Tak Ada Bintang di Langit Betlehem, tapi Ada Sepiring Kematian di Depan Kita

Baca cerita sebelumnya di sini.

Saya bilang kepada Bambang bahwa album metal progresif terbaik di atas tahun 2000 adalah Kezia dari Protest the Hero dan ia harus mendengarkannya sebelum menceritakan sahabat SMA-nya, Kamu. Waktu itu tahun 2010, ia berusia 27 dan bekerja sebagai pegawai biasa di sebuah kantor di Jakarta Barat. Ia berangkat dari rumah di Bojonggede pukul setengah tujuh pagi, naik kereta ke Stasiun Tanah Abang, lalu melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum ke pusat bisnis di Meruya. Ia melakukan rutinitas itu selama tiga bulan, sampai gajinya cukup untuk membayar indekos di dekat kantornya.

Ia menyerahkan draft tulisannya, yang ia tulis sejak lulus SMA, untuk meminta masukan dari saya. Dari paragraf pertama saya sudah menduga antusiasmenya terhadap pesimisme dan dunia musik. Saya bertanya buku apa yang sudah ia baca enam bulan terakhir dan album musik apa yang sedang ia dengarkan. Ia menyebutkan satu nama, Arthur Schopenhauer, lalu menunjukkan ponselnya dan memperlihatkan album All’s Well That Ends Well dari Chiodos, kemudian menambahkan bahwa ini adalah album di atas tahun 2000 terbaik. Dua indikator itu menjelaskan segalanya, dari gerak-gerik yang serbacemas hingga mengapa tulisannya terlalu emo.

“Tuhan sudah mati,” katanya, “Kita ditinggal sendirian.”

“Ya, kalau sudah mati, lantas kenapa?” tanyaku, menjawab pernyataan yang sudah kedaluwarsa. “Lagi pula syarat mutlak untuk bisa mati itu pernah hidup, pernah ada.”

Dalam hal musik dan cara berpikir, Bambang perlu perbaikan.

Saya menyalakan stereo dan memutar No Stars Over Bethlehem, lagu pembuka di album Kezia. Ia terpesona pada dua puluh detik pertama, kemudian berubah sama sekali saat lagu memasuki menit satu dan ia meminta saya menghentikan lagu sebelum berakhir. Ia ingin mendengarkan musik, katanya mengomentari tempo ganjil di lagu itu, “Bukan mau belajar matematika.”

“Ini album konseptual,” ujar saya, “Album ini menceritakan Kezia, perempuan yang sedang menjalani eksekusi mati karena dituduh pendosa.”

Bambang rupanya tertarik dengan cerita itu, ia meminta saya menceritakan lebih banyak. Saya membuka laptop dan mencetak semua lirik dalam album itu. Setelah itu kami duduk berhadapan, membaca lirik baris demi baris dan saya berupaya menceritakannya dengan baik. Maksud saya, saya memang seorang penulis cerita fiksi, tetapi saya pencerita oral yang buruk. Kadang saya menceritakan bagian akhir lebih awal sehingga tak ada kejutan dalam cerita saya, kadang saya tertawa saat memikirkan hal lucu dalam cerita itu sehingga saya gagal menyajikannya dalam bentuk komedi kepada pendengar, dan kadang saya memikirkan sebuah cerita sedih terlalu jauh sehingga saya hanya sanggup berkata, ya, begitulah, tanpa menceritakan bagian sedihnya sehingga tak ada satu pun pendengar yang bersimpati. Saya berusaha menceritakan kisah Kezia sebaik-baiknya, artinya saya harus pula menceritakan bagian paling personal sehingga Bambang mengerti mengapa saya beranggapan bahwa Kezia layak dicintai dan kondisi di sekitar Kezia layak dibakar sampai jadi abu. Sampai jadi abu artinya kau cuma perlu mesin penyedot debu untuk melenyapkan mereka semua sebagai sentuhan akhir.

Setelah cerita selesai, enam jam kemudian, saya bertanya apakah Bambang sudah berubah pikiran. Ia menjawabnya dengan tafsir Kezia versinya sendiri, yang ternyata jauh lebih dalam dan gelap dari cerita saya, sehingga saya lebih percaya tafsir Kezia versi Bambang ketimbang orang-orang di internet. Orang ini, sekali pun lebih tua, ternyata memiliki sifat yang seperti seekor mongrel: gampang terluka. Saya tak tahu apa saja yang telah ia lewati, tak berani menduga-duga juga, karena terlanjur kasihan. Ia pulang dan berjanji akan memperbaiki ceritanya. Saya cuma mengingatkan bahwa apa yang selama ini ia yakini sebagai pandangan pesimisme agak melenceng dan rentan terperosok jurang fatalisme.

Empat tahun kemudian, pada 2014, Bambang datang dengan referensi bacaan lebih banyak dan musik yang lebih baik (masih melulu merujuk blues, tetapi kali itu ia tak datang sebagai anak emo kapiran). Ia membawakan saya novel Bagian Terbaiknya adalah Tak Ada Bagian Terbaik karya Arthur Harahap dan masih terobsesi dengan gim Shin Megami Tensei dan tema-tema runtuhnya peradaban manusia, tapi kali itu ia datang dengan wajah yang lebih hidup. Ia bilang ia baru menemukan humor. Saya bertanya humor yang seperti apa, dan ia menjawab, “Seperti film-film Jackie Chan, dan seperti ini:

Suatu malam di jalan raya dekat pantai seseorang mengantar temannya ke muka rumah. Ia menawari pinjaman helm, tetapi temannya, orang yang bersorban, menolak. Ia menganggap sorban dan Allah saja cukup buat melindunginya. Lagi pula jaraknya dekat, tak akan ada razia polisi.

Si orang bersorban melewati sebuah pelabuhan yang sepi. Jarak pandang yang terbatas membuatnya tak melihat seekor kraken sedang istirahat di laut dekat pelabuhan, tentakelnya yang superbesar melewati pagar pelabuhan dan ujungnya mendarat di tepi jalan. Si orang bersorban melindas ujung tentakel itu, ban depan motornya tergelincir, persis adegan seseorang terpeleset pisang. Orang bersorban melompat dan mendaratkan kepalanya lebih dulu. Aspal bukanlah lawan sepadan sorban, tetapi ia belum mati dan tak akan mati andai kraken tidak kesakitan dan mengayunkan tentakelnya ke sembarang arah. Tentakel itu menyapu si orang bersorban, ia terpental hingga ke atap rumah temannya. Temannya berlari mengambil helm dan mengganti sorbannya dengan helm, sambil berceramah tentang pentingnya helm. Namun, temannya sudah mati sehingga tak bisa mendengar nasihatnya. Orang bersorban itu kakekku.”

Saya ketawa kering, tetapi Bambang terbahak-bahak, jadi saya ikut tertawa keras. Saya tipe tuan rumah yang menghargai tamu. Empat tahun lewat dan Bambang sudah kena islamofobia, kata saya. Ia bilang ia tidak fobia, fobia mengesankan ketakutan berlebihan. Ia tidak merasa takut sedikit pun, ia hanya benci.

Bambang menceritakan bagaimana ia menghimpun kebencian terhadap apa saja selama beberapa tahun terakhir. Ia benar-benar menjadi fatalistis, tetapi dengan gaya seperti Idrus atau Vonnegut. Kesimpulan itu saya dapat setelah membaca seluruh naskahnya. Ada banyak perubahan, terutama bagaimana cara ia memandang sekitar. Ia bukan lagi seorang berusia tanggung yang merasa terjerat dalam jejaring nasib buruk dan gemar menyalahkan situasi, ia berubah menjadi seorang pemuda tanggung yang berteman dengan nasib buruk dan terputus dengan situasi. Tak terlibat, seperti seonggok karang di tepi laut.

“Seperti Kezia,” katanya.

“Kau tidak seperti Kezia,” ujarku, tertawa, “tapi bukan orang-orang di sekitar Kezia juga. Kau lebih mirip senapan yang dipakai untuk menembak Kezia.”

Baca cerita berikutnya di sini.

Exit mobile version