Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Klub Mancing Kalijagan: Klub Mancing yang Tak Sembarangan

Puthut EA oleh Puthut EA
28 Juli 2018
A A
kepala suku
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mereka janjian di sebuah warung burjo di jalan Kaliurang. Menjelang pukul 20.00 semua sudah bersiap. Delapan orang dengan empat sepeda motor melaju menuju arah atas.

Di sekira kilometer 15, keempat sepeda motor masuk ke arah kiri, lalu mengikuti jalan kecil berkelok. Di sebuah tegalan dengan dua rumpun bambu yang menjulang, keempat sepeda motor itu masuk ke jalan tanah. Tak sampai 500 meter kemudian, mereka sudah sampai di spot pemancingan.

Apa yang disebut spot pemancingan itu adalah sebuah sungai yang tak seberapa besar, berbatu, dan suara airnya gemericik.

Fawaz dan Ikhwan yang tahu spot itu terlebih dulu turun dari sepeda motor. Membawa dua tas besar dan parang. Mereka sejenak membabat dan membersihkan rerumputan. Sementara itu, Nody dan Markaban berjalan hilir-mudik di sungai, melompati batu demi batu, lalu balik lagi ke tempat semula, kemudian mengeluarkan delapan joran.

Ada dua orang terlihat iwut membuka bungkusan besar, mengeluarkan aneka penganan. Semua itu ditata rapi. Peranti memasak pun siap. Ada panci, gelas, sendok.

Sementara itu, Jimmy dan Jimbo menggotong dua bongkok kayu bakar dari tempat sepeda motor menuju pinggir kali. Jam 21.30, semua persiapan selesai. Tikar dan perlak sudah digelar. Api unggun sudah menyala. Air mulai dijerang. Joran-joran pancing sudah terpasang.

Mereka berdelapan lalu minum kopi sambil udud, berbincang ringan. Tak lama kemudian, mereka mengambil jatah joran masing-masing, lalu mencari tempat terbaik untuk memancing ikan.

Kalijagan, nama klub mereka, adalah wadah yang tak jelas. Seminggu sekali, kadang dua kali, mereka mencari spot memancing ikan di sungai. Hanya dilakukan di malam hari. Berangkat bakda Isya’ dan berakhir menjelang subuh.

Kalau dibilang pemancing fanatik, tidak juga. Karena begitu setengah jam mereka memancing, ada yang sudah melamun di atas batu sungai. Ada yang meditasi. Ada yang tiduran di tikar yang sudah disediakan. Tapi tetap ada juga yang terus memancing, utamanya yang pancing mereka disambar ikan terus.

Tapi paling lama menjelang pukul 24.00 mereka sudah meriung kembali di tempat membuat api unggun dan tikar yang tergelar. Api kembali dinyalakan. Bagi yang mendapat ikan segera membersihkan ikan, memberi bumbu alakadarnya yang sudah dipersiapkan, lalu dibakar di api unggun.

Bontot mulai dikeluarkan. Nasi uduk, lele goreng, mendoan, kerupuk, abon, dan dua jenis sambal segera siap disantap. Tak lama kemudian mereka sudah mulai gojlok-gojlokan sambil makan. Tuntas semua, barang-barang dicuci dan dibersihkan. Joran juga dirapikan. Mereka melingkar. Kajian ringan dimulai.

Salah satu dari mereka lalu memulai dengan materi tertentu. Materinya tentu soal jiwa dan spiritualitas. Ngobrol di pinggir sungai, dengan suara gemericik, desah dedaunan, sementara di langit tampak bintang dan bulan, menambah syahdu suasana.

Pikiran jadi bening untuk menerima dan memikirkan materi yang disampaikan. Obrolan makin khusyuk dan mendalam. Tapi sesekali tetap diiringi suara tawa. Tetap terasa hangat.

Menjelang subuh, obrolan diakhiri. Sampah dibersihkan. Unggun dimatikan. Mereka berkemas. Lalu deru keempat motor terdengar membelah jalanan.

Iklan

Di salah satu masjid terdekat, mereka berhenti untuk ikut salat Subuh berjamaah.

Kalijagan beranggota duabelas orang yang sudah dibilang tidak muda lagi. Usia mereka dari mulai 33 tahun sampai 41 tahun. Mereka dari beragam profesi. Ada yang dosen, penulis, pengusaha, dll. Tapi tidak setiap acara selalu keduabelas orang itu bisa datang semua. Rata-rata delapan orang yang bisa berkumpul.

Kalijagan diambil dari nama seorang wali sohor di tanah Jawa: Kanjeng Sunan Kalijaga. Menurut salah satu riwayat, beliau diminta bertapa bertahun-tahun oleh gurunya, Sunan Bonang, di tepi sungai, sebelum kemudian diangkat menjadi murid. Begitu lulus bertapa bertahun-tahun di pinggir sungai, beliau diberi julukan: Kalijaga. Kali berarti sungai. Jaga adalah berjaga. Orang yang terjaga dan berjaga di tepi sungai. Kemudian kelak punya gelar: Sunan.

Tafsir lain yang lebih filosofis soal nama Kalijaga adalah kemampuan seseorang untuk menjaga aliran kesadarannya. Kali itu mengalir. Simbol atas kesadaran manusia yang terus mengalir, terkontrol, dan teramati.

Sepintas, apa yang dilakukan oleh kelompok mancing Kalijagan memang tak masuk akal. Seperti menyia-nyiakan waktu saja. Padahal mereka bukan kumpulan orang sembarangan. Menembus dingin malam, memancing sebentar, ngobrol, dan makan. Tapi mungkin itu cara yang pas buat mereka untuk meredakan stres. Meringankan beban hidup. Mengolah rasa. Berkomunikasi antar-orang dengan lebih intim di alam terbuka.

Sebuah klub yang tidak bertendensi hura-hura, atau membicarakan pernik dan ribetnya mencari uang serta makin beratnya menjalani kehidupan.

Semua adalah upaya untuk menghadang laju waktu dan berat beban pikiran, dengan cara dan formula yang paling pas buat mereka.

Semua kisah di atas tentu saja fiktif belaka. Tiba-tiba saja saya ingin menulis itu, setelah beberapa hari ini begitu asyik menyimak tayangan Youtube tentang orang-orang yang memancing ikan di sungai. Mereka orang-orang biasa. Hobi memancing di laut, tidak sembarang dimiliki orang. Saya setidaknya pernah beberapa kali memancing di laut. Untuk ukuran biasa, tentu saja itu hobi yang mahal. Untuk memancing di Selayar apalagi Kei, misalnya, kita harus siap mengeluarkan uang belasan hingga puluhan juta. Untuk sekali mancing.

Sementara memancing di sungai jauh lebih murah. Beberapa akun yang saya lihat, hanya bermodal sepeda motor, sebungkus rokok dan sebotol air mineral, lalu mendoan. Itu pun mendoannya selain berfungsi sebagai pengganjal perut juga sebagai umpan.

Mereka semua bahagia. Sekalipun ikan yang ditangkap ‘hanya’ sebatas wader, tawes, nilem, dll. Kalau mereka bisa dapat lele sungai, itu sudah pencapaian yang luar biasa.

Entah kenapa saya sangat ingin punya klub mancing ikan di sungai. Sebab bahagia, bisa kita tempuh dengan cara sederhana.

Terakhir diperbarui pada 28 Juli 2018 oleh

Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

meminjam uang, lebaran.MOJOK.CO
Sehari-hari

Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit

21 Maret 2026
Lontong dan kangkung, kuliner tua Lasem dalam khazanah suluk Sunan Bonang MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan

21 Maret 2026
Memelihara kucing.MOJOK.CO
Catatan

Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya

20 Maret 2026
Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang MOJOK.CO
Esai

Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

20 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Evakuasi WNI saat terjadi konflik luar negeri MOJOK.CO

Saat Terjadi Konflik di Luar Negeri, Evakuasi WNI Tak Sesederhana Asal Pulang ke Negara Asal

16 Maret 2026
Selalu royal ke teman saat butuh bantuan karena kesusahan. Giliran diri sendiri hidup susah eh diacuhkan pertemanan MOJOK.CO

Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

17 Maret 2026
Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat merampas senyum perantau asal Jogja MOJOK.CO

Stasiun Pasar Senen Saksi Perantau Jogja “Ampun-ampun” Dihajar dan Dirampas Jakarta, Tapi Terlalu Cemas Resign buat Balik Jogja

15 Maret 2026
Mudik Lebaran mepet dari Jogja dengan kereta demi kumpul keluarga

Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah

19 Maret 2026
Mudik Gratis dari BUMN 2026. MOJOK.CO

Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang

18 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.