Kondangan Atta Aurel dan ‘Rabun Dekat’ Jokowi sama Aksi Kamisan

Kondangan Atta Aurel dan ‘Rabun Dekat’ Jokowi sama Aksi Kamisan

Kondangan Atta Aurel dan ‘Rabun Dekat’ Jokowi sama Aksi Kamisan

MOJOK.COJokowi pernah bilang agar rakyat lebih aktif mengkritik, dan kini blio menyulutnya dengan hadir di nikahan glamor Atta Aurel di masa pandemi.

YouTuber nomer satu di Asia Tenggara, Atta Halilintar resmi rabi dengan Aurelie Hermansyah. Linimasa riuh dalam kemegahan pesta pernikahan ini.

Mulai dari hotel megah yang disewa, disiarkan tipi swasta Indonesia, kue super besar, dekorasi mahal nan indah, mahar yang unik, dan kehadiran diva sekelas Krisdayanti (yaiyaaalah).

Hadirnya tokoh besar negara seperti Presiden Joko Widodo, Menhan Prabowo Subianto, sampai Ketua MPR Bambang Soesatyo, juga bikin acara pesta nikah Atta dan Aurel ini jadi berasa pedas-asam-manis gimana gitu kalau nggak diomongin.

Ragam kritik dilemparkan kepada sejumlah tokoh negara tersebut karena dianggap tidak konsisten dalam memberi contoh kebijakan di masa pandemi.

Ketika rakyat seperti Atta dan Aurel, dengan jaringan kenalan politisi, bikin nikahan yang datang adalah pejabat-pejabat berkelas kelas wahid, lah kalau rakyat miskin kota biasa bikin kondangan yang datang malah satgas covid.

Wajar apabila rakyat geram dan garuk-garuk kepala. Kalau rakyat malah ada yang mewajarkan dan memberi banyak apresiasi sama kehadiran Presiden, Menhan, dan Ketua MPR ya wagu tho?

Kritik kan sebagai pengingat dan stimulus kerja negara. Biar kalau jadi pejabat itu, orang yang bersangkutan menjaga wibawa dan kehormatan jabatannya. Apalagi Pak Jokowi sendiri yang bilang agar masyarakat lebih aktif dalam menyampaikan kritik ke pemerintah.

Begitu kan, Pak Jokowi? Beginian doang aman dari UU ITE kan? Aman kan, Pak?

Oke. Lanjut~

Sekarang saya tanya deh, siapa sih yang nggak pengen acaranya dihadiri oleh orang nomer satu di Indonesia?

Saya aja pengin rasanya. Toh, setiap orang boleh kok punya keinginan kayak gitu. Hanya saja, yang perlu kita sadari kita itu rakyat yang mana dulu. Udah pantas belum mengundang tamu istimewa?

Kalau dulu patokannya adalah sebesar apa pengaruhmu terhadap negara atau bahkan dunia, sehingga pemimpin negara mau memenuhi undangan pestamu, kalau sekarang, seberapa banyak followers dan subscribers-mu?

Kalau seperti Atta Aurel, saya sih percaya para pemimpin negara akan datang asal tidak berbenturan dengan agenda ataupun urusan negara. Lagian acara nikahnya juga kan pada hari libur.

Acara nikahan Atta Aurel ini penting karena pejabat negara juga butuh “dekat” dengan pangsa pasar keduanya.

Ya gimana, bagi Gen Z penggemar Atta dan Aurel, yang jumlahnya berjuta-juta, omongan Presiden dan pejabat negara kalah berpengaruh ketimbang Atta sama Aurel jeh. Dengan menghadiri acara beginian (dan ditayangkan live), pejabat itu lagi mendekati demografi pemilih masa depan.

Mereka-mereka yang di Pemilu nanti bakal jadi pemilih muda, yang saat ini mungkin mimpi basah aja belum, di 2024 nanti mereka sudah masuk akil balig dan berhak menentukan pilihan politik. Dan mereka inilah kelompok yang suangat penting bagi iklim politik masa depan.

Dalam kacamata politik, pernikahan ini bisa jadi hanya jadi panggung “kampanye” terselubung aja. Nggak lebih. Apalagi acara nikah Atta Aurel ini disorot kamera di mana-mana.

Coba bandingkan dengan undangan yang lebih urgent dari masyarakat lain, yang jauh dari sorot kemera dan gemerlap selebriti. Dari sidang uji materi Perpu corona, gugatan warga Samarinda ke PTUN, sampai yang sudah berjalan belasan tahun: aksi Kamisan.

Bu Sumarsih Maria, ibunda Alm. Wawan yang merupakan salah satu korban tragedi Semanggi I, bahkan sampai turut mengingatkan Pak Jokowi lewat kanal Instagramnya untuk berkenan menandatangani Surat Pengakuan Negara atas terjadinya pelanggaran HAM berat di masa lalu.

Yang satu kehilangan anaknya, bertahun-tahun mengundang pemimpinnya dengan harapan bisa (minimal) disamperin… dan di saat yang sama Presiden malah memilih hadir di pesta pernikahan glamor yang mempertontonkan kemewahan di tengah-tengah pandemi.

Benar-benar ironi di atas ironi.

Sudah sejak 18 Januari 2007, para korban, ibu korban, dan keluarga korban pelanggaran HAM berat beraksi di depan Istana. Sudah berjalan 16 tahun non-stop. Sejak masa Presiden SBY sampai masa Presiden Jokowi.

Dari belasan tahun itu, sudah ratusan lebih surat dialamatkan ke Presiden Jokowi, dan hanya satu kali Presiden ngereken aksi ini. Hal itu terjadi pada 31 Mei 2018, ketika peserta aksi Kamisan diminta masuk ke Istana.

Rakyat yang mengundang Presidennya setelah belasan tahun, rakyat pula yang harus datang.

Dan semua tahu, itu adalah tahun-tahun politik. Respons kala itu pun kini jadi angin lalu. Cuma jadi kentut di siang bolong.

Saat itu aksi Kamisan cuma dimanfaatkan dalam citra politik elektoral Pilpres 2019. Sebab pada kenyataannya, sampai sekarang nggak ada respons signifikan dari negara untuk sedikitnya mau bertanggung jawab atas banyak kasus HAM di negeri ini.

Bahkan pihak-pihak yang diduga menjadi dalang dalam berbagai kasus HAM di Indonesia, malah ditarik Jokowi jadi pejabat-pejabat di kabinetnya.

Kamu tentu tak perlu senewen kenapa Presiden, Menhan, dan pejabat negara lainnya lebih menganggap penting undangan Atta Aurel ketimbang undangan aksi Kamisan. Simpel: Jokowi dan Prabowo jadi saksi nikah di sana. Mereka berdua jadi dagelan tontonan.

Meminta masyarakat jangan bikin keramaian, tapi malah pesta bermewah-mewahan. Jadi saksi, disiarkan live pula.

Semakin menarik karena karena jejak kompetisi elektoral keduanya dipertemukan (lagi) di acara nikahan. Duh, duh, cerita kayak gitu kok ya masih laku aja ya di pasaran? Cebong dan kampret kan udah nggak ada ya padahal.

Tapi sebenarnya ada yang lebih menarik kalau cerita “persahabatan” Jokowi dan Prabowo ini dilanjutkan usai acara nikahan. Misalnya dengan datang ke acara aksi Kamisan. Lantas jadi saksi kayak di nikahan Atta Aurel gitu, tapi ini buat acara aksi Kamisan.

Wah, pasti seru.

Kalau untuk Jokowi, mungkin bakal seterusnya jadi saksi aja, lah kalau untuk Prabowo?

Dari saksi, statusnya bisa meningkat jadi tersang…

…eh, tersayang. Pejabat yang tersayang, disayang sama rakyatnya sendiri—maksudnya.

Belum dengan melihat ekspresi peserta aksi Kamisan, berhadapan face to face dengan Prabowo Subianto secara langsung. Jaminan jadi berita nasional itu pasti. Cuma ya gitu, di dunia maya yang viral tetep nikahannya Atta dan Aurel.

Wajar. Toh, di mata Istana juga, permasalahan negara belakangan ini kayaknya dilihat bukan lagi pakai mata, didengar bukan pakai telinga, dan diselesaikan bukan pakai tenaga… tapi selesai pakai tagar buzzer Istana, popularitas Atta, dan algoritma.

BACA JUGA Aurel nggak Sungkem ke KD: Atta Halilintar, Anang, dan Ashanty Biasa Aja, Netizen Terhormat yang Sibuk Mengoreksi.

Exit mobile version