Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan 

Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan MOJOK.CO

Ilustrasi Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

MOJOK.COKalau ada perempuan bangga disebut sebagai trophy of wife, mereka tak lebih dari baliho berjalan yang menjadi perpanjangan ego laki-laki.

Beberapa hari ini, FYP TikTok saya agak seragam: isinya mbak-mbak cantik yang pagi-pagi sudah pilates, siang makan salad di kafe estetik, lalu sorenya menjemput anak sekolah dengan tampilan tetap glowing paripurna. Tidak ada keringat, makeup tetap stay on, tidak ada daster kumal, apalagi bau bawang goreng yang menempel di baju.

Meluncurlah jari saya ke kolom komentar. Bisa ditebak, netizen kita memang juara dalam urusan memuja sekaligus menghujat. Banyak yang memujanya setinggi langit, menjadikannya life goal, bahkan terang-terangan menulis: “Manifesting Trophy Wife”. 

Tutorial How to Become a Trophy Wife pun menjamur. Jujur saja, tren romantisasi ini membuat telinga saya gatal. Istilah ini bukan sekadar label keren; ia adalah bom waktu bagi harga diri perempuan.

Miskonsepsi yang salah kaprah tentang trophy wife

Istilah “Istri Piala” ini sebenarnya jahat. Seolah-olah, jika ada perempuan yang hidupnya terlihat nyaman dan terawat, dia otomatis berubah menjadi barang pajangan. Ia dianggap aksesori untuk mempercantik harga diri suaminya di depan kolega. 

Padahal, piala itu benda mati, tak bersuara, tak punya lelah, dan cuma diam di lemari kaca. Menyebut seorang perempuan sebagai trophy wife adalah cara halus untuk bilang: “Kamu cantik, tapi kamu tidak punya otoritas atas hidupmu sendiri”, atau “Kamu bukan siapa- siapa kalau tidak bersuamikan si A, si B.”

Secara sejarah, istilah ini punya akar yang cukup sarkastik di Amerika Serikat sekitar tahun 1950-an dan meledak di tahun 1980-an. Awalnya, trophy wife adalah sindiran untuk laki-laki sukses yang “menukar” istri pertamanya (yang menemani dari nol) dengan istri kedua yang jauh lebih muda dan cantik setelah ia kaya raya. Istri baru ini dianggap sebagai “hadiah” atas kesuksesannya dalam karier.

Julie Connelly, jurnalis yang mempopulerkan istilah ini di majalah Fortune (1989), menekankan bahwa trophy wife setara dengan lencana. 

Bayangkan, manusia disamakan dengan pin di jas yang fungsinya cuma buat pamer. Istilah ini lahir dari sinisme untuk menyindir selera pamer para CEO, namun anehnya sekarang malah dianggap sebagai cita-cita hidup. Di Hollywood tahun 90-an, label ini makin identik dengan stereotip gold digger, seolah kecantikan adalah satu-satunya mata uang dalam transaksi pernikahan.

TikTok dan cara halus menjinakkan perempuan

Sosiolog lawas Thorstein Veblen pasti geleng-geleng kepala melihat TikTok zaman sekarang. Jauh sebelum ada algoritma, Veblen sudah menyentil fenomena conspicuous consumption. Istri yang terlihat ‘santai’ dan sibuk mempercantik diri sebenarnya menjadi alat bagi suami untuk pamer kekuasaan ekonomi. 

Jadi, kalau sekarang kita bangga melabeli diri sebagai trophy wife, kita sebenarnya sedang merelakan diri menjadi baliho berjalan untuk kesuksesan orang lain. Kita bukan lagi subjek yang berdaulat, melainkan perpanjangan dari ego laki-laki.

Masalahnya, TikTok membuat jebakan ini terlihat begitu estetik dengan filter Paris dan lagu-lagu lo-fi. Standar yang diciptakan TikTok ini menyesatkan. 

Menjadi “Perempuan Berdaya” seolah harus lewat jalan pintas: punya suami kaya, tidak perlu bekerja, tidak perlu sekolah tinggi, lalu menghabiskan waktu dengan perawatan mahal dan staycation mewah sambil membawa nanny sesuai jumlah anak kalau mau nge-mall.

Standar ini tidak realistis bagi mayoritas perempuan yang harus berjuang antara karier, cucian piring dan antar-jemput sekolah anak. Lebih jauh lagi, ini berbahaya karena melanggengkan patriarki dengan cara yang paling halus. 

Ini adalah patriarki yang mengganti baju saja sebenarnya. Kalau dulu patriarki memaksa perempuan di dapur dengan tekanan, sekarang ia merayu perempuan masuk ke ruang domestik dengan iming-iming pilates dan kafe estetik. Hasilnya sama: perempuan tetap didefinisikan berdasarkan relasinya dengan laki-laki, bukan kapasitas dirinya sendiri.

Ilusi “hidup enak” tanpa kapasitas sebagai trophy wife

Algoritma terus menyuapi perempuan muda dengan narasi bahwa “hidup enak” adalah hidup tanpa kerja keras. Ini menghapus realitas bahwa kemandirian finansial dan intelektual adalah pelindung utama perempuan. 

Mengandalkan posisi sebagai “piala” atau trophy wife adalah pertaruhan berisiko tinggi. Dalam logika pasar patriarki, piala akan selalu diganti ketika muncul model yang lebih baru dan lebih mengilap.

Tanpa kapasitas intelektual, perempuan hanya akan menjadi barang depresiasi yang nilainya menurun seiring usia. Padahal, penelitian sosiolog Elizabeth McClintock membuktikan bahwa narasi ini sering kali cuma prasangka. 

Banyak perempuan yang dianggap “piala” sebenarnya punya latar belakang pendidikan dan kelas sosial yang setara dengan suaminya. Namun, karena masyarakat kita masih patriarkis, yang dilihat cuma glowing wajahnya, bukan isi pemikirannya atau bahkan pencapaian lain dalam hidupnya.

Perempuan dianggap benar kalau hidupnya diatur standar orang lain?

Penyematan frasa trophy wife ini sering disalahpahami. Intinya cuma satu: pilihan dan agensi. Jika seorang perempuan memilih fokus mengurus anak, menjaga kebugaran, atau menikmati hidup di kafe karena ia mampu, ya, itu haknya sebagai manusia.

Masalahnya, masyarakat kita hobi melabeli. Kita berteriak tentang pemberdayaan, tapi sering kali menjadi yang tercepat menghakimi. 

Perempuan yang bekerja lembur dibilang menelantarkan keluarga; perempuan yang merawat diri di rumah disebut trophy wife. Kapan perempuan bisa dianggap “benar” jika hidupnya terus diatur oleh standar orang lain?

Menjadi istri adalah relasi kemitraan, bukan kepemilikan. Manajemen rumah tangga dan pengasuhan anak yang dilakukan dengan sadar itu jauh lebih rumit daripada sekadar bikin laporan Excel di kantor. Taruhan mentalnya tidak main-main. 

Di dunia nyata, data menunjukkan mayoritas pasangan harus bekerja sama demi membayar cicilan. Maka, romantisasi ini adalah anomali yang menciptakan standar palsu, membuat perempuan yang bekerja keras merasa ‘kurang beruntung’ hanya karena tidak punya waktu untuk pilates atau nge-gym pagi-pagi. Padahal, lagi- lagi ini adalah persoalan privilese yang tidak setara.

Perempuan itu punya kendali, bukan barang inventaris

Sudah saatnya kita berhenti melihat hidup perempuan lewat kacamata kepemilikan. Masalahnya bukan pada apa yang dia pilih, apakah dia memilih dasteran di rumah atau glowing di tempat pilates, keduanya adalah pilihan yang sah dan berdaulat. Masalahnya adalah ketika pilihan personal itu dikerdilkan menjadi label trophy wife.

Menggunakan istilah “piala” adalah bentuk kegagalan masyarakat dalam melihat manusia secara utuh. Mau sesantai atau seestetik apa pun hidup seorang perempuan, dia tetaplah subjek penuh, bukan piala plastik demi validasi sosial suami. 

Menjadi perempuan hebat tidak harus lewat jalur menjadi “piala” karena piala itu pasif, sedangkan perempuan itu berproses.

Mari hargai pilihan setiap perempuan tanpa menjebak mereka dalam istilah yang bersifat kepemilikan. Karena pada akhirnya, mau seglamor apa pun tampilannya, mereka adalah manusia yang punya kendali, bukan barang inventaris yang nasibnya ditentukan oleh rak pajangan.

Penulis: Endang Sriwahyuni
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Kegelisahan Seorang Bapak yang Punya Anak Perempuan dan Pentingnya Aktif Ikut Ronda di Kampung seperti Duta Sheila on 7 dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.

Exit mobile version