Apa Gunanya Doa kalau Takdir Manusia Sudah Ditentukan?

Apa Gunanya Doa kalau Takdir Manusia Sudah Ditentukan?

Apa Gunanya Doa kalau Takdir Manusia Sudah Ditentukan?

MOJOK.COFanshuri merasa aneh dengan konsep takdir. Kalau memang manusia sudah ditentukan jalan hidupnya, lantas ngapain harus ada konsep doa?

Ketika mau bermain catur dengan Gus Mut, wajah Fanshuri tak seperti biasanya.

“Kamu ini kenapa, Fan? Kok wajahmu kayak habis diseruduk truk Pertamina gitu?” tanya Gus Mut bercanda.

“Lihat berita ini lho, Gus,” kata Fanshuri menunjukkan hapenya.

“Berita apa?” tanya Gus Mut.

“Kasus korona ini makin hari makin ngeri. Padahal saya pikir udah bakal kelar, malah sekarang ini jauh lebih parah ketimbang yang kemarin-kemarin,” kata Fanshuri lemas.

Gus Mut tak tersenyum. Apa yang dikhawatirkan Fanshuri itu ada benarnya, jadi Gus Mut ikutan jadi muram.

“Makanya itu saya suka bingung. Kita ini doa sudah, ikhtiar sudah walau ya nggak maksimal-maksimal banget, kalau akhirnya Gusti Allah menakdirkan kita semua kena korona, lantas gunanya kita doa buat apa, Gus?” protes Fanshuri.

Mendengar pertanyaan itu, senyum kembali merekah di bibir Gus Mut. Mata Gus Mut pun menatap Fanshuri dalam-dalam.

“Alhamdulillah,” kata Gus Mut.

“Lah kok malah ‘alhamdulillah’, panjenengan ini gimana to, Gus?” kata Fanshuri.

Kali ini Gus Mut terkekeh.

“Aku ini suka banget punya tetangga dan santri kayak kamu, Fan,” kata Gus Mut.

“Iya suka lah, cuma saya yang cukup jago di kampung sini buat diajak main catur Gus Mut terus-terusan,” kata Fanshuri.

“Bukan, bukan soal itu, Fan. Aku itu seneng karena kamu itu selalu kasih pertanyaan-pertanyaan yang nyegerin. Jadi selalu ada aja bahan obrolan yang menyenangkan,” kata Gus Mut.

Fanshuri tetap mbesengut.

“Ya kalau memang nyegerin, ya dijawab dong, Gus. Apa gunanya kita doa kalau takdir udah ditetapin sama Yang Maha Kuasa?” ulang Fanshuri.

Gus Mut membenarkan letak duduknya sejenak.

“Fan, doa sama takdir itu punya wilayah yang agak berbeda,” kata Gus Mut.

Mendengar itu Fanshuri kurang terima.

“Berbeda posisi gimana, Gus? Gini aja deh, misalnya saya berdoa biar bisa dapet istri cantik dan salehah, lalu kebetulan Gusti Allah ijabahi doa saya. Pertanyaannya, saya dapat istri cantik itu karena doa saya atau karena takdir Gusti Allah sebelum saya berdoa memang begitu? Itu kan kontradiktif sekali, Gus. Di satu sisi suruh doa sama ikhtiar, di sisi lain takdir kita udah ditentuin,” kata Fanshuri.

Gus Mut lagi-lagi terkekeh. Lalu kali ini dengan sengaja menjatuhkan papan caturnya ke lantai. Suara jatuhnya cukup mengagetkan. Pion-pion catur berhamburan.

Fanshuri kaget. Dia pikir Gus Mut jadi marah gara-gara pertanyaan itu.

“Lah, kok marah to, Gus?” tanya Fanshuri.

“Siapa yang marah? Ini aku mau kasih contoh,” kata Gus Mut.

“Hah?” Fanshuri bingung.

“Papan catur ini jatuh karena apa, Fan?” tanya Gus Mut.

“Ya karena panjenengan to, Gus. Dipikir pakai ilmu gaib apa bisa jatuh sendiri,” kata Fanshuri.

“Oh, berarti papan catur ini jatuh hari ini, pada pukul segini, di tempat ini, bukan karena takdir?” tanya Gus Mut lagi.

“Ya takdir juga, tapi lewatnya panjenengan,” kata Fanshuri.

“Kok kamu bisa bilang takdir?” tanya Gus Mut.

Fanshuri terhenti sejenak. Mikir.

“Ya karena udah terjadi,” Fanshuri makin bingung.

“Itu,” kata Gus Mut tiba-tiba sambil menunjuk.

“Itu? Itu apanya, Gus?” Fanshuri sudah kepengin meledak kepalanya.

“Kita baru bilang sesuatu disebut takdir itu setelah kejadiannya udah terlewat. Sebelum itu, manusia kayak kita belum bisa bilang itu takdir. Seperti jatuhnya papan catur ini. Karena udah kejadian, kita bisa dengan mantap bilang bahwa papan catur ini ditakdirkan jatuh,” kata Gus Mut.

Fanshuri masih terdiam.

“Artinya?” Fanshuri masih belum mengerti.

“Artinya, ketika kamu bilang bahwa pada akhirnya kita semua ditakdirkan kena korona, itu adalah kalimat yang berbahaya,” kata Gus Mut.

“Kok berbahaya?” tanya Fanshuri.

“Lah belum kejadian kok dibilang takdir. Memang kamu ini siapa? Malaikat?”

“Ya tapi kan bisa aja begitu takdirnya. Bisa aja memang takdir yang digariskan Tuhan kita semua kena korona, Gus,” kata Fanshuri.

Gus Mut lagi-lagi tersenyum.

“Nah, sikap kayak itu namanya sikap putus asa, Fan,” kata Gus Mut.

“Kok bisa?”

“Soalnya kamu memakai takdir untuk menutup-tutupi rasa putus asa. Pakai takdir buat menutupi rasa frustasi. Biar nggak kelihatan seperti orang yang putus asa, atau biar kelihatan religius, kamu mengarahkan kesalahan itu ke takdir, bukan ke kesalahan manusia sendiri,” kata Gus Mut.

Fanshuri terdiam lama. Mikir lagi. Bingung lagi.

Gus Mut melanjutkan, “Lagian bagaimana bisa kita mengklaim sesuatu disebut takdir kalau peristiwanya aja belum komplet? Belum selesai?”

“Lah kalau orang lahir miskin lalu di tengah kehidupannya bilang bahwa menderita itu adalah takdirnya? Apa iya itu salah, Gus?” tanya Fanshuri.

“Ya salah,” kata Gus Mut.

“Kok gitu, Gus?”

“Ya karena fase kehidupannya belum selesai. Bagaimana bisa dia menyimpulkan sesuatu yang belum selesai, Fan? Kehidupannya aja masih berjalan kok,” kata Gus Mut, “Sama kayak orang kaya. Merasa yakin bakal kaya selamanya. Lalu sampai nggak percaya takdir, dipikir kekayaannya hadir karena kerja kerasnya sendiri. Jadi kalau orang miskin menyalahkan takdir itu namanya putus asa, kalau orang kaya nggak mengimani takdir namanya takabur,” kata Gus Mut.

Fanshuri bergeming.

“Makanya, fungsi dari mengimani takdir bukan pakai caramu tadi itu, Fan. Kalau kamu lagi seneng dapat rezeki kamu harus ingat bahwa takdir kehidupanmu belum selesai, makanya disuruh bersyukur. Begitupun kalau kamu lagi susah dapat musibah, ya kamu juga harus ingat bahwa takdirmu belum kelar, kehidupan masih panjang, masih ada hari esok,” tambah Gus Mut.

“Oh, berarti maksud dari mengimani takdir itu arahnya selalu positif ya, Gus?”

“Lah ya memang, makanya kita diarahkan untuk selalu khusnudzon sama takdir dari Gusti Allah. Biar arahnya selalu positif,” kata Gus Mut.

“Lah kalau akhirnya berakhir negatif? Masuk neraka gitu, Gus, misalnya?” tanya Fanshuri lagi.

“Nggak bakal selesai perdebatan kita, Fan. Soalnya kamu selalu pakai ‘kalau’, pakai ‘jika’, selalu pakai pengandaian-pengandaian untuk menyebut takdir.”

Fanshuri sedikit paham, lalu terdiam sejenak.

“Kalau begitu, doa agar situasi bisa berubah lebih baik buat apa dong, Gus? Nggak fungsi dong?”

“Nah, di situlah poin aku bilang wilayah antara takdir dan doa itu sedikit berbeda, Fan. Doa itu wilayahnya karena kewajiban. Bukti ketundukan manusia sama Tuhan. Kita minta ini-itu dalam doa pun itungannya karena diperintahkan oleh-Nya kan? Salat saja asal bahasa apa, Fan?” tanya Gus Mut.

“Doa,” kata Fanshuri.

Gus Mut tersenyum.

“Kamu emang mau berhenti salat kalau misalnya nggak jadi dapat istri cantik dan salehah?”

“Ya nggak lah, Gus. Ngawur itu namanya.”

“Nah kan, kamu aja tahu kalau nggak gitu cara mainnya, Fan,” kata Gus Mut.

Fanshuri lalu cengengesan.

“Hawong takdir itu diimani biar kita percaya sama Yang Bikin, lah kok malah takdir diimani buat nyalahin Yang Bikin,” tutup Gus Mut.


*) Diolah dari penjelasan Gus Baha’ ketika mengkaji kitab Al-Hikam.

BACA JUGA Apakah Surga Hanya untuk Orang Islam Saja? atau kisah-kisah GUS MUT lainnya.

Exit mobile version