“Selama masih ada manusia, selama itu pula akan ada dunia persilatan; selama masih ada dunia persilatan, selama itu pula akan ada perselisihan.”

Itu kata orang Cina. Entah kondisi apa yang membuat orang-orang di negeri yang berpenduduk cuma 300-an juta jiwa itu—yang 1 miliar lainnya konon cuma bajakan—membuat pepatah semacam itu. Mungkin berselisih dan menyelesaikannya dengan jotos-jotosan memang kegemaran mereka sejak dulu.

Buktinya, kalau orang kita disuruh menyebut 5 nama tokoh paling terkenal dari Cina, paling-paling cuma Mao Zedong saja yang bukan jagoan kungfu. Empat yang lain kemungkinan akan diisi nama Jacky Chan, Jet Lee, Bruce Lee, Chou Yun Fat, sama Master Wong. Pesilat semua, kecuali ketua Mao tadi.

Seandainya hobi nenek-moyang orang Cina di masa lalu adalah memancing, mungkin pepatah itu akan berbunyi: “Selama masih ada manusia, selama itu pula akan ada kolam pemancingan; selama masih ada kolam pemancingan, selama itu pula akan ada Mancing Mania.” Agak nggak enak sih kedengarannya, tapi semua orang bakal mengamini: “Mantap!”

Nenek-moyang kita, orang Indonesia yang katanya dari Cina Selatan, konon punya hobi berbeda: gotong-royong. Mungkin karena hobi ini termasuk nyeleneh di Cina sana, jadi mereka memilih mengungsi ke negeri yang waktu itu dipimpin oleh duet maut Gaj Ahmada dan Ay Amwuruk.

Seandainya hobi gotong-royong ini dijadikan pepatah, bisa jadi dia akan berbunyi: “Selama masih ada manusia, selama itu pula akan ada gotong royong; selama masih ada gotong royong, selama itu pula akan ada kopi, rokok, dan gorengan gratisan.” Jauh lebih mulia daripada mengandaikan bahwa tawuran adalah sifat alami manusia.

Tapi belakangan ini negara kita rasa-rasanya kayak di ambang perang saudara. Setiap hari ada saja yang berantem di media sosial, berdebat nggak ada habisnya. Mungkin orang baru berhenti berdebat di media sosial kalau jempolnya sudah cantengan atau kram. Padahal katanya garam lagi mahal, mestinya kan tensi darah orang se-Indonesia Raya lagi turun semua.

Saya perhatikan semua ini terjadi sejak Pakde Jokowi jadi presiden. Bagi-bagi sepeda ternyata tidak bisa membuat semua orang bahagia. Salam tiga jari Jokowi-JK jadi terasa sia-sia. Saya curiga ini adalah efek samping dari kedatangan masif 10 juta tenaga kerja dari Cina. Jotos-jotosan, minimal dalam status dan komentar, menggeser hobi asli orang Indonesia yang suka gotong royong tadi.

BACA JUGA:  Jangan Pernah Berkecil Hati Ya, Pak Wiranto...

Masih untung 10 juta pekerja Cina tadi gak menggelar aksi ngumpul bareng di Monas. Bayangkan kalau mereka semua datang ke Monas membawa tongkat dan menggunduli kepala mereka seperti biksu Shaolin di film-film silat Mandarin lama, foto Jakarta dari atas bisa dikira orang dicetak di wartel yang printernya masih dot-matrix.

Tiga tahun Pak Jokowi berkuasa, ketegangan tidak juga mereda. Malah tambah panas setelah Anies Baswedan menggusur Ahok dari kursi gubernur Jakarta. Rekonsiliasi yang didengung-dengungkan Anies dan Sandiaga pun jadi seperti hati orang-orang yang kelamaan menjomblo: kosong, nggak ada apa-apanya kecuali sarang laba-laba. Itu pun laba-labanya udah pindah nggak tahu ke mana.

Pak Anies bukannya tidak berusaha. Walaupun nggak bagi-bagi sepeda, minimal salah satu jurkamnya Pandji Pragiwaksono yang dulu selalu bicara nasionalisme itu jadi rajin menjelaskan program-program gubernur baru ibukota. Ditambah lagi Tim Sinkronisasi yang dipimpin oleh Sudirman Said yang dulu sempat dianggap orang pahlawan di kasus papa minta saham. Toh nyatanya masih belum ada hasilnya juga.

Pakde Jokowi juga sama, beliau juga berusaha menyatukan Indonesia lagi. Minimal sekarang di mana-mana ada jalan tol, jadi Indonesia secara harfiah memang nyambung jadi satu. Selain bagi-bagi sepeda tadi, Pakde Jokowi menunjuk Pak Wiranto jadi Menkopolhukham. Mungkin karena beliau jago nyamar, jadi dikira Pak Jokowi beliau akan mudah diterima semua kalangan.

Celakanya, Pak Wiranto bergurunya sama Pak Harto yang dulu punya Kopkamtib untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Jadinya ya Perppu Ormas. Ide dilawan ide itu jargon jadul, sekarang ide harus dilawan pakai perppu. Kalau kata Bung Hatta, itu persatean, bukan persatuan. Soalnya, kalau persatean, jangankan ormas, rombongan manten dari Padjajaran saja bisa disikat sama Gaj Ahmada.

BACA JUGA:  Jokowi, Ahok, dan Kloset yang Ditukar

Celakanya lagi, Cak Nun sempat kepeleset juga. Buat yang non-muslim kayak saya, ini agak lucu-lucu gimana gitu. Lah, yang mau dibubarkan HTI tapi yang spaneng malah Jamaah Maiyah sama NU. Ini sama lucunya—sekali lagi dari kacamata seorang non-muslim—dengan rebutan klaim Aswaja. Padahal kalau nonton debat-debat di media sosial, yang satu nuduh lawannya Wahabi, yang dituduh balas menuduh lawannya Syiah atau liberal.

Tidak bisa tidak, negara kita sekarang ini sedang darurat rekonsiliasi.

Sebenarnya, salah satu kunci keberhasilan sebuah usaha rekonsiliasi, pertama sekali, adalah menunjuk orang yang tepat untuk jadi penengah. Nyatanya nama-nama tenar seperti Sudirman Said, Panji Pragiwaksono, atau Wiranto, masih belum berhasil menurunkan ketegangan di antara rakyat Indonesia, entah karena pilpres atau pilkada atau ormas keagamaan yang berbeda pandangan.

Lha wong kedatangan raja Arab ke sini saja tidak berhasil menghentikan bersliwerannya tuduh-tuduhan Wahabi, Syiah, liberal, dan lain sebagainya. Malah pada rebutan salaman dan ejek-ejekan lagi di media sosial.

Kalau boleh usul, satu nama yang layak dipertimbangkan oleh Pak Anies atau Pak Jokowi untuk mendamaikan rakyatnya adalah: Uya Kuya. Dengan slogan “yang punya problem kirimkan ke kami dan kami akan coba bantuin atau selesaikan”, nanti pihak-pihak yang bersitegang bisa diundang ke rumah beliau. Di sana uneg-uneg bisa disampaikan, semua ganjalan di dada akan jadi plong.

Jadi, balik ke soal pepatah tadi, kalau boleh usul lagi, untuk meredakan semua ketegangan di antara kita sebaiknya kita juga memasyarakatkan semboyan: “Selama masih ada manusia, selama itu pula akan ada perselisihan; selama masih ada perselisihan, datang saja ke Rumah Uya.”

Tinggal satu hal lagi yang harus kita pastikan bersama: Umi Yuyun di Rumah Uya adalah benar Umi Yuyun. Jangan sampai Umi Yuyun ternyata Pak Wiranto yang menyamar. Bisa-bisa nasihat yang seharusnya menyejukkan dan berbeda-beda untuk permasalahan yang berbeda pula dari Umi Yuyun jadi sama semua di setiap episodenya: bubarkan!

Komentar
Add Friend
No more articles