Walaupun tidak sepenuhnya berlangsung di bulan Juni, sebagian besar hari-hari puasa tahun ini berada di bawah naungan rasi bintang gemini. Tapi, tidak seperti kebanyakan orang yang berzodiak gemini yang umumnya bersifat tidak stabil, bulan puasa di Juni ini justru terasa adem ayem, bahkan nyaris tidak terasa kehebohannya.

Hal ini, pertama, kemungkinan besar karena puasa jatuh di bulan Juni sehingga orang-orang jadi lebih tabah, tidak seperti bulan puasa di tahun-tahun sebelumnya. (Judul tulisan ini tentu akan mengingatkan orang bahwa bulan Juni adalah bulannya penyair Sapardi Djoko Damono. Malah sebenarnya lebih tepat kalau dikatakan bahwa “tak ada yang lebih tabah daripada penyair Sapardi di bulan Juni.” Lha setiap bulan Juni nama Pak Sapardi selalu ditandai banyak orang di bawah puisi “Hujan Bulan Juni”-nya. Bisa dibayangkan bagaimana sibuknya beliau membuka-buka hapenya cuma buat membaca puisinya sendiri, lagi dan lagi.)

Kedua, bisa jadi karena bulan Juni selain dianggap sebagai bulannya penyair Sapardi, juga dikenal sebagai bulan Pancasila. Apalagi presiden kita, yang rajin bagi-bagi sepeda itu, memperkenalkan jargon baru, “Saya Indonesia, saya Pancasila.”

Alih-alih mengganti foto profilnya dengan gambar-gambar bernuansa Ramadan, netizen malah beramai-ramai membagikan gambar burung Garuda yang buat sebagian orang dianggap berhala dan thaghut.

Bulan puasa ini harus diakui memang agak berbeda. Tidak ada lagi ramai-ramai berita soal penutupan warung makan. Kalau bukan petugas Satpol PP-nya yang sudah capek, mungkin karena orang sudah sama-sama paham bahwa toleransi pada akhirnya punya dua sisi. Di tempat yang pemerintah daerahnya mewajibkan warung-warung tutup selama bulan puasa, orang bisa memamerkan betapa tolerannya warga mereka yang dengan “sukarela” menutup sendiri warung makannya. Sementara di daerah yang tidak punya peraturan seperti itu, orang juga bisa menyombongkan betapa tolerannya warga daerahnya yang tetap puasa walaupun warung makan tetap buka.

Baca juga:  Surat Kecil untuk Bung Karno

Mungkin buat warga di kedua daerah itu, hidup sudah seperti di surga. Asal pemerintah daerah masing-masing nggak aneh-aneh bikin studi banding atau program pertukaran penduduk saja. (Bisa-bisa keduanya langsung berasa dikirim ke neraka, dan media sosial kembali ramai dengan perdebatan soal buka tutupnya warung makan.)

Kalau razia warung biasanya ditanggapi oleh netizen dengan membagikan gambar-gambar makanan dan minuman di akun media sosialnya, tahun ini hal itu tidak terlalu dominan. Untuk soal yang satu ini kita patut mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Mark Zuckerberg yang menambahkan fasilitas background bergambar di status fesbuk.

Padahal, kalau mau direnungkan, sejatinya itu adalah ujian dari Mark buat umat fesbuknya. Yang sudah bisa membuat status ber-background diuji toleransinya, sementara yang belum bisa diuji kesabarannya. Pada dua ujian itu, kita terbukti gagal. Yang sudah bisa bolak-balik memamerkan status barunya, yang nggak bisa terus kepikiran gimana caranya bikin status kayak temennya.

Sungguh, di hadapan Mark Zuckerberg, kita adalah makhluk yang masih lemah iman fesbuknya ….

Yang juga membahagiakan dengan bulan puasa tahun ini adalah menurun drastisnya penyebaran berita hoax di media sosial. Mungkin karena orang sudah sadar bahwa berita hoax juga bisa mengurangi amalan puasa. Kalau kemudian hoax soal Mahapatih Gaj Ahmada justru menuai popularitasnya di bulan puasa ini. Mungkin sebenarnya diam-diam kita merindukan berita-berita hoax seperti kita merindukan Pak Harto.

Baca juga:  Mengapa Selalu Nyinyir dengan Cina?

Sepertinya memang ada kerinduan yang dalam antara kita dan berita hoax. Ketika pemerintah menyatakan perang dengan berita hoax, ketika di banyak kota dan media sosial bermunculan grup Turn Back Hoax, di lubuk hati yang paling dalam kita berharap kabar jadiannya Chelsea Islan dengan Bastian Coboy Junior hanyalah kabar hoax. Sepertinya, kita yang masih terguncang dengan kabar tunangannya Raisa belum siap dihantam dengan kabar buruk lain.

Pemerintah tampaknya merasakan kegelisahan hari kita itu. Merasa media sosial sepi dengan perdebatan dan adu urat, serta tren gonta-ganti background status mulai terasa mendrip-mendrip, Kemendikbud memunculkan ide sekolah 8 jam sehari, 5 hari seminggu. Media sosial di bulan puasa ini sempat ramai kembali dengan perdebatan sebelum akhirnya reda setelah Pak Jokowi bagi-bagi sepeda, ehm maksud saya, setelah membatalkan rencana itu.

Pada akhirnya puasa tahun ini tinggal menghitung hari. Tidak ada berita razia warung makan, yang membagikan gambar makanan dan minuman di media sosial tinggal sedikit, penyebaran berita hoax menurun, dan perdebatan mulai jarang.

Praktis ujian buat mereka yang berpuasa tinggal satu: THR. Yang sudah dapat diuji toleransinya, diharapkan tidak pamer, bahkan kalau bisa tidak lupa membayar zakat. Sementara yang belum dapat diuji kesabarannya. Jangan sampai pikiran soal THR mengurangi kekhusyukan ibadah puasa kita.

Setidaknya, rengginang di dalam kaleng Khong Guan belum dikenakan Pasal 378 dan KPK tidak menganggapnya sebagai penggelapan.

Komentar
Add Friend
No more articles