Apabila ada yang berkata bahwa pahala terbesar orang puasa didapat oleh mereka yang tahan dari godaan Nasi Padang dan Es Teh Manis, apakah Anda sepakat? Saya sih manggut-manggut. Menurut selera perut proletar saya, Nasi Padang dengan lauk Paru Goreng memang jauh lebih mengusik syahwat ketimbang lekuk tubuh sintal Monica Bellucci di film Malena.

Nasi Padang memang serupa mantra: meski hanya mendengar namanya, ia akan terus bergelayutan di memori Anda, hingga kemudian Anda terhipnotis oleh kengeriannya.

Selama bulan Ramadan, tentu saja kejahanaman Nasi Padang kian menjadi-jadi. Terlebih jika Anda adalah seorang Minang seperti saya, dan memiliki ibu yang pandai memasak. Hingga derajat tertentu, Anda berharap bisa tinggal di Uranus.

Tentu Anda boleh tak sepakat dengan saya. Tapi jika Anda kebetulan selo, dan hendak menguji daya tahan tubuh dan iman Anda, coba sesekali mampir ke Rumah Makan Padang terdekat ketika siang tengah terik dan cacing di perut sedang melakukan insureksi. Mampirlah, lihatlah dengan seksama Ayam Goreng Balado itu, amati betul-betul Rendang dengan balutan bumbu yang kental itu, atau hiruplah aroma Ayam Pop yang baru saja selesai digoreng. Ya Allah, ya Rabb…

Di Jakarta, lokasi rumah makan Padang terbaik yang dapat Anda kunjungi antara lain: Restoran Garuda di Hayam Wuruk, Rumah Makan Surya di Bendungan Hilir, atau Sari Ratu di Fatmawati. Tak usah lagi bertanya bagaimana rasa makanan di sana. Siapkan saja kocek, datangi segera, lalu berterimakasihlah kepada saya nanti.

Oh, Anda merasa godaan di tiga rumah makan tadi masih tergolong biasa-biasa saja? Tenang, saya masih punya bonus.

Coba susuri Jalan Kramat Raya, tak jauh dari Stasiun Pasar Senen. Di sana berjejer warung Nasi Kapau yang, Masya Allah, kurang ajar betul jualannya. Satu nama yang perlu diwaspadai jelas adalah “Nasi Kapau Sabana Bana”. Salah satu warung Nasi Kapau legendaris yang sudah berjualan di sana sejak tahun 1970-an.

Nasi Kapau adalah nasi ramas (rames dalam bahasa Jawa) khas Nagari Kapau, Sumatera Barat. Banyak orang mengira bahwa nasi Kapau tak ada bedanya dengan nasi Padang, pandangan tersebut jelas salah kaprah. Perbedaannya antara lain ada di cara meracik bumbu, cara memasak, dan cara penyajian.

Dalam setiap masakan Kapau, penggunaan kelapa lebih dominan ketimbang masakan Padang biasa. Itu dilakukan demi menambah rasa gurih dalam masakan. Perbedaan lain, setiap daging dalam Nasi Kapau harus dibakar terlebih dahulu agar aromanya lebih kuat. Termasuk jika dagingnya hendak dimasak dengan kuah.

Perbedaan selanjutnya cenderung lebih spesifik, yakni dalam cara memasak rendang. Rendang dalam sajian Kapau biasanya dimasak dengan kentang berukuran mini, sementara masakan Padang lain ukuran kentang tak terlalu berpengaruh. Otentisitas rasa menjadi tolak ukur perbedaan yang paling kentara dalam dua jenis aliran masakan ini.

Selain itu, dalam penyajian pun keduanya memiliki perbedaan. Meski sama-sama menata makanan seperti anak tangga—sebagaimana di Warung Tegal (Warteg)—tapi display makanan di warung Nasi Kapau jaaauuuh lebih brutal menggugah selera—karena terlihat lebih segar, lebih banyak, dan lebih variatif, ketimbang restoran Padang yang tampak elitis. Konsep penataan yang intim ini membuat pengunjung merasa tak memiliki jarak sosial untuk makan di warung nasi Kapau, meski lokasinya persis di pinggir jalan raya.

Nah, kembali ke cara menguji iman dengan kuliner Minang.

Jika Anda betul bernyali besar, dan siap menerima segala konsekuensi buruk terkait ibadah puasa Anda, silakan saja kunjungi warung-warung Nasi Kapau di Kramat Raya itu ketika sore tiba. Berjalanlah perlahan, pandangi detail makanan-makanan jahanam yang dipamerkan di meja-meja mereka: Ikan Balado, Ayam Bakar, Gulai Kikil, Gulai Tunjang, Bebek Goreng Cabai Hijau, hingga Lamang Bakar. Untuk minuman, tolong patuhi saran ini: pesanlah Es Tebak—Es Campur khas Minang—biar Anda tak menyesal di kemudian hari.

Selain menu di atas, ada menu spesial lain yang tak boleh Anda lewatkan: Usus Telor. Makanan ini, sejauh yang saya ingat, merupakan inovasi kuliner yang hanya dilakukan warung Sabana Bana.

Usus Telor biasa dimasak dengan bahan dasar Telur Itik atau Ayam dan Usus Sapi. Anda bisa menyantapnya bersama dengan Nasi Putih ataupun Lemang yang diberi Cabai Hijau. Jika ingin sensasi lain, Anda dapat mencampurnya dengan Urap dan Ikan Bilis Balado. Suap saja barang satu kali kepalan tangan, lalu rasakan sendiri betapa dahsyat menu ini. Jangankan hutang, selepas menyantap Usus Telor, Anda bahkan bisa lupa tengah berada di surga atau di bumi.

Untuk sajian penutup, coba tengok Bubur Kampiun. Bubur ini merupakan percampuran dari berbagai macam bubur, mulai dari Bubur Candil, Bubur Sumsum, Kolak Kisang, Pulut (Ketan), Kolang-kaling, dan Srikaya, yang diberi kuah santan bergula merah.

Onde mande, lamak bana!

Sekian paparan saya mengenai godaan terberat ketika puasa. Tentu masih banyak godaan lain, misalnya godaan untuk berdebat atau nyinyir di media sosial. Tapi yang begituan sih jelas cuma seujung kuku dibanding godaan hantu Nasi Padang dan Nasi Kapau yang terkutuk.

Tambo ciek, Da!

  • Bravorio

    Nasi kapau di melawai,deket kantor, nasi, ayam sayur, dan jus timun. 110 rebu.

    tapi enak.

  • Sial, baca tulisan ini air liur langsung membanjiri mulut :))

  • PW

    Seiring baca ini tulisan, tanpa sadar saya ngiler.. :))

  • sirotobi

    jiguuuur,,, yah Allah, kuatkanlah hambamu ini menahan segala hidangan R.M padang tersebut. gleg gleg gleg… #SambilMinumEsteh

  • Agoes 510

    yawlo… yawlo…

  • Restu Putra Ade Nata

    takana samba Amak di Rumah

    • Antsomenia

      ubeknyo rumah makan padang, da.

      • sirotobi

        jan lupo lado di agiah da.

    • mhd yazid

      Supakaik…

  • Antsomenia

    Makan makanan rumah makan padang di bulan ramadhan itu bisa nyembuhin kangen rumah bagi mahasiswa minang yang merantau.
    btw, selamat berbuka bagi teman-teman yang berpuasa.

  • Mujib

    itulah kenapa kalau siang hari selama puasa ini, saya lebih memilih menghindari rute yang ada masakan padangnya. Jahannam betul memang..

  • abdul charis

    nasi kapau…alamaaaaaakk…tambo cieeeeeekk

  • ahmad jamal

    sial biadap betul ini deskripsinya, saya sebagai pengaduk rendang dan samba lado tanak sejati menjelang hari raya selama puluhan tahun jadi mengumpulkan air liur, saya pikir saya udah kebal sama godaan terbesar orang berpuasa ini. Bisa-bisanya bikin deskripsi semenggoyang lidah begini, jadi tertantang buat menguji iman ke jalan Kramat Raya.

  • Rian Yona Irawan

    tulisan ini mengandung 100% pornografi kuliner!!! membuat birahi lidah!!! sialan!

  • Dommy Makati

    sero bana!

  • Yunus Purnama

    Jahanam! Seseorang tolong sembunyikan dompetku dan kurung aku di rumah. Aku terhipnotis oleh rayuan biadab menu menu jahanam ini. Maygaaaaad

  • RijalCah NU

    jahanam asuwok….nggawe ngiler ngeces

  • Levi Cointreau

    saya sebagai orang minang asli…TIDAK SUKA dengan penggunaan kata “TERKUTUK” pada makanan padang…karena setahu saya itu kata diperuntukkan buat “SETAN / IBLIS”…DIMOHON EDITOR meralat / menggunakan kata2 yg lebih bijak!!!!! TERIMA KASIH!!!

    • Bre AjiNa

      Itu cuma gaya bahasa penulis saja Uda ….

    • Wibisono S. Wardhono

      nggak selow amat? sahur dulu bro …

      *ni komen satir juga gak sih?* 😀

    • Levi Cointreau

      gak selow? itu makanan! nabi Muhammad aja mengagungkan makanan…lah ini umatnya malah nyebut makanan itu dgn kata “TERKUTUK & HANTU”…ketauan banged pemikiran si penulis cetek…ato mungkin penulis musiman?

      • Pratiwi

        sante lho… itu penulisnya emang terkutuk…

  • Almendra

    WEAAAAAHHHH,,,TERGODA SAYA NIH…RUBRIKNYA DIBACA SIANG LOO

  • Saman Semaun

    la haula wala quwwata illa billah

  • Rikmawati Andres

    Tulisan ini di Copy Paste berkali2 di status akun facebook banyak orang tanpa menyebut sumber web dan siapa penulisnya… semoga yang nulis dan pemilik web dapat Pahala bulan Ramadhan 🙂

    • Aunurrahman Wibisono

      Kopas statusnya siapa aja? Coba sebut namanya.

      • Rikmawati Andres

        saya sudah bagi url nya tapi tidak bisa dilihat disini

        • Fakhri Zakaria

          Lha wong tulisan ini juga dibuat karena awalnya perang status Facebook antara penulis dan teman-temannya, salah satunya dengan saya. Berbuka dulu mbak biar gak dehidrasi

          • Rikmawati Andres

            Itu ngasih tau kalo ada yg ngopas, kok malah situnya njelasin. Makan gulai otak dulu mas, biar agak terang

  • Amel Imelda

    bikin foto rolling eyes juga pake beautysnap http://goo.gl/WVgIut

No more articles