Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kolom

Panduan Menyikapi Payudara Perempuan untuk Laki-laki Lemah Syahwat

Kalis Mardiasih oleh Kalis Mardiasih
7 Februari 2021
A A
Zara, Posting Video Pribadi Emang Hak Kamu, tapi Hak Itu Nggak Bebas Konsekuensi perempuan edgy kalis mardiasih mojok.co
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pada bulan Oktober lalu, ada peristiwa di linimasa Twitter yang membuktikan betapa menyedihkan sekaligus menjijikkannya kehidupan para laki-laki lemah syahwat.

Alkisah, akun official BMKG mengunggah satu video informasi ramalan cuaca. Presenter berita dalam video tersebut adalah seorang perempuan, berkerudung, sedang menyampaikan informasi dengan artikulasi presentasi yang apik. Tak menunggu berapa lama, serbuan komentar primitif pun berhamburan.

Iklan

“Ada yang membesar tapi bukan balon,” dan, “Ada yang membulat tapi bukan tekad,” adalah beberapa contoh isi kepala kotor itu.

Beberapa tahun terakhir, pola kalimat yang menormalisasi budaya pelecehan seksual semacam dengan mudah belaka kita temukan di kolom komentar Instagram artis. Tentu saja, komentar itu dimaksudkan untuk mengomentari payudara subjek dalam foto.

Namun, komentar melecehkan tubuh perempuan yang dinormalisasi, lama-lama tidak hanya tertuju kepada tubuh artis atau tokoh publik.

Perempuan “biasa” pun kini selalu diobjekkan tiap kali mengunggah foto diri, sekalipun mengenakan pakaian casual saja. Pelecehan seksual online sesungguhnya adalah pelecehan seksual yang cuma pindah tempat.

Jika jaman sekolah dulu, ada geng cowok-cowok primitif yang hobi mengomentari payudara siswa perempuan dengan desas-desus atau bahkan secara terang-terangan menepuk pantat perempuan dengan tujuan membuat korban malu, takut, terhina dan tak berdaya, maka aktivitas semacam itu kini berpindah bentuk menjadi komentar-komentar di media sosial.

Pelakunya sih sama saja, oknum-oknum primitif yang belum menerima pencerahan cara hidup setara sebagai sesama manusia.

Dalam peristiwa pelecehan seksual, biasanya akan muncul juga para manusia bebal yang belum paham betapa mengenaskannya diri mereka dengan berujar pembelaan diri, seperti, “Salah sendiri punya toket gede. Sebagai laki-laki normal, ya wajarlah kalau nggak kuat lihat toket gede.”

Ampun.

Sebagai sesama perempuan, saya tahu betul bahwa jadi perempuan dengan payudara big size itu nggak mudah. Teman saya bercerita, ia memilih berjalan membungkuk sejak remaja karena merasa tidak aman berjalan tegak.

Payudaranya menjadi olok-olok, bahan bully, bahkan menjadi nama belakang yang mereduksi semua kualitas yang melekat pada dirinya. Sungguh pun ia berprestasi, ia tetap saja dibicarakan sebagai “X si payudara jumbo”.

Posisi bungkuk itu menghadirkan rasa tak percaya diri sehingga ia memilih untuk jarang tampil di depan kelas. Rasa percaya dirinya kembali pada usia 30 tahun lebih setelah banyak hal yang ia lewati dan kini ia sudah bisa berjalan tegak.

Menuju dewasa, stigma lain yang melekati perempuan berpayudara besar adalah cap cewek nakal. Nakal yang dimaksud merujuk kepada hal-hal yang bernuansa sensual dan seksual. Mereka dianggap cewek penggoda, gampangan, murahan hingga bernafsu besar.

Iklan

Label semacam itu tentu amat mengganggu. Bagaimana seumur hidup kamu dinilai dengan tak benar hanya karena bentuk tubuh yang tidak bisa kamu pilih.

Seorang Ibu beranak dua mengonfirmasi hal ini. Ia sudah memakai gamis dan memakai kerudung menutup dada. Tapi, ia tetap merasa tak percaya diri sebab pengalaman-pengalaman pelecehan di masa lalu terus menghantui.

Tak dipungkiri, ada kultur sosial yang berubah. Dulu, gambar ibu menyusui dalam poster program KB adalah hal biasa yang bersifat mengedukasi. Kini, segala hal yang berkaitan dengan tubuh perempuan disensor di ruang-ruang publik dan di kotak televisi, hingga aktivitas menyusui tidak dianggap sebagai bagian dari siklus kemanusiaan, melainkan justru diseksualisasi!

Tulisan ini bermaksud memberi pencerahan kepada para laki-laki lemah syahwat agar dapat keluar dari kegelapan pikiran mereka. Berikut adalah panduan pikiran dan sikap ketika ingin mengomentari payudara perempuan, baik di ruang publik terbuka maupun ruang publik digital.

Pertama, toket gede sejatinya adalah payudara. Sama seperti yang ukuran kecil, medium atau ukuran lain, semua bentuk payudara yang melekat pada tubuh perempuan sejatinya adalah organ reproduksi biologis organisme betina.

Kucing betina punya payudara, sapi betina juga punya. Laki-laki lemah syahwat pun punya payudara, tapi cuma payudara perempuan yang sebab dibantu oleh hormon prolaktin dan hormon insulin, bisa bikin kelenjar-kelenjar berisi air susuan, buat ngidupin anak manusia.

Termasuk kamu sekalian yang jadinya bisa hidup hingga hari ini. Selain itu, organ payudara ini beresiko terpapar kanker. Kanker payudara adalah jenis kanker pembunuh pertama buat perempuan!

Kedua, sudah nasibnya buat manusia, bentuk payudara ini terdapat di bagian dada atas dan menonjol. Kadang saya berpikir, kenapa sih payudara ini jumlahnya nggak satu aja di tengah-tengah kayak Ultraman gitu, atau kalau nggak bentuknya portable jadi bisa dilepas pasang sesuai kebutuhan, biar nggak difitnah jadi sumber pembangkit nafsu melulu.

Kalau fungsinya buat memproduksi air susu, ya bentuknya tube saja lah seperti odol yang ada tutupnya. Nggak perlu menonjol ke luar, yang penting sumber airnya beres di dalam.

Ketiga, karena bentuk menonjolnya itu tergantung dari faktor genetik dan faktor hormonal, alias bukan kami yang request bentuknya, so kalian jangan merasa ke-geer-an bahwa payudara ini menonjol buat memancing-mancing nafsu kalian.

Sejak dulu, payudara ini diem aja, nggak ke mana-mana. Tiap hari sudah dibungkusin beha yang kalian nggak paham betapa menderitanya, dipakein baju longgar, dilapisi jaket, dipakein kerudung pula. Terkadang masih disalahin aja.

Keempat, kalau kalian protes, “Tapi kan payudara juga organ seksual?”

Nggak semua, sih. Ada juga manusia yang lebih tertarik secara seksual sama mie ayam daripada payudara. Tapi baiklah. Kamu sudah tahu tentang persetujuan untuk aktivitas seksual kan?

Di luar persetujuan, artinya apa yang kamu lakukan kepada tubuh orang lain, dengan tujuan untuk merendahkan, menakuti, membuatnya tidak berdaya, adalah tergolong pelecehan seksual hingga kekerasan seksual.

Selamat datang ke dunia manusia yang bisa bikin konsensus yang lebih beradab. Di masa depan, nggak ada lagi manusia-manusia primitif yang bikin perempuan merasa nggak berdaya hanya karena bentuk tubuhnya.

Kelima, kalian adalah manusia. Kalian pasti bisa bersikap biasa saja lihat organ manusia. Kalian pasti bisa berperilaku terhormat dan nggak malu-maluin bangsa manusia terhormat lainnya. Jangan gumunan dan primitif cuma gara-gara ada organ biasa lewat. Itu organ aslinya cuma terdiri dari lemak, kelenjar ikat sama pembuluh darah.

Akhirnya, setelah artikel ini selesai, saya pasti tetap banyak manusia yang mengajukan keberatan: “Jangan salahkan para pelaku pelecehan kalau memang kalian tidak bisa menjaga tubuh kalian dengan menutupnya….”

Saya sudah maklum. Memang tidak semua manusia punya modal kognitif yang cukup baik.


Kamu bisa baca kolom Kelas-Kalis lainnya di sini. Rutin diisi oleh Kalis Mardiasih, tayang saban hari Minggu.

Terakhir diperbarui pada 22 Februari 2021 oleh

Tags: Kelas Kalispelecehan seksualseksSyahwat
Kalis Mardiasih

Kalis Mardiasih

Artikel Terkait

modus kekerasan seksual.MOJOK.CO
Kabar

Jejak Digital Kekerasan Seksual Bikin Trauma Anak Berkepanjangan, Pemulihan Korban Tak Cukup Hapus Konten

9 Mei 2026
Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual MOJOK.CO
Tajuk

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual

20 April 2026
Kesulitan korban kekerasan seksual dalam berbicara
Ragam

Korban Kekerasan Seksual Sering Jatuh Ditimpa Tangga: Sulit Bicara, Bukan Dipahami, tapi Malah Dihakimi

11 Februari 2026
Toilet umum di Jakarta saksi bejat laki-laki otak mesum MOJOK.CO
Urban

Toilet Umum di Jakarta Jadi Tempat Cowok Tolol Numpang Masturbasi, Cuma karena Nonton Girl Band Idola dan Alasan Capek Kerja

10 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026
Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.