Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Di Lampung Dianggap Orang Jawa, di Jawa Dianggap Orang Lampung

Desi Murniati oleh Desi Murniati
17 Juni 2019
A A
Di Lampung Dianggap Orang Jawa, di Jawa Dianggap Orang Lampung MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Beginilah rasanya jadi transmigran di Lampung. Tinggal di Lampung tapi dianggap sebagai orang Jawa. Pas di Jawa dianggap sebagai orang Lampung. Terus, saya ini orang mana?

Saat masih duduk di bangku SD beberapa belas tahun yang lalu, saya pernah bertanya pada teman saya, “Kamu pernah ke Lampung?” Dan jawaban teman saya adalah, “Belum.” Kemudian saya tertawa. Bagaimana mungkin belum pernah ke Lampung jika pada detik itu kami sedang berada di Lampung? Sebenarnya, saya sudah memprediksi jawaban teman saya tersebut sebelum menanyakannya. Tujuan saya menanyakannya sebenarnya hanya untuk menertawakannya. Sama seperti saya yang menertawakan diri saya sebelumnya atas jawaban yang sama.

Iklan

Kami, anak-anak yang ada di kampung saya yang masih berada di Provinsi Lampung, merasa bukan orang Lampung dan tidak tinggal di Lampung. Hal itu dikarenakan, sejak bisa ngomong kami selalu menggunakan bahasa Jawa untuk percakapan sehari-hari. Kegiatan di kampung pun, seperti ketika ada pengajian atau pengumuman di musala selalu menggunakan bahasa Jawa. Ketika ditanya, “Kamu orang apa?” Saya juga selalu menjawab bahwa saya orang Jawa. Sesuatu yang saat ini sering membuat saya dilema, karena ketika berada di Jawa saya malah tidak diakui sebagai orang Jawa.

Saya lahir di Lampung, tumbuh besar di Lampung, ber-KTP Provinsi Lampung, dan saat ini masih tinggal di Lampung. Akan tetapi, saya tidak tahu apa-apa soal Lampung. Ketika berusaha ngomong bahasa Lampung—yang pernah diajarkan saat SD dan SMP—saya akan ditertawakan karena aksennya terdengar aneh dan memang sebenarnya saya tidak bisa.

Saya juga tidak begitu tahu kebudayaan Lampung. Setiap memperingati hari besar, di kampung saya tidak pernah mengadakan acara kebudayaan Lampung. Sebaliknya, malah mengadakan kesenian Jawa seperti wayang kulit, kuda kepang, campur sari, atau ketoprak. Saya pernah bilang ke teman saya yang tinggal di Jawa kalau saya sedang menonton jaran kepang di kampung saya dan dia heran, “Kok di Lampung ada jaran kepang?” Ya, kan memang kami ini orang Jawa, hanya saja tidak tinggal di Jawa.

Sebagai mahasiswa Pendidikan Sejarah, saya tahu sedikit-sedikit tentang sejarah transmigrasi yang ada di Lampung. Tapi kok ya rasanya bibir saya ini agak ndower setiap kali berada di Jawa dan harus menjawab pertanyaan, “kamu kan orang Lampung, tapi kok medok?” Atau, “kamu kan orang Lampung, tapi kok ngapak?” Dengan jawaban, “Jadi sebenarnya, 62% penduduk Lampung itu suku Jawa. Dikarenakan Lampung menjadi daerah transmigrasi pertama sejak masa penjajahan Belanda. Makanya, di Lampung ada Museum Transmigrasi yang ada di Kabupaten Pesawaran.”

Kalau pertanyaannya hanya sekali atau dua kali, I’m fine. Tapi, ini hampir semua orang yang mendengar saya bicara di Jawa menanyakannya. Iya, hampir semua, bayangkan! Sebenarnya saya ingin sekali berpura-pura sebagai orang asli Lampung dan tidak bisa bahasa Jawa, seperti teman saya yang bisa pura-pura tidak mengerti bahasa Jawa ketika berada di Jawa. Akan tetapi, logat saya tidak bisa berbohong. Saya ini medok, plus ngapak. Jadi wajar saja banyak yang bertanya-tanya, orang Lampung kok ngapak??!

Untungnya, saya masih bisa berdalih sebagai orang Jawa karena bapak saya asli Sragen dan merantau ke Lampung. Namun, teman-teman saya yang bapaknya lahir di Lampung, ibunya lahir di Lampung, dan dia juga lahir di Lampung, bagaimana menjelaskannya? Paling mentok mengatakan leluhurnya merupakan transmigran dari Jawa. Meski dia sendiri nggak tahu luluhur mana yang dia maksud. Pokoknya mbah-mbahnya dulu orang Jawa.

Bagi yang pernah mengunjungi daerah transmigrasi, pasti akan tahu kalau orang-orang transmigran merupakan orang-orang yang sangat mencintai kampung halamannya. Di Lampung sendiri, tidak terhitung berapa jumlah kampung atau desa yang namanya sama seperti nama daerah di Jawa. Banyak teman-teman saya yang tinggal di Jawa heran ketika saya bilang di Kabupaten Pringsewu—tempat saya tinggal, ada kecamatan dan desa bernama Ambarawa, Banyumas, Sukoharjo, Kediri, Brebes, Sidoharjo, Yogya, Wates, Margodadi, Sumberdadi, Sukorejo, Pujodadi, Sidodadi, dan lainnya yang bisa dipastikan berasal dari bahasa Jawa.

Kabupaten Pringsewu sendiri berasal dari bahasa Jawa, pring berarti bambu dan sewu yang berarti seribu. Sejarahnya, saat terjadi transmigrasi, di Pringsewu masih terdapat banyak hutan bambu sehingga para transmigran menamakan daerah tersebut Pringsewu. Kemudian, di sekitar Pringsewu diberi nama Pringkumpul dan Pringombo. Nama-nama yang sungguh Jawa banget.

Saya sering kali merasa asing ketika berada di Lampung. Terlebih ketika berada di luar Kabupaten Pringsewu. Alasan utamanya karena saya tidak mengerti bahasa Lampung dan belum terbiasa dengan logat Lampung yang sama seperti orang-orang Sumatera pada umumnya, keras dan tegas. Beda sekali ketika saya berada di Yogyakarta atau Jawa Tengah di mana saya bisa menemukan orang-orang berbahasa Jawa di mana-mana—betul-betul berasa pulang kampung.

Namun tetap saja, bagi orang yang tinggal di Jawa, saya ini orang Lampung. Sementara di Lampung, saya dianggap orang Jawa. Iya, tidak ada yang mau mengakui saya.

Meski orang Lampung tidak mengakui saya sebagai orang Lampung, tapi orang Lampung adalah orang-orang yang berjiwa besar. Bayangkan dong, kamu orang asli Lampung. Ketika berada di Lampung, kamu nggak ngerti obrolan orang-orang di sekitarmu karena mereka menggunakan bahasa Jawa. Bayangkan, gimana rasanya?

Hal itu terjadi di kampus saya. Di kelas kami—orang-orang berbahasa Jawa—selalu mengedepankan bahasa Jawa sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. Bahkan ketika ada teman yang tidak mengerti bahasa Jawa. Awalnya banyak yang protes, tapi lama-lama mereka malah bisa bahasa Jawa. Tidak sekadar “opo kui” atau “sopo jenengmu”. Mereka bisa mengerti percakapan yang panjang sekalipun. Jadi, kami tinggal di mana sih, sebenarnya?

Sebenarnya apa yang saya dan teman-teman saya galaukan bisa menjadi sesuatu yang nggak galau-galau banget. Pasalnya, meski orang Lampung tidak mengerti bahasa Jawa, orang Jawa tidak mengerti bahasa Lampung. Orang Batak tidak mengerti bahasa Jawa Lampung, orang Jawa dan Lampung tidak mengerti bahasa Batak. Dan setiap suku tidak mengerti bahasa suku lainnya. Kita masih memiliki bahasa Indonesia. Dengan bahasa Indonesia, semua suku yang ada di Indonesia bisa saling berkomunikasi, karena bahasa Indonesia adalah bahasa kesatuan. Meski kadang tetap saja keceplosan dengan bahasa daerah, dan nggak sanggup menerjemahkannya. Bikin kita kepentok dan cuma bisa ngomong, “Aduh, bahasa Indonesia-nya apa, ya?”

Terakhir diperbarui pada 17 Juni 2019 oleh

Tags: bahasa jawaorang jawaorang Lampungtransmigrantransmigrasi
Desi Murniati

Desi Murniati

Artikel Terkait

Sikap atau reaksi pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa jadi karakter yang justru merepotkan diri sendiri MOJOK.CO

Sikap Pekewuh dan Basa-basi Ala Orang Jawa bikin Repot Diri Sendiri, Sialnya Tak Gampang buat Terus Terang

21 Mei 2026
Tanpa Cina dan Pecel Lele, Mental Orang Jawa Pasti Ambruk (Wikimedia Commons)

Persahabatan Aneh dengan Anak Cina Membawa Saya ke Pecel Lele di Bawah Jembatan Janti yang Menjadi “Pelarian” bagi Orang Jawa

16 Februari 2026
Cerita Kebiasaan Orang Jawa yang Bikin Kaget Calon Pendeta MOJOK.CO

Cerita Calon Pendeta yang Kaget Diminta Mendoakan Motor Baru: Antara Heran dan Berusaha Memahami Kebiasaan Orang Jawa

21 November 2025
Bahasa Jawa harus dipelajari Gen Z. MOJOK.CO

Cara Menjadi Jawa Seutuhnya dengan Mengilhami Bahasa, Tanpa Mencampurnya Jadi “Jawindo” dan Bahasa Slang ala Gen Z

24 Oktober 2025
Aksara jawa. MOJOK.CO

Aksara Jawa Bukan Sekadar Mantra Berbau Klenik, Bisa Menyelamatkan Hidup jika Dipahami Secara Sains

23 Oktober 2025
jawa, orang jawa, orde baru.MOJOK.CO

Program Pemerintah Kolonial Belanda dan Orde Baru Jadi Penyebab Orang Jawa Ada di Mana-mana

6 Februari 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
budidaya kenari

Perjuangan Bapak Hobi Kicau Mania: Dari Budidaya Kenari, Bisa Hantarkan Anak Meraih Gelar Sarjana 

26 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Kebiasaan sederhana penjaga warung madura yang bikin respek pembeli MOJOK.CO

Kebiasaan Sederhana Penjaga Warung Madura tapi Bikin Saya Respek Besar

27 Agustus 2026
perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.