Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Balbalan

Edy Rahmayadi Mundur, Joko Driyono Naik: Menantikan Rubuhnya Rumah Tua

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
21 Januari 2019
A A
pelatih timnas mojok.co

Ilustrasi logo PSSI. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Edy Rahmayadi mundur dan digantikan Joko Driyono. Kapankah rumah tua, penuh debu, dan sarang laba-laba itu rubuh? Kuncinya ada di klub dan suporter.

Kongres PSSI (20/1) yang lalu dikejutkan dengan keputusan mundurnya Edy Rahmayadi dari posisi Ketua Umum. Pak Edy, yang selama ini merasa mampu double job, berubah pikiran. Beliau merasa gagal menjalankan amanat sebagai Ketum PSSI. Keputusan “legowo” diambil. Edy Rahmayadi mundur, untuk kemudian digantikan Joko Driyono.

Iklan

Sorak kepuasan ketika Edy Rahmayadi mundur hanya berlangsung sepersekian detik. Sorakan itu lantas teredam ketika Pak Edy meminta Joko Driyono untuk naik ke mimbar. Secara simbolis, Edy menyerahkan pataka PSSI kepada Joko Driyono. Maka sah, Pak Joko menjadi plt Ketum PSSI sampai Kongres Luar Biasa dilaksanakan.

Tak berselang lama, tagar #JokdriOut menjadi trending topic di Twitter. Kecewa, banyak netizen menyangkan Joko Driyono yang naik jabatan. Akun @Footballnesia mengabarkan bahwa hanya ada tiga klub yang “tidak sejalan” dengan visi ini. Mereka adalah Persik Kediri, Madura FC, dan Persib Bandung. Sampai di sini, ada satu hal yang perlu diketahui dan dipahami. Sudah gatal ingin revolusi, tapi jangan sampai bikin kita memprotes menggunakan jalan yang salah.

Adalah Ram Surahman, perwakilan Persebaya Surabaya, memberikan penjelasan yang benderang.

Pertama, secara otomatis, Joko Driyono naik menjadi Ketum PSSI setelah ketua sebelumnya mengundurkan diri karena itu amanah statuta. Apalagi, di Kongres PSSI kemarin, tidak ada agenda pemilihan ketua. Jika bersikeras melakukan pemilihan ketua, semuanya justru melanggar aturan.

Kedua, pemilihan ketua hanya bisa dilakukan lewat KLB, lewat dua jalur, yaitu keputusan Exco PSSI atau permintaan tertulis dari 2/3 voters. Nah, sudah jelas bukan kita perlu berjuang dari arah mana?

Andie Peci, Koordinator Suporter yang datang ke Kongres PSSI menegaskan dua hal. Pertama, lewat Twitter pribadinya, Cak Andie menegaskan bahwa perubahan tidak bisa hanya dilakukan lewat retorika. Keberanian itu harus dilatih.

Kedua, pengurus lama yang masih ada di PSSI sudah seharusnya untuk mundur. “Kami memang tidak bisa menjamin orang-orang baru dapat membawa perubahan. Namun, orang-orang lama yang sudah bertahun-tahun berada di dalam jelas tidak menghasilkan sesuatu untuk perubahan sepak bola nasional,” tegas Andie Peci seperti dikutip oleh Tirto.

Andie Peci juga menambahkan bahwa para pengurus lama ini sudah tidak mendapatkan kepercayaan dari banyak suporter. kepercayaan yang dimaksud adalah membersihkan PSSI dari banyaknya kasus pengaturan skor. Pengurus lama ini sudah tidak mungkin lagi menyelesaikan masalah ini.

Dan percayalah, banyak orang yang punya pemikiran yang sama. Salah satu buktinya adalah naiknya tagar #JokdriOut ketika Joko Driyono secara otomatis naik menjadi Ketua Umum. Jadi, dari fakta di atas, ada dua hal yang bisa dilakukan oleh suporter.

Pertama, mendesak klub masing-masing, yang tergabung dalam “voters” untuk tidak lagi memberikan suara kepada orang-orang lama. Suara dari suporter, sampai saat ini, terasa sangat sulit menembus “lapis Exco” karena dikuasai “itu-itu saja”. Oleh sebab itu, menyamakan persepsi menjadi satu gelombang besar adalah jalan masuk akal untuk ditempuh.

Ketika, misalnya, Persebaya Surabaya tidak bisa berbuat banyak di Kongres PSSI yang lalu, mereka bisa menjadi garda terdepan untuk mengawal gelombang perubahan menjelang KLB. Atau bisa klub mana saja sebetulnya. Asalkan terjadi konsolidasi nasional untuk secara nyata bergerak bersama membuat perubahan.

Saya rasa, hanya ini jalan paling mudah untuk ditempuh. Menjagakan perubahan kepada Exco sama saja menunggu matahari terbit dari selatan. Saat ini saja, sudah tiga anggota Exco dicokok Satgas Antimafia Sepak Bola. Mereka adalah Johar Ling Eng, Hidayat, dan Papat Yunisal. Kita tidak bisa mempercayakan perubahan apalagi ketika ke depan, misalnya, ada anggota Exco lagi yang diborgol Satgas.

Masa depan sepak bola sedang berada di sebuah titik di mana hanya klub yang bisa membuat perubahan nyata. Klub, yang di dalamnya bernaung suporter yang punya kekuatan besar melahirkan gelombang Tsunami perubahan. Suporter, yang bisa dilakukan, adalah memberikan tegakan kepada klub untuk tidak lagi “berurusan” dengan orang-orang lama.

Keberanian, setidaknya tidak hanya ditunjukkan dengan kekerasan sepeti ketika melihat suporter lawan. Keberanian suporter sebaiknya juga terlihat ketika klub punya daya besar untuk menghadirkan Tsunami perubahan. Mengubah “akan” menjadi “ayo” di sepak bola Indonesia ini sangat sulit dilakukan.

PSSI ini seperti rumah tua yang penuh debu dan sarang laba-laba. Penghuni rumah tua itu pastinya enggan melakukan pembersihan karena mereka nyaman dengan debu dan sarang laba-laba. Demi kesehatan, hanya orang luar yang bisa membersihkan rumah usang itu dan merestorasinya menjadi rumah nyaman untuk semua orang.

Apakah kita bisa (dan mau) melakukannya?

Terakhir diperbarui pada 21 Januari 2019 oleh

Tags: edy rahmayadijoko driyonoLiga 1 IndonesiaPSSI
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

24 Agustus 2026
Perempuan-Perempuan Cilik Merawat Asa Timnas di Tengah Kekosongan Ekosistem Profesional, MLSC.mojok.co

Perempuan-Perempuan Cilik Merawat Asa Timnas di Tengah Kekosongan Ekosistem Profesional

30 Juni 2026
Ketum PSSI Erick Thohir dan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi bahas soal Liga 3 dan Liga 4 di Jawa Tengah MOJOK.CO

Liga 3 dan 4 bakal Bergulir di Jawa Tengah, Bina Bakat-bakat Muda dari Desa…

8 Agustus 2025
Kalau gue jadi Patrick Kluivert, gue nggak mau menjadi pelatih Timnas Indonesia gantikan Shin Tae Yong karena Ketum PSSI Erick Thohir problematik MOJOK.CO

Kalau Jadi Patrick Kluivert Gue Nggak Mau Kerja sama Erick Thohir yang Interview Kerja di Hari Raya, Tak Punya Value dan Tak Tahu Batas

9 Januari 2025

Ingatan Memalukan di Stadion Bahrain 12 Tahun Silam, Catatan dari Era Bobrok PSSI

10 Oktober 2024
Liga 3 Faktanya, Liga Malaysia Jauh Meninggalkan Kita MOJOK.CO

Memaksimalkan Liga 3 Sebagai Cara untuk Mengejar Ketertinggalan dari Sepak Bola Malaysia

11 September 2023
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026
budidaya kenari

Perjuangan Bapak Hobi Kicau Mania: Dari Budidaya Kenari, Bisa Hantarkan Anak Meraih Gelar Sarjana 

26 Agustus 2026
pegawai BPO

Lulusan Magister Biologi Rela jadi Pegawai BPO di Tanah Rantau Agar Tidak Dianggap Pengangguran dan Bikin Orang Tua Menderita

26 Agustus 2026
4 tradisi hajatan di Rembang (bancaan) yang terdengar asing bagi orang daerah lain MOJOK.CO

4 Tradisi Hajatan di Rembang yang Bikin Heran Orang Daerah Lain: Terkesan Ada-ada Saja, Terlalu Detail ke Banyak Urusan

27 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.