Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Beragama yang Dikit-Dikit Nanya “Dalilnya Mana?”

Rifqi Fairuz oleh Rifqi Fairuz
15 Mei 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Duh, beragama kok cuma pakai kepala dan ngecekin dalilnya mana? Padahal, beragama itu, kan, juga melibatkan kerja hati, sensitifitas rasa, dan ketajaman intuisi!

Kalis Mardiasih menggerutu. Di kelas Muslimah dan Media Islam yang dia gawangi, satu peserta bertanya: kenapa umat beragama sekarang ingin cari selamat sendiri-sendiri? Kalis kemudian menjelaskan panjang lebar mengenai keberagamaan orang modern yang punya kecenderungan individualis.

Iklan

Selesai penjelasan berbusa-busa, si peserta menimpali dengan enteng:

“Itu ada dalilnya nggak, ya?”

Iya, rasa-rasanya pertanyaan “Dalilnya mana?” makin sering kita temui. Bisa jadi, hal ini karena orang cenderung berhati-hati dalam beragama, atau malah justru karena naif, alias merasa perlu mendasarkan semua perbuatannya melulu kepada dalil agama—yang sumber utamanya ada di Alquran dan sunnah Nabi.

Prinsip serba-dalil itu sendiri sebenarnya menunjukkan cara berpikir orang beragama modern. Sebab, ia terkonstruksi dari nalar keilmuan modern yang mensyaratkan bukti empiris atau kevalidan referensi, setidaknya dalam bentuk teks. Namun celakanya, tradisi modern secara tidak langsung sudah memisahkan antara akal-rasionalitas di satu kotak, lantas memasukkan intuisi dan empati manusia ke dalam kotak yang lain.

Akibatnya, ketika seseorang bertemu dengan satu peristiwa baru, secara otomatis peristiwa ini bakal diukur dengan nalar modern itu, termasuk dalam beragama.

Duh, duh, beragama kok cuma pakai kepala? Padahal, beragama itu, kan, juga melibatkan kerja hati, sensitifitas rasa, dan ketajaman intuisi!

Nah, sekarang ini, manusia modern makin merasa berislam dengan hitungan dan simbol yang harus tampak. Dengan kata lain, mereka ini semacam punya kalkulator pahala yang, ironisnya, sering dipakai buat alat hitung amal orang lain.

Secara sederhana, logikanya begini: aku cari pahala sebanyak-banyaknya, maka aku akan masuk surga. Loh, loh, kok enak betul, Kak? Jangan lupa loh, masih ada yang namanya unsur keberkahan buat sesama manusia di bumi, sekaligus soal rida yang merupakan hak prerogatif Allah untuk menentukan manusia masuk surga.

Namun begitu, perihal “Dalilnya mana?” dan hitung-hitungan amal ini tidak sepenuhnya salah, kok. Dalam Alquran memang disebutkan iming-iming kalkulatif dalam beramal. Contohnya, sedekah jariyah yang pakai “iming-iming” timbangan. Disebutkan, bahwa satu keping yang kita masukkan ke kotak amal itu nanti bercabang jadi 700.

Tapi, masalah dimulai ketika kita menganggap amal sama dengan deretan angka. Padahal, dalam contoh sedekah, ada aspek lain yang tidak kalah penting: apakah sedekah kita benar-benar lahir dari empati? Niatnya ikhlas atau untuk dipertontonkan? Uluran sedekah kita ini menyakiti si penerima atau tidak?

Nah, aspek-aspek inilah yang bikin sedekah terbang ke langit dan diterima Gusti Allah.

Kalau mengabaikan unsur-unsur tadi, salah-salah bisa keblinger. Alhasil, ada saja orang yang nggak terima, misalnya, pas kasir minimarket nyumbang cuma seribu lantaran dianggap merendahkan perjuangan Islam, terus marah, terus main geruduk.

Iklan

Hal yang sama berlaku juga terkait puasa. Wong tujuannya saja untuk menahan diri dari lapar, dahaga, dan emosi, eh lha kok mencak-mencak melihat warung pecel buka?

Padahal, kan, bisa diingatkan baik-baik, sambil diajak ngobrol, dan minum es teh di siang hari.

Ya, begitulah kalau berislam cuma dari yang tampak. Kuatnya Islam dihitung dari banyaknya masjid dan jumlah aksi. Takbir, kalimat agung itu, memang ditebar di jalanan, tapi kesalehan orang diukur dari dandanannya yang ikut tren syar’i. Enggan makan kalau tidak ada cap halalnya. Sampai deterjen, pasta gigi, bahkan kulkas sekalipun, harus dicap halal supaya mantap dimakan, eh, dipakai.

Kelihatan baik, bukan? Ya betul, kelihatannya saja. Tampak makin berislam, tapi kok makin terasa kering, ya?

Kembali ke perkara dalil. Tahlilan misalnya. Kalau cuma diukur dari dalil, ya sulit. Kanjeng Nabi tidak pernah diriwayatkan mengundang warga untuk bersama-sama mendoakan orang mati, kan? Apalagi pakai makan-makan ingkung ayam dan berkat.

Tapi, apakah ini salah dan layak diharamkan hanya karena nggak ada dalil? Ya nggak gitu juga cara mainnya.

Urutan tahlilan itu dari awal sampai akhir dipenuhi lantunan ayat Alquran dan kalimat thayyibah, loh. Mengundang tetangga, duduk makan bersama—apakah itu tidak mengandung nilai silaturahmi? Seporsi berkat untuk dibawa pulang—apa itu bukan sedekah?

Nah, begini ini, loh. Tampak bidah dari luar, tapi manis dan lembut di dalam.

Tahlilan memang tidak bisa ditemukan di dalil tekstual Alquran dan sunnah. Ya jelas, wong Alquran dan sunnah itu terbatas dan jumlah teksnya segitu-gitu aja. Makanya perlu ada yang namanya Ijma’, yaitu hasil kajian para ahli dan Qiyas, analogi hukum. Jadi tidak bisa sembarangan.

Saya teringat dawuh Kiai Abdul Karim, pengasuh Pesantren Alquran Azzayyady di Solo, ketika sowan tempo hari. Berislam itu tidak hanya selesai dengan sederet pertanyaan “Dalilnya mana?” yang ada di kepala seseorang saja. Wajib hukumnya berislam dengan guru sebagai pembimbing. Gunanya, tentu saja, agar kita bisa mencerna Islam sesuai kadar dan porsi kita masing-masing.

Islam dengan segala tetek bengeknya dari zaman Rasul sampai sekarang ibarat makanan mentah. Untuk mengolahnya, kita memerlukan ilmu, padahal tidak semua orang memiliki hal itu. Maka dari itulah, kita memerlukan guru yang mampu mengupaskan, lalu memberi tahu: yang mana kulit, yang mana biji. Guru yang mampu menakar porsi yang cocok dengan ukuran perut kita.

“Contohnya saja buah duren. Apa kamu mau langsung nglethak kulitnya, sekaligus menelan bijinya?” ujar Gus Karim kepada saya.

Tenang, ini bukan kampanye gerakan Indonesia Tanpa Dalil. Dasar Islam tentu saja tetap ada pada teks Alquran dan sunnah Nabi. Tapi, tentu kita harus paham betul bahwa tidak semua sisi kehidupan bisa selesai dengan pertanyaan “Dalilnya mana?”. Lantas, ukurannya apa, dong?

Dalam ilmu ushul fiqh ada logika begini: semua bentuk ibadah itu haram, kecuali ada dalil yang memerintahkan. Sebaliknya, semua bentuk interaksi manusia (muamalah) diperbolehkan, kecuali ada dalil yang mengharamkan.

Saya kadang heran kalau orang merasa perlu dikuatkan dengan dalil untuk berbuat baik. Giliran untuk menjelekkan orang, kita nggak pernah tuh, nanya-nanya “Dalilnya mana?”

Sudahlah, percuma kalau pinter ndalil di kepala, tapi kepekaan batin tidak terlibat. Bisa-bisa, malah kita yang keliru.

Lantas, jangan-jangan, yang selama ini kita makan cuma kulit dan biji, sementara dagingnya kita buang percuma dengan senang hati. Iya, nggak?

Terakhir diperbarui pada 14 Mei 2019 oleh

Tags: alquranBidahdalildalilnya manasunnah nabi
Rifqi Fairuz

Rifqi Fairuz

Artikel Terkait

Ketika Cina dan Kuba, 2 “Dedengkot” Komunisme, Membela Islam MOJOK.CO
Esai

Ketika Cina dan Kuba, 2 “Dedengkot” Komunisme, Membela Islam dan Mengutuk Keras Pembakaran Al-Qur.’an

19 Juli 2023
alquran mojok.co
Liputan

Al-Quran Tulisan Tangan Berusia 200 Tahun, Saksi Penyebaran Islam di Gunungkidul

28 Maret 2022
Sunnah Rasul dan Bid’ah Buah Kurma
Khotbah

Sunnah Rasul dan Bid’ah Buah Kurma

14 Januari 2022
Dalil Dipakai untuk Mengatasi Masalah, Bukan Malah Sebaliknya
Khotbah

Dalil Dipakai untuk Mengatasi Masalah, Bukan Malah Sebaliknya

29 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa Unair kuliah di Polandia, Eropa dengan beasiswa pertukaran pelajar dari Erasmus. MOJOK.CO

Jalan-jalan ke 6 Negara di Eropa dengan Beasiswa Erasmus, Mahasiswa Unair Ini Dapat Pembelajaran Berharga dari Sekadar Belajar Musik

24 Juni 2026
Gubernur Jawa Tengah (Jateng) pastikan pengurusan dokumen izin untuk nelayan gratis MOJOK.CO

Nelayan Kecil di Jateng Kini Bisa Urus Izin Kapal Gratis, Tinggal Lapor kalau Kena Pungli

22 Juni 2026
PNS di desa.MOJOK.CO

Jadi PNS di Desa Memang Hidup Makmur, tapi Bikin Tak Berkembang karena Budayanya Toksik dan Membosankan

22 Juni 2026
Gen Z, membaca, buku.MOJOK.CO

Gen Z di Indonesia, Generasi Paling Aktif Membaca tetapi Paling Tak “Terliterasi”

24 Juni 2026
Jangan Jadikan Perkap Nomor 4 Tahun 2025 sebagai Legitimasi Polisi Menembak Demonstran.MOJOK.CO

Jangan Jadikan Perkap Nomor 4 Tahun 2025 sebagai Legitimasi Polisi Menembak Demonstran

22 Juni 2026
MLSC, Yogyakarta.MOJOK.CO

Redemsi Yogyakarta All Stars, Menolak Pulang Lebih Awal

26 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.