Cerita Lucu Sopir Truk: Ke Ostrali-lah Maka Kau Enggak Bakal Lucu Lagi

Cerita Lucu Sopir Truk: Ke Ostrali-lah Maka Kau Enggak Bakal Lucu Lagi

MOJOK.COSebagai sopir truk yang terkenal akan cerita lucu di Indonesia, saya merasa gagal ketika bekerja di Ostrali. Saya jadi garing begini.

Saya benar-benar putus asa dengan selera humor orang Ostrali. Sudah hampir setahun saya jadi sopir truk di negeri kering penuh semak-semak dan kadal beracun ini, tapi belum pernah sekali saja saya ketawa terpingkal-pingkal berkat cerita lucu mereka.

Pernah suatu ketika, seorang teman sesama sopir truk jadi bahan pembicaraan. Nama sopir jurusan Bibra Lake itu sama dengan nama saya (sialan, rasanya macam ketemu orang di bus kota yang motif bajunya sama persis dengan yang kita pakai). Iqbal Singh Gill namanya, orang India.

Si Gill ini barusan aja diterima jadi sopir truk. Eh baru beberapa hari mulai nyopir, dia udah langsung bolos lama, seminggu lebih. Teman-teman pun bertanya-tanya kenapa.

Cerita lucu itu dimulai dari ini. Tak lama kemudian kami tahu jawabnya. Si Gill habis dapat kecelakaan. Mobilnya nabrak kanguru di daerah selatan Rockingham. Entah nasib kangurunya gimana, dapat dana sosial apa enggak, yang jelas si Gill sendiri nggak apa-apa. Tapi ya itu… mobilnya ringsek!

“Kangaroo is very strong!” Kata Patrick, sopir van untuk area Hope Valley. Dia orang Ostrali asli. Pat lalu bercerita, bahwa kehebatan kanguru nggak cuma di kekuatan ototnya yang bisa bikin penyok mobil yang menabraknya, tapi cakar mungilnya juga sangat berbahaya. Banyak terjadi kanguru nyerang manusia sampai mati, merobek perut samping orang dengan cakar tajamnya.

Baljit, orang India sopir van untuk area Kwinana, lekas menyahut, “What?! Kanguru nyerang orang? Serius? Bukannya mereka imut?”

Pat menimpali, “Yes, but they are dangerous.”

Kalimat itu sontak bikin saya teringat satu dimensi kehidupan yang lain. “Waaah… kalo gitu kanguru mirip cewek ya, Pat. Mereka imut, tapi berbahaya.”

Hening.

Semula saya bayangkan, semua orang yang mendengar cerita lucu saya itu akan ngikik. Jelas bukan sejenis guyonan yang bisa bikin orang terpingkal sih, tapi setidaknya bakalan memancing para lelaki buat ketawa “xixixixi…” Lha tapi ini tidak. Cuma Sebastian saja, bule turunan Italia, yang terdengar hehe-nya. Tapi ya cuma hehe saja, sejenis tawa plain tanpa topping apa pun. Saya merasa jayus. Ngok.

Esok harinya saya coba jualan cerita lucu itu ke teman-teman lain, Nathan dan Brendan. Keduanya tukang sortir barang di gudang, dua-duanya asli Ostrali. Tapi lagi-lagi saya gondok. Nathan cuma meringis kecil sambil bilang “Funny!” Hih!

Tak ada kejadian atau cerita lucu apa pun setelah itu dalam waktu yang lumayan lama. Hingga suatu sore saya pergoki beberapa orang kemruyuk merubung sesuatu, lalu beberapa detik kemudian meledak tawa bersama, terpingkal semua, bahkan ada yang sampai balik badan sambil pegang perut saking ngakaknya. Wah, ini dia….

Saya pun njenggirat, langsung lari melesat menghampiri mereka.

Tahu apa yang mereka rubung barusan? Ternyata Nathan pegang iPhone miliknya, nunjukkin video pendek seorang lelaki kekar, yang ketika celananya dibuka, ternyata anunya kecil mungil cuma seukuran biji melinjo! Saya nonton, melongo sebentar, satu detik membatin “Ya ampun….” Meski kemudian saya ikut tertawa juga. Yaaah… sebagai semacam solidaritas.

Sampai sekarang saya tak habis pikir, bagaimana video begituan bisa bikin orang-orang itu ngakak sampe keram perut. Byuh.

Setelah hari itu, saya tengarai nyaris setiap cerita lucu dan momen ngakak berjamaah selalu melibatkan celetukan jorok, video 3gp dengan adegan norak semisal cewek yang itunya gueddeee bianget, dan sebangsanya.

Kadang mereka ngakak dengan begitu mengejutkan, lalu satu-dua orang melambai memaksa saya mendekat, menunjukkan apa yang bikin mereka ketawa, dan saya pun selalu formalitas ikut ketawa. Lagi-lagi: sebagai sebentuk solidaritas.

Elliot Wesley, supervisor saya, tidak pernah terlibat dalam acara ngakak-ngakak bersama itu. Pastilah itu karena selera humornya lebih adiluhung. Saya yakin itu. Maklum, sekolahnya juga lebih tinggi dibanding para sopir truk dan petugas gudang.

Hingga pada suatu pagi, saya mendorong troli besi yang di atasnya bertumpuk barang-barang kiriman. Alamak, berat sekali. Belum lagi ternyata troli itu nggak bisa dibelokkan! Tampaknya ada masalah dengan rodanya, sehingga saya begitu kepayahan mengendalikannya.

Melihat saya yang dapat masalah begitu, Elliot bergegas mendekat. “What happen, Iqy?”

“This trolley is…” saya menjawabnya, “…very independent.” Troli ini sangat independent, jawab saya.

“What do you mean?” Elliot minta penjelasan.

“It’s so fuckin’ uncontrollable. Verry independent, isn’t it?”

Ini nggak bisa dikendalikan. Sangat independen, bukan? Jawab saya sambil meringis.

Lalu saya lirik wajah Elliot. Dia melongo datar setelah mendengar cerita lucu saya. Sekejap saja, lantas segera berpaling memunguti barang-barang di atas troli bermasalah itu tadi. Tak ada senyum, apalagi ketawa geli.

Dan… saya… merasa… garing.

Detik itu juga saya bertekad, saya mau ngontak kawan saya Nody Arizona di Yogyakarta. Setahu saya koleksi bokepnya lengkap. Mau saya minta kopi semua, dipaketkan ke sini lewat Fedex, untuk saya jadikan bahan lelucon cespleng biar bikin ketawa supervisor dan teman-teman saya orang Ostralia.

BACA JUGA Aturan No. 1 Kuliah di Luar Negeri: Jangan ke Australia kalo Bajet Ngepas dan tulisan lainnya di rubrik ESAI.

Exit mobile version