Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Gagal Jumatan di Australia dan Ziarah sebagai Usaha ‘Pulang’ ke Rumah

Sugiyanto Widomulyono oleh Sugiyanto Widomulyono
15 April 2021
A A
Gagal Jumatan di Australia dan Ziarah sebagai Usaha ‘Pulang’ ke Rumah

Gagal Jumatan di Australia dan Ziarah sebagai Usaha ‘Pulang’ ke Rumah

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pandemi menghentikan jumatan di musala kampus saya di Australia. Namun, saya masih bisa menemukan sense of home lewat yang lainnya.

Sekitar tiga minggu lalu saya gagal jumatan. Saya datangi musala yang sejak pandemi lagi parah-parahnya tak saya datangi. Khotbah biasanya dimulai jam 12.45. Saya tiba beberapa menit sebelum itu.

Sayang sekali, musala begitu sunyi. Cuma ada saya yang baru saja datang dan satu orang lain yang sudah siap beranjak pergi.

“No Jummah prayer today, brother?” tanya saya. [Hari ini nggak ada jumatan, bro?]

“Unfortunately no. There’s been no Jummah since last year. I simply did Dhuhur instead,” jawabnya. [Sayangnya nggak. Udah dari tahun kemarin nggak ada. Barusan aku salat duhur aja, sebagai gantinya.]

Hidupnya musala kampus saya digerakkan oleh para mahasiswa muslim yang kebanyakannya dari Pakistan. Wabah memaksa banyak dari mereka memutuskan pulang. Sementara itu, hingga kini pemerintah Australia belum mengizinkan mahasiswa internasional masuk.

Jadi, kendati sejak akhir tahun lalu tempat ibadah sudah boleh beroperasi, musala ini tetap tak bisa menggelar ritual mingguan terpenting bagi lelaki muslim dewasa ini.

Gagalnya saya jumatan mengingatkan saya akan tiga kecenderungan dasar manusia.

Pertama, manusia bergerak. Kedua, pada saat yang sama manusia mengikatkan dirinya pada sesuatu yang disebut rumah (home), sesuatu yang di dalamnya seseorang akan merasa pomah (feeling at home). Ketiga, manusia menciptakan ritual dan memaku dirinya pada hal itu.

Gerak manusia adalah juga gerak benda, gagasan, dan pengetahuan—serta tentu saja uang. Ketika para nelayan Nusantara melakukan perjalanan tahunan ke pesisir utara benua Australia ratusan tahun silam, mereka membawa serta budaya Makassar, Bugis, Sama Bajau, dan lain sebagainya.

Mereka bergerak untuk mencari teripang dan bekerja serta tinggal bersama berbagai suku Aborigin selama beberapa bulan setiap tahunnya. Kontak dan hubungan yang terbangun memungkinkan terjadinya pertukaran budaya.

Bisa jadi merekalah yang pertama kali memperkenalkan Islam ke Australia. Konon, sosok yang disembah sebuah klan di Pulau Elcho di lepas pantai utara Australia bernama Walitha’walitha, yang diyakini diadopsi dari “Allah ta’ala”.

Praktik migrasi musiman para nelayan ini harus berhenti pada awal abad ke-20. Jika pandemi menjadi sebab berhentinya jumatan di kampus saya tadi, aturan dari otoritas Australia yang terlalu ketat membatasi ruang gerak nelayan teripang ini adalah musabab praktik ini berhenti.

Selanjutnya, gagasan tentang rumah itu abstrak dan multidimensional. Konsep ini telah ditelaah dari berbagai disiplin seperti ilmu sejarah, filsafat, antropologi dan arsitektur.

Iklan

Ada yang merujuknya pada tempat, ruang, perasaan, atau bahkan pada jasmani manusia itu sendiri. Rumah bisa merupakan sesuatu yang berwujud dan bisa pula metaforis.

Rumah (home) adalah yang selalu ingin dipulangi, diziarahi.

Rumah biasanya dikaitkan dengan tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan sebab ia merupakan tempat asal seseorang dan tempat ia akan cenderung mengatakan pulang. Rumah bisa jadi adalah kumpulan kenangan akan ruang-ruang yang pernah ditinggali dan dialami.

Bisa jadi Using Daeng Rangka, nelayan teripang terakhir yang menyambangi Australia, menganggap kampung halamannya di Makassar, bangunan rumahnya (house), atau keluarganya sebagai rumahnya.

Pada hari-hari terakhir bulan Ruwah dalam kalender Jawa menjelang Ramadan, banyak orang melakukan nyekar atau berziarah sebagai rangkaian ritual nyadran dalam budaya Jawa. Nyadran adalah upaya komunal dan personal untuk “mengunjungi rumah-rumah” leluhur dan kerabat yang sudah mendahului.

Manusia butuh sesuatu yang dapat dijangkau inderanya untuk dapat menjelaskan, atau setidaknya mewakili, konsep-konsep yang abstrak. Emoticon adalah contoh mutakhirnya—bagaimana rasa bahagia, rasa malu, atau rasa cinta diwakilkan dalam wujud raut muka bulat dengan ekspresi tertentu.

Konsep kematian dan ketiadaan bersifat abstrak. Makam—sebagai bangunan, tempat atau ruang, di budaya Jawa dan mungkin juga banyak budaya lainnya, dibangun sebagai “rumah” terakhir bagi si mati.

Makam adalah sarana penghubung antara yang hidup dan yang sudah meninggal. Ritual nyekar, yakni menabur bunga di atas makam dan merapal doa-doa, adalah upaya untuk terkoneksi dengan para leluhur, keluarga, dan sanak-saudara yang sudah purna masa hidupnya.

Ritual sendiri tidak melulu perkara keagamaan atau spiritualitas. Hal-hal sekuler yang dilakukan berulang dan berpola pun bisa disebut ritual. Minum kopi hitam pahit di pagi hari bisa jadi adalah ritual bagi seseorang. Pada ritual seseorang melekatkan identitasnya dan pada saat gilirannya ritual menjadi representasi dari identitasnya.

Kembali ke soal tiadanya jumatan di musala kampus saya tadi. Situasi itu membawa kesedihan tersendiri. Saya jauh dari kategori orang alim dan saleh. Hafalan saya terbatas pada sebagian surat-surat pendek juz amma saja.

Sumbangsih keumatan saya hanya ada di kisaran menggelar tikar dan ngepel masjid. Mentok-mentok harus mengumandangkan azan, itu pun pasti karena sudah tidak ada lagi pilihan.

Walau begitu, bagi saya yang sudah nyaris dua tahun tinggal di sisi barat Australia, jumatan jadi punya arti lebih. Secara khusus, kumandang suara azan, yang tak pernah keluar dari ruangan masjid atau mushola karena tidak boleh ada pelantang suara, memberi saya sense of home, sense of belonging, rasa pomah.

Musala yang sebelumnya secara berkala bisa menghubungkan saya dengan rumah tak bisa lagi menghadirkan kesempatan dan rasa itu. Patutlah mendapatkan empati orang-orang yang tempat ibadahnya tak bisa mereka gunakan untuk menjalankan ritual entah karena rusak oleh bencana atau ditutup secara paksa.

Bagi saya, salat Jumat itu adalah ritual dalam banyak arti: teologis, sosial, dan personal.

Di kantor terakhir saya di Surabaya, ritual jumatan itu menjadi pengikat saya dan beberapa kolega yang itu-itu saja. Kami berjalan kaki bersama menuju masjid terdekat, bercengkerama, kadang setelahnya kami mampir warung untuk makan siang sebelum kembali ke meja kerja masing-masing.

Pandemi memang menghentikan jumatan di musala kampus saya. Namun, saya masih bisa menemukan musala atau masjid lain untuk mendengarkan azan, bersalat Jumat, serta mendapatkan kembali sense of home saya.

Tak terbayang derita mereka-mereka yang bergerak menggelar ritual setiap hari Kamis di depan Istana.

Tak hanya sudah kehilangan anggota keluarganya, sebagian dari mereka pun telah kehilangan kesempatan untuk membangunkan rumah terakhir bagi anggota keluarganya untuk bisa diziarahi pada bulan Ruwah atau bulan-bulan lainnya.

BACA JUGA Ziarah Kubur Jadi Gerakan Trans-Nasional untuk Tangkal Ide-ide Khilafah dan tulisan Sugiyanto lainnya.

Terakhir diperbarui pada 15 April 2021 oleh

Tags: AustraliaazanIslamJumatanpandemiziarah
Sugiyanto Widomulyono

Sugiyanto Widomulyono

Mantan guru Bahasa Indonesia. Mahasiswa doktoral di Edith Cowan University, Australia.

Artikel Terkait

Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO
Sehari-hari

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Tawadhu Tidak Seharusnya Membuat Santri Diam saat Menjadi Korban MOJOK.CO
Esai

Tawadhu sebagai Pisau Bermata Dua: Santri Tidak Seharusnya Dibungkam saat Menjadi Korban

26 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO
Kabar

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Lulus dari Universitas Mataram lanjut ke University of Queensland Australia. MOJOK.CO
Sekolahan

Kisah Awardee LPDP yang Tak Ingkar Janji: Dulu Hanya Bocah Penggembala Kuda, Kini Jadi Asisten Gubernur NTB

6 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Nasirun, pelukis-seniman maestro berpulang dengan meninggalkan ingatan kebaikan MOJOK.CO

Hadiah Lukisan Topeng dari Membetulkan Antena TV dan Laku Hidup Seorang Nasirun

1 Agustus 2026
burnout kerja kantoran mojok.co

Mencintai Pekerjaan tanpa Harus Menyukai Orang-Orang di Dalamnya

4 Agustus 2026
Mie Gacoan, desa. MOJOK.CO

Mie Gacoan Oleh-Oleh Wajib Saat Pulang Kampung: Tak Peduli Sudah Dingin dan Keras, Tetap Dinikmati demi Gengsi dan Validasi

5 Agustus 2026
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bertemu dengan tim KKP membahas program budi daya ikan tematik. (Sumber: Humas Pemda DIY)

64 Lokasi di Kalurahan DIY Kecipratan Jatah Program Budi Daya Ikan Tematik dari KKP

5 Agustus 2026
kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

10 Tahun Merantau Bikin Sadar, Kita Benar-benar Sendiri di Kota Orang: Adanya Teman “Benalu” dan Kalau Susah pun Haram Diketahui Ortu

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.