Perintah Alquran Ihwal Membaca dan Menulis

Hikayat-2019 - Mojok.co

MOJOK.COFirman pertama yang diturunkan pada Nabi Muhammad saw adalah perihal membaca. Namun, tindakan membaca ini juga menghajatkan sesuatu untuk dibaca.

Kata perintah “bacalah!” merupakan firman pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Wahyu Alquran mulai turun pada malam 27 Ramadan 611 Masehi, ketika Rasulullah sedang tafakur di Gua Hira dekat Makkah. Kita tahu bahwa Muhammad adalah buta huruf. Diceritakan bahwa Nabi Muhammad menjawab lima kali, “Aku tidak bisa membaca.” Namun, wahyu bersikeras bahwa dia harus membaca. “Apa yang harus aku baca?” Rasulullah akhirnya bertanya. “Bacalah!” demikian jawaban wahyu, “Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah; yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. al-‘Alaq [96]: 1-5).

Ayat-ayat pertama ini menegaskan bahwa membaca memiliki tempat khusus dalam Alquran. Akan tetapi, tindakan membaca juga menghajatkan sesuatu untuk dibaca. Jadi, membaca diikuti oleh menulis, penggunaan kalam atau pena, alat yang membuat kita mengetahui “apa yang tidak kita ketahui sebelumnya”. Oleh karena itu, membaca dan menulis merupakan bagian penting dalam penemuan. Inilah satu jalan yang mengantarkan manusia pada kegemilangan dan kesempurnaan.

Membaca dan menulis itu penting bukan hanya bagi masyarakat terdidik yang hendak dibangun Alquran, melainkan juga untuk menciptakan kebudayaan, menghasilkan pengetahuan anyar, dan jadinya, membangun satu peradaban dinamis yang maju. Membaca dan menulis adalah perangkat dasar yang telah diajarkan Tuhan kepada kita untuk berkomunikasi (Q.S. al-Rahman [55]: 4) dan menanamkan pemikiran kritis kepada manusia.

Nabi Muhammad sendiri sangat menekankan pentingnya penulisan sesuatu. Dia mengikuti nasihat yang disampaikan Alquran (Q.S. al-Baqarah [2]: 282) untuk menuangkan segala sesuatu dalam tulisan: “Hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya.” Salah satu tindakan pertama yang dia lakukan saat tiba di Madinah adalah menulis satu konstitusi bagi warga kota yang menjamin keamanan dan kemerdekaan beragama, menetapkan sistem pajak, dan mekanisme penyelesaian konflik (Hamidullah 1975).

Kala Rasulullah kembali ke tempat kelahiran, pasca penaklukan Makkah, dia memaafkan semua orang yang sekian lama membenci, memburu, dan mengusirnya dari Makkah. Namun, Rasulullah tidak membebaskan begitu saja. Dia membebankan tanggung jawab hakiki kepada beberapa di antara mereka, yaitu mengajari sepuluh muslim bagaimana membaca dan menulis. Jadi, membaca dan menulis adalah sendi utama Islam.

Akan tetapi, pena bisa digunakan untuk menganjurkan kebaikan sekaligus mendorong kejahatan. Ayat-ayat pembuka surah al-Qalam (Pena), melukiskan nilai ini. “Demi kalam (pena) dan apa yang mereka tulis!” demikian awal surah ini, “Berkat nikmat Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukanlah orang gila. (Q.S. al-Qalam [68]: 1-2). Salah satu tuduhan awal penduduk Makkah kepada Muhammad ialah bahwa dia orang gila. Tuduhan itu tidak lantas menjadi benar hanya karena tuduhan itu dituliskan. Kalimat “dan apa yang mereka tulis” memiliki makna ganda. Di satu sisi, kalimat ini tentu saja merujuk secara umum pada apa yang ditulis orang. Di sisi lain, ini juga merujuk pada Alquran sendiri, yang dituliskan sejumlah penyalin ketika kitab suci ini diturunkan (Al-Azami 2003: 68).

Tuduhan “gila” ditujukan kepada Rasulullah dan juga kepada apa yang diwahyukan kepadanya, yakni Alquran. Seraya membantah tuduhan terhadap Rasulullah, Alquran mempertanyakan para penuduh itu: “Apakah mereka memiliki pengetahuan tentang yang gaib lalu mereka menuliskannya?” (Q.S. al-Thur [52]: 41). Dengan kata lain, Alquran menantang, bisakah kalian membuktikan kebenaran tuduhan yang kalian lemparkan dengan menuliskan sesuatu yang seabadi dan selanggeng Alquran?

Oleh sebab itu, kata-kata tertulis bisa memenuhi sejumlah tujuan. Secara harfiah, demikian Alquran memberi tahu kita, baik yang terucap maupun tertulis, selalu merupakan ungkapan dan niatan etis dan moral seseorang. Maka, Alquran membagi kata ke dalam dua kategori, baik dan buruk.

Kalimat yang baik itu ibarat pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya di setiap musim dengan seizin Tuhan-nya. Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk itu seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi dan tidak dapat tegak sedikit pun (Q.S. Ibrahim [14]: 24-26).

Kalimat dan tulisan yang baik bukan hanya bentuk penghiburan dan alat untuk mengomunikasikan pikiran, pengalaman, hikmah, dan pengetahuan dari satu individu ke individu, generasi ke generasi, dari satu budaya ke budaya liyan. Kalimat yang baik juga sesuatu yang akan lestari dan bertahan melalui waktu. Dan, kata-kata yang baik juga mengandung rahmat dari Tuhan yang kali pertama menciptakan kata: “Allah meneguhkan iman orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan dunia dan akhirat. (Q.S. Ibrahim [14]: 24-26).

Namun, kalimat yang baik tidak bisa dibaca sembarangan. Kita perlu membaca dan mengevaluasi apa yang kita baca. Tanpa kesadaran kritis, kita tak bisa mendapatkan makna terbaik: “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang terbaik di antaranya.Menurut Ziauddin Sardar dalam bukunya, Reading The Qur’an: The Contemporary Relevance of the Sacred Text of Islam (2011: 482), ada pelbagai cara membaca yang berbeda-beda. Sesuatu yang ditulis dengan niat baik bisa dibaca dengan cara buruk. Alquran menyampaikan bahwa membaca selalu merupakan latihan menafsir. Dan pilihan yang kita buat dalam membaca teks kitab suci seperti Alquran selalu merupakan pilihan etis.

Hal ihwal ini membawa kita kepada satu teka-teki besar komunitas muslim kontemporer: tingkat melek huruf di banyak negara muslim teramat rendah, terutama di kalangan perempuan. Bagaimana bisa kita, kaum beriman, terpuruk dalam kecabuhan mengerikan ini? Tidak boleh ada dalih apa pun untuk membenarkan kekacauan ini. Terutama karena sejarah Islam sarat dengan contoh mengenai pendidikan gratis, institusi-institusi publik seperti perpustakaan dan pusat penelitian ilmiah dapat diakses gratis oleh masyarakat disertai upaya sistematis untuk menerjemahkan dan menyediakan –dalam bentuk tertulis–sebanyak mungkin pengetahuan di dunia (Masood 2009).

Namun, kemunduran dan halai-balai itu ada penyebabnya. Masih menurut Sardar, di antara penyebab internalnya adalah pemujaan kaum muslim terhadap bentuk lisan Alquran: kita senang ketika mendengar seorang anak muda menjadi hafizh (penghafal Alquran) dan mampu melafalkan Alquran  dari awal sampai akhir hanya mengandalkan ingatan. Seyogyanya kita tidak menganggap kemampuan ini sebagai pendidikan hakiki. Fakta bahwa kita suka mendengarkan Al-Quran dibacakan bukanlah dan semestinya tidak pernah menjadi alasan untuk berpandangan bahwa kita tak perlu lagi sungguh-sungguh membaca dan menulis (Sardar 2011: 483).

Perkembangan ini tidak boleh menghentikan upaya kita untuk menjamin semua orang melek huruf. Tatkala begitu banyak muslim di seluruh dunia yang tidak paham bahasa Arab, kemampuan membaca Alquran bukanlah syarat untuk memenuhi penekanan Alquran pada membaca dan menulis dalam bahasa kita masing-masing. Arkian, ada juga pembelajaran yang ditekankan pada hafalan—terutama hafalan Al-Quran. Dalam hal ini, sistem hafalan itu tetap dijadikan dasar pendidikan agama formal hingga kiwari. Teknik-teknik ini mungkin pantas dan efektif di zaman dulu.

Hari ini, teknik semacam itu menjadi hambatan untuk mengembangkan kesadaran kritis. Padahal kesadaran kritis itulah tujuan membaca yang ditekankan Alquran. Penyebab liyan kemunduran umat muslim berkelindan dengan sejarah, warisan kolonialisme, dan ketegangan antara tradisi dan modernitas. Pelbagai alasan itulah yang mendorong sebagian besar kaum muslim melestarikan tradisi lisan Alquran dan teknik hafalan untuk mempertahankan kemerdekaan budaya. Namun, hasilnya sangat bertentangan dengan apa yang diajarkan sendiri oleh Alquran. Penyebab lainnya ialah ketertinggalan dalam pembangunan dan kurangnya sumber daya untuk mengembangkan pendidikan.


Sepanjang Ramadan MOJOK.CO akan menampilkan kolom khusus soal hikayat dan sejarah peradaban Islam dari sejarahwan Muhammad Iqbal.

Exit mobile version