Tak Cukup hanya membawa keberanian untuk menghadiri pernikahan mantan
Photo by Victoria Priessnitz on Unsplash

Tak Cukup Hanya Keberanian untuk Menghadiri Pernikahan Mantan

Menghadiri pernikahan mantan bukan hanya butuh keberanian, tapi juga keikhlasan. Sebagian dari mereka hadir dengan perasaan suka melihat kebahagiaan orang yang pernah dikasihinya. Sisanya, sekuat tenaga menahan luka dan mengondisikan diri pada situasi yang sering tak terduga.

Bicara tentang kehadiran mantan di pernikahan seseorang, saya jadi ingat film Mantan Manten garapan Visinema yang rilis 2019 silam. Film yang skenarionya ditulis Jenny Jusuf itu, kalau saya sederhanakan, bercerita tentang cinta yang pupus dan berakhir dengan ditinggal nikah. Klimaksnya adalah ketika Atiqah Hashiholan yang berperan sebagai Yasnina menjadi perias pengantin adat Jawa atau pemaes di pernikahan mantannya sendiri.

Jika itu film, maka di dunia nyata saya berjumpa dengan Prayit* (33), pria asal Tempel, Sleman ini hadir dengan sebuah peran khusus di nikahan mantannya. Bukan sebagai pemaes, melainkan nyinom alias anak muda dengan peran bantu-bantu di hajatan nikahan seseorang yang jamak ditemui di desa.

“Beginilah susahnya kalau punya mantan tetangga sendiri,” ratap Prayit kala itu. Nahasnya, ia mengaku pernah punya hubungan istimewa dengan gadis yang masih tetangga  dua kali. Bukan hal yang mudah, namun Prayit mencoba tegar menghadapinya. Jika sekadar undangan hadir mungkin bisa ia abaikan, namun tanggung jawab sebagai pemuda desa sekaligus tetangga sukar untuk ia tinggalkan.


Kisah Prayit dan petualangan cintanya pernah Mojok tuliskan secara kronologis di artikel lain. Tulisan ini secara khusus akan membedah pengalaman Prayit ditambah sosok lain bernama Imam (34), Hita (22) dan Mas Pur (39) yang sama-sama punya kisah dan resah di nikahan mantan.

Bagian 1 : perasaan

Mendatangi pernikahan mantan yang meski sudah tak lagi saling memiliki perasaan tetap sering membuat kawalahan. Ada-ada saja perasaan yang kadang datang tanpa diduga. Seperti yang dialami Hita, ia mendatangi pernikahan laki-laki yang pernah menjadi kekasihnya semasa SMP. Meski kisah mereka sudah tertimbun banyak hal, tetap saja tak bisa merasa biasa.

“Bahagia dan bangga melihat mantan berani nikah muda, tapi dia itu mantan paling ganteng sekaligus romantis yang pernah aku punya, jadi kenangan itu masa lalu tiba-tiba teringat saat datang ke nikahannya,” jelas mahasiswi tingkat akhir di Bandung ini.

Hita menganggap laki-laki seumurannya itu sebagai mantan yang paling berkesan meski jalinan asmaranya berjalan di masa awal remaja. Sampai-sampai ia menolak kalau apa yang ia alami dulu saya sebut cinta monyet.  “Perasaanku dulu itu serius, sampai akhirnya saya tahu dia selingkuh di belakang,” katanya.

Namun ada hal yang membuatnya yakin bahwa sang lelaki tak memiliki kenangan mendalam yang sama. Dan itu karena undangan pernikahan yang dilangsungkan 2020 lalu itu tak disampaikan secara langsung, melainkan cuma disebar lewat grup WhatsApp yang isinya teman-teman SMP. Sebut saja, kenangan bertepuk sebelah tangan.

Hampir senada, Imam juga mengakui bahwa tak mudah mendatangi pernikahan mantan meski sudah bergonta-ganti pasangan selepas bersamanya. “Apa yang sudah pernah terukir di hati tak bisa hilang begitu saja. Selalu ada bekasnya,” kata lelaki asal Pemalang ini dengan suara tegas yang terdengar jelas dalam sambungan telepon.

Baca juga:  Terintimidasi sama Kampanye Nikah Muda? Memang Usia Berapa sih Kita Sebaiknya Menikah?

Jika dua sosok yang menghadiri pernikahan mantan dengan perasaan sayang yang telah hilang saja hatinya goyang, bagaimana dengan Prayit? Pria ini hadir di dua pernikahan mantan dengan perasaan sayang yang masih tertanam. Memiliki peran khusus pula. Ia tak bisa menangis. “Sesekali saya perlu menepi ke luar ingar bingar di area tenda pernikahan untuk mengambil nafas,” ucap Prayit sembari membuang abu rokoknya ke asbak saat saya temui langsung sebelum dua narasumber lainnya berhasil saya hubungi.

Bagian 2 : situasi

Selain memupus harapan, menghidupkan lagi kenangan, hingga mengoyak perasaaan, pernikahan mantan juga menghadirkan situasi yang sulit terlupakan. Bahkan kadang membingungkan.

Situasi bingung dan penuh canggung itulah yang dirasakan Imam kala mendatangi pernikahan mantan pada 2012 silam. Ia tak pernah menduga kalau sang mantan bisa mengucapkan hal yang membuat hening panggung resepsi selama beberapa detik.

“Aku pengennya kamu yang ada di sampingku dan mengucap ijab qobul,” tutur Imam menirukan kalimat yang terlontar dari mulut mantannya. Ditambah lagi, perempuan itu meneteskan air mata.

Barangkali Imam ingin memeluknya demi menenangkan perasaan perempuan itu, meski sudah tak ada perasaan tersisa di hatinya. Namun ia tak mungkin begitu, apalagi mempelai laki-laki masih berdiri kaku di samping perempuan sedih itu. Dan ia mengaku hanya bisa berucap, “Yang sudah biarlah berlalu.” Imam menduga, pernikahan mantannya dilatarbelakangi perjodohan.

Saat turun dari panggung, teman-teman Imam sontak menggoda dengan penuh tawa. Berujar bahwa Imam harus bertanggung jawab atas situasi canggung yang telah dibuatnya. Tanggung jawab seperti apa coba? Lontar Imam pada saya. Hening, saya pun bingung harus berkata apa. Bagi Imam, pernikahan itulah yang membuatnya yakin bahwa apa yang pernah terukir di hati tak pernah benar-benar hilang begitu saja.

Tak seperti Imam, Hita cukup lancar kala mendatangi pernikahan mantannya. Tak ada situasi canggung antara ia dan mantan sepanjang perhelatan. Apa yang terjadi hanya sekadar gurauan-gurauan dari teman SMP yang mengetahui sejarah jalinan asmara Hita. “Kapan nyusul, masa ditinggal duluan?” dan pertanyaan-pertanyaan lain yang menurut Hita cukup dibalas dengan tawa.

Pada bagian ini Prayit cukup beruntung, ia hanya bergulat dengan perasaannya sendiri. Tak ada interaksi khusus dengan para mempelai, karena memang dihindarinya. Tetangga juga tak banyak yang mengetahui perasaan dan apa yang pernah ia jalani dengan perempuan yang sedang menjadi pusat perhatian di hajatan.


Bagian 3 : sebuah panduan untuk menghadiri pernikahan mantan

Setiap orang yang mendapat undangan untuk hadir di pernikahan mantan punya dua pilihan, hadir atau mengabaikannya. Bagi mereka yang memilih hadir, mengingat banyak hal yang seringkali membuat loro pikir, baiknya mempersiapkan sejumlah hal yang bisa meminimalisir damage yang mungkin ditimbulkan.

Menghadiri pernikahan mantan juga harus siap dengan situasi-situasi tak terduga. Foto ilustrasi oleh Ghiffary Ridhwan on Unsplash
Menghadiri pernikahan mantan juga harus siap dengan situasi-situasi tak terduga. Foto ilustrasi oleh Ghiffary Ridhwan on Unsplash

Kali ini berangkat dari panduan yang dengan yakin dilontarkan Prayit, “Jangan menjalin hubungan dengan tetangga sendiri,” tegasnya. Jika hubungan itu berhasil dan langgeng sampai pelaminan sebenarnya akan memudahkan banyak hal.

Baca juga:  SEBELUM HARI H: SEBUAH FILM PENDEK

Sebab menikah dengan tetangga sendiri tentu akan menyederhanakan berbagai macam urusan. Mulai dari akomodasi untuk lamaran, kesamaan adat dan budaya merampingkan proses penyesuaian, dan berbagai urusan lain yang nampak bisa disederhanakan.

Tapi, seperti yang sudah dialami Prayit, punya riwayat hubungan asmara  dengan tetangga sendiri membuatnya sulit menghindar jika sejatinya tak ingin hadir di pernikahan mantannya. Apalagi pada beberapa adat dan kebiasaan, tetangga terlibat aktif dalam setiap hajatan yang diselenggarakan sebuah keluarga. “Ya kalau saya disuruh bantu rewang atau nyinom tapi gak dateng kan semakin jadi perkara ya Mas,” curhat Prayit.

Selanjutnya yang tak kalah penting adalah keberadaan teman saat menghadiri nikahan mantan. Ini jadi aspek paling penting yang ditekankan Hita. Meski ia menyayangkan belum bisa pamer gandengan baru saat menghadirinya.

Keberadaan teman, terutama yang mengetahui adanya riwayat asmara kita dengan salah satu mempelai, memang sering menjengkelkan. Hita menerima banyak lontaran kalimat, mulai dari kapan nyusul hingga pertanyaan tentang perasaannya. “Tapi keberadaan teman tetap membantu, mengalihkan pikiran sedih atau bingung, jadi daripada sendiri, aku pikir lebih baik datang ramai-ramai,” kata Hita lewat pesan suara.

Panduan terakhir dari Imam sedikit berbeda dengan dua narasumber lainnya. Ia menegaskan kalau memang masih ada perasaan mendalam dengan mantan yang hendak dihadiri nikahannya, sebaiknya tidak usah datang.

“Aku pernah datang ke nikahan mantan berkali-kali, dihadiri mantan saat pernikahanku sendiri juga pernah. Jadi kesimpulannya, jangan datang kalau salah satu dari kalian masih punya perasaan mendalam,” papar laki-laki lulusan sebuah kampus swasta di Jogja ini.

Ia berkaca pada pengalaman datang ke nikahan perempuan yang masih mencintainya. Momen tak terduga saat mantan mengutarakan perasaan terdalamnya pada Imam di panggung resepsi membuat Imam yakin bahwa sang suami kini menyimpan perasaan tidak suka dengannya.

“Dulu itu mantan saya gadis yang sumringah dan punya banyak teman, tapi setelah ada kejadian di nikahan itu jadi tertutup. Tidak pernah berinteraksi dengan teman-teman SMA lagi, termasuk aku, walaupun ya masih satu wilayah.  Sepertinya suaminya tidak suka,” tambahnya.

Saat pernikahannya sendiri, Imam juga mengalami hal tak terduga. Mantan kekasih istrinya menangis di tengah resepsi. Dia mengaku bingung apa yang telah diperbuat istrinya pada laki-laki itu di masa lalu. Yang jelas, itu membuatnya merasa tidak nyaman selama beberapa saat setelah pernikahan.

“Entah itu laki-laki tergila-gila dengan istri saya atau memang pernah disakiti yang begitu mendalam. Saya tak pernah tau sampai hari pernikahan itu,” ujar Imam.

Fragmen-fragmen kisah tentang pernikahan itulah yang membuat Imam yakin bahwa mendatangi pernikahan mantan tak selalu jadi jalan terbaik. Dampaknya bisa berkepanjangan. Selain itu pernikahan adalah momen emosional yang menurut Imam bisa terganggu ketika ada hal-hal tak terduga.

Bagian 4: mengikhlaskan

Dari tiga cerita di atas, saya kira cerita Mas Pur ini paling nggrantes. Hadir di pernikahan adalah syarat mutlak yang diajukan oleh mantannya. Bukan hanya hadir, tapi ia harus duduk paling depan di hari pernikahan sebagai bentuk keikhlasan karena si perempuan menikah dengan orang lain.

Baca juga:  Jasa Info Kos, Merepotkan atau Memudahkan?

Eh gimana..gimana?

“Jadi gini lo, orang tuanya yang sudah sepuh, saat itu minta anak perempuannya segera menikah. Orang tuanya berharap anak perempuannya menikah dengan PNS,” kata Mas Pur, pria diakhir usia 30-an.

Saat itu Mas Pur berusia 22 tahun, sementara si perempuan sudah berusia 25 tahun. Sebagai anak ragil, si perempuan tidak ingin mengecewakan orang tuanya yang mulai sakit-sakitan. Sementara Mas Pur sendiri saat itu merasa masih sangat muda. Statusnya juga masih mahasiswa yang nyambi kerja.

Si perempuan meminta jika memang Mas Pur ikhlas, syaratnya pertama harus setuju dengan calon yang diajukan orang tuanya dan yang paling berat harus hadir di pernikahan dan duduk paling depan saat pemberkatan pernikahan. “Saya sanggupi syaratnya demi kebahagiannya. Sumpah, saat itu saya hanya ingin dia bahagia,” kata Mas Pur yang masih melajang sampai saat ini.

Sesaat sebelum acara pemberkatan di gereja. Calon mempelai perempuan meminta Mas Pur masuk ke kamar pengantin. Di kamar, perempuan itu memeluknya sambil menangis. Bertanya, apakah sudah benar yang ia lakukan. “Saya memeluknya erat,” kata Mas Pur mengenang peristiwa 17 tahun silam dengan mata berkaca-kaca.

Pada akhirnya Mas Pur memenuhi syarat yang diminta si perempuan. “Saya duduk paling depan di kursi dekat altar gereja. Mendengarkan dia dan calon suaminya mengucapkan janji sehidup semati, dalam suka dan duka,” kata Mas Pur.

Mas Pur yang berusaha tenang selama prosesi pernikahan akhirnya runtuh juga pertahanan air matanya. Itu terjadi saat perjalanan pulang. “Di atas motor Grand 94′, sepanjang perjalanan dari Bambanglipuro hingga Yogya, di balik kaca helm, saya menangis. Seperti ada kelegaan luar biasa, tapi di sisi lain saya sadar, saya kehilangan orang yang amat saya cintai,” katanya menerawang.

Kisah datang ke pernikahan mantan sejatinya merupakan hal yang lumrah. Jumlah orang yang putus hubungan baik dalam status pacaran maupun pernikahan begitu banyak. Barangkali sebanyak itulah kisah-kisah mendatangi pernikahan mantan.

Namun, momen-momen yang sebenarnya lumrah ini selalu menyimpan kisah yang tak pernah membosankan bagi para penyimaknya. Buktiknya, di TikTok tagar Nikahan Mantan memiliki jumlah tayangan mencapai 61,3 juta hingga tulisan ini dibuat.

Konten-konten itu menangkap momen bahagia, lucu, hingga duka. Ada yang mengaku sudah foto prewedding namun justru pasangannya berakhir dinikahi orang lain. Akta cerai baru keluar sebulan namun mantan suami sudah menikah lagi. Pacaran belasan tahun namun akhirnya sang kekasih menikah dengan orang lain, dan beragam kisah lain yang saya coba konfirmasi namun belum berhasil tergali sampai tulisan ini ditayangkan.

BACA JUGA Ditinggal Menikah Tak Pernah Jadi Perkara Mudah dan liputan menarik lainnya di rubrik SUSUL.