Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Keyakinan Lukman Sardi Bukan Urusan Kita

Arman Dhani oleh Arman Dhani
21 Juni 2015
A A
keyakinan lukman sardi
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di Purwodadi, saya punya seorang bibi yang beragama Katolik. Ibu bilang, jika ada rezeki, ingin sekali diantar ke kota itu menemui adiknya.

Kakek saya menikah dua kali, dan bibi saya ini adalah anak dari istri keduanya. Tapi sejak kecil bibi diasuh dan dirawat oleh ibu. Kata ibu, ia punya ikatan emosional yang jauh lebih kuat dengan bibi ini daripada saudara-saudaranya yang lain.

Saat ramadan tiba, bibi biasanya mengirimkan paket untuk ibu. Kadang isinya mukena, kadang kain. Sesuatu yang mungkin bagi orang lain absurd. Seorang Katolik mengirimkan barang-barang yang berkaitan identik dengan ritus Islam.

Di bulan puasa inilah, bibi dan ibu paling sering berhubungan. Mungkin karena waktu kerja yang lebih lowong, atau nuansa liburan yang lebih santai, atau kenangan keduanya tentang Ramadan di masa kecil.

Saat almarhum kakek menjelang maut, bibi mengirimkan banyak sekali peralatan kesehatan. Ia seorang perawat, dan punya akses terhadap teknologi kesehatan. Semua barang itu dikirim dari Purwodadi ke Bima, tempat kakek terbaring sakit. Tentu alat-alatnya mahal dan biaya pengirimannya tidak murah. Tapi peralatan itu ditolak oleh saudara-saudara ibu. Konon karena bibi sudah jadi Katolik, semua barang yang diberikan olehnya adalah haram.

Maka ketika Lukman Sardi berganti agama lantas dicaci-maki, ya, saya tidak kaget. Biasa saja. Dulu Asmirandah pindah agama juga banyak yang bilang sebaiknya dihukum mati saja. Alasannya? Hadits Nabi yang berbunyi; man baddala dinahu faqtuluhu (barangsiapa pindah agama, maka bunuhlah!).

Selain hadits itu ternyata dla’if (lemah), apakah benar Islam ini sedemikian muram dan mengerikan—sampai-sampai yang pindah agama mesti dibunuh?

Saya bukan ahli fiqih, maka sebaiknya pertanyaan itu kita tanyakan kepada tokoh-tokoh yang punya keilmuan mumpuni. Orang-orang yang sudah membaca ribuan kitab, hafal ratusan ribu hadits dan memiliki penguasaan Bahasa Arab par excelence. Tentu saja mereka adalah orang-orang seperti Kakanda Jonru, Kyai Hafidz Ary dan Tuanku Imam Felix Siauw. Mereka adalah para pembela Islam garda depan yang keilmuannya paling tinggi, jauh melampaui Gus Mus atau bahkan Prof. Quraish Shihab sekalipun.

Saya pikir, perpindahan keyakinan tidak semestinya diakhiri dengan eksekusi. Apakah saya berlebihan? Oh tidak, kejadian semacam ini kerap terjadi. Bahkan majalah-majalah religius rajin sekali merayakan perpindahan agama—seperti sebuah kemenangan atas perang. Seseorang yang berganti agama akan dimanfaatkan tiap-tiap kelompok untuk menunjukan dominasinya, seolah kebenaran itu hanya miliknya, dan dengan adanya seseorang berganti agama, maka agama terakhir menjadi semakin terafirmasi kebenarannya.

Lho, memilih klub sepak bola pun perlu keimanan. Kadang mereka yang pindah mendukung klub lain akan diperlakukan sebagai paria. Dinista, dianggap pengkhianat, dan dihujat. Sementara bagi klub baru, si mualaf tidak selalu diterima dengan tangan terbuka. Ia bisa saja dituduh mata-mata, glory hunter, orang genit dan tidak punya kesetiaan. Untunglah hal demikin tidak pernah terjadi pada klub sebesar segurem Manchester United, klub yang melahirkan para pendukung yang teguh tauhidnya taklid buta.

Tapi cukup soal sepak bola. Lantas kenapa kalau seseorang pindah agama?

Dengan Lukman Sardi pindah agama, apakah angka kemiskinan dan pengangguran akan bertambah? Indonesia akan masuk jurang krisis ekonomi? Atau tiba-tiba beras hilang dari pasar? Saya kira tidak.

Perpindahan keyakinan Lukman Sardi tidak akan berpengaruh apapun bagi kemaslahatan rakyat banyak. Tapi korupsi, kekerasan terhadap minoritas, dan pengrusakan hutan, semuanya punya pengaruh besar untuk kehidupan berbangsa kita.

Lagipula saya percaya, ada hal-hal yang tak bisa kita paksakan hanya karena ia terasa benar. Dan firman Tuhan: “Tidak ada paksaan dalam agama”, lebih dari cukup bagi saya untuk tidak usil dengan kepercayaan orang lain.

Iklan

Keyakinan sendiri seharusnya lebih penting daripada keyakinan orang lain. Sehingga kita tidak perlu meributkan, mengecam, atau mengglorifikasi perpindahan agama seseorang. Tidak juga dalam kasus Lukman Sardi.

Kecuali jika Anda tidak cukup percaya diri, lemah akal, dan takut bahwa keyakinan yang Anda miliki salah. Itu tentu akan melahirkan paranoia, bahwa agama Anda bisa rusak hanya karena ada orang lain yang pindah agama.

Berkeyakinan semestinya adalah pilihan masing-masing, kesunyian masing-masing. Itupun jika Anda cukup berani menghadapi perbedaan.

Terakhir diperbarui pada 18 Maret 2019 oleh

Tags: IslamKafirKatolikLukman Sardimurtadpindah agamaSesat
Arman Dhani

Arman Dhani

Arman Dhani masih berusaha jadi penulis. Saat ini bisa ditemui di IG @armndhani dan Twitter @arman_dhani. Sesekali, racauan, juga kegelisahannya, bisa ditemukan di https://medium.com/@arman-dhani

Artikel Terkait

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO
Esai

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
Katolik Susah Jodoh Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami MOJOK.CO
Esai

Cari Pasangan Sesama Katolik itu Susah, Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami

13 November 2025
Paus Leo XIV, Sarjana Matematika Memimpin Umat Katolik MOJOK.CO
Esai

Habemus Papam! Kisah Paus Leo XIV Sarjana Matematika yang Akan Memimpin Umat Katolik di Masa Kritis

9 Mei 2025
Dinamika Politik di Masjid Istiqlal dan Fenomena Muslim Tanpa Masjid
Video

Dinamika Politik di Masjid Istiqlal dan Fenomena Muslim Tanpa Masjid

30 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman Mojok.co

Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman

27 April 2026
Lulusan S2 Jepang nggak mau jadi dosen, pilih kerja di Australia. MOJOK.CO

Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

29 April 2026
Tidak install game online seperti Mobile Legend (ML) buat mbar di tongkrongan dianggap tidak asyik dan tidak punya hiburan MOJOK.CO

Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Beda-beda

25 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? MOJOK.CO

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

29 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.