Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elit dan Realitas yang Sulit MOJOK.CO

Ilustrasi Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elit dan Realitas yang Sulit (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.CO – Imbauan bersepeda dan jalan kaki ke kampus adalah simulasi siksa dunia.

Meminta Dosen, Mahasiswa Jalan Kaki dan Bersepeda ke Kampus ala Eropa: Wujud Visi Elite, Realitas Sulit

Membaca berita tentang imbauan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi agar warga kampus mulai berjalan kaki atau bersepeda demi menghemat BBM, hati saya rasanya langsung menghangat. Sehangat aspal Jalan Kaliurang di jam dua belas siang bolong. 

Bapak Menteri Diktisaintek, dengan wawasannya yang jauh menembus batas benua, membandingkan kebiasaan sehat ini dengan masyarakat di negara-negara maju seperti Eropa.

Sebagai dosen biasa yang selalu mempraktikkan filosofi nrimo ing pandum terhadap titah pemerintah pusat, saya langsung membayangkan sebuah utopia yang memesona. Alangkah indahnya melihat sivitas akademika UGM berjalan kaki atau mengayuh sepeda menyusuri jalanan kampus. Pemandangan estetik, ramah lingkungan, dan tentu saja sangat Copenhagen sekali.

Namun, sebagai manusia yang kakinya sehari-hari memijak bumi nyata, tepatnya di kawasan Jalan Kaliurang atas, imajinasi kebarat-baratan itu seketika ambyar membentur kerasnya realita topografi dan infrastruktur lokal kita.

Menteri dengan visi Eropa, dosen dengan realita menderita

Mari bicarakan urusan jarak dan bentang alam. Bapak Menteri mungkin membayangkan jarak rumah ke kampus itu bagaikan jalan santai pagi dari perumahan di Sekip menuju Balairung UGM. 

Masalahnya, harga tanah di sekitaran UGM itu sudah tidak masuk akal untuk dompet dosen biasa. Demi cicilan KPR yang tak mencekik leher, banyak dari kami terpaksa mundur dan terdampar di kawasan pinggiran utara seperti Jakal atas.

Sebagai informasi, jarak rumah saya ke kampus itu sekitar sepuluh kilometer-an. Bayangkan kalau saya nekat mengikuti imbauan mulia tersebut dengan mancal dari Jakal atas ke kawasan Bulaksumur. Saat berangkat pagi, mungkin rasanya masuk akal karena jalannya lancar menurun ditarik gravitasi bumi dan udara juga masih sejuk.

Tapi, tolong bayangkan juga pulangnya. Mengayuh sepeda menanjak sepuluh kilometer penuh, setelah seharian terkuras energinya menghadapi mahasiswa gen Z yang super kritis, sungguh bukan olahraga kardio biasa. Itu adalah murni sebuah simulasi siksa dunia.

Hasil akhirnya: jelas gobyos. Keringat akan bercucuran parah layaknya baru selesai dihukum dijemur di bawah terik matahari pas tengah hari.

Kalau tinggal pulang sih, tinggal mandi dan istirahat. Situasinya akan berbeda kalau misal berangkat siang. Sesampainya di ruang dosen, bukannya siap memberi bimbingan dengan senyum, saya malah sibuk mengeringkan ketek di depan AC sambil mengatur napas.

Bapak Menteri bilang status sosial kita tidak akan turun karena bersepeda. Memang betul Pak, status sosial kami aman, tapi persentase bau badan dan kadar feromon dari tubuh ini jelas akan memecahkan rekor tingkat universitas.

Sepeda listrik: Solusi yang bikin dompet menangis

Seolah paham keluhan kaum pekerja yang lebih sering duduk dan jarang olahraga, Bapak Menteri bijak menambahkan jalan keluar: “Kalau berat atau ada tanjakan, bisa pakai sepeda listrik.” Sungguh solusi yang terdengar sangat solutif dan revolusioner.

Tapi, mari berhitung ala bapak-bapak kelas menengah ngepas. Harga sepeda listrik dengan spesifikasi tangguh untuk sanggup menanjak sejauh sepuluh kilometer ke Jakal atas itu tidaklah murah. Apakah kira-kira ada subsidi khusus dari kementerian untuk para dosen?

Kalau akhirnya disuruh merogoh kantong sendiri demi menyukseskan program penghematan energi nasional, rasanya kebangetan. Negara yang sedang berupaya mengerem krisis defisit energi, lha kok malah dompet saya yang dipaksa berdarah-darah menebus sepeda listrik? Udah gajinya kecil, apa-apa disuruh beli sendiri lagi…

Romantisme Trans Jogja Jalur 12 yang bikin ngedap-ngedapi

Oke, kalau bersepeda manual bikin gobyos dan sepeda listrik bikin dompet meringis, bagaimana dengan opsi transportasi umum? Bukankah itu juga solusi andalan ala Eropa? 

Percayalah, saya adalah pendukung garis keras transportasi massal. Saya sering mencoba menjadi warga negara ideal nan ramah lingkungan dengan menumpang bus Trans Jogja ke kampus.

Namun, penderitaan sesungguhnya mulai menimpa semenjak armada Teman Bus ditarik dari peredaran. Jalur 12 kesayangan yang biasa saya andalkan, kini digantikan armada bus Trans Jogja biasa. Sudah unitnya tua renta, jadwal kedatangannya pun bak menunggu kepastian dari orang yang hobi ghosting. Serba misterius. 

Bisa sih dilacak dari aplikasi, tapi waktu tunggunya itu lho, sungguh ngedap-ngedapi, bikin frustrasi jiwa dan pikiran.

Pernah waktu itu, sore hari selepas kuliah, saya berdiri manis di halte kampus di utara Selokan Mataram. Bus pertama datang, isinya sudah penuh sesak bak kaleng sarden. Saya dilewati dong, nggak berhenti sama sekali. 

Setengah jam kemudian, dengan kaki pegal, bus kedua tiba. Penuh sesak dan dilewati lagi! Wajah-wajah lelah bergelantungan pasrah menatap saya dengan tatapan iba.

Niat mulia menyelamatkan bumi dan mengurangi emisi karbon pun langsung luntur saat itu juga, menguap ke udara tergantikan emosi tingkat dewa. Akhirnya, dengan terpaksa saya pesan ojek online setelah satu jam lebih nggak bisa pulang.

Jalan kaki jadi Ninja Warrior di trotoar Jalan Persatuan UGM

Lantas, bagaimana dengan mahasiswa yang ngekos dekat kampus? Menuntut warga kampus jalan kaki dengan gagah berani tapi tanpa dibarengi ketersediaan fasilitas trotoar yang mumpuni ya sama saja menebar omong kosong.

Mari lihat sebuah contoh epik di depan mata: Jalan Persatuan di sisi barat balairung UGM. Secara fisik, batu trotoarnya memang ada membentang. Baru direnovasi dan kelihatan aduhai.

Tapi coba tanyakan fungsinya! Jalan kaki di atas trotoar Jalan Persatuan pada sore hari selepas kuliah bubar, sensasinya sungguh mendebarkan. Pengalamannya sangat otentik, bagaikan dipaksa mengikuti ujian halang rintang di Benteng Takeshi atau Ninja Warrior.

Trotoar tersebut resmi beralih fungsi menjadi kawasan street food bagi gerobak dan tenda makanan. Mulai panggangan sosis, penyetan, hingga makanan Jepang tumpah ruah menutupi trotoar. Mau santai lewat trotoar jelas sama sekali tidak bisa karena terhalang tenda dan gerobak.

Kalau akhirnya kita mengalah dan nekat turun lewat pinggiran jalan raya, harus rebutan sama parkiran motor pembeli. Kita harus berjalan miring dan lincah, sambil dihantui rasa khawatir tingkat tinggi keserempet motor mahasiswa atau spion mobil. Niat awal jalan kaki sesuai arahan menteri malah berakhir menjadi ajang uji nyali dan berpotensi jadi pasien GMC (Gadjah Mada Medical Center).

Imbauan elite pakai sepeda atau jalan kaki ke kampus yang menabrak realita tiyang alit

Pada akhirnya, saya sangat mengapresiasi imbauan pemerintah ini. Menekan konsumsi BBM di tengah krisis global adalah langkah patriotik. Imbauan bersepeda dan jalan kaki ke kampus ini akan terasa sangat relevan dan logis, kalau saja kita bermukim di kota-kota Belanda yang daratannya sedatar papan ujian, atau jika cuaca Jogja di siang bolong memiliki kelembutan layaknya musim semi di Eropa.

Namun kawan, kita tidak hidup di dalam dongeng Eropa. Kita berpijak di kenyataan di mana bus angkutan umum masih menguji ketabahan iman, dan kualitas trotoar kita terasa lebih ramah menyambut roda gerobak ketimbang sol sepatu.

Jadi, sebelum menitahkan warga kampus seperti dosen dan mahasiswa meniru gaya hidup sehat warga kampus Eropa, alangkah eloknya jika pengambil kebijakan menghadirkan infrastruktur publik sekelas Eropa dulu di kawasan kampus tercinta ini.

Sampai hari penuh keajaiban itu benar-benar terwujud, biarkanlah saya, dosen biasa ini, dan ribuan mahasiswa lainnya, tetap setia memacu sisa tenaga menunggangi motor membelah ganasnya jalanan Jakal setiap hari, seraya merapal doa agar kewarasan jiwa kami tetap terjaga. Itu.

Penulis: Bachtiar W. Mutaqin
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Akhirnya Saya Tahu Alasan Orang Beli Sepeda Mahal Sampai Ratusan Juta: Gagal Finish, tetapi Setidaknya Gagal Secara Nyaman dan Bermartabat dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.

 

Exit mobile version