Sekali Lagi: Bukan Jangan Banyak Bicara, Bekerjalah! Tetapi Banyak Bicara, Banyak Bekerja!

dibawah bendera revolusi banyak bicara banyak bekerja

MOJOK.CO Di dalam F.R. nomor Lebaran, saudara Manadi telah menulis suatu artikel yang berkepala sebagai di atas. Artikel tahadi adalah membicarakan soal yang penting, yaitu menyelidiki, apakah benar semboyan-semboyan yang sering-sering kita dengar: “Jangan banyak bicara, bekerjalah!”

Pengantar redaksi:

Selama Ramadan, Mojok akan menyajikan karya tulisan dari tokoh bangsa Indonesia yang tayang setiap hari. Tulisan-tulisan ini sudah berusia lebih dari 40 tahun. Namun, karya mereka masih relevan hingga saat ini. Terutama bisa menjadi bahan renungan selama bulan puasa.

Kami mengawalinya dengan tulisan dari Bung Karno, Bapak Bangsa Indonesia. Selamat membaca.

***

Dan konklusi saudara Manadi adalah tajam sekali: semboyan tahadi tidak benar, bahkan semboyan kita harus: “Banyak bicara, banyak bekerja!” Di sini saya mau menguatkan sedikit kebenarannya “sembojan baru” yang dianjurkan oleh saudara Manadi itu.

Memang di dalam “Suluh IndonesiaMuda” tempo hari saya sudah “menjawil” perkara ini, dan sayapun menjatuhkan “vonnis” atas sikapnya kaum yang menyebutkan dirinya kaum “nasionalis konstruktif”, yang mencela kita, katanya kita “terlalu banyak bicara”, “terlalu banyak gembar-gembor di atas podium”, “terlalu banyak berteriak di dalam surat-kabar”, tapi kurang bekerja “konstruktif” mendirikan ini dan itu. “Ini dan itu”, yaitu badan koperasi, badan penolong anak yatim, dll.

Maka saya di dalam “S.I.M.” ada menulis:

“Tidak! Dengan suatu masyarakat yang sembilan puluh lima persen terdiri dari kaum yang segala-galanya kecil itu, dengan suatu masyarakat yang sembilan puluh lima persen terdiri dari kaum Marhaen itu, dengan masyarakat yang terutama sekali .dicengkeram oleh imperialisme bahan mentah dan imperialisme penanaman modal itu, – dengan masyarakat yang demikian itu tenaga yang bisa mendatangkan Indonesia-Merdeka terutama sekali ialah organisasinya Kang Marhaen yang milyun-milyunan itu di dalam suatu massa-aksi politik yang nasional-radikal dan Marhaenis­tis di dalam segala-galanya!

Dengan masyarakat dan imperialisme yang demikian itu, maka titik­ beratnya, pusatnya kita punya aksi haruslah terletak di dalam politieke bewustmakirig dan politieke actie, yakni di dalam menggugahkan kein­syafan politik daripada Rakyat dan di dalam perjoangan politik daripada Rakyat.

Dengan masyarakat dan imperialisme yang demikian itu kita tidak boleh “menggenuki” aksi ekonomi sahaja, dengan mengabaikan aksi politik dan mendorongkan aksi politik itu ketempat yang nomor dua. Dengan masyarakat dan imperialisme yang demikian itu kita tidak boleh menenggelamkan keinsyafan dan kegiatan politik itu di dalam aksi “kon­struktif” mendirikan warung ini dan mendirikan warung itu, aksi “konstruktif” yang akhirnya hanya mempunyai harga

“penambal” belaka.

0, perkataan jampi-jampi, o, perkataan peneluh, o, perkataan mantram “konstruktif” dan “destruktif”! Sebagian besar daripada pergerakan Indonesia kini seolah-olah kena dayanya mantra itu, sebagian besar daripada pergerakan Indonesia seolah-olah kena gendhamnya mantram itu!

Sebagian besar daripada pergerakan Indonesia mengira, bahwa orang adalah “konstruktif” hanya kalau orang mengadakan barang-­barang yang boleh diraba sahaja, yakni hanya kalau orang mendirikan warung, mendirikan koperasi, mendirikan sekolah-tenun, mendirikan rumah-anak-yatim, mendirikan bank-bank dan lain-lain sebagainya saha­ja.

Pendek kata hanya kalau orang banyak mendirikan badan-badan sosial sahaja! -, sedang kaum propagandis politik yang sehari-ke-sehari “cuma bicara sahaja” di atas podium atau di dalam surat-kabar, yang barangkali sangat sekali menggugahkan keinsyafan politik daripada Rakyat-jelata, dengan tiada ampun lagi dikasihnya cap “destruktif” alias orang yang “merusak” dan “tidak mendirikan suatu apa”!

Tidak sekejap mata masuk di dalam otak kaum itu, bahwa semboyan “jangan banyak bicara, bekerjalah!” harus diartikan di dalam arti yang luas. Tidak sekejap mata masuk di dalam otak kaum itu, bahwa “bekerja” itu tidak hanya berarti mendirikan barang-barang yang boleh dilihat dan diraba sahaja, yakni barang-barang yang tastbaar dan materiil.

Tidak sekejap mata kaum itu mengerti bahwa perkataan “mendirikan” itu juga boleh dipakai untuk barang yang abstrak, yakni juga bisa ber­arti mendirikan semangat, mendirikan keinsyafan, mendirikan harapan, mendirikan ideologi atau gedung kejiwaan atau artileri kejiwaan yang menurut sejarah-dunia akhirnya adalah artileri yang satu-satunya yang bisa menggugurkan sesuatu stelsel.

Tidak sekejap math kaum itu mengerti bahwa terutama sekali di Indonesia dengan masyarakat yang merk-kecil dan dengan imperialisme yang industriil itu, ada baiknya juga kita “banyak bicara”, di dalam arti membanting kita punya tulang, mengucurkan kita punya keringat, memeras liita punya tenaga untuk membuka-bukakan matanya.

Rakyat-jelata tentang stelsel-stelsel yang menyengkeram padanya, menggugah-gugahkan keinsyafan-politik daripada Rakyat-jelata itu, menyusun-nyusunkan segala tenaganja di dalam orga­nisasi-organisasi yang sempurna tekhniknya dan sempurna disiplinnya.

Pendek kata “banyak bicara” menghidup-hidupkan dan membesar­-besarkan massa-aksi daripada Rakyat-jelata itu adanya. Begitulah tempo hari saya menulis dalam “Suluh Indonesia Muda”. 

Dengan terang dan yakin saya tuliskan, bahwa titik-beratnya, pusarnya kita punya pergerakan haruslah terletak di dalam pergerakan politik. Dengan terang dan yakin saya tuliskan, bahwa kita harus mengutamakan massa-aksi politik yang nasional-radikal dan marhaenistis.

Kita boleh mendirikan warung, kita boleh mendirikan koperasi, kita boleh mendirikan rumah-anak-yatim, kita boleh mendirikan badan-badan­ ekonomi dan sosial, ya, kita baik sekali mendirikan badan-badan-ekonomi dan sosial, asal sahaja kita mengusahakan badan-badan-ekonomi dan sosial itu sebagai tempat-tempat-pendidikan persatuan radikal dan sepak-­terjang radikal.

Kita baik sekali mendirikan badan-badan-ekonomi dan sosial itu, asal sahaja kita tidak “menggenuki” pekerjaan-ekonomi dan sosial itu mendjadi pekerjaan yang pertama, sambil tidak melupakan bahwa Indonesia-Merdeka hanyalah bisa tercapai dengan massa-aksi politik daripada Rakyat Marhaen yang haibat dan radikal.

Pendek kata kita baik sekali mendirikan badan-badan-ekonomi dan sosial itu, asal sahaja kita mengusahakan badan-badan-ekonomi dan sosial itu sebagai alat-alat daripada massa-aksi politik yang haibat dan radikal itu!

Dan di dalam massa-aksi itu kita harus “banyak bicara”.

Tentang perlunya “banyak bicara” ini, akan saya uraikan dalam F.R. yang akan datang.

“Fikiran Rakyat”, 1933

 *)Tulisan Ir Sukarno di Majalah Fikiran Ra’jat Tahun 1933. Tulisan ini menjadi bagian dari buku “Dibawah Bendera Revolusi Jilid I”

Penulis: Ir Sukarno

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Terawan Tidak Salah, Kita Lebih Suka Testimoni Ketimbang Metode dan Bukti Ilmiah dan analisis ilmiah lainnya di rubrik ESAI.

Exit mobile version