Keberhasilan Como 1907 atau Como mengalahkan MU di Liga Champions dengan skor 4-1 menyisakan banyak sekali cerita. Tidak hanya cerita tentang betapa makin terpuruknya MU. Ceritanya juga terkait bagaimana perjalanan Como dalam menaiki tangga kesuksesan dalam beberapa tahun ini, terutama setelah Djarum mengakuisisinya pada 2019. Sorotan juga tertuju pada satu nama: Mirwan Suwarso, sang presiden klub.
Nama Mirwan Suwarso tentu tidak bisa kita lepaskan dari kesuksesan Como. Mirwan, yang ditunjuk Djarum untuk menjadi Presiden Como, berhasil membawa tim ini bangkit dari jurang keterpurukan. Como yang awalnya masih terjerembab di Serie D (kasta keempat kompetisi sepak bola Italia), berhasil naik ke kasta tertinggi kompetisi alias Serie A. Tidak hanya itu, Mirwan juga berhasil membawa Como berlaga di kompetisi Eropa.
Lalu muncul satu pertanyaan, siapa sebenarnya Mirwan Suwarso? Bagaimana rekam jejaknya sehingga bisa membawa Como, tim kecil yang awalnya bermain di Serie D, bisa berlaga di Serie A dan Liga Champions?
Lulusan Purdue University yang mengawali karier di dunia agensi periklanan
Mirwan Suwarso lahir di Madiun, Jawa Timur, pada 18 Februari 1971. Meski bukan berasal dari kota metropolitan, Mirwan berhasil mengenyam pendidikan hingga ke luar negeri. Mirwan berkuliah di Purdue University, Indiana, dan mengambil jurusan Consumer Science and Retail. Latar belakang pendidikan ini jadi dasar dan modal utama karier Mirwan selanjutnya.
Sejak awal, Mirwan Suwarso sebenarnya sudah akrab dengan dunia pengelolaan klub sepak bola. Bersama adiknya, Marvin Suwarso, ia pernah memegang hak pengelolaan tim asal Kabupaten Bogor, Persikabo, pada tahun 2000-2002. Namun, karier profesional Mirwan berawal dari dunia kreatif, tepatnya menjadi Account Director di perusahaan periklanan dan komunikasi multinasional asal Inggris, Saatchi & Saatchi pada 2001-2003.
Dari dunia periklanan, lalu melebarkan sayap ke dunia perfilman
Setelah berkarier di dunia periklanan, MIrwan melebarkan sayap kariernya ke dunia perfilman. Pada tahun 2007, Mirwan Suwarso menjabat sebagai Direktur sebuah production house bernama Destiny Films. Bersama Destiny Films, Mirwan pernah menyutradarai dan memproduseri beberapa judul karya. Beberapa di antaranya adalah Susahnya Jadi Perawan (2008) dan Golden Goal (2008). Karier Mirwan di Destiny Films bertahan hingga tahun 2012.
Pada tahun 2012, Mirwan menduduki posisi Head of Creative di MSP Entertainment, sebuah agensi perusahaan yang berkecimpung di dunia sportainment. Dari sinilah Mirwan seakan kembali ke dunia sepak bola serta mulai bersinggungan dengan Djarum Group. Bersama MSP Entertainment, Mirwan mengelola sebuah portal sepak bola bernama Super Soccer. Di Super Soccer, tepatnya Super Soccer TV, Mirwan menjabat sebagai Business Development Director sejak 2010 hingga 2022.
Super Soccer TV, Mola TV, hingga menjadi Presiden Klub Como 1907
Super Soccer TV mungkin jadi pijakan Mirwan Suwarso berkecimpung di dunia sepak bola secara kaffah. Melalui Super Soccer TV, Mirwan yang bekerja sama dengan Djarum Group membuat berbagai macam konten sepak bola. Selama 10 tahun sejak 2010-2020, Mirwan bersama Djarum Group berhasil menjadikan Super Soccer TV menjadi salah satu kanal sepak bola terbaik.
Setelah berkarier di Super Soccer TV, Mirwan kemudian menjadi Chief Executive Officer (CEO) dari Mola TV. Bersama Mola TV, Mirwan memelopori penyiaran konten olahraga berskala internasional di Indonesia, termasuk hak siar Liga Inggris. Selama 2020-2025, Mirwan juga berhasil menjadikan Mola TV sebagai salah satu layanan video on demand terbaik sebelum akhirnya tutup pada akhir 2025.
Kombinasi antara intuisi bisnis hiburan, pengelolaan konten digital, dan strategi pemasaran olahraga membuat Djarum Group akhirnya mengajak dan memberi kepercayaan besar padanya untuk memimpin pengambilalihan dan operasional Como. Djarum Group lalu menunjuk Mirwan Suwarso menjadi Presiden Como.
Membawa Como keluar dari jurang keterpurukan dan menapaki jalan kesuksesan
Perjalanan Como dimulai saat Djarum Group, melalui Sent Entertainment, mengakuisisinya pada pertengahan 2019. Saat itu, Como masih berlaga di Serie D (kasta keempat kompetisi sepak bola Italia) dan sedang mengalami badai pailit. Berbekal latar belakang bisnisnya, Mirwan tidak mengusung pendekatan konsumtif. Ia memilih fokus di masalah fundamental klub, serta menciptakan efisiensi operasional.
Hasilnya tidak main-main. Como berhasil lepas dari badai pailit. Secara bertahap, Como naik kasta dari Serie C, Serie B, hingga menembus Serie A pada musim 2023/2024. Tidak cukup di situ, Como juga akhirnya menyegel tiket ke panggung termegah Eropa, Liga Champions. Como menjadi tim yang sudah tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.
Keberhasilan Mirwan Suwarso bersama Como bukanlah kebetulan semata. Itu adalah buah dari eksekusi strategi terukur yang berfokus pada empat pilar utama. Pertama, adalah pengelolaan finansial yang sehat. Berbeda dengan klub kaya yang hobi membeli pemain bintang harga fantastis, Mirwan menerapkan efisiensi anggaran. Mirwan lebih memilih untuk mengalokasikan dana untuk infrastruktur jangka panjang, perbaikan stadion, dan akademi.
Pilar kedua adalah perekrutan figur tepat & analisis modern. Langkah strategisnya adalah merangkul legenda sepak bola seperti Cesc Fabregas sebagai pelatih, dan Thierry Henry sebagai investor. Selain itu, pendekatan scouting-nya menggabungkan analitik data modern dengan pemain muda berprospek tinggi. Kita bisa lihat sekarang skuad Como yang didominasi oleh talenta muda seperti Nico Paz, Maximo Perrone, hingga Martin Baturina.
Faktor ketiga adalah pemberdayaan komunitas lokal. Mirwan memastikan Como menyatu dengan masyarakat lokal. Merchandise klub diproduksi dengan memberdayakan UMKM di Kota Como, dan sebagian hasil usaha dikembalikan untuk pembangunan fasilitas publik warga setempat. Terkait hal ini, kita juga perlu beri apresiasi kepada Mirwan dan jajaran direksi Como yang memberikan kursi VIP mereka untuk para fans sepuh Como pada laga debut di Liga Champions melawan RB Leipzig. Mirwan dan jajaran direksi memilih untuk membaur di tribun suporter.
Terakhir, yaitu strategi branding sportainment. Mengandalkan latar belakang media dan periklanan, Mirwan mengemas Como tidak hanya sebagai tim sepak bola, tetapi juga lifestyle brand global yang juga memanfaatkan daya tarik pariwisata Danau Como.
Masa depan cerah Como di bawah tangan dingin Mirwan Suwarso
Saat ini, Como bukan sekadar klub indah di tepi danau yang menjual eksotisme belaka. Di bawah kepemimpinan Mirwan Suwarso, klub ini bertransformasi menjadi entitas sepak bola modern yang siap menjajaki kesuksesan. Rekam jejak dan strateginya membuktikan bahwa kepemimpinan berbasis visi dan disiplin finansial sanggup membawa tim mana pun menaklukkan raksasa Eropa.
Maka bukan suatu hal yang mengherankan jika tim sebesar Manchester United atau MU, benar-benar dibuat hancur lebur oleh Como di hadapan publik Giuseppe Sinigaglia. Como berhasil melibas habis MU dengan skor telak 4-1 di ajang Liga Champions. Atas keberhasilan tersebut, serta kesuksesan Como sejak berada di bawah Djarum Group, nama Mirwan Suwarso perlu diberi kredit.
C’è solo un presidente! There is only one president. In Mirwan we trust!
View this post on Instagram