Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Masih Mau Jadi Bucin Pemerintahan Pak Jokowi Pada Situasi Begini?

Is Harjatno oleh Is Harjatno
13 Juni 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kalau ente kritik pemerintah, jadi hal biasa kalau ente dianggap salah satu di antara kampret gagal move on atau kadrun, bagi bucin pemerintahan Pak Jokowi.

Kurva pandemi terus menanjak, seiring jumlah kasus terkonfirmasi, ODP, PDP, dan pasien yang dinyatakan sembuh maupun meninggal juga terus bertambah. Belum ada kepastian tentang vaksinnya, apalagi soal nasib masyarakat yang terancam maupun yang telah menjadi korban terdampak langsung maupun tak langsung dari wabah ini. Tak seorangpun sudi bertanggung jawab atas nasib mereka (dan kita).

Iklan

Kepastian lainnya, ke depannya kita akan semakin sering menjumpai bucin politik yang militan mengabdikan dirinya demi membela tegaknya citra pemerintahan Pak Jokowi. Termasuk ihwal langkah-langkah dalam menghadapi pandemi—wabilkhusus di medsos. Saking militannya, mereka ini lebih mirip bucin ketimbang lovers. Sejak bertahun lalu, saya lebih suka menyebut spesies hibrida satu ini sebagai bucin politik.

Narasi inti yang diusung itu-itu saja: Pokoknya apa yang dilakukan pemerintah PASTI benar. Ente mengritik pemerintah, ente pasti salah satu di antara kampret gagal move on, kadrun, atau keduanya sekaligus di mata bucin Pak Jokowi. Elu boleh meragukan Tuhan, tapi jangan sekali-sekali berani mencela pemerintahan Pak Jokowi. Kira-kira gitu.

Segala jurus akan dipakai untuk menyangkal kritik. Mulai dari penyederhanaan masalah, hingga pembunuhan karakter. Praktik “kill the messenger” mulai sering kita temukan lagi. Misalnya, ketika Dandhy Dwi Laksono dituding sebagai keturunan dan antek PKI karena gemar mengritik pemerintah.

Lucunya, tak sedikit di antara mereka yang gencar mem-“PKI”-kan Dandhy ini adalah orang-orang yang sama yang tadinya menertawakan isu kebangkitan PKI dan komunisme ketika disuarakan Kivlan Zen dan orang-orang sebarisannya.

Demikian pula dengan Ravio Patra, aktivis lainnya, yang ketika sempat ditangkap aparat, langsung dijelek-jelekkan beramai-ramai, termasuk oleh mereka yang sebelumnya bahkan belum pernah mendengar namanya.

Ketika akhirnya Ravio dilepas karena tidak terbukti bersalah, adakah di antara para bucin dan buzzer itu berani meminta maaf telah menuduhnya macam-macam? Padahal, ketika Pak Jokowi yang diserang, mereka sering sekali berkoar tentang tabayun.

Absurd, kan? Tapi, demi ngebucin, apa sih yang nggak?

Namanya juga budak cinta. Soal cintanya itu akhirnya berbalas indah atau tidak, tidak masalah benar. Yang penting, militan dulu, berpikir kemudian. Apalagi nyesel. Apalagi berubah.

Sama aja kayak sekarang ini, ketika kurva terus menanjak. Berbagai cara dilakukan untuk mendelegitimasi fakta, mulai dari menyangsikan validitas data, integritas WHO dan para nakes yang berjibaku di lapangan, bergunjing soal konspirasi global, hingga menyalahkan masyarakat yang tak mematuhi PSBB.

Bagi bucin politik model begini, semua jadi salah, kecuali… pemerintahan Pak Jokowi.

Demi  apa? Ya, selain demi menjaga citra pemerintah, sekaligus mencari pembenaran atas langkah pemerintah menerapkan New Normal tanpa persiapan memadai.

Ketika ada info orang wafat dengan status positif, bucin akan berkata, “Yakin itu karena corona? Siapa tahu dia punya penyakit lain. Mayoritas korban meninggal itu bukan karena coronanya, tapi karena penyakit lainnya. Sudah, tak usah berlebihan.”

Itu analoginya kira-kira sama kayak kalo ada orang wafat akibat tertabrak truk. Bucin ini mungkin juga bakal bilang, “Yakin itu akibat kesenggol truk? Bisa jadi dia meninggal akibat nggak kuat berbenturan sama aspal. Kebanyakan orang meninggal kecelakaan itu bukan akibat ketabrak truknya, melainkan karena gak kuat nahan benturan. Jadi bukan truknya yang bahaya, melainkan aspalnya. Sudah lah, nggak usah lebay.”

Well, bisa saja kita bertanya pada para pakar differential diagnosis misalnya, untuk mencari tahu mana di antara COVID-19 dengan penyakit lain itu yang paling berperan memicu kematian sang pasien?

Tentu, idealnya setiap kasus bisa diperiksa satu per satu.

Tapi, nyatanya kan nggak begitu. Tidak mungkin kita bisa mengotopsi semua jenazah satu-satu. Terlebih ketika Pada saat yang sama pasien baru terus berdatangan. Kita tidak punya cukup sumber daya, waktu, dan kemauan untuk itu.

Iklan

Apa sih yang mau diharapkan dari negara yang sudah terkenal enggan menelaah dan meluruskan sejarah ini? Apalagi untuk “sekadar” menelaah histori COVID-19.

Lagipula skeptisisme soal validitas data jumlah korban meninggal itu juga bisa dibalik: Bagaimana dengan jumlah mereka yang wafat akibat pandemi tanpa sempat dites, atau wafat sebelum hasil tesnya keluar?

Faktanya adalah, terlepas dari apakah dia wafat karena COVID-19, ataukah pendarahan di otak, terbentur aspal, tersedak muntahannya sendiri, atau apalah itu, orang yang wafat itu terkonfirmasi positif. Jenazahnya wajib dimakamkan dengan protokol COVID-19.

Sama seperti korban tewas dalam kecelakaan tadi. Mau dia meninggalnya akibat murni kesambar truk, atau karena terhempas ke aspal, atau karena jantungan akibat kaget ditabrak, tetap saja dia dicatat sebagai korban kecelakaan tabrakan dengan truk. Dan yang ditangkap ya tetap saja si supir truk, bukan tukang aspalnya.

Faktanya lagi adalah, belum seorangpun yang benar-benar tahu soal COVID-19 dan mampu mengatasinya. Begitu banyak klaim-klaim tentangnya yang terus berubah seiring munculnya temuan baru, menunjukkan betapa misterius dan berbahayanya pandemi ini. Dan akan terus menjadi berbahaya, sebelum tersedia penangkalnya yang bisa diakses oleh segenap manusia.

Jadi, selama penangkal itu belum tersedia, berhentilah mengaku menjadi yang paling tahu untuk membereskan masalah ini, terlepas kubu manapun yang kemarin kalian dukung.

Terimalah kenyataan bahwa kita dipaksa untuk menjalani Normalitas Baru kini, karena pemerintah tak sanggup memilih jalan lain yang lebih baik. Sadarilah bahwa hidup dan mati kita saat ini benar-benar tergantung pada takdir Ilahi dan kedisiplinan kita menjaga diri.

Soalnya di mata bucin pemerintahan Pak Jokowi yang mati-matian dibela itu, bisa jadi nyawa kita tak lebih sekadar angka. Kita baru benar-benar dianggap ada dan berharga ketika tiba waktunya bayar pajak dan coblosan. Sad, but true.

Cukuplah cintai negeri dan bangsanya saja. Pemerintahnya, hormati sewajarnya saja. Contohlah para suporter sepakbola sejati, yang cinta mati pada timnya, namun bukan manajemennya.

BACA JUGA Risiko Kesehatan yang Menghantui Bucin atau tulisan Is Harjatno lainnya.

Terakhir diperbarui pada 13 Juni 2020 oleh

Tags: bucinCOVID-19jokowipandemi
Is Harjatno

Is Harjatno

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Kisah pengusahaan binaan program UMiMAX dari Pertamina. MOJOK.CO

Kisah Para Ibu Jual Kopi Keliling usai Suami Kena PHK, Relakan “Cincin Terakhir” agar Anak Bisa Sekolah

26 Juni 2026
Z sarjana ekonomi di Undip. MOJOK.CO

Apesnya Punya Nama Aneh “Z”: Takut Ditodong Tiba-tiba Saat Kuliah, Kini Malah Jadi Anak Emas Dosen di Undip

27 November 2025
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi.MOJOK.CO

Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi

7 Maret 2025
3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini MOJOK.CO

3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini

26 Februari 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
dukuh muda di kampung

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

24 Agustus 2026
Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik MOJOK.CO

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik

26 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.