MOJOK.CO – ASUS ROG Zephyrus G14 boleh diadu dengan laptop gaming, laptop premium, dan desktop gaming. Hasilnya, Zephyrus G14 menjadi pemenangnya.

AMD memang terkenal murah dan banyak digunakan gamers, tetapi performanya sering “bercanda”. Seri FX cepat panas dan boros daya, Seri A katanya punya core banyak tapi bohong, Ryzen generasi pertama sampai ketiga belum bisa bersaing. Namun Kini, Ryzen generasi empat benar-benar sukses membalik wajah AMD dan menundukkan Intel!

Kerja keras AMD membuahkan hasil. Prosesor laptop Ryzen 9 4900HS berdaya 35W di ASUS ROG Zephyrus G14 yang tipis sanggup mengalahkan Intel Core i9-9880H berdaya 90W dan Intel Core i7-10875H berdaya 62W di laptop gaming yang jauh lebih besar, berat, dan menghabiskan kocek.

Bahkan, dikatakan bahwa prosesor tersebut juga sukses menekuk para high-end desktop. Berkat pencapaian ini, APU Ryzen 4000 Series kini dicari oleh para gamers dan content creators, termasuk “kelompok Sultan” yang dari dulu menganakemaskan Intel.

Juni mendatang, ASUS ROG Zephyrus G14 akan resmi hadir. Handika DK-ID, YouTuber sekaligus penjual laptop di Malang, membocorkan varian yang datang, lengkap dengan harganya. Jumlah unit yang datang tidak banyak, sehingga preorder sudah dibuka. Daripada penasaran, mari kita ulas, seberapa worth it-kah dia?

ASUS ROG Zephyrus G14 GA502IU-R966B6T, ini dia sang jawara versi Indonesia seharga Rp26 juta kurang seribu dengan prosesor Ryzen 9 4900HS. Anda sudah mendapatkan layar 144Hz, SSD besar 1TB untuk menginstal berbagai aplikasi content editing dan games, tetapi resolusi layar mentok di Full HD. RAM dan GPU-nya pun tak seindah versi luar negeri, turun dari kombinasi 16GB-RTX2060 Max-Q ke 8GB-GTX1660Ti Max-Q.

Daya hemat, kerja prosesor ASUS ROG Zephyrus G14 hebat, Intel lewat!

Dengan daya standar prosesor 35W, laptop ini mampu menang dalam hal content editing melawan prosesor gaming Intel Core i7-10875H berdaya 45W. Kecuali untuk kebutuhan single-thread seperti Microsoft Excel, Adobe Acrobat PDF, dan kalkulasi numerik dengan proses iteratif serta rekursif, juga untuk aplikasi yang masih  menganaktirikan AMD, Ryzen 9 memang kalah tetapi tidak parah-parah amat. Yang paling penting, si ASUS ROG Zephyrus G14 Ryzen 9 menghabiskan daya yang lebih rendah.

Menurut UserBenchmark, satu-satunya prosesor Intel yang sanggup bersaing melawan si Ryzen 9 adalah Core i9-10980HK berdaya 65W. Itu pun, selisih performa efektifnya tidak besar dan keunggulan si Core i9 hanyalah kestabilan bermain di clock speed tinggi.

Lah, kan sesekali laptopnya bisa jadi hanya kita pakai untuk browsing, baca e-books, mendengarkan Spotify, menonton YouTube, ya kan?

Lebih parahnya lagi, kartu grafis terintegrasi si Core i9 masih mengandalkan Intel UHD Graphics 630 keluaran 2017, kalah jauh dari Vega terbaru di Ryzen 9. Ini penting agar ketika laptop membutuhkan performa grafis yang sedikit berat, tidak langsung merengek tenaga ke kartu grafis eksternal yang ujung-ujungnya membuat konsumsi daya menjadi boros. Ditambah lagi, Core i9 dibangun dengan arsitektur 14nm dan ASUS ROG Zephyrus G14 Ryzen 9 dibangun dengan arsitektur 7nm.

Menurut pengulas CNet dan The Verge, tak mengherankan jika untuk pekerjaan harian, Ryzen 9 sanggup bertahan lima (dengan kecerahan layar standar) hingga sebelas jam (dengan kecerahan layar yang minim) dalam sekali pengecasan penuh. Baterai terisi dalam empat puluh menit hingga satu jam baik dengan adaptor ASUS maupun USB-C yang berdaya 60W.

Baca juga:  Asus TUF Gaming A15 FX506, Laptop Gaming Entry Level Murah dengan Spek Gahar

Hal itu berarti sama saja dengan ASUS VivoBook saya dengan prosesor Intel Core i5-8250U berdaya 15W yang jauh lebih lambat. Dikatakan bahwa kipas Ryzen 9 cukup berisik, tetapi bisa didiamkan dengan silent mode. Ya sama saja dengan Core i5 saya, kalau kipasnya diam mudah sekali nge-lag sekalipun hanya buka Chrome dan ujung-ujungnya kipas berisik juga.

Kartu grafis disunat, tetapi tetap hebat

Bagaimana dengan kartu grafisnya? GTX1660Ti Max-Q yang digunakan untuk versi Indonesia dibekali dengan VRAM 6GB GDDR6. Performanya berkisar antara lebih rendah 28% sampai lebih tinggi 28% juga dari RTX2060 Max-Q yang digunakan di versi luar negeri berdasarkan pengujian oleh NotebookCheck, hanya saja secara rerata GTX1660Ti tetap kalah sekitar 14%.

Perlu dicatat lagi bahwa versi GPU adalah Max-Q yang didesain untuk tetap adem dan hemat daya di laptop gaming tipis, clock speed-nya lebih rendah dari versi mobile dan pasti jauh lebih tertinggal dari versi desktop. Secara rerata, si Max-Q tertinggal 14% dari versi mobile dan lebih jauh lagi dari versi desktop-nya. Dibandingkan terhadap AMD versi mobile, posisinya ada di antara Radeon RX5500M dan RX5600M. Dibandingkan terhadap versi desktop, dia masih unggul dari NVIDIA Quadro P4000 dan AMD Radeon RX5500XT.

Untuk mengeluarkan potensi dari GPU ini, Anda harus menggunakan adaptor khusus berdaya 180W dari ASUS. Baterai laptop tak akan sanggup menggelontorkan daya 100W, ya padahal sudah versi Max-Q, untuk memberikan tampilan menawan nan mulus dalam memainkan game. Jika Anda nekat mengandalkan baterai, jangan kaget jika frame rate yang didapat tak berbeda dengan laptop biasa dan baterai pun cepat habis.

Tidak ada Thunderbolt, tidak ada webcam, tetapi tidak masalah bagi mereka yang tidak membutuhkannya

Selebihnya, untuk laptop dengan ketebalan 17.9 mm dan berat 1.6 kg saja, alias sama dengan VivoBook saya, ASUS ROG Zephyrus G14 adalah laptop yang cukup menyenangkan dengan tersedianya dua port USB-A, dua port USB-C, HDMI, dan jack 3.5 mm. Port Thunderbolt 3 memang tidak ada untuk mengakses perangkat berkecepatan tinggi, tetapi bagi saya tidak terlalu bermasalah karena dia masih agak jarang digunakan. GPU laptop ini sudah cukup mumpuni sehingga tak perlu lagi eGPU.

Yang paling menyesakkan adalah, ASUS ROG Zephyrus G14 ini tidak memiliki webcam! Bagi para gamer yang gemar membuat konten video dengan reaksi wajahnya sendiri, selamat membeli kamera terpisah dan ini cukup merepotkan.

Jika laptop hendak dipakai untuk meeting online atau video call sehari-hari, juga harus repot dengan kamera terpisah. Meskipun demikian, tidak adanya webcam ini mungkin disyukuri oleh mereka yang sangat peduli dengan privasi, yang selama ini webcam di laptopnya malah sampai dilakban hitam!

Upgrade ASUS ROG Zephyrus G14 untuk performa maksimal

Kembali ke penggunaan gaming, apa saja yang masih perlu ditingkatkan dari si Zephyrus? Pertama, jelas RAM. Laptop gaming seharga Rp20 jutaan dengan RAM 8GB (jika benar) tentu sukses membuat saya tertawa. VivoBook dengan RAM 8GB saja sering kekurangan memori jika membuka beberapa tab di Google Chrome, apalagi untuk memainkan game kelas atas di mana RAM 8GB ini barulah spesifikasi minimum.

Meskipun kanal Gorioris di YouTube nyaman memainkan MotoGP 2020 dengan RAM 8GB, tetap saja saya menyarankan Anda untuk upgrade dengan membeli satu keping DDR4 3200MHz berkapasitas 8GB, hanya Rp600 ribuan. Kedua, webcam terpisah, dengan resolusi Full HD hanya Rp1.1 jutaan. Siapa tahu di kemudian hari Anda tertarik menjadi YouTuber dengan menyertakan wajah. Totalnya, Anda membutuhkan sekitar Rp28 juta.

Baca juga:  Sayang Orang Tua Tidak Menghalangi Kita untuk Membohongi Mereka. Kenapa Ya?

Laptop AMD, Rp26 juta, worth it? Ya, bahkan tetap lebih baik dibandingkan membeli desktop!

Pertanyaan berikutnya, apakah ASUS ROG Zephyrus G14 worth it? Jika dibandingkan dengan ASUS ROG Zephyrus S GX531GM – I7614T seharga Rp31 juta, jelas worth it. Dengan prosesor Intel Core i7 generasi ke-8 dan GPU GeForce GTX1060 yang lebih tertinggal, juga dengan baterai yang lebih kecil, layar yang lebih besar, dan bobot yang lebih berat, dia tak bisa menjadi daily driver. Dibandingkan terhadap MSI P65 9SD-864ID dengan dimensi yang sama-sama kompak, GPU berperforma setara, dan prosesor naik ke Intel Core i7 generasi ke-9 seharga Rp29 juta pun, ASUS ROG Zephyrus G14 dengan prosesor AMD tetap unggul dengan kemampuan multicore yang jauh melesat.

Melawan sesama laptop gaming, Zephyrus G14 menang telak. Mau performa yang mendekati dengan Intel Core i9 generasi ke-9? Siapkan kocek paling tidak Rp65 juta. Mending beli mobil bekas, bosku.

Bagaimana ketika melawan laptop premium berbasis Windows? Huawei Matebook X Pro memang tampil lebih kece dengan layar sentuh beresolusi 3K dan pop-up webcam ala-ala smartphone kekinian, tetapi prosesor Core i7-10510U (ingat U), GPU yang kalah telak (GeForce MX250), dan harga Rp31 juta itu menyesakkan.

Asus ZenBook Duo UX484 lebih murah sekitar Rp5 jutaan dengan ScreenPad ala-ala Touch Bar di Macbook Pro. Namun, spesifikasi setara Matebook X Pro 2020 yang kalah jauh sulit ditutupi dengan layar sentuh kecil seperti itu.

Masalahnya, performa maksimal, kan, hanya bisa diekstrak dengan menjadi sahabat stopkontak, yang itu berarti game hanya bebas dimainkan di rumah, apartemen, kosan, atau di mana saja tempat tinggal Anda. Berarti, bermain game di laptop ini tidak berbeda jauh menggunakan desktop, selain tentunya daya yang jauh lebih hemat. Ya, akan saya bandingkan juga dengan desktop rakitan berperforma setara.

Mari kita simulasikan sebuah desktop dengan prosesor Intel Core i7-9700K, RAM 8GB, GPU AMD Radeon RX590, SSD 1TB, konektivitas WiFi, layar 144Hz, dan sistem operasi Windows 10 asli. Harga yang harus dirogoh dengan seluruh komponen dipilih semurah mungkin adalah Rp23.5 juta, tentu dengan layar yang lebih besar berukuran 24 inch sehingga gaming lebih mantap.

Dengan sisa uang Rp2.5 juta, bagaimana mendapatkan laptop baru yang juga mumpuni? Mungkin, dana demikian hanya cukup untuk membeli laptop berprosesor Intel Celeron, RAM 2GB, dan penyimpanan berjenis HDD. Sekalipun hanya digunakan untuk browsing, dijamin Anda akan kesal dengan segala kelambatannya.

Sekarang, semuanya kembali kepada para gamers dan content creators. Berminat membeli laptop ASUS ROG Zephyrus G14 ini? Mahal sih, tetapi masih jauh lebih berguna dibandingkan memboyong pulang Samsung Galaxy Fold, misalnya. Daily driver bisa, penghibur sederhana di rumah bisa, gaming bisa, content creating juga bisa.

BACA JUGA Bandingin AMD Ryzen vs Intel Nggak Bakal Bikin Bingung, Pemenangnya Jelas atau ulasan gadget lainnya di rubrik KONTER.