Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya

Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya MOJOK.CO

Ilustrasi Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya. (Ega Fansuri/Mojok.co)

MOJOK.COMenjadi dosen itu seperti bermain peran layaknya aktor drakor, bermain banyak peran sekaligus. Pusing, kan?

Di Indonesia, profesi dosen sering digambarkan sebagai sosok yang punya aura agak-agak sakral. Hidupnya berkutat dengan buku, ide, riset, publikasi, dan diskusi intelektual. Dipandang sebagai profesi mentereng yang berdiri di depan kelas menjelaskan materi, lalu pulang dengan tenang setelah mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Sayangnya, gambaran itu hanya berlaku di poster maupun flyer promosi kampus saat mencari mahasiswa baru. Di dunia nyata, hidup menjadi dosen sering lebih mirip tokoh drakor yang harus memainkan banyak peran sekaligus. Pusing. 

Dalam teori pendidikan tinggi Indonesia, ada konsep yang sangat terkenal: Tri Dharma Perguruan Tinggi. Isinya sederhana dan terdengar sangat bermartabat serta mulia: Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat. 

Tiga tugas itu merupakan “ruh” perguruan tinggi. Akan tetapi, Tri Dharma sering terasa bukan sebagai kehormatan, melainkan seperti paket pekerjaan yang tidak pernah selesai. 

Kadang terasa lebih mirip “triduka” karena menjadi dosen berarti punya tugas mencerdaskan bangsa, tapi energinya habis dikuras untuk urusan administrasi yang nggak habis-habis.

Menjadi dosen: Dari urusan akademik sampai jadi panitia halalbihalal

Di mata mahasiswa, pekerjaan dosen tampaknya sederhana: datang ke kelas, mengajar dua jam, lalu pulang. Tidak heran jika ada mahasiswa yang berpikir dosen itu profesi yang santai. “Pak, enak ya jadi dosen. Masuk cuma dua jam seminggu.”

Kalimat itu biasanya hanya dibalas senyum tipis oleh dosen. Padahal, ada gunung es pekerjaan di balik kelas dua jam itu yang tidak terlihat. Dosen harus menyiapkan materi dan membaca literatur terbaru. Mereka membuat soal ujian sekaligus memeriksa tumpukan tugas. Belum lagi urusan bimbingan tugas akhir. Itu belum menghadapi pesan singkat dari mahasiswa pada pukul sebelas malam. Kalimatnya klasik: “Pak, boleh minta tanda tangan lembar pengesahan skripsi? Besok pagi saya ujian hasil.”

Dalam praktiknya, pekerjaan mengajar bukan sekadar berdiri di depan kelas. Ia sering berganti menjadi pekerjaan yang merembet ke mana-mana—dari urusan akademik sampai jadi panitia halal-bihalal. Namun, anehnya justru pekerjaan mengajar sering bukan yang paling menyita energi dosen.

Melelahkannya menjadi dosen yang berdampak

Idealnya, selain mengajar dosen adalah peneliti. Dosen seharusnya membaca banyak buku, memikirkan masalah besar, lalu menulis gagasan yang mampu untuk mengubah dunia sesuai dengan motto Dikti: Kampus Berdampak. Masalahnya, untuk sampai ke tahap itu, dosen harus melewati satu ritual yang cukup melelahkan: proposal hibah penelitian. 

Proposal ditulis panjang-panjang, dengan metodologi yang rapi, target luaran yang jelas. Anggaran juga disusun seperti laporan proyek pembangunan jalan tol. Setelah itu proposal dikirim, lalu menunggu nasib—diterima atau tidak. 

Jika proposal tidak lolos, dosen gigit jari. Tahun depan coba lagi. Jika lolos, justru mulai garuk kepala karena pekerjaan sesungguhnya bukan di laboratorium, melainkan di depan tumpukan laporan kemajuan, laporan akhir, hingga seminar hasil. 

Kadang, jumlah formulir administratif dan lampiran nota jauh lebih tebal daripada substansi artikel ilmiahnya sendiri. Di titik ini, sebagian dosen mulai bertanya dalam hati: ini sebenarnya sedang meneliti atau sedang menjadi pegawai administrasi yang kebetulan menulis jurnal?

Tri Dharma Perguruan Tinggi yang bertambah dari seorang akademisi menjadi operator birokrasi

Bagian ketiga dari Tri Dharma adalah pengabdian kepada masyarakat. Secara konsep, ini sangat indah. Kampus tidak boleh terpisah dari masyarakat. Ilmu harus memberi manfaat bagi kehidupan nyata.

Namun, dalam praktiknya, pengabdian masyarakat sering berubah menjadi kegiatan yang lebih dekat dengan kewajiban administratif daripada transformasi sosial. Dosen datang ke suatu desa, memberi penyuluhan, foto bersama warga, lalu pulang. 

Tugas paling penting selanjutnya adalah menyusun laporan kegiatan. Di dalam laporan itu harus ada banyak hal: latar belakang, metode kegiatan, dokumentasi foto, hingga daftar hadir peserta.

Kadang muncul pertanyaan kecil yang cukup mengganggu: apakah yang lebih penting dalam kegiatan ini—manfaat menjadi dosen bagi masyarakat, atau menyusun kelengkapan dokumen laporannya?

Jika Tri Dharma hanya berisi tiga hal di atas maka kehidupan dosen masih cukup terkendali. Masalahnya, di luar tiga tugas itu masih terdapat pekerjaan lain yang tidak tertulis dalam konsep Tri Dharma maupun kontrak kerja. 

Ada rapat kurikulum. Ada rapat akreditasi. Ada rapat evaluasi pembelajaran. Ada pengisian berbagai sistem digital yang namanya semakin hari semakin kreatif saja.

Setiap sistem biasanya membutuhkan hal yang sama: unggah dokumen, isi laporan, dan perbarui data. Lama-lama, dosen mulai merasa profesinya bukan lagi sekadar akademisi, tetapi juga operator berbagai platform birokrasi pendidikan tinggi. 

Buku belum selesai dibaca terpaksa ditunda, karena ada laporan yang harus diunggah sebelum tenggat waktu. Ide penelitian yang menarik harus menunggu, karena ada formulir yang harus diisi. 

Ironinya, di tengah semua kesibukan itu, dosen masih diharapkan menghasilkan publikasi internasional yang berkualitas. Sungguh sebuah kemustahilan yang nyata bagi dosen di negeri yang dikenal paling banyak menghasilkan publikasi pada jurnal predator setelah India.

Menjadi dosen adalah profesi terhormat, tapi cuma simbolik

Profesi dosen sering disebut sebagai profesi yang terhormat. Kalimat itu benar—setidaknya dalam pengertian simbolik. Dosen dihormati karena ilmu dan perannya dalam pendidikan.

Namun, kehormatan simbolik tidak selalu berjalan seiring dengan kesejahteraan yang nyata. 

Di banyak kampus, terutama bagi dosen muda atau dosen non-pegawai negeri, realitas ekonomi sering jauh dari bayangan masyarakat. Gelar akademik yang panjang tidak selalu berarti kehidupan yang mapan.

Ada dosen yang sudah menyelesaikan studi doktoral di luar negeri di kampus ternama selama bertahun-tahun, tetapi masih harus berpikir dua kali sebelum membeli buku yang sangat diperlukan. Ada dosen yang mengajarkan teori ekonomi Islam, tetapi terpaksa harus mengajukan pinjaman online menjelang akhir bulan.

Di titik itu, muncul pertanyaan yang tidak nyaman: bagaimana mungkin sistem pendidikan tinggi berharap banyak dari dosen, tetapi tidak selalu memberikan kondisi yang memungkinkan mereka bekerja dengan baik dan menjamin kesejahteraan mereka di saat yang sama?

Mempertanyakan kembali Tri Dharma Perguruan Tinggi

Tri Dharma sebenarnya adalah konsep yang sangat mulia yang ingin memastikan bahwa perguruan tinggi tidak hanya mengajar, tetapi juga menghasilkan pengetahuan dan memberi manfaat bagi masyarakat. Akan tetapi, masalahnya bukan pada konsepnya, melainkan pada cara sistem memperlakukannya. Ketika Tri Dharma berubah menjadi daftar kewajiban yang harus dilaporkan, diukur, dan dihitung secara administratif, ada risiko  maknanya yang mulia justru hilang. 

Menjadi dosen seharusnya punya ruang yang lebih luas untuk berpikir, bukan menjadi sibuk memenuhi berbagai indikator administratif. Mereka sibuk mengejar target, tetapi tidak sempat menikmati proses intelektual yang seharusnya menjadi inti kehidupan akademik. Jika kondisi ini terus berlanjut, Tri Dharma yang semula dirancang sebagai pilar perguruan tinggi bisa berubah menjadi beban yang membuat dosen lelah secara struktural. 

Pada saat itu, pertanyaan sederhana kembali muncul: apakah kita masih menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, atau tanpa sadar sedang hidup dalam triduka pendidikan tinggi?

Penulis: Cenuk Sayekti
Editor: Agung Purwandono

Baca Juga: Dosa Mahasiswa Interior di Surabaya: Memuja Garis Presisi di Studio, tapi Menyembah Kue Lembek di Dapur dan catatan menarik lainnya di rubrik ESAI.

Exit mobile version