ADVERTISEMENT

Senapan Buatan Indonesia Bukan Besi Rongsokan, Pindad SS2 Bikin Penasaran Kompetitor AS dan Australia Sampai Minta Dibongkar

pindad ss2 kebanggan senjata TNI, dibuat oleh PT Pindad

TNI menggunakan beragam senapan untuk memperkuat postur militer Indonesia. Mulai dari senapan serbu, senapan runduk, hingga senjata-senjata lain yang memang dirancang untuk kebutuhan khusus. PT. Pindad sebagai produsen senjata bertanggung jawab atas kseluruhannya. Namun, ada salah satu senapan yang paling lekat dengan persenjataan TNI, sekaligus paling sering digunakan. Namanya Senapan Serbu (SS) seri SS2 atau Pindad SS2.

Pindad SS2 merupakan generasi kedua dari jenis senapan serbu buatan Pindad. Senapan ini adalah pengembangan sekaligus bentuk mutakhir dari Pindad SS1. Pindad SS2 telah digunakan dalam berbagai kegiatan ketiga matra TNI, termasuk Korps Brimob. Senapan ini juga menjadi salah satu produk senjata Pindad yang paling populer karena kerap ikut kompetisi menembak militer internasional.

Spesifikasi Detail Pindad SS2

TNI menggunakan SS2
TNI menggunakan Senapan Serbu (SS2) (foto: U.S. Army Reserve)

Pindad SS2 bisa jadi adalah senjata yang paling sering kita lihat. Senjata ini jadi pegangan yang paling melekat dengan TNI, sebab kerap menempel dengan pasukan di kegiatan apapun. Mungkin termasuk pasaran, tapi performanya tidak main-main dan sudah terbukti paling bisa diandalkan. Senjata ini pertama kali dipesan oleh TNI pada 2005 untuk menggantikan Pindad SS1 yang sudah jadi tulang punggung sejak dekade 90-an.

Seri SS2 menggunakan amunisi kaliber 5,56 x 45 mm NATO dan memiliki sejumlah varian yang disesuaikan dengan kebutuhan. Bobot senjatanya juga tergolong ringan, apalagi kalau dibandingkan dengan SS1. Kisaran berat kosongnya ada di 3,2 kg sampai 4,5 kg. Pindad menyebut pengembangan SS2 membawa peningkatan pada performa, akurasi, daya tembak, serta kemudahan pengoperasian dibandingkan pendahulunya.

Secara bentuk fisik, Pindad SS2 ini perpaduan dari banyak senjata, termasuk senjata generasi sebelumnya. Kerangka utamanya masih berbasis FN FNC (Fabrique Nationale Carabine) dari Belgia, sama seperti Pindad SS2. Pada bagian flash suppressor (peredam api) mengadopsi bentuk dan fungsi dari senapan M16A2 milik Amerika Serikat. Desain laras dan ketahanannya terinspirasi dari senapan legendaris asal Uni Soviet, AK-47.

Singkatnya, Pindad SS2 ini paket lengkap. PT. Pindad sebagai produsen seakan memadukan beberapa elemen unggulan dari senjata-senjata lain, lalu meramunya dan menggabungkannya dalam satu senjata bernama SS2. Maka tidak heran kalau senjata ini laris banget dan jadi yang paling banyak dipakai.

Ragam varian senapan Pindad SS2

Pindad SS2 tentu saja bukan senapan yang hadir dalam satu jenis saja. Sejak kemunculannya pertama kali 20 tahun lalu, Pindan sudah merilis beberapa varian untuk seri SS2. Ada varian SS2-V1 sebagai varian standar dengan panjang 460 mm. Ada juga varian SS2-V2 sebagai versi karabin yang lebih pendek namun cocok untuk pertempuran jarak sedang dan mobilitas tinggi. Varian SS2-V5 jug ada untuk keperluan pertempuran jarak dekat.

Salah satu varian yang paling populer sekaligus paling disorot adalah SS2-V4. Senapan ini memiliki laras sepanjang 500 mm, kapasitas magasin 30 peluru, serta menggunakan sistem kerja gas-operated. Senapan ini memiliki pilihan mode penembakan semi otomatis dan otomatis penuh. Dalam sejumlah kegiatan, SS2-V4 juga digunakan oleh personel TNI AD. Pada kompetisi ASEAN Army Rifle Meet (AARM), misalnya, kontingen TNI AD menggunakan varian SS2-V4 Heavy Barrel bersama SS2-V2 Heavy Barrel.

Pindad juga sudah merilis versi upgrade SS2 yang mereka beri nama SS2-V4 A2. Versi terbaru ini jadi versi yang paling ergonomis, dengan popor teleskopik yang bisa disesuaikan panjang-pendeknya, juga dengan akurasi dan fleksibilitas yang lebih baik. Selain itu, ada juga SS2-V7 Subsonic, senapan yang dilengkapi silencer (peredam suara) dan amunisi subsonic (melesat dengan kecepatan di bawah suara) untuk berbagai operasi senyap.

Beberapa senjata laras panjang TNI lainnya

Meskipun populer dan paling banyak digunakan, Pindad SS2 tentu saja bukan satu-satunya senapan yang TNI pakai. Masih ada banyak senapan lain yang digunakan TNI untuk berbagai keperluan. Sebut saja Pindad SS3, varian dengan kalibernya lebih tinggi (7,62 x 51 mm NATO) yang memang dirancang sebagai main battle rifle untuk pertempuran jarak jauh.

Ada juga varian senapan runduk buatan Pindad yang bernama Pindad SPR (Senapan Penembak Runduk). Pindad punya SPR-1 dan SPR-3 yang kalibernya 7,62 x 51 mm. Ada juga senapan anti material SPR-2 yang kalibernya 12,7 x 99 mm, efektif untuk menembus kendaraan lapis baja. Lau ada juga SPR-4 dengan caliber .338 Lapua Magnum yang jarak tembak efektifnya sejauh 1.500 meter (1,5 kilometer).

Pindad SS2, tulang punggung sekaligus andalan TNI

Pindad SS2 memang jadi tulang punggung sekaligus andalan TNI saat ini. Dengan ragam varian dan fiturnya, segala kebutuhan TNI seakan sudah terpenuhi dalam satu seri senjata laras panjang. Mau perang jarak dekat, jarak jauh, atau sekadar ikut lomba menembak antar militer, SS2 sudah bisa mencukupi itu semua.

Penggunaan SS2 juga menunjukkan bagaimana perkembangan industri pertahanan dalam negeri. Meskipun TNI masih memakai senjata dari luar (non Pindad), tapi kebutuhan dasar senjata sudah dapat didukung oleh industri pertahanan nasional, dalam hal ini adalah PT. Pindad. Pindad sendiri secara konsisten mengembangkan keluarga SS dan berbagai produk persenjataan untuk memenuhi kebutuhan TNI. 

Bagaimanapun persepsi kita terhadap militer, bahkan sebenci-bencinya kita dengan dunia militer, kita tidak bisa menyanggah bahwa senjata laras panjang TNI seri Pindad SS2 adalah one of the best saat ini.

Pindad SS2 dan deretan juara di lomba tembak internasional

pindad ss2 di lintasan tembak internasional

Kalau ada yang meragukan kualitas senjata buatan dalam negeri, lintasan tembak internasional sudah lama menjawabnya. SS2 bukan cuma andal di lapangan, tetapi juga berkali-kali ikut mengantar TNI AD menjadi yang terbaik di kompetisi antar-angkatan darat.

Panggung terbesarnya adalah Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM), lomba tembak bergengsi di Australia. Pesertanya mencapai 18 negara dari kawasan Asia-Pasifik, ditambah beberapa negara dari benua Amerika dan Eropa. Di sinilah SS2 mencuri perhatian. Pada AASAM 2015, TNI AD menjadi juara, dengan Australia dan Amerika Serikat di posisi kedua dan ketiga. Saking penasarannya, kedua negara itu sampai meminta senapan SS2-V4 dan pistol G2 buatan Pindad dibongkar untuk diperiksa. 

Setahun kemudian, TNI AD kembali menjadi juara umum AASAM 2016, unggul atas Amerika, Inggris, Tiongkok, dan tuan rumah Australia. Tahun 2017 TNI AD membawa pulang 28 emas, 6 perak, dan 5 perunggu. Tahun 2018 raihannya naik menjadi 36 emas, 18 perak, dan 13 perunggu. Pada 2019, TNI AD menjadi juara umum AASAM untuk ke-12 kalinya secara berturut-turut, dan tiga penembaknya menyapu bersih juara 1, 2, dan 3 di Match Championship 104. Varian yang dipakai antara lain SS2-V4 HB, SS2-V2 HB, dan SS2-V1 HB. 

Di tingkat ASEAN, jejaknya juga panjang. SS1 dan SS2 disebut ikut membawa Angkatan Darat Indonesia menang di ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) XVI tahun 2006. Prestasi berlanjut dengan gelar juara umum AARM 2016 di Filipina, AARM 2017 di Singapura, dan AARM ke-31 tahun 2023 di Thailand. Pada AARM ke-32 tahun 2024, kontingen Indonesia meraih juara kedua dengan tiga medali emas, juga dengan SS2-V4 HB dan SS2-V2 HB. Secara keseluruhan, TNI AD tercatat 14 kali menjadi juara umum dalam 32 penyelenggaraan AARM. 

Tentu yang bertanding adalah para prajurit dan petembaknya. Tetapi senapan yang bisa dipercaya untuk lomba dengan ketelitian setinggi itu jelas bukan sembarang senapan, dan SS2 sudah membuktikannya berulang kali.

Diminta dibongkar, lalu dilirik negara lain

Kualitas SS2 sempat membuat para pesaingnya penasaran. Setelah kontingen TNI AD menjuarai AASAM 2015 di Victoria, Australia, pihak Amerika Serikat dan Australia yang menjadi kompetitor meminta senjata yang dipakai tim Indonesia dibongkar. Menariknya, yang diminta hanyalah senapan SS2-V4 Heavy Barrel dan pistol G2 (Elite dan Combat) buatan Pindad. Padahal tim Indonesia juga membawa senjata buatan luar negeri, seperti SO-Minimi dan GPMG buatan Belgia serta senapan runduk AW buatan Inggris. Rasa penasaran itu tertuju pada produk dalam negeri.

Perhatian tidak berhenti di lintasan tembak. Dirut Pindad saat itu, Silmy Karim, mengatakan pihaknya sedang berbicara dengan sejumlah negara di Timur Tengah dan Afrika yang tertarik pada SS2. Namanya belum bisa disebut karena belum ada kontrak. Ia menegaskan Pindad akan terus mengoptimalkan teknologi dan desain produknya, dan prestasi di kejuaraan hanyalah buah dari hal itu.

Baca Artikel lain Bukan Kapal Kaleng Krupuk, Berikut Keunggulan KRI Sriwijaya-100 Kapal Induk Pertama Milik Indonesia

Terakhir diperbarui pada 30 September 2026 oleh .

Iqbal AR

Penulis dan reporter lepas. Tinggal di Malang.