Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Tuhan Tahu Kita Tidak Suka Lapar dan Haus

Puthut EA oleh Puthut EA
13 April 2021
A A
kepala suku esensi ibadah puasa esai puthut ea mojok.co

kepala suku esensi ibadah puasa esai puthut ea mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Setiap kali memasuki bulan Ramadan, di berbagai media bertebaran aneka kiat dan siasat. Dari mulai siasat agar tidak merasakan lemas, sampai kiat agar tidak merasa lapar dan haus. Aneh sekali.

Puasa itu diadakan oleh Tuhan karena Dia tahu manusia tidak suka dalam keadaan haus dan lapar. Ibadah memang dibuat dengan mekanisme seolah tidak disukai manusia yang akan menjalaninya. Justru di situ nilai penting ibadah: ketertundukan. Ikut. Manut. Bersiap sedia, sekalipun tidak berat menjalaninya. Sekalipun kita tidak suka menjalankannya.

Iklan

Siang menyengat, kita diminta datang ke masjid, berpanas-panasan untuk salat Jumat. Kita diminta bangun pagi sebelum matahari terbit, untuk melaksanakan salat Subuh. Kita diminta membagikan rezeki kita yang seolah-olah sudah susah-susah kita cari, dalam bentuk zakat mal. Kita diminta menyembelih kambing atau sapi, yang bagi banyak orang, harganya tidak murah. Kita disuruh berpuasa, menahan lapar dan haus, dari fajar menyingsing hingga beduk Magrib.

Memang pada titik tertentu, setelah melewati sekian ibadah dengan laku ilmu dan hikmah, bagi manusia-manusia tertentu menjalankan ibadah sudah bukan lagi tantangan, malah menyenangkan. Banyak sekali orang yang sangat merindukan salat, dan bisa menjalankan salat sampai lama, menikmatinya dengan khusyuk. Tapi itu semua bisa dicapai, berawal dari hal yang terasa berat. Tidak tiba-tiba kesadaran menikmati ibadah itu ada. Butuh ilmu, proses, dan permenungan yang mendalam. Termasuk bersabar dalam mengalami perjalanan spiritual.

Ramadan bagi banyak orang juga dilalui dengan kesadaran bahwa kita semua akan mengalami masa di mana di siang hari tenggorokan terasa kering, tidak bisa merokok, badan agak lemas, tapi banyak juga yang merindukannya. Karena di balik apa yang susah dan menantang, ada sesuatu yang menyenangkan. Saat Magrib tiba. Saat segelas es teh atau kolak atau sirup membasahi kerongkongan kita. Kehangatan saat berbuka dan sahur dengan keluarga. Saat semua orang merasa harus menjaga diri dan lisan mereka. Saat masjid-masjid lebih semarak, dll. Itu belum jika kita bicara soal balasannya di akhirat.

Sebab kemampuan manusia dalam menjalankan ibadah keagamaan salah satunya adalah menemukan manfaat dan kegembiraan, di balik semua yang tampak tidak menyenangkan. Bahwa akan senang di akhirat sebagai balasan dari itu semua, tentu saja iya. Tapi manusia berhak menemukan kegembiraan dan kesenangan yang merupakan hasil dari refleksi dan mengalami semua ibadah tersebut. Maka itu, selalu ada gairah dalam semua jenis ibadah. Seolah ada “pesta” dalam setiap ritual. Manusia mengubah tantangan menjadi kegembiraan.

Dalam shalawatan, ada lagu-lagu yang dinyanyikan dan didaraskan untuk memuji kekasih kita Kanjeng Nabi Muhammad saw. sehingga air mata kita meleleh, terisak, berpadu antara rasa kangen, terima kasih, sekaligus rasa gembira. Demikian juga saat kita berlelah-lelah dan berpanas-panas dalam menjalankan ibadah haji. Sudah lupa kalau biayanya mahal. Bahkan ingin ke sana dan ke sana lagi, tanpa berpikir uang lagi. Kalau punya uang, daripada ditabung, lebih baik ke sana. Hal seperti itu dialami oleh banyak orang.

Dengan begitu, sebetulnya sangat mudah diketahui bahwa manusia itu punya dimensi sebagai makhluk spiritual. Tidak semua pertimbangan hidupnya semata ekonomi, biologi. Ada laku tertentu, ada pemahaman tertentu, yang melampaui segala yang bersifat ekonomis dan biologis.

Benar bahwa menjalankan ibadah puasa itu berarti merasakan lapar dan haus. Tapi itulah sumber kenikmatannya. Jadi kalau di bulan seperti ini, masih mencari kiat bagaimana supaya menjalankan puasa tanpa rasa lapar dan haus, berarti belum memahami bahwa begitulah ibadah, dan justru itulah mula manusia menempa pengalaman spiritualnya.

BACA JUGA Mistisisme Jawa dalam Bersih-bersih sebelum Puasa Ramadan dan esai Puthut EA lainnya.

Terakhir diperbarui pada 13 April 2021 oleh

Tags: ibadahPuasa
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Takjil bingka dari Kalimantan
Catatan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Meme yang Viral Itu Mojok.co
Pojokan

Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Banyak Meme yang Viral Itu

23 Februari 2026
Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua MOJOK.CO
Esai

Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua

18 Februari 2026
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO
Esai

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum.MOJOK.CO

Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.