Niatnya Mau Menghindari Fitnah Dajjal, tapi Sama Hoaks Langsung Percaya
Niatnya Mau Menghindari Fitnah Dajjal, tapi Sama Hoaks Langsung Percaya

Niatnya Mau Menghindari Fitnah Dajjal, tapi Sama Hoaks Langsung Percaya

MOJOK.CONiat hati ingin mengingatkan soal fitnah Dajjal di mana-mana, tapi sama hoaks saja langsung gampang nyebarin ke mana-mana.

Mendengar rencana kegiatan di masjid akan ditiadakan untuk beberapa minggu ke depan karena pandemi makin parah, Mas Is agak terkejut. Mas Is merasa ini sesuatu yang tidak beres.

Padahal di kampungnya, ada ulama seperti Kiai Kholil dan Gus Mut. Menurut Mas Is, seharusnya penutupan tempat ibadah seperti ini tak terjadi.

Merasa perlu turun langsung, di grup WhatsApp kampung yang berisi nomor bapak-bapak, Mas Is mengirim tulisan panjang soal kekhawatiran umat Islam. Isinya tak main-main: fitnah dajjal telah datang dalam bentuk ketakutan terhadap pandemi.


“INI SUDAH AKHIR ZAMAN. FITNAH DAJJAL SUDAH MENYEBAR KE MANA-MANA. MASJID DITUTUP, UMAT ISLAM KINI DIBATASI BERIBADAH DI MASJID! AYO, JANGAN TAKUT SAMA COVID. COVID DAN VAKSIN ITU REKAYASA. TAKUTLAH SAMA ALLAH! INI ADALAH FITNAH AKHIR ZAMAN. MARI RAMAIKAN MASJID KEMBALI!”

Pesan disampaikan ke dalam grup. Keadaan masih sepi untuk beberapa saat sampai di kolom grup WhatsApp terlihat Fanshuri… is typing.

“Kamu kenapa, Mas Is? Pagi-pagi kok udah nyebar-nyebar soal fitnah Dajjal?” ketik Fanshuri di grup WhatsApp.

“Ini bahaya, Fan. Masjid ditutup ini tanda bahaya. Fitnah Dajjal sudah merajarela,” ketik Mas Is.

Fanshuri… is typing.

“Dari mana Mas Is tahu kalau pandemi ini fitnah Dajjal? Emang Mas Is anak buahnya Dajjal?” tanya Fanshuri sambil diselengi emoticon tertawa.

Baca juga:  Kalau Berislam Cuma Bercita-cita Mau Mati, Buat Apa Ada Syariat?

“Polanya kan udah ketahuan, Fan. Menghalang-halangi muslim beribadah hanya karena takut mati itu apa namanya kalau bukan bagian dari fitnah Dajjal?” tanya Mas Is.

Fanshuri sebenarnya malas berdebat di grup itu. Apalagi terlihat tidak ada bapak-bapak lain yang ikut nimbrung, Gus Mut yang biasanya aktif juga tak terlihat ketikan-ketikan kata-katanya.

“Banyak ustaz dan ulama-ulama akhir zaman yang sudah menceritakan ini,” ketik Mas Is lagi, “Aku cuma nyebarin aja,” lanjutnya.

Grup WhatsApp masih sepi tak ada yang menanggapi. Fanshuri pun akhirnya harus turun tangan.

“Definisi ulama akhir zaman itu apa memangnya, Mas Is?” tanya Fanshuri.

Mas Is… is typing.

“Ulama yang meyampaikan kewaspadaan akan datangnya fitnah Dajjal dan tanda-tanda kiamat. Itu beberapa di antaranya,” ketik Mas Is.

“Kalau Kiai Kholil? Termasuk ulama akhir zaman nggak?” tanya Fanshuri lagi.

“Ya nggak dong. Kiai Kholil kan jarang banget menyerukan hal-hal soal itu. Jarang banget pengajian beliau bahas soal fitnah Dajjal,” ketik Mas Is.

Fanshuri cuma memberi emotikon menangis.


“Lah bener dong?” ketik Mas Is Lagi.

Fanshuri… is typing.

“Kan dari segi penamaan itu ‘ulama akhir zaman’, lah Nabi Muhammad saja pernah bersabda ‘Aku dan Hari Kiamat sebagaimana dua jari ini’, yang itu artinya Nabi dan Hari Kiamat itu dekat sekali,” ketik Fanshuri.

Mas Is… is typing.

“???”

Baca juga:  Cara Jitu Izin ke Istri Pertama untuk Beristri Empat

Fanshuri… is typing.

“Nabi Muhammad itu kan nabi akhir zaman. Artinya, semua ulama dan ustaz sesudah zaman Nabi itu juga bisa disebut ulama akhir zaman semua. Kita sebagai umat juga bisa disebut umat akhir zaman, Mas Is. Jadi definisi ‘akhir zaman’ sampean itu ya kurang pas. Nggak mashoook,” ketik Fanshuri.

“Tapi kan kita nggak tahu kiamat itu terjadi kapan, artinya fitnah Dajjal itu terjadi kapan kita juga kita nggak tahu. Bisa jadi itu kan terjadi sekarang. Sebagai muslim yang beriman nggak ada salahnya kita mengimani itu,” ketik Mas Is.

Fanshuri… is typing.

“Lah kalau sama-sama nggak tahu, kenapa Mas Is mengklaim yang sekarang ini adalah fitnah Dajjal? Lah wong malaikat aja nggak tahu kiamat itu datangnya kapan kok Mas Is tahu-tahu udah dapat bocorannya?” ketik Fanshuri.

Mas Is… is typing.

“Ya begini ini fitnah Dajjal di akhir zaman. Ketika ada muslim mengingatkan saudaranya malah diledek,” ketik Mas Is.

Fanshuri… is typing.

“Bukan meledek Mas Is. Tapi kegiatan di masjid di hentikan sementara waktu itu ada alasan keselamatannya. Di kampung kita sudah ada beberapa yang positif dan isoman,” ketik Fanshuri.

Mas Is… is typing.

“Tapi jangan menghalangi muslim beribadah juga. Allah nanti murka,” ketik Mas Is.

Fanshuri… is typing.

“Emangnya kalau nggak salat di masjid, Mas Is itu nggak salat di rumah?” ketik Fanshuri.

Baca juga:  Atta Halilintar Benar, Suara Suami kayak Dia Mesti Diperlakukan bak Suara Tuhan

Mas Is… is typing.

“Kamu nggak tahu kalau ibadah salatku jauh lebih banyak dari kamu, Fan. Nggak usah meremehkan kalau kamu tahajud aja masih nggak istiqomah. Pelarangan ibadah di masjid ini benar-benar bikin aku sakit, Fan. Kalau kamu sih nggak ngerasa ya mungkin kamu belum sebaik itu sebagai seorang muslim,” kata Mas Is agak emosi.

Tiba-tiba Gus Mut… is typing.

Keadaan di grup WhatsApp lantas hening.

“Ada dua perkara yang ditakuti Nabi Muhammad selain Dajjal,” ketik Gus Mut, “Pertama, para pemimpin yang membuat rakyatnya berperang tak berkesudahan*. Kedua, ketika umat Nabi Muhammad banyak yang melakukan syirik-syirik kecil**,” lanjut Gus Mut.

Keadaan sempat hening sebentar, sampai kemudian Fanshuri… is typing.

“Syirik kecil itu maksudnya yang kayak gimana, Gus?” ketik Fanshuri.

Gus Mut… is typing.

“Riya’.”

Keadaan di grup WhatsApp itu pun langsung sepi.

Beberapa menit kemudian Fanshuri… is typing.

“Oh.”

Mas Is tidak muncul lagi.


*) Hadis Imam Ahmad, Abu Daud, Al-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban.

**) HR. Ahmad dan Al-Baihaqi

BACA JUGA Ustaz Akhir Zaman dan Dongeng Hari Kiamat Mereka atau kisah-kisah Gus Mut lainnya.