Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Selain Jokowi dan Ahok, Siapa Tiga Tokoh Politik yang Perlu Dibuatkan Film Biopik?

Haris Firmansyah oleh Haris Firmansyah
28 Oktober 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Selain Jokowi dan Ahok, ada beberapa tokoh politik yang rasanya perlu diangkat kisah hidupnya menjadi film layar lebar.

Film biopik Basuki Thahaja Purnama A Man Called Ahok sudah memanggil penonton sejak trailer. Dari trailer ditunjukkan cuplikan perjuangan Ahok mengejar impiannya. Daniel Mananta yang biasanya pecicilan sewaktu jadi pembawa acara Indonesian Idol rela berakting cool dan kalem selama jadi Ahok. Ternyata VJ Daniel juga bisa mengikuti Gilang Dirga sewaktu impersonate Ahok.

Latar tempat di Belitung membuat film ini seperti spin off dari film Laskar Pelangi. Membuat saya bertanya-tanya apakah Ahok masih ada hubungannya dengan tokoh Ahong Laskar Pelangi? Apakah keduanya sama-sama sepupu Aling? Lalu, apakah akan ada crossover dengan Cek Toko Sebelah Ernest Prakasa?

Ternyata Ahok termasuk tetangganya Andrea Hirata. Usia keduanya cuma beda setahun. Jadi, bisa disimpulkan bahwa mereka berdua hidup pada zaman yang sama ketika PN Timah sedang jaya-jayanya.

Sebagai saudara senasib sepenanggungan, Ahok pernah meminta pejabat di Belitung Timur untuk memborong buku-buku Laskar Pelangi supaya Belitung makin dikenal. Beruntung juga Pak Cik Andrea Hirata punya kenalan pejabat: bisa bikin bakul buku laku. Kira-kira bakalan ada cameo anak-anak Laskar Pelangi nggak ya di filmnya nanti?

Sebelumnya, teman Ahok, yaitu Jokowi, sudah dibuatkan film biopik oleh KK Dheeraj. Tidak tanggung-tanggung, ada dua biji. Film berjudul Jokowi dan Jokowi Adalah Kita. Teuku Rifnu Wikana dan Ben Joshua tercatat pernah memerankan sosok Jokowi. Mungkin KK Dheeraj mau bikin Jokowverse, yang nandingin Arrowverse.

Selain Jokowi dan Ahok, ada beberapa tokoh politik yang rasanya perlu diangkat kisah hidupnya menjadi film layar lebar. Nah, berikut ini saya coba ajukan ide cerita yang siapa tahu bisa menarik sineas Indonesia untuk mengeksekusinya.

1. Susi Pudjiastuti

Kisah hidup Menteri Kelautan dan Perikanan dari Kabinet Kerja 2014-2019 ini rasanya perlu ditulis menjadi sebuah naskah film. Beliau menjadi antitesis untuk cerita Laskar Pelangi. Jika Laskar Pelangi menyerukan untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya agar memutuskan rantai kemiskinan, Bu Susi bisa menjadi pembeda. Tak perlu pendidikan tinggi, cukup andalkan skill dan kerja keras.

Dengan ijazah SMP dan modal Rp750.000, Bu Susi memulai usahanya menjadi pengepul ikan di Pantai Pangandaran. Lalu beliau mendirikan pabrik pengolahan ikan PT. ASI Pudjiastuti Marine Product dan penerbangan Susi Air PT. ASI Pudjiastuti Aviation. Beliau menunjukkan jika kesuksesan juga bisa diraih hanya dengan program wajib belajar 9 tahun.

Jika A Man Called Ahok dan Laskar Pelangi memanjakan mata penonton dengan pemandangan pantai ajib di Pulau Belitung, film biopik Bu Susi berpotensi untuk memamerkan keindahan Pantai Pangandaran sebagai latar tempat masa kecilnya. Belum lagi, bakalan ada adegan action berupa kapal-kapal asing yang meledak sebagai korban seruan Bu Susi, yang barangkali bisa jadi judul filmnya: Tenggelamkan!

2. Ridwan Kamil

Pejabat satu ini sudah sering wara-wiri di perfilman Indonesia sebagai cameo. Alasan kedekatan dengan dunia layar lebar inilah figurnya patut dibuatkan film berjudul A Man Called Cameo. Biar nggak sama dengan film biopic politisi seperti kebanyakan, barangkali penulis naskah bisa fokus pada kiprah Ridwan Kamil sebagai cameo di berbagai film di tengah-tengah kesibukannya mengurus Kota Bandung.

Sehingga filmnya nanti menjadi film pembalasan. Ridwan Kamil yang biasanya cuma dapat jatah cameo menjadi peran utama, lalu para peran utama di film-film sebelumnya menjadi cameo di film Ridwan Kamil. Di film biopik Ridwan Kamil, kita bakalan mendapati Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla sebagai cameo Dilan dan Milea.

3. Prabowo Subianto

Jokowi saja sudah punya dua film sendiri, bagaimana bisa pesaingnya Prabowo satu acan nggak punya? Padahal Lukman Sardi sudah pernah bikin film Di Balik 98 dengan menggandeng Chelsea Islan dan Boy William, tapi tidak ada peran Prabowo di situ. Bukankah Prabowo punya peran penting di Peristiwa 1998?

Sosok Prabowo mengingatkan kita kepada Bruce Wayne alias Batman: jomblo, kaya raya, dan hobi mengumpulkan jagoan-jagoan dalam sebuah koalisi. Bruce Wayne punya Alfred, Prabowo punya Hashim Djojohadikusomo. Bruce Wayne punya Wayne Enterprises, Prabowo punya pabrik kertas.

Iklan

Batman punya Justice League, Prabowo punya Koalisi Merah Putih (KMP). Belakangan, disingkat KMPret alias Kampret. Batman dan Kampret jelas-jelas berhubungan erat: sama-sama makhluk malam.

Politikus seperti Jokowi, Ahok, dan Ridwan Kamil adalah jagoan-jagoan yang sempat dikumpulkan oleh Prabowo. Sampai akhirnya, ketiga tokoh politik tersebut memilih jalan yang berbeda. Begitu juga Batman yang ditinggal oleh Robin karena beda prinsip. Robin sampai bikin kelompok sendiri, yaitu Teen Titans. Jokowi sudah seperti Superman di kehidupan Prabowo sebagai Batman: teman tapi bisa jadi viral, eh, rival.

Jika film biopik Habibie menceritakan tentang kesuksesan seorang anak bangsa menjadi presiden. Tidak dengan film biopik Prabowo. Film Prabowo bakalan bercerita tentang perjuangan seorang negarawan yang berusaha meraih impiannya tapi tak kunjung kesampaian. Sebuah semangat dan ketulusan yang patut ditiru.

Jika kita terbiasa terinspirasi dengan kisah sukses seseorang, film Prabowo bakalan menjadi tantangan baru: bisakah kita takjub dengan sikap pantang menyerah? Satu kali nyawapres dan satu kali nyapres, keduanya kebetulan sedang sial kok ya gagal. Meski begitu, Prabowo masih mau mencoba peruntungan kembali untuk ketiga kalinya dengan Sandiaga Uno sebagai Robin terakhir.

Prabowo adalah kita. Kita yang selalu gagal walaupun sudah mengerahkan segala tenaga. Jika kita bisa terinspirasi dengan kisah sukses, kita juga harus bisa menerima kisah kegagalan sebagai salah satu kemungkinan dari sebuah usaha. Prabowo menunjukkan pandangan lain bahwa kekalahan bukanlah akhir. Masih ada periode-periode selanjutnya.

Semangat, Pak Prabs! Kita di belakangmu.

Kita?

Terakhir diperbarui pada 28 Oktober 2018 oleh

Tags: ahokbatmanFilm Biopiljokowipraboworidwan kamilrivalSusi Pudjiastutiviral
Haris Firmansyah

Haris Firmansyah

Pegawai Bank Ibukota. Selain suka ngitung uang juga suka ngitung kata.

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO
Esai

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit MOJOK.CO

Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit

13 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.