• 96
    Shares

Tanya

Dear mojok,

Nama saya Nail, perempuan, sebenarnya belum resmi lulus kuliah, tapi sekarang sudah bekerja di sebuah tempat menyenangkan di Yogyakarta.

Seperti anak muda pada umumnya, bekerja dan menjadi orang dewasa adalah hal yang sangat baru bagi saya. Maklum, selama ini saya terbiasa untuk berlindung dengan status ‘anak sekolah’ ketika orang-orang dewasa di sekitar saya membicarakan hal-hal serius seperti pekerjaan, kewajiban, atau pasangan.

Misal, ketika ditanya “Sudah kerja nak?” oleh tetangga, saya bisa jawab “Masih sekolah bu hehe”, atau ketika ditanya “Mana pacarnya?” maka tinggal saya jawab “Masih sekolah bu, focus belajar hehe”. Dan sebagai anak yang cukup manja, saya terbiasa mengatakan “tidak bisa” ketika diminta mengerjakan sesuatu yang tidak saya sukai, biasanya akan ada orang lain yang sukarela membantu atau menggantikan.

Tapi setelah bekerja, semuanya menjadi berbeda, saya menemukan bahwa saya harus bertanggung jawab terhadap diri saya sendiri dan pekerjaan saya, tidak bisa mengandalkan orang lain atau berharap ingin dibantu. Awalnya saya pikir itu mudah, tapi ternyata susah. Berkali-kali saya menemukan diri saya sendiri menangis ketakutan karena takut mengacau atau membuat kesalahan.

Saya merasa kesalahan kecil yang saya lakukan tidak termaafkan dan menghambat banyak orang–yang pada akhirnya akan membuat saya kehilangan pekerjaan yang menyenangkan ini. Tapi tentu saja itu hanya ada dalam pikiran saya, karena beberapa kali saya diyakinkan bahwa orang kantor maklum dan tidak terlalu mempermasalahkan kesalahan itu.

Dan belakangan ini, semuanya menjadi semakin buruk, lama-kelamaan saya semakin meragukan kemampuan saya sendiri, merasa bahwa saya tidak cukup baik, dan pada akhirnya akan mengecewakan banyak orang. Yang membuat ini semakin menyeramkan adalah ketika rasa takut itu datang, pikiran-pikiran bahwa saya akan mengacau membuat saya semakin tidak ingin melakukan apapun, saya mengurung diri, membiarkan diri saya kelaparan dan memilih untuk tidur (dalam jangka waktu yang tidak normal, bisa sampai 18 jam) dengan harapan saya akan bangun dan merasa baikan. Tapi, ternyata saya tidak baikan.

Saya bingung Mojok, padahal hidup saya ini menyenangkan, saya menyukai pekerjaan saya, tapi saya merasa semuanya jadi berantakan. Apa yang harus saya lakukan agar terbebas dari serangan ketakutan yang tidak masuk akal ini?

Terima kasih banyak Mojok

Jawab

Dear Nail, terima kasih telah berbagi kisahmu bersama kami. Kisahmu yang memasuki perubahan dalam kehidupan kerja namun diselimuti rasa cemas dan takut di dalamnya.

Perlu diketahui bahwa adaptasi dengan lingkungan yang baru tentu selalu menjadi tantangan bahkan bagi mereka yang katanya mudah beradaptasi. Tetap akan ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kebiasaan kita, akan ada sesuatu yang bertolak belakang dengan kepribadian kita. Belum lagi, kita harus terbiasa dengan hal yang di luar ekspektasi. Lingkungan baru sering menghadirkan kejutan tidak terduga. Kita dipaksa siap untuk apapun yang hadir di hadapan kita.

Beradaptasi dengan lingkungan baru berarti mengharuskan kita untuk keluar dari zona nyaman. Yang mungkin biasanya terbiasa dengan lingkungan yang manja, kali ini kita dilatih untuk mandiri dan mampu membuat keputusan. Adalah hal yang wajar jika dalam prosesnya kita dilanda kekhawatiran dan rasa takut. Lingkungan baru tentu datang dengan pengharapannya sendiri. Wajar jika kita kadang meragukan diri sendiri: apakah kita mampu memenuhi harapan yang ada?

Baca juga:  Departemen yang Cocok untuk Lalu Muhammad Zohri jika Jadi ASN

Namun, semua menjadi buruk ketika ternyata pikiran kita hanya diisi oleh rasa khawatir dan takut. Rasanya kepercayaan diri menguap begitu saja. Kita yang dulu yakin dengan pilihan kita untuk menerima tanggung jawab baru – dengan memasuki dunia kerja – mendadak meragu. Semua ini akhirnya mengambil alih kemampuan kita untuk bisa produktif bekerja. Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi kekhawatiran ini?

Banyak Khawatir dan Cemas Yang Hanya Hidup dalam Pikiran Kita Sendiri

Pikiran kita sering kali menjadi tempat yang kejam untuk diri kita sendiri. Seringkali kita memikirkan sesuatu secara terus-menerus hingga menyebabkan munculnya emosi negatif dalam diri. Emosi negatif seperti khawatir, cemas dan perasaan bersalah yang menyelimuti diri. Tugas kita adalah menyaring mana yang sebenarnya memang pantas untuk dikhawatirkan, mana yang tidak. Ini akan menjadi tugas yang berat ketika kita masih belum dalam keadaan tenang. Jadi, yang harus dilakukan pertama adalah menenangkan diri sendiri dulu. Yakinkan diri bahwa semua tetap akan baik-baik saja.

Saat kita sudah tenang, baru uraikan semua kekhawatiran tadi. Cari tahu sumber cemasmu, lalu pertimbangkan risikonya. Apakah risiko itu memang pasti akan terjadi atau semua hanya pemikiran abstrak yang belum tentu akan terjadi? Setelah berhasil menguraikan semua kemelut pikiran, kamu akan menyadari betapa banyak cemas dan takut yang sebenarnya hanya milik pikiranmu sendiri.

Yakinkan Diri Bahwa Kamu Sangat Mampu untuk Menyelesaikan Pekerjaanmu

Masuk ke lingkungan kerja bisa membawa banyak kejutan. Mungkin awalnya kita merasa yakin mampu menyelesaikan pekerjaan yang diberikan. Namun adaptasi bukanlah hal yang mudah. Kita dituntut untuk menyesuaikan diri ke lingkungan yang baru sambil melaksanakan tanggung jawab pekerjaan. Kecemasan yang muncul di masa adaptasi menurunkan keyakinan diri untuk bisa menyelesaikan pekerjaan.

Sekali lagi, bisa saja pemikiran bahwa kamu tidak bisa menyelesaikan pekerjaanmu hanya hidup dalam alam ketakutanmu. Yakinkan diri sendiri bahwa kamu mampu menyelesaikan pekerjaan yang diberikan padamu. Toh, kamu pasti sudah mempertimbangkan dengan sangat baik sebelum kamu memutuskan untuk mengambil pekerjaan yang sekarang kamu miliki. Ditambah lagi, rekan kerjamu memaklumi dan tidak mempermasalahkan kinerjamu selama ini. Kembalikan kepercayaan diri itu sebagaimana saat kamu memutuskan untuk melamar pekerjaan.

Sadari Bahwa Mengurung Diri Bukanlah Jalan Keluar

Mengurung diri berjam-jam tidak akan menyelesaikan masalah. Kamu justru membiarkan dirimu tenggelam semakin dalam di ruang pikir yang sebenarnya butuh penyegaran. Hal yang bisa coba kamu lakukan adalah mencari penghiburan untuk diri sendiri. Tentu saja, kamu boleh menyendiri untuk menenangkan pikiran. Berdiam diri tetap merupakan hal esensial yang penting dilakukan untuk kestabilan pikiran dan emosi.

Akan tetapi, hanya tiduran, menghukum diri sendiri dengan tidak makan, bukan cara yang benar untuk menjadi lebih baik. Keluar dari kamar, lakukan hal yang membuatmu bahagia. Tidak harus bersama teman. Kadang quality time di luar rumah dengan diri sendiri perlu dilakukan. Beraktivitas di luar rumah, bisa dengan berolahraga atau hanya sekedar jalan-jalan sendirian, bisa membantu kamu merasa lebih baik.

Baca juga:  Arti di Balik Kata “Terserah”: 3 Panduan Memahami Sikap Perempuan

Lakukan Hal yang Menyenangkan untuk Diri sendiri di Tengah Pekerjaan

Tumpukan pekerjaan bisa membuat kita jenuh. Khawatir dan cemas bisa berawal dari kejenuhan itu. Jenuh ini bisa saja tidak kita sadari karena kita berulang kali meyakinkan diri sendiri bahwa pekerjaan kita adalah pekerjaan yang menyenangkan. Padahal, pekerjaan paling menyenangkan sekalipun akan memiliki titik jenuhnya sendiri.

Di sisi lain, terkadang kita merasa beristirahat sejenak di tengah kesibukan bekerja adalah pilihan yang salah. Pilihan salah karena seolah membuang efektivitas waktu bekerja secara sia-sia. Akan tetapi, meluangkan waktu sejenak saat bekerja justru bisa meningkatkan kembali produktivitas bekerja.

Ambil break 5-10 menit di tengah penyelesaian pekerjaan untuk titik refresh diri. Sederhana saja, berjalan-jalan keliling ruang kerja. Mengganti tampilan layar komputer dengan gambar-gambar menyenangkan bisa juga menjadi pilihan. Mendengarkan musik dan bernyanyi juga bisa menghilangkan jenuhmu. Break 5-10 menit di antara kerja berjam-jam tidak akan mengecewakan siapapun. Percayalah.

Jika Memang Mengalami Kesulitan di Pekerjaan, Konsultasikan dengan Teman Kerja

Mengalami kesulitan saat menyelesaikan pekerjaan adalah hal yang sangat wajar. Apalagi jika ini adalah pertama kalinya kita bekerja secara profesional di sebuah perusahaan. Tidak apa-apa, jangan terburu-buru merasa diri gagal. Tidak ada manusia super di dunia ini. Diskusikan kesulitanmu dengan rekan kerja. Jangan malu, bertanya juga bukan berarti dirimu kurang. Siapa tahu, mungkin dengan berdiskusi dengan rekan kerja, kamu justru mendapat inspirasi untuk menyelesaikan pekerjaanmu dengan lebih baik.

Sebuah penelitian menyatakan, menjalin hubungan yang baik dengan rekan kerja adalah hal penting supaya merasa nyaman dan senang dalam melakukan pekerjaan. Dengan menjalin hubungan yang baik, kamu dapat mendiskusikan permasalahan kerja yang dirasakan bersama rekan kerja lainnya, memperoleh dukungan emosional dan tidak pusing sendiri atas kesulitan yang dirasakan.

Sedih dan mengalami ketakutan pada fase transisi seperti itu wajar. Mungkin kamu heran sendiri mengapa kamu harus sedih dan takut padahal hidupmu rasa-rasanya indah dan sempurna. Mungkin kamu jadi menyimpan semuanya sendiri karena takut dianggap tak bersyukur oleh teman-temanmu. Tapi percayalah, menyimpan semuanya sendiri juga tidak baik. Hal yang kamu alami juga cukup lumrah dialami oleh orang-orang di usiamu. Ada baiknya kamu juga mencari informasi mengenai quarter life crisis, sebuah periode kebingungan di usia 20-an karena banyaknya pilihan dan perubahan hidup yang harus dialami. Selain itu, jangan lupa bercerita pada orang yang kamu percaya. Bisa jadi, teman-temanmu juga mengalami hal yang serupa dan kalian bisa saling memahami dan menjadi dukungan moral bagi satu sama lain.

Semangat selalu, Nail! Meskipun dunia kerja banyak memberi kejutan, ia tetap tempat yang sangat menyenangkan!

 

*Ayunda Zikrina, Pemimpin Redaksi Pijar Psikologi

_____________________________________________________________________________

Punya masalah psikologis yang ingin dikonsultasikan? Tim Pijar Psikologi siap menjawab semua keresahan, kegelisahan, dan kebrutalan hidup kalian dengan serius (iya, seriusan).