Stephen Hawking, 76 Tahun Menerjemahkan Semesta

MOJOK.COStephen Hawking, fisikawan terbesar sesudah Albert Einstein, meninggal dunia hari ini di kediamannya di Cambridge, Inggris, di usia 76 tahun.

Selain atas sumbangsihnya pada ilmu pengetahuan, fisikawan terbesar setelah Albert Einstein, Stephen Hawking, juga populer karena kejenakaannya. Salah satu contohnya ketika Hawking menerima penghargaan dari Paus Yohanes Paulus II atas sumbangsihnya ke dunia keilmuan.

Kepada temannya Hawking berkata, “Sepertinya beliau (Sri Paus) tidak memahami teori saya.”

Waktu itu Hawking baru saja mengembangkan No Boundaries Theory, teori yang mengatakan bahwa model kosmologi dunia tak mempunyai awal dan akhir. Konsekuensi teori ini adalah, Hawking meniadakan Tuhan dalam pembentukan dunia. “Jika beliau tahu, saya bisa diamuk-amuk,” ucapnya.

Di kesempatan lain di Sydney pada 2015, ia bahkan melawak. Saat itu Hawking hadir secara virtual dalam bentuk hologram ketika berceramah di Opera House, ia membuka pidatonya dengan berkata,

“Walau saya senang jika bisa berada di sana langsung, tapi gagasan untuk menjadi orang pertama yang hadir dalam bentuk hologram di panggung Opera House terlalu bagus untuk ditolak. Sebab, ketika saya berceramah di kesempatan lain, saya tidak bisa melakukan ini.”

Ia lalu memutar hologram dirinya sendiri seperti baling-baling.

“Saya harus tekankan bahwa ini bukan kali pertama saya muncul dalam bentuk hologram,” lanjut Hawking, “Saya pernah melakukannya di episode awal ‘Star Trek: The Next Generation’. Di episode itu, saya main poker dengan Isaac Newton, Albert Einstein, dan Commander Data.”

Ia diam sebentar karena hadirin bertepuk tangan.

“Dan saya menang,” lanjutnya.

Kali ini hadirin tertawa keras.

***

Tanpa perlu menjadi fisikawan, Anda bisa membayangkan betapa sulitnya menjelaskan fisika, teoretis pula, kepada masyarakat awam. Bagaimana, misalnya, menjelaskan sebuah bintang mati yang kehabisan daya nuklirnya kemudian runtuh, lalu gravitasi mengisap semuanya sehingga cahaya sekalipun tak mampu keluar darinya, tanpa rumus fisika sama sekali?

Memopulerkan fisika adalah satu dari banyak sumbangan Hawking pada ilmu ini. Pada 1988, dia menerbitkan buku yang resepnya mesti menjadi teladan bagi semua penerbit, yakni sebisa mungkin jangan pernah menggunakan istilah rumit. Tak ada satu rumus pun yang muncul di buku Hawking, A Brief History of Time (di Indonesia berjudul Riwayat Sang Kala).

“Saya sudah disemprit penerbit saya. Katanya, jika ada satu saja rumus yang muncul, buku itu penjualannya menurun separuhnya,” tulis Hawking. Rumus ini berhasil dan sampai sekarang, buku itu disebut sebagai buku fisika teoretis paling laris.

Buku ini membuat saya menyukai kosmologi, ilmu tentang alam semesta. Di saat yang sama, nilai Fisika kelas 1 dan 2 SMA saya ada di angka 4.

Dengan angka itu di rapor, saya bisa menjelaskan kepada Anda bagaimana sebenarnya materi itu terdistribusi dalam paket-paket yang disebut kuanta. Anda juga bisa mengajak saya mendiskusikan prinsip ketidakpastian Heisenberg dan paradoks kucing Schroedinger, atau tentang teori kuantum yang membawa konsekuensi yang membingungkan karena “akibat” bisa terjadi lebih dulu dari “sebab”.

Semua itu, my lov, berkat membaca karya Stephen Hawking.

Jika buku Hawking sudah cukup bikin pembacanya petantang-petenteng dengan konsep-konsep fisika, Hawking sendiri jauh lebih menarik. Sewaktu mahasiswa pascasarjana, ia terlibat debat terbuka di sebuah seminar dengan fisikawan teoretis terkenal saat itu, Fred Hoyle. Ketika semua audiens terdiam setelah Hoyle menyelesaikan penjabaran teorinya, Hawking mengacungkan tangan dan berkomentar singkat, “Perhitungan Bapak divergen!”

Hoyle kontan terenyak, sebab pernyataan itu sama saja mengambil kartu terbawah dari bangunan kartu teorinya. Artinya, teorinya yang panjang itu runtuh semua. Hoyle menjawab “konvergen”, Hawking bergeming dengan “divergen”. Sejarah membuktikan, Hawking yang benar.

Dengan segala kekikukannya, Hawking menyerupai Dilan dalam versi lebih intelek. Beberapa kali, saat menempuh S-1, ia keluar ujian dalam waktu 15 menit tanpa menjawab satu soal yang diujikan. Dia keluar ruangan dengan catatan sejumlah kesalahan yang ada dalam soal tersebut. Dosennya ngeh, Hawking lebih paham persoalan itu ketimbang dirinya.

Hawking memang telah memperoleh penghargaan tertinggi di dunia fisika teoretis, yakni kursi Lucasian Professor of Mathematics di Universitas Cambridge: posisi yang pernah ditempati oleh Sir Isaac Newton, penemu hukum gravitasi.

Namun, sepanjang hayatnya, Hawking belum pernah mendapat Nobel karena terbentur syarat bahwa teori penerima Nobel harus terbukti secara eksperimental. Para fisikawan teoretis tak pernah punya kesempatan melakukan eksperimen itu. Sebab, bagaimana pergi ke Lubang Hitam dan menguji teori Hawking? Bahkan Einstein mendapatkan Nobel Fisika bukan karena teori Relativitas Umum, melainkan karena teori foton.

Tapi, tanpa Nobel Hawking tetap akan menjadi legenda. Pencarian sepanjang hidupnya adalah pekerjaan yang terus dilakukan manusia sejak ribuan tahun lalu: mencari Theory of Everything, teori tentang segalanya yang menjelaskan alam semesta secara lengkap.

Sejauh ini, ada dua teori yang bertolak belakang, yakni teori Relativitas Umum Einstein untuk menjelaskan jagat makro dan Mekanika Kuantum untuk jagat mikro. Dua teori ini tak pernah bisa disatukan dan bertolak belakang. Menyatukan dua teori itu menjadi kesatuan yang bisa menjelaskan semuanya adalah obsesi manusia yang tidak bisa diselesaikan Hawking. Seperti yang ia tulis di paragraf terakhir Riwayat Sang Kala, mengetahui segala sesuatunya (everything) sama seperti mengetahui pikiran Tuhan.

“Saya lahir pada 8 Januari 1942,” masih dalam ceramahnya di Opera House, “di hari tepat 300 tahun kematian Galileo walaupun saya perkirakan, ada sekitar 200 ribu bayi lain yang juga lahir di hari itu.”  Dan hari ini, tepat di hari ulang tahun Albert Einstein ke-139, Stephen Hawking mangkat bersamaan dengan, menurut perkiraan, meninggalnya 115 ribu orang lainnya.

Exit mobile version