Saya ini orang Madura, meski “madura swasta”. Orang yang lahir bukan di Pulau Madura, tapi berbahasa dan berbudaya Madura. Kalau yang lahir di Pulau Madura, biasanya disebut “madura negeri”.

Nah, sebagai madura swasta, saya bisa cerita beberapa pelajaran dari orang Madura dalam beriman secara polos.

Di antaranya, orang Madura itu berani jual bensin eceran di pintu keluar SPBU.

Oke lah, secara hitung-hitungan bisnis, (bahkan) mau jual bensin eceran di pintu masuk SPBU saja tak strategis. Ya iya dong, karena orang akan berpikir; Ngapain beli eceran kalau ada pom bensin yang pasti lebih murah per liternya?

Oke, masih masuk akal kalau jualnya sebelum pintu masuk SPBU. Tapi, kalau di pintu keluar SPBU kan sudah jelas tak masuk akal. Lah, logikanya kan di pintu keluar itu orang sudah selesai beli bensin.

Tapi, ketika saya tanya ke mereka kenapa berani berjualan di pintu keluar pom bensin, jawabannya enteng saja.

“Rezeki udah ada yang ngatur, jadi ndak usah khawatir.”

Artinya, mau jualan bensin eceran di depan SPBU sekalipun, ya kalau sudah rezeki penjual bensin eceran ya orang tetep belinya ke dia. Duh, duh, kadang saya bertanya-tanya, logika macam apa ini?

Meski begitu, pada kenyataannya penjual bensin eceran di pintu keluar SPBU itu sudah lama melakoni usahanya dan tetap mampu menghidupi keluarganya.

Hal ini karena kekuatan utamanya justru ada pada aspek paling utama dari Tuhan, yakni apa yang difirmankan Allah dalam hadis qudsi bahwa, “Aku (Allah) tergantung pada prasangka hamba-Ku.”

Orang Madura itu suka berprasangka baik ke Tuhan. Yakin kalau Tuhan telah mengatur rezeki setiap hamba-Nya. Kun fayakun, jadilah ia pengusaha bensin eceran di pintu keluar SPBU yang lumayan sukses karena berprasangka baik ke Tuhan.

Baca juga:  Kolom: Gerak Jatuh dengan Gesekan

Inilah iman yang genuine, kokoh, dan dibalut dengan kepolosan sehingga patut diduga Tuhan akan sangat suka pada hamba model begitu.

Hal ini tentu berkebalikan dengan kebanyakan orang yang mau berdagang. Di mana kadang diperlukan riset dulu sebelum berbisnis, mendesain pernaik-perniknya dengan ciamik, sampai membangun strategi marketing yang topcer.

Akan tetapi, kadang-kadang persiapan penuh kematangan begini bikin orang-orang suka sombong. Merasa seolah sudah pasti sukses karena persiapan itu semua, sampai lupa berprasangka baik sama Tuhan dalam hati dan doanya.

Tak sedikit orang berdagang masih khawatir bisnisnya tak sukses. Bahkan melakoninya beberapa waktu dan belum menemui kesuksesan malah cepat berputus asa.

Jika kemudian akhirnya harus bangkrut, bisa jadi ini dikarenakan ada setitik sifat sombong. Merasa kekuatan ekonomi hanya pada ikhtiar lahir, tanpa ikhtiar batin berupa doa dan prasangka baik pada Tuhan—apalagi tawakal.

Di sisi lain, orang Madura penjual bensin eceran di pintu masuk SPBU tadi, ia sangat husnuzon pada Tuhan bahwa dirinya akan sukses. Tentu tidak lupa juga tetap melakukan ikhtiar lahir semaksimal mungkin dengan segala kepolosannya.

Di luar dugaan, Tuhan ternyata tetap memenuhi janji-Nya untuk memberi rezeki sesuai prasangka hamba-Nya.

Selain dari kisah tadi, saya kira kita juga bisa belajar iman yang genuine, kokoh, dan polos itu dari seorang Madura yang lain, yang menjual sate dengan tagline, “Sate terbaik nomor dua sedunia.”

Ketika ia ditanya mengapa tagline sate terbaik nomor dua sedunia, bukan nomor wahid?

Ia menjawab, “Loh ya jangan musyrik lah kita ini. Dalam segala hal yang nomor satu itu hanya Allah. Kita mentok nomor dua saja.”

Baca juga:  Kolom: Sempurna

Iman yang genuine seperti itu selalu memukau saya. Bagi saya, sikap seperti itu memiliki level kedahsyatannya tersendiri.

Sebab, pada dasarnya, iman itu tentang kembali ke jati diri terawal kita, ketika kita melakukan perjanjian dengan Tuhan sebagaimana dikisahkan dalam Surat Al-A’raf ayat 172, sebelum kemudian kita dilengahkan oleh kehidupan dunia.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”

Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”.

(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

***

Jadi, iman yang polos ala orang Madura tadi itu sebenarnya adalah wujud cinta yang murni. Cinta yang tulus diciptakan oleh Tuhan.

Di sisi kebalikannya, benci yang kita kenal dalam di kehidupan ini diajarkan oleh nafsu yang buruk. Ketika kita lahir dan menjadi anak-anak, kita penuh cinta sebagaimana diciptakan Tuhan.

Polos, seperti keyakinan orang madura yang jualan bensin eceran di pintu keluar SPBU tadi.

Jika kita bisa seperti itu, kita tak akan lagi memandang rendah apalagi bertengkar atas nama suku, warna kulit, dan lain-lain. Sentimen semacam itu, termasuk berprasangka buruk terhadap Tuhan, datang setelah manusia dikenalkan oleh nafsu di dunia.

Oleh sebab itu, coba renungkan sejenak, pernahkah kita menyempatkan diri untuk mencari tahu atau mempertimbangkan Tuhan-nya anak-anak yang polos itu? Prasangka baik kepada Tuhan selayaknya orang Madura penjual SPBU yang cintanya murni itu?

Ironisnya, alih-alih semakin berprasangka baik, yang justru sering kita lakukan adalah mendoktrin mereka yang tak sepaham ke dalam perkara iman kita. Seolah-olah kita lebih paham soal imannya orang lain.

Baca juga:  Panduan Menyikapi Payudara Perempuan untuk Laki-laki Lemah Syahwat

Maka dari itu, coba sesekali kita perlu untuk tak sekadar bercanda dan bersenda gurau dengan anak-anak. Sempatkan sejenak, untuk belajar tentang iman juga dari mereka, anak-anak yang polos itu.

Sebab, Tuhan-nya anak-anak itu adalah pemahaman tentang Tuhan yang lebih kokoh dengan kepolosannya. Pasalnya, dalam imajinasi dan pikiran anak-anak, Tuhan benar-benar sebagai Dzat Yang Maha Sempurna; Dzat Yang Maha Baik; Dzat Yang Maha Pemaaf; Dzat Yang Bersahabat; dan seterusnya.

Mungkin kita yang dewasa ini lebih berpengalaman dalam mengetahui teori-teori ketuhanan serta lebih sistematis dalam upaya memahami Tuhan. Bahkan, mungkin kita memiliki pengetahuan dan pemahaman teoritis tentang Tuhan yang jauh lebih baik ketimbang anak-anak.

Kita selalu mendaku lebih rasional dan logis dalam memahami Tuhan. Adapun anak-anak cenderung mendekati Tuhan dengan imajinasinya masing-masing, yang sering kali dekat dengan sosok yang diidamkannya sebagai sosok sempurna.

Dari bayangan tentang Tuhan sebagai raja super besar yang duduk di singgasana langit hingga imajinasi tentang Tuhan sebagai sosok super hero terhebat melebihi sosok super hero yang pernah dilihatnya di televisi atau komik.

Singkatnya, sama seperti orang Madura yang punya basis pemahaman ketuhanan seperti anak-anak dalam imajinasinya, sepertinya saya bisa sepakat dengan kata-kata Albert Einstein…

…bahwa kadang-kadang, imajinasi itu lebih hebat dan berdaya dari pengetahuan (knowledge).

Sama hebatnya dengan “imajinasi” orang Madura penjual bensin eceran di pintu keluar SPBU tadi terhadap Tuhannya.


Sepanjang Ramadan, MOJOK menerbitkan KOLOM RAMADAN yang diisi bergiliran oleh Fahruddin FaizMuh. Zaid Su’di, dan Husein Ja’far Al-Hadar. Tayang setiap waktu sahur.