Satu abad bukanlah waktu yang sebentar untuk eksistensi sebuah lembaga pendidikan. Satu abad adalah waktu yang lama, waktu yang berdarah-darah, waktu yang melintasi berbagai masa, untuk bisa tetap bertahan dan berdiri kokoh. Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor di Ponorogo atau Pondok Pesantren Gontor Jawa Timur, sudah pernah mengalaminya. Mulai dari penjajahan, perjuangan kemerdekaan, pergolakan politik, hingga rentetan perubahan zaman.
Perjalanan panjang dan berliku itu kembali menjadi sorotan ketika gelaran Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) pada 19 September 2026. Dalam acara yang juga dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto, Pimpinan pondok pesantren Gontor K.H.Hasan Abdullah Sahal menyampaikan pidatonya, sekaligus mengulas kembali sejarah, perjalanan, serta dedikasi Gontor untuk Indonesia.
Pondok Pesantren Gontor Embrionya sudah ada sebelum 1926, mulai dari Pesantren Tegalsari hingga Gontor Lama
Sejarah Gontor memang tidak ujug-ujug dimulai di tahun 1926. Embrio kelahiran Gontor yang kita kenal bahkan sudah ada jauh sebelum 1926. Embrio Gontor sudah muncul di Pesantren Tegalsari pada abad ke-18 yang didirikan oleh Kyai Ageng Hasan Besari. Di sanalah lahir sosok kyai muda bernama Sulaiman Jamaluddin.
Setelah merampungkan pendidikannya di Tegalsari, Kyai Sulaiman Jamaluddin diberikan mandat oleh mertuanya, yaitu Kyai Hasan Khalifah, untuk membangun pesantren di daerah Gontor. Daerah Gontor berjarak sekitar 3 kilometer dari Tegalsari. Daerah itu sebelumnya adalah kawasan hutan yang jadi tempat persembunyian para perampok dan penjahat.
Maka berdirilah sebuah pesantren baru yang akhirnya dikenal sebagai Gontor Lama. Gontor Lama bertahan sampai awal abad ke-20 dan sudah berada di bawah pimpinan 3 generasi. Pimpinan terakhir, K.H.Santoso Anom Besari wafat pada tahun 1918 dan menjadi momen kemunduran Gontor Lama. Informasi lengkap Gontor Lama dapat Anda baca lebih dalam melalui tautan berikut ini.
Hidup kembali oleh Trimurti dan menjadi Pondok Pesantren Modern Gontor
Nyai Santoso, istri K.H.Santoso Anom Besari, tidak mau Gontor mati begitu saja. Dalam upaya mempertahankan Gontor, Nyai Santoso mengirim tiga anak laki-laki dari total tujuh anaknya untuk belajar ke berbagai lembaga pendidikan. Harapannya, ketiga anak laki-lakinya tersebut dapat menghidupkan kembali Gontor.
Maka setelah selesai menimba ilmu, kembalilah ketiga anak tersebut. Mereka adalah K.H.Ahmad Sahal, K.H.Zainuddin Fanani, dan K.H.Imam Zarkasyi yang dikenal sebagai Trimurti. Pada 20 September 1926, tepatnya dalam peringatan Maulid Nabi, ketiganya menghidupkan kembali Gontor dan menamakannya Pondok Pesantren Modern Gontor.
Pendidikan Gontor pada masa awal berlangsung dengan fasilitas yang sangat sederhana. Program Tarbiyatul Athfal menjadi langkah awal pendidikan pada 1926. Para santri bahkan belajar dengan sarana seadanya, termasuk di bawah pepohonan dan menggunakan penerangan sederhana pada malam hari.
Program pendidikan modern baru terbentuk pada tahun 1936 dengan adanya Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah atau KMI. Program KMI menggunakan masa pendidikan enam tahun dengan tujuan mencetak guru-guru Islam. Pendidikan agama dan pengetahuan umum berjalan berdampingan, sementara bahasa Arab dan Inggris menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.
Gagasan tersebut menunjukkan arah pendidikan Gontor sejak awal. Pesantren tidak hanya ingin menghasilkan santri yang memahami ilmu agama, tetapi juga lulusan yang mampu berkomunikasi, berpikir, mengajar, dan berhadapan dengan dunia yang lebih luas.
Pondok Pesantren Gontor dalam masa perjuangan kemerdekaan Indonesia dan berbagai pergolakan politik
Gontor tidak hanya berperan dalam dunia pendidikan saja. Gontor juga ikut andil dalam upaya memperjuangkan dan merebut kembali kemerdekaan Indonesia. Ketika Indonesia memasuki masa penjajahan Jepang, sejumlah santri dan kyai Gontor bergabung dengan pasukan Hizbullah dan Sabilillah. Bahkan K.H.Imam Zarkasyi sempat menjadi pembina dan pendidik para pasukan Hizbullah di Cibarusa, Jawa Barat.
Pasca kemerdekaan, Gontor juga punya peran yang penting, khususnya dalam gejolak politik di Indonesia. Pada tahun 1948, ketika pecah Pemberontakan PKI di Madiun, Gontor menjadi salah satu sasaran. Ini disebabkan karena Gontor sempat jadi tempat rapat Partai Masyumi Ponorogo. Ketiga pendiri dan pemimpin Gontor (Trimurti) sampai harus mengungsi ke daerah Sooko di Mojokerto.Pondok terpaksa dikosongkan dan sekitar 200 santri meninggalkan Gontor secara bergelombang untuk menyusun perlawanan.
Peristiwa-peristiwa tersebut menjadi bagian dari sejarah Gontor yang menunjukkan bahwa perjalanan pesantren tidak selalu berlangsung dalam suasana tenang. Pendidikan dan perjuangan bangsa pada masa itu benar-benar berjalan beriringan.
Wakaf untuk umat, bukti dedikasi Gontor untuk Indonesia
Pada tahun 1958, para pendiri mewakafkan Pondok Modern Darussalam Gontor kepada umat Islam. Dengan keputusan tersebut, Pondok Pesantren Gontor tidak lagi menjadi milik pribadi para pendiri dan keluarganya. Mereka menyerahkan lembaga yang telah dibangun selama puluhan tahun agar terus berkembang untuk kepentingan umat.
Dalam pidatonya pada peringatan 100 tahun Gontor, K.H.Hasan Abdullah Sahal kembali menyinggung keputusan tersebut. Beliau menggambarkan wakaf itu bukan hanya sebagai penyerahan lembaga. Wakaf itu sebagai bentuk penyerahan ide, nilai, sistem, kepada umat. Sederhananya, semua yang ada di Gontor, dan semua yang lahir dari Gontor, bisa digunakan secara cuma-cuma untuk kepentingan umat.
Dari ‘nggon kotor’ menjadi ‘nggon inspirator’
Dalam pidatonya di depan Presiden Prabowo, K.H. Hasan Abdullah Sahal juga mengajak hadirin melihat kembali Gontor pada awal berdirinya. Dengan gaya khasnya namun tetap tegas dan menolak tunduk, beliau memplesetkan nama Gontor sebagai “nggon kotor” atau tempat yang saat itu masih penuh berbagai persoalan sosial dan keagamaan. Namun, beliau kemudian membaliknya menjadi “nggon inspirator”.
Celetukan tersebut bukan humor belaka. Beliau menggunakannya untuk menggambarkan perubahan Gontor selama satu abad. Gontor berawal dari hanya sekadar lembaga pendidikan sederhana di sebuah desa, menjadi sebuah pesantren modern yang melahirkan alumni dan jaringan pendidikan yang tersebar luas di mana-mana.
Pada akhirnya, Gontor memang tidak bisa lepas dari sejarah Indonesia. Bagi Indonesia, Gontor mungkin sudah seperti saudara tua yang lahir dari benih dan rahim yang sama. Ini selaras dengan pernyataan K.H. Hasan Abdullah Sahal yang menegaskan bahwa Gontor tidak ingin berhenti sebagai bagian dari sejarah. Dalam pidatonya, beliau mengajak generasi setelahnya untuk cerdas menyikapi sejarah dan ikut membangun sejarah serta peradaban.
Seabad Pondok Pesantren Modern Gontor memang bukan sekadar angka belaka. Ini adalah perjalanan panjang yang penuh pengorbanan, dedikasi, hingga pengabdian dan upaya penanaman gagasan pada tiap generasi.