Tapal kuda Jawa Timur adalah sebutan untuk kawasan timur provinsi ini yang peta wilayahnya melengkung seperti tapal kuda. Kawasan ini mencakup Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi. Ciri khas yang menonjol adalah perpaduan budaya Jawa dan Madura yang kental. Nama lain dari wilayah ini adalah Pandhalungan.
Buka peta Jawa Timur, lalu ikuti garis pantai utara mulai dari Pasuruan, menikung di Banyuwangi, dan kembali lewat Lumajang di selatan. Bentuknya melengkung itulah yang merupakan wilayah tapal kuda.
Istilah tapal kuda Jawa Timur tidak punya status administratif resmi. Orang memakainya sebagai sebutan geografis dan budaya. Tujuh kabupaten yang berada di jalurnya melengkung mengitari Gunung Bromo sampai Selat Bali. Penduduknya memadukan tradisi Jawa dan Madura, ditambah suku Osing dan Tengger.
Bayangkan kawasan ini sebagai rumah besar dengan tujuh kamar. Tiap kamar punya isi berbeda, tetapi penghuninya berbagi dapur, bahasa, dan kebiasaan yang hampir sama. Karena itu, orang Jember dan orang Banyuwangi berbeda logat, tetapi saling mengenali sebagai tetangga.
Asal Usul Nama dan Lahirnya Budaya Pandhalungan
Pada abad ke-19, pengusaha Belanda membuka perkebunan di wilayah Besuki dan sekitarnya. Kebun tebu, tembakau, dan kopi membutuhkan banyak tenaga kerja dan pekerja lokal tidak mencukupi. Akhirnya pengusaha belanda mendatangkan orang Madura dari seberang selat. Mereka kemudian menetap dan menikah dengan penduduk Jawa setempat. Lahirlah percampuran budaya.
Salah satu produk percampuran budaya yang paling mudah dikenali adalah bahasa. Penutur Jawa memungut kosakata Madura, dan penutur Madura menyerap kosakata Jawa. Kemudian lahirlah bahasa khas yang hanya ditemukan di wilayah ini.
Tidak hanya bahasa, penduduk juga mencampur makanan dan kesenian sehingga hasilnya apa yang dikenal sebagai Pandhalungan. Banyak peneliti mengaitkan kata ini dengan dhalung, yang berarti periuk besar tempat berbagai bahan dimasak dan bercampur menjadi satu.
Misalnya kamu masuk ke sebuah warung di Jember. Kamu akan mendengar pembeli memesan dalam bahasa Madura dan penjual menjawab dengan logat Jawa. Keduanya saling paham tanpa penerjemah.
Namun, Tapal Kuda bukanlah kawasan dengan karakter yang seragam. Meski memiliki jejak percampuran budaya Jawa dan Madura, setiap kabupaten punya ciri khasnya sendiri, mulai dari tradisi, kuliner, hingga potensi wisata. Ada yang dikenal lewat festival budaya, ada pula yang identik dengan perkebunan dan bentang alamnya.
Tujuh Wilayah dengan Karakter Masing-Masing
Pasuruan dan Probolinggo berada di sisi barat kawasan ini. Lumajang dan Jember membentang di bagian selatan, sedangkan Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi berada di sisi timur. Ketujuh kabupaten tersebut memiliki daya tarik yang berbeda-beda.
- Pasuruan. Kawasan industri Rembang menampung banyak pabrik, sedangkan wisatawan memakai jalur Tosari untuk naik ke Bromo.
- Probolinggo. Pemburu matahari terbit Bromo memilih Cemoro Lawang sebagai gerbang. Petani setempat juga menanam mangga dan anggur.
- Lumajang. Semeru, puncak tertinggi di Pulau Jawa, menjulang di sini. Pelancong memburu Air Terjun Tumpak Sewu, dan pembeli membawa pulang pisang agung.
- Jember. Kota kampus ini menggelar Jember Fashion Carnaval sejak 2003. Pengunjung juga bisa ke Pantai Papuma dan kebun tembakau.
- Bondowoso. Warga menjuluki daerahnya Republik Kopi, dan petani di dataran tinggi Ijen-Raung menanam kopi arabika.
- Situbondo. Orang menjuluki savana luas di Taman Nasional Baluran sebagai Africa van Java. Pengunjung singgah di Pantai Pasir Putih di utara.
- Banyuwangi. Pendaki melihat api biru di Kawah Ijen, dan kapal dari Pelabuhan Ketapang menyeberang ke Bali.
Fakta Menarik Tapal Kuda Jawa Timur yang Jarang Orang Tahu
Kamu mungkin familiar dengan Bromo atau Ijen, tetapi kawasan ini masih punya cerita lain yang layak kamu simak.
1. Kuliner hasil percampuran budaya
Di Pasuruan, ada lontong kupang yang menjadi salah satu kuliner khas daerah ini. Pedagang mengolah kupang, kerang laut kecil seukuran biji kedelai, dengan rempah-rempah, lalu menyajikannya bersama lontong, petis, dan bawang putih.
Bergeser ke Bondowoso, tapai menjadi salah satu oleh-oleh yang banyak diburu pengunjung. Sementara itu, Lumajang punya pisang agung yang kerap dibawa pulang sebagai buah tangan.
Banyuwangi juga punya kuliner yang tak kalah unik, yaitu rujak soto. Hidangan ini memadukan sayuran berbumbu petis dengan kuah soto daging. Kombinasinya mungkin terdengar tidak biasa bagi pendatang, tetapi bagi warga setempat, rujak soto sudah menjadi salah satu pilihan menu sarapan.
2. Savana Afrika di Pulau Jawa
Di daerah Baluran, kamu bisa menemukan savana, hutan musim, dan pantai indah dalam satu kawasan. Pada musim kemarau, banteng, rusa, dan merak berkeliaran di padang rumput yang menguning. Pengunjung merasa sedang berada di Afrika saat melihat mereka.
3. Tembakau Besuki untuk pembungkus cerutu
Petani di Jember, Bondowoso, dan Situbondo menanam tembakau Besuki Na-Oogst setelah panen padi. Istilah Na-Oogst berasal dari bahasa Belanda dan berarti setelah panen. Pabrik mengolah daunnya menjadi pembungkus cerutu untuk pasar Eropa. Jadi, cerutu mahal di Eropa bisa jadi berasal dari sebuah ladang di pelosok Jawa Timur.
4. Api biru di Kawah Ijen
Gas belerang yang terbakar di Kawah Ijen menghasilkan nyala biru pada malam sampai dini hari. Hanya segelintir tempat di dunia punya fenomena serupa. Pendaki berangkat dari pos Paltuding sebelum fajar supaya sampai di kawah saat gelap. Di siang hari, penambang tradisional memikul bongkahan belerang kuning dari dasar kawah.
5. Jalan raya yang berubah jadi catwalk
Tidak hanya alam. Pandhalungan juga punya festival budaya yang terkenal. Tiap bulan Juli, orang-orang berbagai daerah bakal memadati jalan raya Jember saat Jember Fashion Carnaval digelar. Peserta berjalan mengenakan kostum raksasa buatan tangan.
6. Bahasa Madura di luar pulau asalnya
Bahasa Madura di kawasan ini berbeda dari bahasa Madura di pulau asalnya. Penutur menyisipkan kosakata Jawa dan menggeser sebagian lafal.
Di Jember misalnya. Warga menyebut campuran bahasa sebagai Jemberan, yaitu bahasa Jawa ngoko yang menyisipkan kosakata Madura. Penuturnya memakai tiga ragam bahasa, Jawa berlogat Madura, bahasa Madura yang terasa Jawa, dan dialek Pandhalungan sendiri. Sebagian kosakatanya tidak ada di bahasa Jawa maupun Madura.
Di percakapan sehari-hari kamu akan mendengar Jawa, Madura, dan Indonesia bercampur dalam satu obrolan. Misalnya, seseorang membuka kalimat dalam bahasa Jawa, menyela dengan istilah Madura, lalu menutup dengan bahasa Indonesia. Sebagian orang menjuluki kawasan ini Madura Swasta.
Tapal Kuda Punya Cerita Sendiri
Selama sekitar dua abad, pendatang dari Madura dan penduduk lokal Jawa di tapal kuda Jawa Timur saling meminjam bahasa, resep, dan adat. Hasilnya adalah akulturasi yang bisa kamu rasakan di piring, bahasa, dan budaya.
Tapal Kuda bukan cuma soal tujuh kabupaten yang kalau dilihat di peta membentuk lengkungan seperti tapal kuda. Kawasan ini juga punya cerita tentang orang-orang dengan latar budaya berbeda yang hidup berdampingan, saling memengaruhi, dan akhirnya membentuk identitas Pandhalungan. Jadi, kalau bahasa, makanan, sampai kebiasaan warganya terasa campur-campur, ya, memang di situlah salah satu keunikan Tapal Kuda.