Tips hemat keluarga setelah kelahiran bayi perlu mulai diterapkan sejak awal agar pengeluaran rumah tangga tidak semakin membengkak. Kehadiran anggota keluarga baru memang membawa banyak kebutuhan tambahan, tetapi bukan berarti orang tua harus membeli semua perlengkapan bayi sekaligus.
Ketika bayi baru lahir, tidak hanya tangis orang tua yang pecah, dompet juga ikutan pecah. Tagihan persalinan, susu, popok, dan perlengkapan mandi langsung datang bersamaan. Banyak pasangan baru kaget ketika mendapati bahwa pengeluaran bulanan mereka melonjak berkali-kali lipat. Padahal, dengan perencanaan matang, orang tua bisa mengendalikan sebagian besar lonjakan itu sejak awal.
Orang tua bisa memulai tips hemat keluarga dengan menyusun ulang anggaran rumah tangga. Dahulukan kebutuhan pokok bayi, seperti gizi dan kesehatan. Tunda pembelian perlengkapan yang belum terlalu dibutuhkan agar pengeluaran tetap terkendali.
Tips Hemat Keluarga dengan Menyusun Ulang Anggaran
Pertama, catat semua pengeluaran selama dua bulan terakhir. Kelompokkan pengeluaran tersebut menjadi kebutuhan, tabungan, dan keinginan. Banyak keluarga ternyata menghabiskan ratusan ribu rupiah untuk langganan streaming, kopi kekinian, dan ojek online. Pangkas pengeluaran tersebut lebih dulu.
Selanjutnya, hitung kebutuhan bayi setiap bulan. Misalnya, sepasang suami istri di Depok memiliki pemasukan Rp8 juta per bulan. Mereka mengalokasikan Rp1,5 juta untuk kebutuhan bayi dan Rp1 juta untuk dana darurat. Sisanya mereka gunakan untuk membayar cicilan, listrik, dan makan sehari-hari. Jumlahnya bisa berbeda pada setiap keluarga, tetapi prinsip pembagian anggarannya tetap sama.
Orang tua juga perlu menyiapkan dana darurat. Idealnya, keluarga dengan anak memiliki tabungan sebesar enam hingga dua belas kali pengeluaran bulanan. Jumlah itu memang tidak sedikit, tetapi kamu bisa mengumpulkannya secara bertahap. Misalnya, sisihkan Rp500 ribu setiap tanggal gajian melalui autodebet. Simpan uang tersebut di rekening terpisah agar tidak tercampur dengan uang belanja.
Jangan lupa mengurus administrasi kesehatan bayi. Segera daftarkan bayi baru lahir sebagai peserta BPJS Kesehatan dan bayar iurannya paling lambat 28 hari setelah lahir. Jika terlambat, bayi tidak mendapat jaminan layanan dan iuran berjalan sejak hari lahir. Tanyakan prosedur terbaru ke kantor BPJS terdekat atau lewat aplikasi Mobile JKN.
Setelah mengatur anggaran dan jaminan kesehatan, orang tua perlu lebih cermat saat membeli perlengkapan bayi. Tidak semua barang harus tersedia sejak hari pertama. Dahulukan kebutuhan yang cepat habis dan rutin digunakan agar pengeluaran tidak membengkak.
Tips Hemat Belanja Perlengkapan Bayi
1. Popok dan Kebutuhan Harian
Popok menjadi salah satu kebutuhan yang bakal menguras tabungan. Bayi baru lahir memakai sepuluh lembar atau lebih per hari. Jika satu pak berisi 40 lembar seharga Rp80 ribu, orang tua perlu menyiapkan sekitar Rp600 ribu per bulan. Untuk menghemat pengeluaran, orang tua bisa menerapkan tips hemat dengan membandingkan harga per lembar dan manfaatkan promo marketplace untuk mendapatkan popok dengan harga lebih murah.
Popok kain modern atau clodi menawarkan alternatif. Modal awalnya lebih besar, tetapi kamu bisa memakainya berulang kali. Namun, mencuci popok kain menuntut waktu dan tenaga. Karena itu, banyak orang tua memadukan pemakaian clodi di rumah dan popok sekali pakai saat bepergian. Campuran ini memangkas biaya dan menghemat tenaga.
2. Pakaian, Stroller, dan Perabot
Bayi tumbuh dengan cepat sehingga pakaian ukuran newborn biasanya hanya terpakai dalam waktu singkat. Karena itu, orang tua tidak perlu buru-buru membeli banyak pakaian baru setiap kali ukuran bajunya sudah kekecilan.
Orang tua bisa menerapkan tips hemat dengan memanfaatkan pakaian lungsuran dari teman atau saudara. Jika ingin membeli sendiri, cari pakaian preloved di grup jual-beli Facebook atau Instagram. Harganya lebih murah, sementara orang tua tetap bisa mendapatkan pakaian yang masih layak pakai.
Sementara itu, boks bayi, stroller, dan baby bouncer cukup kamu pinjam atau beli bekas. Cukup cek kebersihan dan keamanannya sebelum membayar. Tunda belanja besar sampai bayi berusia dua bulan. Dengan begitu, kamu tahu barang mana yang benar-benar terpakai. Hindari beli paket perlengkapan bayi karena biasanya sebagian barangnya cuma menumpuk di lemari.
3. Tekan Biaya Kesehatan dan Makanan Tanpa Memangkas Gizi
Gizi bayi memangkas pos terbesar dalam anggaran bayi. Susu formula untuk usia 0-6 bulan berharga sekitar Rp100 ribu sampai Rp260 ribu per kemasan 400 gram. Bayi menghabiskan beberapa kemasan tiap bulan.
Ibu menyusui tetap butuh makanan bergizi, tetapi pengeluarannya lebih kecil daripada belanja susu formula. Jika menyusui terasa sulit, temui bidan atau konselor laktasi di puskesmas sebelum membeli susu formula. Jika dokter menyarankan susu formula, ikuti rekomendasinya.
Imunisasi dasar tidak perlu membebani dompet. Posyandu, puskesmas, dan rumah sakit mitra BPJS Kesehatan menyediakan vaksin dasar tanpa biaya. Sejak 2024, Kemenkes menambah daftar itu dengan vaksin PCV dan rotavirus. Catat jadwal di buku KIA dan datang saat jadwal tiba. Bidan atau petugas posyandu bisa menjelaskan jadwal terbaru.
Saat bayi berusia enam bulan, kebutuhan MPASI mulai menambah pengeluaran keluarga. Salah satu tips hemat keluarga yang bisa diterapkan adalah memasak makanan bayi sendiri. Bubur instan kemasan memang praktis dan tidak merepotkan, tetapi harganya relatif mahal. Jika punya waktu, orang tua bisa memasak MPASI sendiri menggunakan telur, hati ayam, ikan lele, tahu, dan tempe.
Pasar tradisional menyediakan bahan makanan itu dengan harga ramah. Hati ayam dan telur kaya zat besi dan protein. Bubur buatan sendiri lebih murah, segar, dan mudah menyesuaikan selera bayi.
Kebiasaan Kecil yang Bertahan Setelah Popok Terakhir
Mengurus bayi memang membutuhkan biaya tambahan, tetapi orang tua tidak harus membeli semua perlengkapan yang tersedia di pasaran. Dahulukan kebutuhan pokok, manfaatkan barang yang masih layak pakai, dan sisihkan sebagian pemasukan untuk dana darurat.
Dengan menerapkan tips hemat keluarga secara konsisten, orang tua bisa memenuhi kebutuhan si kecil sekaligus menjaga kondisi keuangan tetap stabil.