MOJOK.CO – Di Surabaya, penampilan itu belakangan. Pakai kaos oblong dan sandal jepit, tapi isi dompet lebih dari cukup untuk beli mall.
Saya kurang tahu kapan tepatnya Surabaya menjadi kota yang paling sering dibandingkan dengan Jakarta. Mungkin sejak Tri Risma menjadi walikota dan berhasil mengantarkan Surabaya mendapatkan banyak penghargaan. Banyak netizen yang kemudian menganggap Kota Pahlawan layak dibandingkan dengan Jakarta yang notabene bukan kota, melainkan provinsi.
Sebagai warga Surabaya, sebenarnya saya tidak masalah dengan perbandingan ini. Apalagi jika perbandingan tersebut menyangkut fasilitas dan layanan publiknya. Siapa tahu, dengan rajin membandingkan kualitas layanan publiknya dengan kota yang lebih maju, para pejabat di Surabaya tergerak untuk membuat kota ini lebih berkilau lagi, seperti slogan “Sparkling Surabaya”.
Namun, sejak TikTok menguasai kehidupan generasi muda hingga lansia, netizen tidak lagi membandingkan fasilitas dan pelayanan publik saja. Mereka sudah merambah pada hal-hal aneh dan absurd lainnya. Baru-baru ini viral di media sosial ada netizen yang membandingkan cara berpakaian warga Surabaya dengan Jakarta.
Kebiasaan orang Surabaya menggunakan celana pendek, kaos oblong, dan sendal jepit saat pergi ke mal dinilai aneh. Jelas, sangat berbeda dengan kebiasaan berpakaian orang Jakarta yang rapi dan memakai sepatu saat ngemal. Meminjam istilah netizen di media sosial, warga Jakarta kalau ke mal selalu dress well, warga Surabaya nggembel.
Orang yang jarang ke Surabaya dan tidak paham kultur di sini pasti kaget. Kaos oblong, celana pendek, dan sendal jepit memang terlihat seperti pakaian gembel. Akan tetapi, di sini, outfit yang disebut gembel tersebut justru melambangkan kemapanan dan kesejahteraan.
Hanya orang kaya yang ngemal dengan sendal japit dan kaos oblong
Surabaya memiliki suhu udara yang panas. Kalau sedang musim kemarau, kamu bisa membuat telur ceplok tanpa kompor. Langsung saja pecahkan telur di atas teflon dan taruh di bawah terik matahari. Saya jamin nggak sampai 10 menit sudah jadi telor ceplok.
Udaranya panas dan sinar matahari yang langsung menyengat kulit. Nyaris tidak ada orang yang mau menggunakan celana pendek, kaos oblong, dan sandal jepit lalu ngegas sepeda motor menuju mal.
Artinya, kalau kamu melihat ada orang Surabaya dengan outfit solehot (celana pendek di atas lutut) ke mal, apalagi di siang hari, bisa dipastikan orang tersebut datang ke mal pakai mobil dengan AC dingin sekali.
Kalau mau lebih teliti lagi, sendal jepit, celana pendek, dan kaos oblong yang dipakai ngemal juga bukan sandal Swallow dan kaos oblong hasil thrifting. Sendalnya minimal merk Birkenstock dan Myfeet yang harganya setara UMR Jogja. Kemungkinan besar lainnya, kaos oblong yang kalian lihat hanya polosan berwarna putih dan hitam tersebut mereknya Loro Piana dengan harga Rp10 juta.
Baca halaman selanjutnya: Para cici dan koko kaya…
Para cici dan koko kaya di Surabaya
Warga Surabaya yang memiliki template kaos oblong dan sandal jepit saat ke mal adalah cici-cici dan koko-koko (Chindo). Sebagian besarnya adalah orang kaya. Kalau nggak kaya banget, ya kaya saja. Pokoknya bukan karjimut (karyawan dengan gaji imut-imut).
Populasi Chindo di Pulau Jawa paling banyak memang berada di Semarang dan Surabaya. Khusus di Kota Pahlawan, para Chindo ini mayoritasnya adalah pengusaha sukses. Kalau ada Chindo miskin di sini, jumlahnya tidak seberapa.
Cara mengenalinya mudah saja. Silakan amati siapa pemilik toko-toko besar dan pabrik-pabrik besar di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, atau Pasuruan. Kebanyakan pasti Chindo.
Atau, kalau kalian masih kurang yakin bahwa Chindo dengan setelan legendarisnya saat ke mal (kaos oblong dan sandal jepit) itu orang kaya, sempatkanlah datang ke Bandara Juanda. Bandara ini setiap hari melayani Singapore Airline dengan rute penerbangan Surabaya ke Singapura.
Silakan periksa. Siapa yang memenuhi kabin Singapore Airline kalau bukan para chindo yang ingin liburan dan bisnis. Bisa juga cuma mau berobat ke Negeri Singa.
Artinya, orang-orang yang dilihat netizen di mal Surabaya dengan pakain ala gembel tersebut kemungkinan besar justru orang kaya. Bisa juga nasabah prioritas BCA atau orang yang saldo rekeningnya bisa digunakan untuk membeli rumah di Ciputra, Pakuwon City, atau Dharmahusada Indah yang harganya di atas Rp3 miliar rupiah.
Pengunjung dengan outfit sederhana dan sendal jepit hanya ada di beberapa mal saja
Di Surabaya, tidak semua mal pengunjungnya mengenakan outfit kaos oblong, celana pendek, dan sendal jepit. Setiap mal di kota ini memiliki karakteristik pengunjung yang berbeda.
Misalnya nih, di mal BG Junction, kamu akan banyak bertemu orang dengan outfit sarung, peci, dan baju warna-warni lengkap dengan perhiasan emas yang mencolok. Di Tunjungan Plaza 5, kamu akan banyak melihat orang berpakain rapi, bau wangi, dengan lipstik atau make-up mahal seharga kos-kosan satu bulan.
Nah, orang-orang yang menggunakan kaos oblong, celana pendek, dan sandal japit banyak kita temui di Pakuwon dan Galaxy. Kebetulan, video yang viral di media sosial juga diambil di Galaxy. Memang, di dua mal tersebut, mayoritas pengunjungnya adalah Chindo.
Di Galaxy tidak ada merek murah seperti Matahari dan Ramayana. Di mal ini adanya Sogo, Coach, The Gourmet (banyak menjual bahan makanan impor), gerai skin care-nya Sephora, Lamer, SK-II, atau Laccotine. Pokoknya kalau kamu hanya bawa uang Rp50 ribu, uang tersebut hanya cukup untuk bayar parkiran.
Mal-mal dengan tenan mewah (selain Tunjungan Plaza 5-6) lokasinya selalu di dekat Citraland, Pakuwon, Bukit Darmo, atau Dharmahusada Indah. Sebab, perumahan-perumahan tersebut tergolong mewah dan tentu saja hanya mungkin dimiliki orang kaya.
Saran saya, kalau belum terbiasa ke Pakuwon dan Galaxy, jangan berpikir aneh-aneh. Hanya karena pengunjungnya memakai sandal jepit, bukan berarti di sana banyak makanan murah. Sebaliknya, di Galaxy justru tidak ada yang murah. Satu cone es krim (merk Vinci) saja harganya Rp100 ribu.
Don’t judge a books by its cover
Ungkapan don’t judge a books by its cover perlu kalian terapkan saat sedang di Surabaya. Di kota ini, kalian akan banyak bertemu dengan orang-orang yang penampilan dan karakternya berbeda.
Contohnya, orang yang suaranya keras dan misuhan bukan berarti jahat. Orang yang suka pakai sarung dan kopiah bukan berarti mau ke masjid, bisa jadi mau ke pengepul besi. Dan tentu saja, orang yang berpakaian sederhana dan sendal jepit saat di mal bukan berarti gembel dan miskin, mereka justru kaya, cuma low profile saja.
Pada dasarnya, semua orang berhak menggunakan pakaian senyamannya saja. Orang yang ngemal dengan sandal jepit tidak lebih buruk dari yang menggunakan sepatu. Sama halnya dengan outfit orang kota tidak selalu lebih baik dari outfit orang kabupaten. Jangan terbiasa mengikuti standard TikTok yang melihat sesuatu hanya dari tampilannya saja.
Di Surabaya, penampilan itu belakangan. Yang penting isi dompet aman. Mengendarai Lamborghini, tapi makan tahu tek pinggir jalan itu pemandangan biasa. Biasa ae, Rek!
Penulis: Tiara Uci
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA 4 Hal Nggak Enaknya Punya Saudara Crazy Rich dan kisah seru lainnya di rubrik ESAI.
