fbpx

MOJOK.COAdanya beberapa perempuan yang tak menutup aurat bikin Mas Is geregetan. Orang Islam kok nggak mau pakai jilbab, kayak bukan orang Islam saja.

Mas Is merasa gemas dengan tingkah laku beberapa perempuan di kampung yang belum juga memakai jilbab. Tidak masalah jika mereka non-muslim, masalahnya yang disesalkan Mas Is adalah mereka yang tak berjilbab itu agamanya Islam.

“Apa Gus Mut nggak merasa harus menegur itu Pak Bambang dan Pak Rojali?” kata Mas Is setelah salat asar di serambi masjid kampung sambil leyeh-leyeh.

“Menegur gimana maksudmu Mas Is?” tanya Gus Mut yang baru mau duduk di undakan serambi masjid.

“Ya ditegur. Anak perempuan mereka kan udah SMA, masak nggak disuruh pakai jilbab sama bapaknya. Itu kan nggak Islam banget,” kata Mas Is.

Gus Mut tersenyum.

“Bapaknya pasti sudah tahu itu. Lha wong, Pak Bambang dan Pak Rojali itu juga sering salat ke masjid kok. Kamu kan tahu sendiri,” kata Gus Mut.

“Iya, tapi bisa saja bapaknya nggak peduli sama anaknya. Rajin salat ke masjid kok anaknya dibiarin keluyuran nggak pakai jilbab begitu,” kata Mas Is.

“Memangnya kok kamu bisa perhatian betul begitu, Mas Is? Kamu sering lirik-lirik ya?” tanya Gus Mut.

“Ya, bukan cuma sering, Gus. Apalagi anaknya Pak Bambang yang cantik banget itu. Kalau saya masih bujang udah saya incer itu,” kata Mas Is bercanda.

“Yaelah, kamu itu gimana Mas Is. Kamu minta orang lain jalankan kewajiban, tapi kamunya sendiri malah nggak njalanin kewajiban,” kata Gus Mut.

Dibilang begitu, Mas Is merasa sedikit tidak terima.

“Nggak menjalankan kewajiban gimana, Gus? Jangan sembarangan dong kalau nuduh orang,” kata Mas Is.

“Lah itu, nyatanya kamu perhatian betul sama anak gadis orang. Sampai paham betul. Ya kalau tahu ada kewajiban bagi perempuan nutup aurat, kita sebagai laki-laki juga harus paham kalau kita juga punya kewajiban menundukkan pandangan. Kalau dua-duanya menjalankan kan nggak bakal ada masalah. Perkaranya sekarang, banyak laki-laki minta perempuan menjalankan kewajiban, padahal kitanya sendiri suka alpa sama kewajiban kita,” kata Gus Mut.

Baca juga:  Alhamdulillah, Tak Ada Pedagang Ayat-ayat Allah di Negeri Ini

Mas Is terdiam. Sejenak merenungi penjelasan Gus Mut.

“Ta, tapi kan menutup aurat itu adalah tanda sebagai seorang muslim yang taat. Syarat orang Islam itu menjalani segala perintah Allah, Gus,” kata Mas Is.

“Wah ya nggak begitu Mas Is cara mikirnya,” kata Gus Mut.

“Lah, ya harus begitu dong, Gus. Ini syarat jadi orang Islam. Kalau orang nggak mau menjalani perintah Allah kan ya buat apa dia jadi Islam? Simpel to?” kata Mas Is sedikit berapi-api.

Gus Mut lagi-lagi tersenyum.

“Memangnya menutup aurat itu nggak wajib, Gus? Kan ya walau gimana-gimana tafsirnya itu tetep wajib,” lanjut Mas Is.

“Iya, menutup aurat itu wajib, tapi ya bukan berarti kalau ada orang Islam nggak menjalaninya lalu otomatis keluar dari Islam begitu dong. Memangnya Mas Is sendiri sudah merasa melaksanakan semua perintah Allah?” kata Gus Mut.

Mas Is berhenti sejenak.

“Ya belum juga sih, tapi kan saya berusaha, Gus,” kata Mas Is.

“Nah, dalam usaha itu, kira-kira masih ada nggak salah-salahnnya? Kira-kira masih sering melakukan dosa nggak kita? Bahkan dosa yang kita sadari, tapi karena merasa itu dosanya nggak seberapa, lantas kita tetep melakukannya juga. Kayak ghosob sandal di masjid misalnya,” kata Gus Mut.

“Ya mungkin aja sih, Gus. Lagian manusia pasti punya dosa. Pasti ada lah. Emangnya kita Nabi apa. Bersih dari dosa,” kata Mas Is.

Baca juga:  Empat Prinsip Fitnes Untuk Menyelamatkan Generasi Micin Indonesia

“Ya makanya itu. Menutup aurat itu memang kewajiban, tapi jangan lantas kalau ada orang Islam belum menjalankan kewajiban itu lalu kamu cap jadi nggak Islam. Belum menjadi muslim yang sempurna—mungkin iya, tapi apakah dengan begitu tidak Islam? Ya nggak begitu dong,” kata Gus Mut.

Mas Is manggut-manggut, memerhatikan penjelasan Gus Mut.

“Menutup aurat itu kita pahami sebagai perintah Allah saja, bukan sebagai syarat seseorang disebut sebagai orang Islam. Itu beda banget lho,” kata Gus Mut.

“Memangnya apa bedanya? Perasaan sama aja deh,” kata Mas Is.

“Soalnya perintah itu lebih ringan ketimbang syarat, Mas Is,” kata Gus Mut.

“Maksudnya?”

“Ya kalau perintah itu kan konsekuensinya nggak sampai langsung keluar dari Islam. Sebagai orang yang melakukan dosa, iya. Orang meninggalkan salat wajib misalnya. Iya itu dosa, tapi apa iya orang itu tiba-tiba jadi keluar dari Islam? Harus syahadat lagi? Kan ya nggak juga.”

Mas Is masih memerhatikan, mencari celah untuk mendebat.

“Sebaliknya, kalau syarat itu cenderung lebih berat, karena kalau nggak dijalankan bikin kamu harus ngulangi dari awal lagi. Misalnya syarat sahnya salat kamu harus suci dari hadas, lalu kamu kentut, ya nggak sah itu salatmu. Diulangi lagi….

Lah kalau model begini mau kamu pakai buat menghukumi orang nggak pakai jilbab ya orang yang disebut murtad dari Islam bakal makin banyak dong. Kafir semua dong kita kalau melakukan dosa langsung jadi nggak Islam,” kata Gus Mut.

Mas Is cuma melongo, bingung mau mendebat bagaimana lagi.


*) Diolah dari penjelasan Gus Baha’

BACA JUGA Dalil pun Ada Jenis Kelaminnya, Lho! atau kisah-kisah Gus Mut lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles