Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Khotbah

Alasan Kiai Kholil Jarang Mau Ngisi Pengajian, Meski Itu Undangannya Pak Bupati

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
24 Juli 2020
A A
Alasan Kiai Kholil Jarang Mau Ngisi Pengajian, Meski Itu Undangannya Pak Bupati

Alasan Kiai Kholil Jarang Mau Ngisi Pengajian, Meski Itu Undangannya Pak Bupati

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sudah jadi rahasia umum kalau meminta Kiai Kholil ngisi pengajian itu sulit sekali, bahkan undangan pengajian dari bupati sekalipun.

“Apa Gus Mut tidak bisa membujuk abah, Gus?” kata si ajudan setelah menyerahkan surat undangan resmi.

Iklan

Gus Mut membaca surat itu. Sesekali menggelengkan kepala.

“Mas, sampeyan kan tahu, abah saya itu agak susah kalau soal ngisi pengajian-pengajian begini,” kata Gus Mut.

“Ta, tapi ini langsung dari Pak Bupati lho, Gus. Pak Bupati maunya Kiai Kholil yang ngisi. Kalau bukan Kiai Kholil nggak mau,” kata si ajudan.

“Tapi jadwalnya udah ditentukan begitu di surat undangannya, ya nggak bisa kalau abah begitu,” kata Gus Mut.

“Ya kan emang jadwalnya begitu. Karena jadwalnya udah dari pusat, Gus. Apa tidak ada caranya biar Kiai Kholil mau mengiyakan undangan ngisi pengajian dari Pak Bupati ini, Gus?” tanya si ajudan.

“Sulit, Mas,” kata Gus Mut.

“Memangnya pada tanggal segitu abah sampeyan, Kiai Kholil, ada acara ya, Gus?” tanya si ajudan.

“Ya ada,” kata Gus Mut.

“Acara apa ya, Gus, kalau boleh tahu?” tanya si ajudan.

“Ya rutinan ngajar ngaji di santri-santri sini,” kata Gus Mut.

Si ajudan terlihat menghela nafas lega.

“Oh, saya kira acara penting apa. Kalau cuma acara ngajar ngaji begitu kan bukannya bisa ditunda dulu, Gus? Lagian santri-santri ini juga pasti seneng bisa kosong sekali-kali. Toh, kosong ngajinya Kiai Kholil juga karena alasan diundang Pak Bupati kok, pasti semua orang juga ngerti kok, Gus,” kata si ajudan.

Iklan

Gus Mut sedikit terkekeh mendengarnya.

“Masalahnya, Mas, bagi abah itu, ngajar ngaji itu udah kewajiban. Sedangkan menerima undangan ngisi pengajian begini kan bukan kewajiban, Mas. Ya kecuali kalau sudah diiyakan,” kata Gus Mut.

“Tapi kan ini cuma ngaji biasa, Gus. Rutinan begitu. Bisa ditunda dulu lah sebentar, diganti minggu depan. Sedangkan acara dari Pak Bupati ini kan nggak mesti setiap tahun ada, Gus. Kiai Kholil itu juga udah dianggap tokoh sama Pak Bupati, jadi dirasa penting kehadirannya,” kata si ajudan.

“Kalau mau saya bantu bujuk ke abah, mending sampeyan yang menyesuaikan jadwalnya,” kata Gus Mut.

“Ma, maksudnya, Gus?” tanya si ajudan.

“Ya jadwal acaranya. Disesuaikan dengan waktu kosong Kiai Kholil nggak ngajar ngaji. Lah ini tanggal dan waktunya pas bener sama jadwal ngajarnya abah soalnya. Jelas nggak mungkin bisa datang, Mas,” kata Gus Mut.

“Wah, ini sudah dipatok dari pusat, Gus. Tanggal sekian. Mau nggak mau, sebisa mungkin Kiai Kholil mau mengisi,” kata si ajudan.

Gus Mut lagi-lagi terkekeh mendengar kegigihan si ajudan.

“Nah, yang begini-begini ini lho, Mas, yang malah bikin abah jadi makin sulit buat mau ngisi pengajian,” kata Gus Mut.

“Lah emang gimana, Gus?” tanya si ajudan.

“Soalnya, abah itu sering mendapati yang begini. Kadang-kadang pihak yang mengundang itu memetingkan acaranya sendiri. Ya itu wajar, acara di kabupaten misalnya, bagi Pak Bupati itu penting. Tapi bagi abah, jadwal ngajar ngaji ke santri-santrinya itu juga nggak kalah penting. Sama pentingnya,” kata Gus Mut.

Si ajudan tetap berusaha membujuk.

“Bukan begitu, Gus. Tapi kan ini dari Pak Bupati, Gus. Sedangkan Kiai Kholil kan cuma meninggalkan santrinya sendiri. Bukan masalah besar lah. Lah kalau sampai nggak mau datang ke acaranya Pak Bupati, wah ya Pak Bupati bisa kecewa,” kata si ajudan.

Kali ini Gus Mut tersenyum, hampir tertawa.

“Mas, begini lho. Sampeyan itu kan tahu, santri-santri di sini itu datang jauh-jauh dari rumahnya masing-masing. Niat mondok di sini. Niat ngaji sama abah di sini. Sudah niat mengabdikan hidupnya untuk mencari ilmu dari abah Kiai Kholil di sini bertahun-tahun. Sekarang, kalau dengan segala niat baik itu, abah harus meninggalkan mereka demi sebuah undangan dari seseorang yang kebetulan punya jabatan. Dan di saat yang sama, santri-santri itu punya hak diajar ngaji lho, Mas. Apa ya itu nggak melanggar hak orang lain namanya?” kata Gus Mut.

Si ajudan langsung kecut, tapi tetap tidak menyerah.

“Kecuali…” kata Gus Mut tiba-tiba.

Si ajudan melihat ada secercah jawaban.

“…kalau Pak Bupati mau ke sini, mau belajar ngaji ke sini. Insya Allah abah akan dengan senang hati mengajar beliau. Cuma ya tetep, jadwalnya harus bareng dengan jadwal santri-santri yang lain juga. Soalnya bagi abah, santri itu sama berharganya seperti seorang bupati,” kata Gus Mut.

Kali ini muka si ajudan pun langsung tersenyum kecut, karena tahu betul syarat itu tampak sangat mustahil.


*) Diolah dari penjelasan Gus Baha’ enggan mengisi pengajian umum.

BACA JUGA kisah GUS MUT lainnya.

Terakhir diperbarui pada 24 Juli 2020 oleh

Tags: bupatiGus Baha'Kiai Kholilpengajiansantri
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Dakwah Kok Masuk Roblox! Memangnya Anak Muda Hari Ini Masih Ngumpul di Masjid? MOJOK.CO
Esai

Dakwah Kok Masuk Roblox! Memangnya Anak Muda Hari Ini Masih Ngumpul di Masjid?

22 Juni 2026
Santri asal Sumatra masuk Jurusan Arsitektur di Universiti Malaya, Malaysia. MOJOK.CO
Sekolahan

Kisah Aisyah, Gadis Sumatra yang Nekat Merantau untuk Raih Gelar Sarjana “Jurusan Seni” di Kampus Top Pertama Malaysia

11 Juni 2026
Bupati dan Walikota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan MOJOK.CO
Tajuk

Bupati dan Wali Kota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan

13 April 2026
Salat tarawih 8 rakaat di masjid 23 rakaat. Siasat mengejar sunnah di tengah lelah MOJOK.CO
Sehari-hari

Tarawih 8 Rakaat di Masjid yang Jemaahnya 23 Rakaat, Ganggu karena Pulang Dulu tapi Jadi Siasat Mengejar Sunnah di Tengah Lelah

19 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Jadi gini rasanya keracunan motor Yamaha Xabre bekas MOJOK.CO

Akulah yang dulu meremehkan motor Yamaha Xabre karena harganya yang nggak ngotak, tapi kini rasa ingin memilikinya semakin tinggi

23 Juli 2026
KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
Dalang cilik perempuan asal Klaten yang menyukai wayang. MOJOK.CO

Jadi Perempuan Satu-satunya di Lomba Dalang Anak Klaten, Bocah 13 Tahun Ini Buktikan Wayang Tak Kenal Gender

22 Juli 2026
Pilih jadi tukang cukur rambut rumahan dan barbershop saat teman sebaya kerja di luar negeri. Dicap pemalas tetangga, hidup berkecukupan malam dicurigai MOJOK.CO

Pilih Jadi Tukang Cukur Rumahan saat Teman Kerja di Luar Negeri: Dicap Pemalas Tetangga, Terlihat Berkecukupan Malah Dicurigai

22 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.