Alasan Daredevil dan Si Buta dari Goa Hantu Beneran Manusia Super bagi Saya
Alasan Daredevil dan Si Buta dari Goa Hantu Beneran Manusia Super bagi Saya

Alasan Daredevil dan Si Buta dari Goa Hantu Beneran Manusia Super bagi Saya

MOJOK.COTernyata ada banyak detail kemampuan super Daredevil dan Si Buta dari Goa Hantu yang sering luput diperhatikan oleh kita selama ini.

Sebagai difabel netra, menemukan ada superhero difabel itu jadi kesenangan tersendiri bagi saya. Dengan keterbatasannya, para superhero macam itu jelas berusaha berlipat lebih keras untuk menjalankan “profesi” melawan kejahatan.

Nah, agar kamu paham seberapa super kemampuan Si Buta dari Goa Hantu dan Daredevil, saya akan jelaskan alasannya.

Begini.


Meski cerita Si Buta dari Goa Hantu dan Daredevil diambil dari sudut orang ketiga, tak jarang muncul adegan cerita dari sudut pandang orang pertama.

Hal ini bisa kamu temukan pada karakter Daredevil. Di sana digambarkan bagaimana Matt Murdock mampu lebih “melihat” ketika ada getaran suara tetesan air hujan yang turun dan membentur barang-barang di sekitarnya.

Gelombang suara tetesan itu lantas mengirimkan sinyal di telinganya. Persis seperti cara kerja sonar kapal selam. Hal ini yang kemudian bikin Murdock jadi jauh lebih bisa mengenali area sekitar ketimbang musuh-musuhnya.

Padahal, asal kamu tahu saja, keadaan yang memudahkan Murdock itu sebenarnya justru lebih menyulitkan bagi orang kayak saya. Sebab, ketika suara gemuruh air hujan muncul, saya sering celingak-celinguk kebingungan dalam mengorientasikan keadaan sekitar.

Alasannya, saya jadi tak bisa mendengar dengan jelas apa yang akan melewati saya ketika di jalan—misalnya. Kecuali mungkin suara mesin eskavator yang super-berisik melebihi suara hujan.

Selain itu, hal menarik lainnya bagi saya adalah pilihan senjata dua superhero ini. Meski sama-sama pakai tongkat, namun secara mendetail tongkat mereka itu berbeda.

Baca juga:  Beda ‘Laskar Pelangi’ dan ‘Bad Genius’ dalam Suguhkan Impian Kuliah ke Luar Negeri

Informasi saja sih, tongkat kayak gini banyak jenisnya. Ada yang bisa dilipat, ada tongkat yang di bawahnya terdapat bola kecil yang terikat, dan ada pula tongkat yang di bawahnya memiliki roda.

Biasanya yang banyak dimiliki para difabel netra adalah yang bisa dilipat. Maklum, hal itu memudahkan kami menyimpan tongkat dalam saku belakang atau tas.

Nah, senjata Daredevil itu hampir mirip tongkat yang bisa dilipat, bedanya senjata Daredevil memiliki tali elastis yang dapat memanjang sehingga memungkinkannya berayun dengan cara mengaitkan tongkat itu di gedung-gedung.

Kalau tongkat Barda Mandrawata atau Si Buta dari Goa Hantu itu kayak tongkat besar dan panjang dari kayu kokoh dan—jelas—tidak bisa dilipat.

Meski tidak elastis, tongkat itu memungkinkan Barda Mandrawata bisa menangkis serangan musuh tanpa perlu menghindarinya. Jadi semisal ada terjangan golok dari musuh datang, Barda cukup menepisnya dengan tongkat kuat tersebut.

Jadi, meski tak bisa dipakai berayun-ayun seperti Daredevil, tongkat Si Buta dari Goa Hantu yang kokoh itu menunjukkan juga seberapa kuat lengan Barda Mandrawata. Bayangkan saja si Barda menggunakan tongkat seperti itu dalam kehidupan sehari-hari.

Dari hal ini kamu juga akan menyadari kalau Barda Mandrawata secara kekuatan, jauh lebih unggul dari Matt Murdock.

Untuk lebih memahami ini, kamu perlu membandingkan dengan bagaimana saat Murdock sedang tak berkostum. Caranya berjalan ketika tidak jadi superhero merupakan cara jalan difabel netra pada umumnya.

Tongkat di pegang di samping pinggang atau memegangnya di depan perut, lalu melangkah dan menggerakan tongkat secara bergantian. Jika kaki kiri di depan artinya tongkat digerakkan ke kanan. Begitu pula sebaliknya kalau kaki kanan yang di depan.

Baca juga:  Ustadz Akhir Zaman dan Dongeng Dukhon Hari Kiamat Mereka

Nah, sedangkan Si Buta dari Goa Hantu alias Barda ini beda. Dia cukup ekstrem.


Kalau boleh jujur, tongkatnya itu sebenarnya terlalu panjang dan berat untuk ukuran tinggi badan Barda. Dan ini sedikit tidak masuk akal. Ketimbang sebagai alat bantu, tongkat itu justru lebih merepotkan kalau dipakai dalam kehidupan sehari-hari.

Beruntung, ketidaksinkronan ini tertutupi dengan premis bahwa Barda itu sakti mandraguna. Sehingga, mau semustahil apapun perangkat yang merepotkan itu, ya pernyataan kritis saya tadi jadi sia-sia belaka.

Kalau saya berada dalam posisi Barda, saya kayaknya bakal punya kesempatan terjerumus ke lubang got lebih besar karena panjang dan berat tongkatnya sungguh tak masuk akal.

Selain premis sakti yang menjawab ke-tidak-masuk-akal-an itu, Barda Mandrawata juga ditemani seekor monyet. Meski sebetulnya, saya kurang tahu fungsi monyet itu apa. Tapi bisa jadi si monyet ini merupakan guide-nya juga sih. Dan hal itu jadi sangat masuk akal.

Nah, gara-gara menyadari Si Buta dari Goa Hantu punya peliharaan yang sama “super”-nya sebagai navigator, saya kadang heran kenapa Daredevil tidak ditemani juga oleh seekor hewan? Padahal, hewan peliharaan kayak gini kan bisa jadi asisten yang sangat efisien?

Anjing pintar kayak di film Air Bud gitu misalnya, kayaknya pas kalau dijadikan asisten superhero bagi Matt Murdock dalam melakukan aksinya.

Baca juga:  Kenapa William Wongso yang Jadi Mentor Masak Rendang di ‘Gordon Ramsay Uncharted’?

Lagian, menurut informasi dari teman game online saya dari Amerika, difabel netra di Amerika itu sering membanggakan guide dog-nya. Dan itu seperti jadi kebudayaan di sana. Jadi sungguh aneh kalau kearifan lokal itu tidak dimasukkan dalam logika cerita Daredevil.

Kenapa saya bisa tahu itu jadi semacam kebiasaan di Amerika sana? Ya karena teman game online saya itu pernah bertanya ke saya soal hewan pemandu yang biasa digunakan di Indonesia.

“Bagaimana denganmu ketika ingin berpergian, apa menggunakan anjing pemandu juga?” tanyanya lewat game online.

Namanya manusia pasti ada gengsinya dong, jadi saya juga nggak mau kalah.

“Kalau di sini nggak pakai anjing, tapi pakai monyet,” jawab saya iseng.

Terlepas dari hal itu, balik lagi ke soal Daredevil dan Si Buta dari Goa Hantu, salah satu kemampuan paling super yang dua hero ini miliki sebenarnya bukan hanya soal kemampuan fisik yang super, namun lebih ke kemampuan mentalitas mereka yang super.

Maklum, keduanya mengalami kecelakaan yang menyebabkan mereka menjadi “difabel mualaf”. Dan dengan keadaan yang seperti itu, kemampuan mental mereka dalam menghadapinya itu sangat luar biasa.

Dan dari kisah mereka pula kita jadi tahu, bahwa kebutaan seperti itu bukanlah hal yang harus ditakuti, karena dari sanalah penglihatan dan kemampuan super lainnya justru semakin terbuka.

Buktinya?

Lah ini kamu sedang menikmati salah satunya.

BACA JUGA Hal-hal yang Harus Dilakukan Ketika Sadar Kamu Buta Warna.