Belajar Dialek Bahasa Jawa yang Jogja Banget pakai Ilmu Tajwid

MOJOK.COAda banyak dialek bahasa Jawa khas Jogja. Hal yang bikin kerasa Jogja banget terutama kalau ngucapin pakai ilmu tajwid yang benar.

Sepanjang hidup di Jogja sejak lahir ceprot, sebenarnya saya malah kurang ngeh kalau ada perbedaan-perbedaan dialek bahasa Jawa di Jogja dengan daerah sekitarnya. Perbedaan itu jebul cukup besar, terutama karena saya pernah lama tinggal di Solo.

Seperti kalau di Solo dan sekitarnya, saya dulu kerap terbiasa menyematkan kata “jal” dalam beberapa kalimat tanya. “Jal” ini akronim dari kata “jajal” (artinya: coba).

Hal ini baru saya sadari ketika boyong lagi ke Jogja dan ngobrol dengan teman-teman saya yang asli Sleman.


Kata mereka, “Kamu kok sekarang Jawa-nya Solo banget?”

Lah?

Itu terjadi karena saya kerap mengumbar kata, “Piye jal?” (Gimana coba?”). Sebuah ungkapan yang jarang ditemui dari anak-anak Jogja, sehingga ketika saya pakai kalimat itu, saya langsung dituduh sudah kehilangan akar Jogja saya.

Dari tuduhan itu, ditambah karena saya blasteran Solo-Jogja, saya jadi memahami bahwa di Jogja sendiri ada banyak sekali dialek bahasa Jawa yang sangat khas. Ungkapan-ungkapan kecil yang sedikit menunjukkan bagaimana itu bahasa Jogja.

Bahkan, dialek Bahasa Jawa khas Jogja sendiri sebenarnya punya ciri khas yang berbeda di tiap daerahnya. Sepanjang 30-an tahun saya hidup di sini, setidaknya saya bisa bikin klasifikasi perbedaan dialek bahasa Jawa yang—saya sebut—Jogja banget.

Tentu saja, ini bukan bahasa Jawa yang masuk klasifikasi krama inggil atau krama alus, melainkan bahasa Jawa dalam keseharian. Bahasa Jawa pasaran lah, sebut saja begitu.

Dan ini beberapa yang saya tahu dengan sedikit pemaparan soal hukum bacaan alias ilmu tajwid dalam pengucapannya. Semata-mata supaya kalau kamu mau belajar dialek bahasa Jawa khas Jogja, kamu bisa menuturkannya secara fasyeeeh.

Baca juga:  Mewujudkan "Bantul Kota Mie" sebagai Perlawanan Hegemoni Mie Ayam Wonogiri

Penggunaan “jeh” di Bantul, dan “e” di Sleman

Ungkapan akhiran “jeh” kerap muncul bahkan ketika orang Jogja memakainya dalam percakapan bahasa Indonesia (maaf, saya belum menemukan itu ketika orang Jogja memakai bahasa Inggris).

“Lah gimana, kamu itu orangnya nggapleki jeh.”

Tak ada definisi pasti apa arti “jeh” ini bagi penutur bahasa Jawa di Jogja. Satu suku kata yang sangat kental ini pun diucapkan dengan penuh penekanan. Kalau dalam beberapa konteks, penggunaannya seperti kata “sih” dalam bahasa Indonesia.

Kalau dalam ilmu tajwid, pengucapan “jeh” itu pakai hukum idzhar: dibaca jelas.

Persis kayak kamu mengucapkan kata “jajan” dalam bahasa Indonesia. Jadi meski cuma sempilan kecil, pengucapannya begitu tebal, kental, tapi tidak kenyal dan tidak mantul.

Meski begitu, itu ungkapan yang baru kamu temukan kalau kamu ngobrol sama orang Jogja daerah Selatan. Daerah Bantul dan sekitarnya.

Di Utara, seperti di Sleman tempat saya tinggal, penggunaan kata “jeh” cukup jarang. Kami kerap menggunakan kata “e”.

Misalnya, “Lah emang asline bayare piro-e?” (Emang aslinya bayar berapa sih?)

Fungsi fonem itu sama saja sih. Sebagai ungkapan penekanan saja.


Nggak ada artinya secara harfiah juga. Bedanya, kalau dalam ilmu tajwid, kalau “jeh” itu idzhar, maka penggunaan “e” ini lebih kayak samar-samar gitu alias dalam kategori ilmu Tajwid masuk ke penjelasan hukum bacaan Ikhfa.

Suka menyematkan huruf “M”, “N”, “Y” di beberapa kata

Entah diawali dari kebudayaan atau kebiasaan kayak gimana, kami orang Jogja, suka sekali membubuhi huruf “M” sebagai dengung ketika menemukan huruf “B”. Ada hukum bacaan Idgham Bigunnah di sini, alias memakai dengung, tapi kombinasi dengan Iqlab yang memakai huruf “mim” dalam pengucapannya.

Baca juga:  Enaknya Diperkosa Nggak Seenak Terlahir Sebagai Laki-laki Berkuasa

Mengucapkan kata Bantul bahkan harus ada “M” di depannya, jadinya “Mbantul”, atau “bati” (untung) diucapkan jadi “mbati”.

Meski begitu, tidak di semua kata dengan huruf “B” selalu seperti itu. Misalnya untuk misuh, “Bajingaaan kowe!” itu nggak ada huruf “M”-nya. Soalnya, penggunaan huruf “M” itu bikin sebuah kata jadi terkesan lebih soft. Kan nggak asyik kalau lagi misuh malah jadi ada dengung yang bikin kalimat pisuhan jadilembut.

Selain huruf “M”, huruf “N” juga jadi favorit terutama kalau ketemu kata dengan awalan huruf “D”. Seperti kata “disek” (duluan) bakal diucapkan “ndisek” atau “dandutan” bakal diucapkan “ndangdutan”.

Selain kedua huruf tadi, huruf “Y” juga sering nyempil. Terutama untuk huruf setelah kata “D”. Seperti kata “madang” (makan) yang bakal diucapkan “madyang” atau kata “modar” yang bakal diucapkan “modyar”.

Kalau dua kata ini hukum bacaannya beda lagi. Hukum bacaannya adalah Mad Wajib Muttasil, dipanjangan 6 ketukan. Alias diucapkan seperti ini: “Madyaaaaaang” atau “Modyaaaaaar!”

Suka memotong/memendekkan kata

Dialek bahasa Jawa berikutnya yang khas Jogja adalah gemar memotong kata. Seperti penggunaan “po” yang berasal dari kata “opo” (apa). Biasanya dipakai kalau dalam percakapan seperti ini. “Emang ngunu po?” (Emang begitu ya?).

Selain itu ada juga kata “dhong” yang similar dengan kata “mudheng” (paham). Biasanya dipakai dalam dialog, “Dhong ora e?” (Paham nggak sih?)

Baca juga:  Kutukan dan Keuntungan Gibran Rakabuming Raka Sebagai Anak Presiden

Hukum bacaannya sih nggak ada untuk dua kata itu tadi, soalnya memang tidak ada pengucapan khususnya. Paling di konsonan saja yang perlu diperhatikan. Seperti “po” itu huruf “o”-nya sama seperti kamu ngucapin kata “motor” bukan diucapkan “Po” kayak nama jagoan di film Kung Fu Panda.

Kata pethuk, pekok, dan bajigur yang bukan wedhang

Terakhir, kata paling sering muncul adalah penggunaan kata “pethuk” (goblok) yang konotasinya lebih ke guyonan, bukan ungkapan serius. Misalnya, “Lah kowe yo pethuk, malah melu MLM.” (Lah, kamu ya goblok, malah ikut MLM)

Nah, kalau “pethuk” takarannya lebih rendah secara kadar kegobolokan, maka ada kata “pekok” untuk sesuatu yang sifatnya parah. Bisa diartikan sama seperti kata “tolol”.

Contoh: “IPK kok ngasi 0,5 ki kowe pekok opo piye-e?” (IPK kok sampai 0,5 itu kamu tolol atau gimana sih?)

Dan terakhir soal pisuhan. Ketimbang misuh pakai kata “bajingan”, orang Jogja lebih sering memakai kata “bajigur” sebenarnya.

Bukan apa-apa, kata “bajingan” itu kesannya kasar banget. Dan karena orang Jogja dikenal sering nggak enakan, maka pisuhannya pun disesuaikan dengan tone yang lebih soft.

Pisuhan ini pun bisa beralih rupa tergantung pergaulan. Ada “bajigur”, ada “bajindul”, ada juga “bajingsey”.

Sama seperti di atas tadi, beberapa kata ini tidak ada hukum bacaannya secara khusus. Soalnya pengucapannya biasa-biasa saja dan tidak butuh treatment khusus untuk mengucapkannya secara benar dan fasih.


BACA JUGA Ucapkan Jancuk dengan Fasih Sesuai Tajwid Surabaya dan tulisan Ahmad Khadafi lainnya.