Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Ketika AS Roma Mengalahkan Barcelona: Sebuah Pengakuan

Puthut EA oleh Puthut EA
11 April 2018
A A
KEPALA SUKU-MOJOK

KEPALA SUKU-MOJOK

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kemenangan AS Roma atas Barcelona bukan keajaiban, melainkan buah kerja keras para pemain, kejelian dari pelatih, dan dukungan luar biasa dari Romanisti.

Saya kira, hampir sebagian fans AS Roma tidak begitu bersemangat menyaksikan laga kandang saat Roma menjamu Barca di leg kedua babak delapan besar Liga Champions. Pasalnya sederhana saja, saat tandang, Roma dikalahkan Barcelona dengan skor telak: 4-1.

Iklan

Dengan hasil seperti itu, lalu mempertimbangkan kualitas pemain kedua kesebelasan, wajar jika romanisti hanya berharap hasil yang tak begitu mengecewakan pada leg kedua. Kalau kalah ya jangan banyak, sokur bisa seri, dan lebih baik lagi jika menang walaupun tipis. Menang 2-1 atau 1-0 bagi Roma saja sudah cukup menghibur.

Wajar pula jika orang seperti saya yang sudah 18 tahun mencoba setia mencintai Roma, saat membaca pernyataan Ramon Redriguez Vardejo alias Monchi, sang Direktur Olahraga Roma, yang dengan nada optimistik menyatakan bahwa Roma bisa menang tiga gol saat menjamu Barcelona, saya hanya bisa tersenyum kecut. Saya lebih lama mencintai Roma dibanding dia.

Ketika sang pelatih, Eusebio Di Franscesco alias Difra menyatakan bahwa Roma bisa saja memiliki keajaiban mengalahkan Barcelona dengan skor 3-0, saya juga tersenyum masam. Teringat di kepala saya, racikan anehnya saat tandang ke Barcelona. Tapi Difra jelas jauh lebih dulu mencintai Roma dibanding saya. Dia mantan pemain penting tim serigala ibukota.

Tapi siapa pun fans Roma bakal cukup gembira ketika Difra membuat terobosan skuat dengan menggelar formasi yang agak ganjil: 3-4-1-2. Dengan menempatkan tiga bek di depan kiper, lalu memasang 4 pilar pemain tengah, dan menempatkan Nainggolan sebagai trequartista yang akan menyuplai bola kepada dua penyerang: Edin Dzeko dan Patrik Schick.

Menempatkan dua striker yang timpang secara prestasi dan kapasitas, jelas bukan sesuatu yang menarik. Tapi posisi Nainggolan dan memasang 3 bek lalu menempatkan 4 pilar di tengah, jelas ini formasi yang menjanjikan. Setidaknya bagi saya, terlihat ada upaya jelas dari Difra untuk memenangi lini tengah, dan menempel ketat dua striker Barca yang dikenal buas: Lionel Messi dan Luis Suarez.

Rasanya, mungkin dengan formasi itu, Roma punya peluang untuk menang tipis. Kalaupun toh skenario itu tidak berjalan dengan baik, paling hanya akan mengganti Schick dengan Cengiz Under atau Stephan El Shaarawy. Itu sih pikiran saya.

Tapi faktanya, Roma langsung menghadapi beberapa manuver cepat Messi, yang akhirnya hanya bisa membuat saya kembali pesimistis, paling banter ini akan imbang. Lagian, di luar dugaan, Barca memainkan semua pemain kunci. Seakan ajang pembantaian akan diulang di Stadion Olimpico.

Namun, harapan kembali bangkit saat Dzeko melesakkan gol pertama di menit ke-6. Asa mulai menyala. Bisalah ini menang tipis 2-1. Atau kalau mau seru ya 3-2.

Setelah itu, banyaknya peluang Roma yang gagal membuahkan gol tidak membuat saya pesimis. Justru menggembirakan. Seru. Deg-degan. Sekaligus merasa ada yang aneh. Barca bermain seperti tanpa nyawa. Messi sesekali membahayakan. Tapi selebihnya, dia hanya seperti striker semenjana.

Lini tengah Barca bahkan boleh dibilang amburadul. Permainan salah satu tim terbaik dunia ini seperti tanpa visi yang jelas. Saat babak pertama usai, harapan saya mulai tumbuh lagi. Kayaknya Roma bisa menang 2-0. Tetap tidak lolos, sih, tapi setidaknya agregat gol Roma tak begitu memalukan.

Namun, sekian menit setelah babak kedua dimulai, meskipun daya gedor agak menurun, tapi saya melihat ada sesuatu yang sedang diincar Roma. Para pemain tenang, fokus, tapi tetap tak mengendurkan serangan.

Kreasi serangan datang dari semua lini. Dan tepat di saat Dzeko dilanggar Gerard Pique, mungkin muka saya pucat dan berkeringat. Bagaimana tidak? Di satu sisi, harapan berkecambah. Di sisi lain, agak lemas karena yang mengeksekusi penalti adalah Daniele De Rossi.

Iklan

Ya, memang mestinya De Rossi yang mengambil penalti karena Diego Perotti tidak main. Hanya saja, De Rossi bukan eksekutor penalti yang baik. Tapi lhadalah! Gol juga. Walaupun arah tendangan De Rossi bisa dibaca dengan baik oleh Marc-Andre Ter Stegen.

Entah kenapa, saat itu pula, saya diam-diam menaikkan harapan. Kayaknya bisa Roma menang 3-0. Dengan demikian, sekalipun agregat gol kedua kesebelasan sama, tapi Roma yang lolos karena agresivitas gol tandang.

Dada saya makin dag-dig-dug. Tapi gila, Roma tetap bisa mengontrol irama pertandingan. Kesempatan emas beberapa kali sempat singgah ke Barcelona, namun Alisson Becker tampil gemilang. Sangat gemilang. Ya dia memang hebat sih. Salah satu kiper terhebat yang pernah dimiliki Roma, setidaknya selama saya mulai menjagoi klub ini.

Persis ketika Manolas membuat gol, saya hanya bisa kamitenggengen. Apa? Gol? Haaaaah? Gooool? Gak salaaaaah? Ya. Gol.

Gol. Benar gol. Ya. Beneran. Gol beneran. Saya cuma ndomblong. Dan bersorak telat. Telat sekali. Kaki dan tangan saya makin dingin. Dada saya makin deg-degan. Apalagi setidaknya dua kali, Barca hampir membuat gol.

Ketika peluit panjang berakhir, saya menitikkan air mata. Ini bukan keberuntungan. Ini kemenangan yang bersih. Lahir dari strategi yang bagus, mental pemain yang hebat, dan tentu saja fans Roma yang memadati stadion.

Tiga gol yang rasanya mustahil. Aneh. Susah digambarkan bagaimana perasaan saya. Perasaan yang mungkin akan tertinggal lama. Kegembiraan yang susah dibayangkan. Barca datang dengan percaya diri. Memiliki barisan pemain hebat. Berbekal kemenangan telak. Tapi Roma mampu menjamu dengan luar biasa. Bukan. Ini bukan keajaiban sebagaimana yang dilansir banyak media massa.

Saya juga tidak bisa mengatakan bahwa permainan Barca buruk. Memang tidak cemerlang, tapi bukan buruk. Dan yang membuat Barca bermain tidak cemerlang karena pemain-pemain Roma bermain gemilang.

Bukan. Ini bukan keajaiban sebagaimana banyak orang bilang. Bukan. Roma memang sedang hebat.

Tidak salah rasanya jika kemudian saya punya harapan Roma akan memenangi Liga Champions. Sudah begitu jelas di mata saya. Tapi segera saya redam sedikit perasaan itu. Bukan apa-apa, belajar dari yang sudah, kalau Roma diberi harapan tinggi, biasanya hasilnya mengecewakan.

Tapi Roma bakal menjuarai Liga Champions kok. Kalau Chelsea dan Barca bisa digasak 3 gol tanpa balas, hal yang sama pun bisa dilakukan kepada tim lain yang tersisa.

Terakhir diperbarui pada 11 April 2018 oleh

Tags: air mataAS RomaBarcelonaLiga Championsperempat final Liga ChampionsRoma
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Kegilaan Cinta Sejati di Napoli: Antara Sepak Bola dan Maradona MOJOK.CO
Esai

Menyaksikan Kegilaan Cinta Sejati di Kota Napoli: Antara Copet, Kota Bau Pesing, Sepak Bola, dan Maradona

31 Desember 2024
Kezaliman Barcelona Terhadap Frenkie De Jong
Video

Kezaliman Barcelona Terhadap Frenkie De Jong

11 Agustus 2022
Xavi Hernandez Terlahir untuk Barcelona
Video

Xavi Hernandez Terlahir untuk Barcelona

19 Maret 2022
AS Roma, Felix Afena-Gyan, dan Jose Mourinho Memeluk Masa Depan MOJOK.CO
Balbalan

AS Roma, Felix Afena-Gyan, dan Jose Mourinho Memeluk Masa Depan

22 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026
Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.