah dan bentuknya sudah tak keruan. Di dekatnya terguling sebuah truk tangki yang tak kalah ringseknya. Dalam keadaan panik aku mencoba bangkit bergerak ke jalan raya. Namun rasa sakit memaksaku duduk kembali. Kulihat banyak kendaraan berhenti. Kudengar orang-orang merintih. Lalu samar-samar kulihat seorang lelaki kusut keluar dari bangkai bus. Badannya tak tergores sedikit pun. Lelaki itu dengan tenang berjalan kembali ke arah Kota Cirebon.

“Telingaku dengan gamblang mendengar suara lelaki yang terus berjalan dengan tenang ke arah timur itu: ‘shalatullah, salamullah, ‘ala thaha rasulillah….’”

***

“Pengemis dan Salawat Badar” adalah cerita pendek karya Ahmad Tohari (1942). Sapardi Djoko Damono suatu kali pernah mengakui bahwa ia paling suka cerpen ini di antara banyak cerpen Ahmad Tohari. Ia sebut ini sebagai dongeng modern yang temanya universal dengan latar dan akar yang dekat dengan masyarakat kita. Ceritanya ada kemiripan dengan kisah-kisah sufi. Cerita ini, lanjut Sapardi, merupakan perlambangan kerinduan manusia akan penegasan hubungannya dengan Yang Maha Kuasa, kerinduan kita akan perlindunganNya. Dan Tohari menceritakannya dengan bagus, tanpa banyak memberik komentar dan menggurui.

Baca juga:  Sulitnya Jadi Bahagia di Hari-Hari Seperti Ini

Ketika membaca cerpen ini berapa tahun lalu, saya yakin Tohari bercerita tentang karamah seorang wali. Lelaki anonim yang hatinya tulus, jiwanya bersih, dan mulutnya selalu basah dengan puja-puji kepada Nabi itu adalah seorang wali yang menyamar sebagai pengemis. Al-Kalabadzi membahas tema karamah, kekuatan gaib para wali, seperti berjalan di atas air, berbicara dengan binatang, pergi dari satu tempat ke tempat lain dengan mudah, dan lain-lain, dan mengatakannya sebagai sesuatu yang diakui dan tercatat dalam kisah-kisah, hadis-hadis, dan kitab suci. Jika mukjizat milik para Nabi, karamah adalah milik para wali. Keajaiban yang dialami pengemis itu adalah sebuah karamah. Para penumpang dan kernet itu kualat karena memperlakukan si pengemis itu dengan tidak hormat.

Namun, sampai di sini saya tertegun. Mengapa hukuman jatuh kepada orang miskin dan mereka yang berada di kelas bawah?

Karena itu cerpen ini dalam keseluruhannya harus dilihat juga sebagai kritik pada kemiskinan beserta cara menghadapinya. Gambaran bis dan para penumpangnya, para pedagang asongan, kernet, dan pengemis itu sendiri adalah wakil-wakil dari masyarakat bawah yang sedang berjuang hidup. Pengemis itu pasti rajin datang ke pengajian. Tetapi, “aku” bertanya-tanya, mengapa dari pengajian itu hanya salawat badar yang bisa pengemis itu bawa pulang salawat badar dan kemudian ia jadikan sebagai alat untuk mencari uang?

Baca juga:  Rahasia Membutuhkan Kata

“Ah, kukira ada yang tak beres. Ada yang salah,” ujar “aku”. Sayangnya, “aku” tak tega menyalahkan pengemis yang terus membaca shalawat itu. Jika ada kemiskinan, berarti memang ada sesuatu yang tidak beres dalam struktur masyarakat. Pasti ada ketidakadilan distribusi ekonomi.

Mungkin ketika kita naik bis, duduk di terminal, atau berjalan di pasar dan kemudian bertemu pengemis salawat badar tadi, mugkin kita akan berpikir sama seperti “aku” dalam cerpen ini, senang bercampur sedih sembari memandangnya seperti ini: “Di sana aku lihat kebodohan, kepasrahan yang memperkuat penampilan kemiskinan.” Kita mungkin juga akan bertanya, mengapa dia menjadikan salawat itu sarana untuk mencari uang? Mungkin pengemis itu memang hanya punya salawat. Dan itu satu-satunya modalnya.

Tapi, marilah kita merenung dengan situasi sekarang. Rasanya pengemis itu tidak ada apa-apanya dan sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding mereka yang menjadikan dan memanipulasi agama melalui mobilisasi dan pengembangan isu yang canggih, untuk tujuan politik dan… ekonomi! Orang-orang menjadi terpecah dan bertengkar karenanya. Mereka ini jauh lebih mencemaskan dan berbahaya.

Itulah sebabnya, saya ingat pengemis dan salawat badarnya itu. Di mana engkau sekarang? Ayo mari kita bersalawat lagi!

Baca edisi sebelumnya: Dalam Diriku, Agama Mencerahkanku, dalam Masyarakat Agama Menindasku dan tulisan di kolom Iqra lainnya.