Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Stigma terhadap Ibu Rumah Tangga yang Sudah Keseringan Salah Kaprah

Dinda Asrining Tyas oleh Dinda Asrining Tyas
18 Juni 2019
A A
Stigma terhadap Ibu Rumah Tangga MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Orang-orang kok tega banget, toh. Masih aja nganggep ibu rumah tangga itu kerjaannya leyeh-leyeh di rumah?

Sejak menikah dan memutuskan ikut suami merantau, saya sudah membuat keputusan bulat untuk fulltime di rumah alias menjadi ibu rumah tangga. Tentu saja sudah dirundingkan dan disepakati bersama suami. Apalagi, setelah menikah alhamdulillah saya diberi kepercayaan mengandung anak kami yang pertama.

Sejak awal memutuskan menjadi ibu rumah tangga hingga sekarang, ada saja anggota keluarga yang menyayangkan bahkan nyinyir atas keputusan kami ini. Bukan hanya itu, tetangga—yang mana merupakan orang-orang yang baru saja kami kenal—juga memberikan komentar pedasnya kepada kami.  Khususnya saya. Ya, itu sudah konsekuensi. Kami sebagai pasangan sudah memikirkan hal ini dan mempersiapkan diri.

Dari apa yang kami tangkap, kekecewaan anggota keluarga atau komentar negatif terhadap pilihan saya, hal ini dilatarbelakangi pandangan mereka terhadap ibu rumah tangga yang negatif. Pandangan itu terbentuk oleh cap negatif terhadap ibu rumah tangga yang baik disadari maupun tidak diberikan oleh masyarakat.

Menghadapi komentar pedas terhadap keputusan saya menjadi ibu rumah tangga itu, saya dan suami banyak-banyak saling menguatkan. Kalau suami saya sih lebih kalem dan sabar orangnya. Dia bisa diam dan manggut-manggut aja. Sedangkan saya ini lebih defensif. Saya terkadang masih belum bisa menahan diri untuk tidak melakukan pembelaan dengan menjlentrehkan pandangan saya. Suami saya sih, sudah maklum. Lagian saya berusaha memberi tanggapan dengan nada yang kalem, kok. Ndak ngegas.

Sepanjang melakoni peran ini dan kerap dinyinyiri dan mendengar curcol buibu yang lain, setidaknya ada tiga stigma terhadap ibu rumah tangga yang umum ada di masyarakat. Tapi karena sebagai wanita yang aktif bergelut di dunia per-housewife-an dan tahu betul yang terjadi sebenarnya tidak begitu, hanya ada satu kata: lawan! Lawan stigma sosial yang salah pakai banget itu!

Yang pertama, ibu rumah tangga itu punya banyak waktu santai dan leyeh-leyeh di rumah. HAHAHAHAHA. Santai dari Kertanegara (karena Hongkong udah biasa)! Yang membuat stigma ini sedang bikin satire atau gimana, sih?

Tak kandhani ya, pekerjaan rumah tangga itu kalau dijlentrehne ki ra uwis-uwis. Dari bangun tidur sampai merem, adaaa saja yang harus digarap. Belanja ke pasar, masak, nyapu, ngepel, nyirami tanaman, mandiin anak, menyuapi anak, nemenin main, beresin mainan anak, cuci piring, cuci baju, menjemur, ngangkat jemuran, lempit-lempit, nyetrika, nyinauni anak, endesbra endesbre.

Itu belum kalau setiap aktivitas masih dijlentrehne lagi. Misalnya, memasak meliputi menyiapkan bahan-bahan, proses masak, sampai bersih-bersih dapur, dan menata hasil masakan di meja. Belum lagi nyiapin makanannya untuk setiap anggota keluarga. Kalau anaknya masih menyusui, ibu itu bisa menyelesikan pekerjaan sambil menggendong dan menyusui. Segala kerempongan di rumah itu sambung-menyambung sepanjang hari. Jadi, kalau kami dianggap cuma leyeh-leyeh di rumah, coba dibuktikan pakai CCTV, dong. Jangan cuma nyebar hoaks doang.

Yang kedua, ibu rumah tangga itu kucel, tidak seperti ibu bekerja (working mom) yang pagi-pagi udah dandan cantik dan wangi. HAHAHAHAHA. Respon untuk stigma yang kedua ya saya ketawa lagi karena saya pernah mengalami dinyinyirin begini. Lalu saya balas, “Lho jangan salah, saya kalau pagi-pagi juga dandan.”

Lha, memang benar lho, jangan mbok kira kami ini nggak bisa wangi dan syantik pagi-pagi. Jangan salah. Kami ini mantengin kanal youtube para beauty influencers juga. Pagi-pagi habis mandi, hukumnya wajib ain bagi kami menggunakan skin care routine. Menjelang tidur pun juga seperti itu, biar bangun-bangun wajah kami glowing. Kalau untuk make up, ya tentulah jangan disamakan dengan buibu yang berangkat kerja. Yakali kami beraktivitas di rumah harus pakai make up yang office look atau kayak mau kondangan. Nanti malah disangka tetangga mau ngelenong~

Yang ketiga, ibu rumah tangga itu bisanya cuma ngathung (minta duit ke suami). Hadeh. Sebenarnya di poin ketiga ini masalahnya dimana sih, kok dinyinyiri? Lha kami kan minta duit ke suami kami masing-masing. Suami sendiri. Bukan suami orang. Kok situ yang rempong?

Lagian sekarang, banyak lho ibu rumah tangga yang juga berbisnis dari rumah. Ada yang usaha kecil-kecilan untuk menyalurkan hobi sekaligus dapat duit. Ada juga yang skala besar bahkan punya brand yang dikenal. Mereka bekerja dari rumah dan banyak yang melakukaannya sendirian tanpa asisten. Kurang multitasking gimana, cobak?

Yah elek-elek gini, alhamdulillah saya buka les-lesan di rumah. Tapi ya tetap saja ada aja yang nyinyir. Lha apa maksudnya, coba? Kita ibu rumah tangga ini kan sudah rempong ngurus rumah dan anak, suruh cari duit juga, dan nggak boleh minta duit ke suami? Bukannya itu berarti suami malah tidak melakukan kewajiban memberi nafkah kepada istri?

Iklan

Pada akhirnya apa pun pilihan kita pasti tetap saja ada yang berseberangan dan ada yang berkomentar buruk. Padahal sebenarnya, setiap orang memilih jalan pengabdiannya masing-masing. Saya rasa tidak perlulah saling menghakimi. Tidak usah berdebat siapa yang lebih hebat, yang penting semua membawa manfaat.

Gitu lho, sheyenggg~

Terakhir diperbarui pada 18 Juni 2019 oleh

Tags: ibu rumah tanggamenikahperempuanstigma
Dinda Asrining Tyas

Dinda Asrining Tyas

Ibu rumah tangga. Tinggal di Bekasi.

Artikel Terkait

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO
Esai

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Tempat kerja, Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan
Urban

Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

3 Juni 2026
menikah dengan keluarga pasangan yang terlilit utang.MOJOK.CO
Sehari-hari

Menikah dengan Pasangan yang Keluarganya Terlilit Utang Bikin Serba Salah: Terlalu Cinta untuk Ditinggal, tapi Bikin Menderita Kalau Bertahan

8 Mei 2026
pekerja perempuan.MOJOK.CO
Kabar

Dilema Pekerja Perempuan: Upah Murah “Dilegalkan”, Sementara Biaya Daycare Tak Terjangkau

1 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Meski tanpa sosok ayah (fatherless), tapi tidak hilang arah MOJOK.CO

Hidup Tanpa Sosok dan Peran Ayah Nyatanya Tak bikin Hilang Arah, Bisa Cari Arah Sendiri dan Malah bikin Orang Lain Iri

9 Juni 2026
Event lari Merbabu Skyrace makin diminati banyak orang lintas negara, jadi potensi sport tourisme di Jawa Tengah dengan daya tarik lari lintas alam di Gunung Merbabu MOJOK.CO

Merbabu Skyrace: Event Lari Melintasi Keindahan Gunung Merbabu, Sport Tourism yang Bikin Sebuah Dusun Mendunia

6 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Audiensi antara KPUS dan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi terkait anjloknya harga telur di Jateng MOJOK.CO

Upaya Merespons Situasi Harga Jual Telur di Jateng yang Anjlok dan Tidak Terserap

10 Juni 2026
Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.