Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Pindah Markas Perjuangan: Manuver Cerdik Kubu Prabowo-Sandi

Puthut EA oleh Puthut EA
10 Desember 2018
A A
kepala suku
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menjelang berakhirnya Desember, kubu Prabowo-Sandi membuat manuver yang cerdik. Mereka memindahkan markas pemenangan di Jawa Tengah.

Bagi banyak orang yang tak terbiasa tarung lapangan, mungkin ini dianggap kekeliruan besar dengan meninggalkan Jakarta. Tapi menurut saya, justru itu langkah kuda ciamik untuk mempertipis jarak antara kubu Prabowo-Sandi dengan Jokowi-Ma’ruf. Bagaimana bisa?

1. Meninggalkan Jakarta dengan pesan

Ditinggalkannya Jakarta adalah keputusan tepat. Bagaimanapun perebutan suara paling keras ada di Pulau Jawa mengingat jumlah penduduknya paling padat dan paling banyak. Dan Jawa bukan hanya Jakarta. Tapi meninggalkan Jakarta dalam konteks ini pasti bukan berarti melepas Jakarta. Justru karena Jakarta sudah dianggap selesai oleh kubu Prabowo-Sandi.

Setidaknya ada dua argumen. Pertama, keyakinan mesin politik yang sudah diuji pada pilgub DKI lalu. Mesin ini masih panas. Masih cukup mampu menggerakkan kemenangan. Kedua, dengan dihelatnya Reuni 212, secara simbolik Jakarta sudah bisa dikuasai kubu ini. Maka sangat tepat kubu Prabowo-Sandi memindahkan area pertarungan ke medan yang belum sepenuhnya mereka kuasai.

2. Kenapa tidak di Jawa Barat atau Jawa Timur?

Jawa Barat dalam konteks kubu ini juga merasa sudah hampir pasti dimenangkan. Atau setidaknya keyakinan investasi politik Prabowo di provinsi dengan jumlah pemilih terbanyak ini dianggap cukup. Dengan begitu, tidak terlalu strategis jika markas pemenangan mereka ditaruh di Jawa Barat.

Lalu kenapa tidak Jawa Timur? Sepintas secara teritorial, mestinya kubu Prabowo memindahkan medan pertempuran di Jawa Timur. Tapi medan ini terlalu keras. Bagaimanapun, PKB dan PDIP serta sejumlah mesin lain di kubu Jokowi-Ma’ruf cukup kuat. Namun, bukan berarti Prabowo-Sandi tidak akan mencoba menggergaji Jawa Timur. Hanya saja tidak secara langsung.

3. Kenapa Jawa Tengah?

Bukankah Jawa Tengah adalah kandang banteng? Bukankah malah makin koyak jika bertarung di kandang musuh?

Wajar jika ada pertanyaan seperti di atas. Masalahnya, kubu Prabowo-Sandi secara cermat tidak semata melihat teritori administratif. Mereka tidak memasang markas pemenangan di Semarang, melainkan di Solo. Solo dalam hal ini berarti mereka sedang membidik tiga basis teritori penting: Jawa Tengah Mataraman, Yogyakarta, dan Jawa Timur Mataraman. Seandainya mereka memilih Semarang, ruang gerak mereka sangat sempit. Sebab di dengan mudah mereka akan dikepung basis PKB dan PPP yang sangat kuat di Pantura.

Ruang gerak di Solo sangat longgar dan strategis. Mesin politik mereka akan bermain melebar dengan cepat.

4. Solo sebagai simbol

Kecerdikan lain adalah, bagaimanapun juga Jokowi identik dengan Solo. Dengan dipindahkannya markas pemenangan Prabowo-Sandi, mereka langsung ingin membongkar pertahanan lawan dari jantung simboliknya.

Iklan

Solo dan Yogya juga punya dimensi historis jejak dan jalur pertarungan melawan kolonial. Setidaknya yang sangat dikenal masyarakat luas adalah perlawanan Pangeran Sambernyowo dan Pangeran Diponegoro. Kebetulan pula, secara teritorial, basis perjuangan keduanya hampir mirip dengan peta strategis yang tampaknya akan dilakukan oleh Prabowo-Sandi.

5. Memastikan kampung halaman SBY

Dipilihnya Solo, yang punya hubungan kultural dengan wilayah Mataraman yang ada di Jawa Timur, sekaligus upaya bagi kubu Prabowo-Sandi untuk mendulang suara dari kampung halaman sekutu mereka: SBY. Bagaimanapun, SBY punya magnet yang kuat, yang itu bisa kembali dibuktikan dengan memenangkan pasangan Khofifah-Emil Dardak. Khofifah memang mendukung Jokowi-Sandi. Tapi Emil maju sebagai cawagub dari partai Demokrat dan PAN, dua partai yang secara resmi mendukung pasangan Prabowo-Sandi. Tentu saja modal politik SBY di episentrum tanah kelahirannya tidak akan disia-siakan oleh kubu Prabowo-Sandi.

Manuver memindahkan markas pemenangan ke Jawa Tengah, lebih tepatnya di Solo, adalah langkah kuda yang mencoba merebut tiga teritori strategis, menurut hemat saya adalah langkah yang sangat strategis dan cerdik. Setidaknya langkah ini jika dikembangkan dan digerakkan dengan lebih kreatif akan mampu memperkecil jarak antara kubu Prabowo-Sandi dengan petahana.

Dalam situasi pertarungan yang terpaut jauh, maka cara terbaik memang tidak langsung memenangkan pertarungan, melainkan menggergaji pelan basis-basis pendukung lawan. Prabowo dan Djoko Santoso sebagai ketua timses tentu sangat memahami hal ini.

Kubu Prabowo-Sandi sudah membuat langkah kuda yang mengejutkan. Kita tunggu langkah strategis kubu Jokowi-Ma’ruf dalam merespons langkah ini.

Mari kita saksikan…

Terakhir diperbarui pada 10 Desember 2018 oleh

Tags: jawa tengahprabowosolo
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

slow living, jawa tengah.MOJOK.CO
Sehari-hari

Omong Kosong Slow Living di Jawa Tengah: Gaji Kecil, Tanggungan Besar, Ditambah Tuntutan “Rukun” yang Bikin Boros

11 Februari 2026
Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi jadi tempat jeda selepas lari MOJOK.CO
Kilas

Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi: Jadi Tempat Ngopi, Jeda selepas Lari, dan Ruang Berbincang Hangat

9 Februari 2026
Penyebab banjir dan longsor di lereng Gunung Slamet, Jawa Tengah. MOJOK.CO
Kilas

Alasan di Balik Banjir dan Longsor di Lereng Gunung Slamet Bukan karena Aktivitas Tambang, tapi Murni Faktor Alam

29 Januari 2026
Pemuda Solo bergaya meniru Jaksel bikin resah MOJOK.CO
Ragam

Saat Pemuda Solo Sok Meniru Jaksel biar Kalcer, Terlalu Memaksakan dan Mengganggu Solo yang Khas

28 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku Mojok,co

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku

19 Maret 2026
Selalu royal ke teman saat butuh bantuan karena kesusahan. Giliran diri sendiri hidup susah eh diacuhkan pertemanan MOJOK.CO

Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

17 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

19 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.