• 54
    Shares

MOJOK.CO – Pengalaman pertama selalu berkesan. Seperti apa pengalaman pertama anggota legislatif ketika kali pertama naik pesawat? Tom dan Jerry? Simak sudah e!

Saya Legislatif!

Pada Pemilu 2014 lalu, ada kisah dari Halmahera tentang seorang bapak yang baru terpilih menjadi anggota DPRD. Tak lama setelah pelantikan, si bapak anggota dewan ini dijadwalkan berangkat ke Jakarta, entah itu kunjungan kerja atau jalan-jalan. Tiket pesawat telah dipersiapkan oleh stafnya. Menariknya, ini pengalaman pertama si bapak naik pesawat.

Saat di bandara, ketika waktu boarding dan semua penumpang dipersilahkan naik ke pesawat, si bapak ini langsung memilih-milih tempat duduknya di bagian kabin belakang. Seorang pramugari di kabin belakang yang melihat tingkah si bapak, kemudian menghampirnya.

“Permisi Pak, boleh saya lihat boarding pass-nya?” tanya pramugari.

“Yang mana?”

“Kertas putih itu, Pak, tiketnya.”

“Oh ini.” Si bapak menyodorkan boarding pass-nya.

“Oh bapak ini di eksekutif!”

“Ah ibu pramugari, saya ini di Legislatif bukan Eksekutif,” jawab si bapak dengan suara keras.

“Maksud saya, bapak itu duduk di kursi eksekutif.”

“Tidak! Saya ini anggota Legislatif bukan Eksekutif!”

“Maksudnya tiket bapak itu duduk tiket di kelas eksekutif. Kursi bagian depan dengan pelayanan dan fasilitas khusus! Sekarang ini bapak di kursi kelas ekonomi!”

“Oh begitu! Boleh juga e saya Legislatif tapi duduk di eksekutif.” Si bapak mengikuti arahan pramugari, diikuti cekikan para penumpang lain.

Baca juga:  Kalau Adam dan Hawa Orang Minahasa, Kita Pasti Masih Tinggal di Surga

Setelah pesawat lepas landas, si bapak lalu berbisik ke rekannya di kursi samping, “Ngana bayangkan itu sayap pesawat. Lurus saja laju begini. Apalagi dia mengepak kaya burung, bah! akan lebih laju lagi.”

Selang Minyak

Masih ingat Ungke? Di kampungnya, Ungke adalah anak yang sangat rajin. Selain rajin membantu orang tua, Ungke juga senang menolong orang lain. Namun begitu, Ungke memiliki kebiasaan sering lupa apa yang diucapkan orang lain.

“Ungke! Mari ke sini dulu!” Panggil kepala kampung pada suatu sore.

“Bagimana Om Pala?”

“Minta tolong pinjam selang minyak di Om Daeng punya kios dulu e?”

“Oke, Om Pala.”

Ungke lalu bergegas menuju kios milik Om Daeng. Karena takut lupa, sepanjang jalan, Ungke menyebut-nyebut kata “slang minyak…slang minyak…slang minyak…slang minyak…slang minyak …” berulang-ulang, hingga tiba di depan kios Om Daeng.

“Mo beli apa Ungke?” Tanya Om Daeng.

“Eh Om Daeng, tadi Om Pala minta bantu mo pinjam Om Daeng pe…” Ungke terhenti, cilaka dia lupa kata kepala kampung tadi.

“Pinjam apa?”

“Aduuuh itu …..” Ungke sambil menggaruk kepala mengingat-ngingat.

“Apa?”

“Itu…”

“Apa?”

“Itu, Om Pala suruh pinjam barang yang tusuk di sini keluar di sana tu.”

“Barang apa itu?”

“Itu yang tusuk di sini, tusuk di sana, baru minyak bisa bapindah itu.”

“Ohhh slang minyak?”

“Ah itu sudah!”

“Ungke ngana rusaaak!” Om Daeng terguling-guling

Tom and Jerry

Suatu ketika, Ungke terkejut bukan main setelah menggosok sebuah kupon gosok-gosok berhadiah dari snack ciki yang ia beli. Ungke memenangkan liburan ke London. Ungke sangat bahagia. Satu kampong ikut senang.

Baca juga:  Ketika Sala Pakai Logat Jawa, Masih Kena Pukul

Singkat cerita, Ungke lalu diberangkatkan ke London dan diinapkan di sebuah hotel berbintang yang sangat mewah. Saat ungke sedang leyeh-leyeh di kasur mewahnya, tiba-tiba ada seekor tikus melintas di depannya. Tanpa pikir panjang, Ungke langsung meraih telepon dengan niat menghubungi resepsionis memprotes ketidaknyamanan itu.

“Halo resepsionis?”

“Yes sir, can we help you?”

“Resepsionis, you know Tom and Jerry?”

“Yes sir. Why?”

“Jerry is here”

“………………”

Resepsionis bingung.

Pendeta dan Jemaat

Sekali waktu terjadi kecelakaan yang menewaskan seorang pria di kampung tetangganya Ungke. Korban kecelakaan tersebut langsung dibawa ke rumah duka. Setelah dimandikan, jenazah lalu dimasukkan ke dalam peti mati dan diletakkan di ruang tamu. Saat itu malam hari. Semua masyarakat berkumpul. Pak pendeta lalu memberi khutbah.

“Wahai jemaat sekalian. Sesungguhnya kita tidak perlu takut terhadap orang yang mati karena celaka. Kita berdoa agar arwahnya diterima di sisi Tuhan.” Ketika hendak melanjutkan khotbahnya, tiba-tiba lampu padam. Seketika gelap. Suasana menjadi hening.

“Jemaat?”

Jemaat tidak ada yang menjawab.

“Jemaaat?”

Tetap tidak ada jawaban.

“Jemaaaat?” suara pak pendeta mulai keras.

“Ah cukimai jemaat. Jangan ko main-main ini (mayat) mati celaka ini!”

Padahal Jemaat so kabur dari tadi!

  • 54
    Shares


Loading...



No more articles