Rubrik: Esai

Belajar dari Lesty Kejora: Pantang Patah Hati Tanpa Jadi Royalti!

MOJOK.COWarganet julid atau haters acara televisi dalam negeri pasti akan berkomentar sama Lesty Kejora: halah, gimmick sampah begitu aja ditonton!

Lesyani Andryani atau yang dikenal publik sebagai Lesty Kejora baru saja merayakan ulang tahun ke-21 dengan siaran langsung konser tunggalnya di Indosiar pada 5-6 Agustus 2020, tepatnya dari jam 8 malam sampai hampir jam 1 dini hari.

Bagi sadbois dan sadgirls Nusantara nama Lesty Kejora belakangan memang sedang hits. Maklum, juara Dangdut Academy musim pertama itu baru saja ditinggal menikah sang mantan Rizki Syarifuddin, alumni akademi dangdut yang sama, setelah lima tahun pacaran.

Popularitas keambyaran Lesty Kejora meroket setelah dia dipertemukan dalam satu program dengan Rizky Billar, pemain sinetron yang juga baru saja ditinggal menikah Dinda Hauw bersama pasangan uwu-nya.

Warganet pecinta drama segera menjodohkan mereka dengan segenap cocoklogi digital, mulai dari kebesaran hati keduanya menghadiri pernikahan mantan hingga kesamaan sudut senyum mereka. Dalam waktu singkat kisah keduanya bahkan langsung menghimpun fanbase LesLar alias Lesty Billar.

Kisah ambyar mereka lebih menarik warganet dibanding afeksi publik masif yang ditunjukkan masing-masing mantan bersama pasangan baru. Bahkan dengan total 18 juta pengikut di Instagram, koalisi ditinggal rabi ini konon berhasil menjadikan K-Popers tertarik pada dunia dangdut. Memang solidaritas patah hati sering kali jauh lebih kuat dari jatuh hati.

Berbekal sumber daya shipper itulah Indosiar percaya diri menyelenggarakan konser mewah untuk merayakan patah hati ulang tahun Lesty Kejora. Ditemani para bintang beragam kompetisi dangdut, acara ultah Lesty Kejora semakin semarak dengan drama musikal kisah cinta segitiga Lesty, Billar, dan seorang biduan lain.

Di tengah nyanyian dan drama itu, tidak lupa kwartet host julid kebanggaan Indosiar menyisipkan iklan sponsor baik tersirat maupun tidak. Sungguh benar-benar perayaan ultah idaman: kapitalisasi patah hati at its finest!

Warganet julid atau haters acara televisi dalam negeri pasti akan berkomentar: halah, gimmick sampah begitu aja ditonton!

Mungkin drama musikal dan konser Lesty hanya gimmick yang memanfaatkan kesamaan nasibnya dengan Billar. Tapi bukankah memang begitu cara kerja industri hiburan, bahkan dalam serial televisi bule yang kalian banggakan? Lagipula bukankah dunia ini sejatinya adalah panggung gimmick terbesar bagi kita semua? Maka kenapa tidak belajar dari gimmick yang sukses? Eh.

Konser ultah Lesty Kejora mengambil tagline “Berbagi Cerita Lewat Nada”. Selama lebih dari empat jam, setidaknya sepuluh single Lesty Kejora dinyanyikan baik sendiri, duet, maupun oleh teman artis.

Menurut catatan saya, dari awal sampai akhir konser lagu-lagu yang dinyanyikan bermuatan kesedihan dan emosi negatif: patah hati, pengkhianatan, perpisahan. Baru setelah single terbarunya Kulepas dengan Ikhlas dinyanyikan, atmosfer cerita menjadi lebih cerah.

Alur yang sama meski berkebalikan atmosfer berlaku dalam pemilihan kostum Lesty Kejora; diawali dengan playful mididress berwarna pink-kuning cerah, dan diakhiri gaun merah yang lebih gelap namun anggun. Seolah ingin menggambarkan pertumbuhan kematangan diri Lesty ketika baru mengenal cinta hingga berhasil merelakan yang tercinta bersama pilihannya.

Sekalipun diwarnai banyak gimmick asmara antara Lesty dan Billar, menurut saya konsep ultah Lesty Kejora justru mengambil fokus tema pada self love.

Dimulai dari akhir drama ketika Lesty Kejora memutuskan tidak memilih siapapun untuk menjadi pasangan barunya sebab ingin menikmati kesendirian. Lalu kehadiran hadiah spesial berupa “kostum audisi”  yang memanggil kenangan perjuangan impian Lesty dalam dunia musik. Hingga puncaknya pada arus tangis tak tertahan Lesty saat berduet bersama dirinya sendiri dalam lagu Kejora.

Saat berduet dengan dirinya sendiri melalui montase video di layar, Lesty Kejora tidak lagi bisa menahan tangis seperti ketika berulang kali disinggung perihal asmaranya yang kandas. Lesty benar-benar tenggelam dalam aliran pertumbuhan dirinya sendiri; baik secara fisikal, mental, dan spiritual.

Proses menjadi “Kejora” sejak dirinya masih kerap mendapat pelecehan ketika manggung di pinggiran, hingga memenangkan banyak penghargaan musik bergengsi dan menjadikannya mendapat panggung “terhormat” sesuai impian.

Pemutaran dokumentasi Lesty Kejora dari masa ke masa menurut saya adalah kado patah hati terbaik untuknya. Sebab bagian paling menyebalkan dari perpisahan adalah membenci diri sendiri dan menilainya tidak cukup berharga untuk diterima orang lain.

Memiliki pasangan toxic hingga berpisah sudah cukup berbahaya, terlebih jika kemudian mewarisi sikap toxic tersebut dengan melakukan penolakan atas diri sendiri.

Makanya mereka yang benar-benar patah hati tidak akan mudah untuk berpindah hati. Sebab dalam bawah sadar ada perasaan tidak pantas hingga ketakutan ditolak kembali. Dalam level akut, perasaan ini bahkan bisa mempengaruhi aspek kehidupan lain (tidak hanya asmara). Itulah kenapa, meski bagimu remeh, validasi diri sangat penting untuk menyembuhkan luka batin mereka.

Dibandingkan saat peluncuran “Kulepas dengan Ikhlas”, menurut saya emosi Lesty ketika menyanyikan “Kejora” jauh lebih dalam. Seolah mengisyaratkan momen kehilangan tidak lebih berarti dari momen pengukuhan diri pascakehilangan.

Kalau kata penulis buku Rules of Love, “Kita boleh kehilangan orang lain. Orang lain pun boleh kehilangan kita. Tapi kita tidak boleh kehilangan diri sendiri.”

Lesty Kejora yang tidak kehilangan dirinya setelah kehilangan orang terkasih adalah pencapaian besar. Bukan hal yang mudah untuk mengaku kalah tanpa menyerah pada keadaan. Dia merayakan energi patah hatinya dengan cara terbaik yang dipunyai seniman: berkarya.

Sungguh teladan bagi sobat ambyar untuk tidak hanya menangisi yang sudah pergi, melainkan mengolah patah hati menjadi royalti.

Terus berkarya ya, Esty, eh Lesty! Semoga bisa menemukan kebahagiaan royalti hakiki!

BACA JUGA Merindukan Dangdut Academy Indosiar yang Sudah Ganti Nama Jadi Liga Dangdut Indonesia atau tulisan Esty Dyah Imaniar lainnya.

Leave a Comment