Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Pembangkangan Pemudik

Puthut EA oleh Puthut EA
11 Mei 2021
A A
ilustrasi Kita Boleh Menyerah Kalah uthut EA mojok motivasi kesuksesan kegagalan keberhasilan kita boleh menyerah

ilustrasi Kita Boleh Menyerah Kalah uthut EA mojok motivasi kesuksesan kegagalan keberhasilan kita boleh menyerah

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sudah beberapa hari ini, kita disuguhi berita, bagaimana para pemudik yang mayoritas naik sepeda motor, melakukan aksi menerobos jalan yang dijaga petugas. Ada apa di balik aksi tersebut?

Sebetulnya apa yang dilakukan oleh para pemudik sudah bisa diperkirakan oleh banyak orang, termasuk oleh petugas. Pertama, banyak orang tidak mudik tahun lalu. Kalau tahun ini masih tidak mudik, itu artinya rata-rata mereka tidak mudik selama dua tahun. Waktu yang cukup lama buat warga negara kita, yang punya ciri khas keterikatan dengan keluarga dan kampung halaman yang kuat.

Iklan

Kedua, mereka kecewa karena aturan dilarang mudik dianggap plin-plan. Mencla-mencle. Tidak komprehensif dan merasa kebijakan tersebut tidak berpihak pada mereka. Mal dibuka dan padat pengunjung. Tempat pariwisata dibuka. Bahkan banyak warga yang diwawancara media, yang sampai pada kesimpulan: warga negara asing saja boleh masuk, kenapa warga negara sendiri tidak boleh masuk?

Sekarang akses publik terhadap sumber berita, sudah makin meluas. Begitu mereka mengonsumsi satu berita yang dipikir tidak sesuai dengan apa yang mereka alami, tentulah timbul perasaan terzalimi. Akumulasi dari itu semua itulah yang membuat setiap hari puluhan ribu pemudik nekat melakukan pembangkangan di jalanan. Itu yang terdata lewat berita-berita. Tentu banyak lagi pemudik yang lolos lewat berbagai jalan tikus.

Menariknya, dukungan mudik datang dari warga yang tidak mudik. Di jalanan Bekasi, ratusan warga yang tidak mudik menyemangati warga yang hendak mudik. Saat ditanya wartawan, mereka menjawab kira-kira begini: Kasihan, sudah dua tahun tidak bertemu keluarga, masak mau bertemu keluarga sebentar saja tidak boleh.

Warga nonpemudik itu pula yang kerap memberikan bantuan kepada para pemudik untuk untuk melewati jalan tikus utamanya di wilayah mereka sendiri. Mereka ada di jalan-jalan, mengarahkan warga yang dipaksa putar balik untuk melewati jalan-jalan tertentu yang tidak dijaga petugas atau dijaga petugas namun sangat longgar.

Banyak pula yang menyediakan tempat persinggahan bagi para pemudik untuk menunggu jam-jam tertentu ketika penyekatan sudah dilonggarkan. Warga membantu warga.

Di lapangan, saya mendapati, banyak petugas, terutama yang saya temui di jalan-jalan kecil, memaparkan bahwa mereka mengalami kesulitan untuk menghalau pemudik. “Masak sih, Pak, kami suruh mereka pulang. Sudah ratusan kilometer mereka lolos, kan tidak masuk akal jika kami suruh balik.” Begitu ungkap salah satu petugas di jalur tikus seputar pantura.

Petugas lain bahkan dengan jujur mengakui, mereka bilang, “Saya suruh balik dulu, tapi saya beritahu pos ini akan longgar setelah jam 20.00 malam. Masak rumah mereka tinggal beberapa puluh kilometer, saya suruh balik.”

Di beberapa pos pemeriksaan, saya melihat pemeriksaan hanya sekadar formalitas. Petugas berada di pinggir jalan, tapi ya hanya di pinggir jalan. Tidak memeriksa pengendara sama sekali. Atau sesekali saja memeriksa, itu pun hanya diperiksa perlengkapan perjalanan seperti SIM dan STNK. Tidak ada pemeriksaan surat tugas atau surat kelengkapan kesehatan. Jawaban mereka mirip dengan rekan mereka yang lain, “Kasihan, Pak. Lagian kami realistis, kalau ketahuan di sini, mereka akan cari jalan lain. Tidak mungkin balik ke kota tempat mereka bekerja,” tutur salah satu petugas dengan mimik serius.

Jadi sebetulnya, para petugas pun menyimpan semacam rasa tidak tega untuk mengusir atau meminta pemudik balik. Walhasil, yang dilakukan mereka sekali lagi hanya sekadar formalitas, atau sekadar membuat kendor pemeriksaan di jam-jam tertentu supaya pemudik bisa melenggang ke kampung halaman. Ada yang mulai longgar pada pukul 20.00, ada juga yang mulai pukul 23.00.

Sampai sekarang, saya mencoba berkomunikasi dengan beberapa teman yang melakukan liputan lebaran, mereka mendapati hal yang serupa di berbagai tempat lain. Sampai sekarang pun, saya belum mendapatkan liputan tentang orang-orang yang sudah mudik lalu balik lagi. Itu artinya, hampir semua pemudik sukses mudik.

Dalam konteks ini, rasanya tidak bijak jika pemerintah menyalahkan pemudik, warga nonpemudik yang mendukung pemudik, maupun petugas lapangan. Pemerintah sebaiknya merenung, utamanya dalam membuat kebijakan yang dirasa warga tidak sensitif dan tidak adil. Dan yang lebih penting lagi, mempersiapkan banyak rumah sakit untuk mengantisipasi lonjakan penyakit pascamudik.

Tapi ingat, lonjakan itu jika terjadi, jangan hanya dilihat dari para pemudik. Bisa saja dari pengunjung mal yang berjubelan, dan tentu saja dari tempat wisata yang sengaja dibuka.

Iklan

BACA JUGA Obrolan Utusan Manusia dengan Utusan Corona dan esai Puthut EA lainnya.  

Terakhir diperbarui pada 11 Mei 2021 oleh

Tags: Mudikpanturapemudik
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Jawa Tengah dan Bappenas bersinergi dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Pantura dan Pansela MOJOK.CO
Kilas

Pembangunan Infrastruktur Pantura dan Pansela Jadi Prioritas karena Jateng Punya Banyak Potensi Ekonomi

9 Juni 2026
4 jenis pengendara motor di pantura seperti Rembang yang harus dilarang nyetir motor di jalan raya MOJOK.CO
Catatan

4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan!

23 April 2026
Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO
Esai

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

22 April 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran
Catatan

Saya Kapok Naik Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

1 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri MOJOK.CO

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri

20 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.