Perbedaan lotek dan gado-gado terletak pada tekstur bumbu kacang dan isi piringnya. Lotek memakai bumbu kasar hasil ulekan dengan kencur yang kuat, sedangkan gado-gado memakai bumbu halus yang kental dan manis. Selain itu, gado-gado dilengkapi telur rebus dan lontong, sementara lotek tampil lebih sederhana.
Bayangkan kamu adalah mahasiswa yang baru tinggal sebulan di Jogja. Suatu siang, kamu berdiri di depan warung dan kebingungan karena baru pertama kali berjumpa dengan lotek. Kamu bertanya apa bedanya dengan gado-gado. Si penjual menjawab “sama saja kak”, padahal tiap menu punya asal-usul sendiri.
Di Pulau Jawa, setidaknya ada enam hidangan yang menggunakan bumbu kacang sebagai bahan utamanya. Gado-gado dan ketoprak sama-sama lahir di Jakarta, dan keduanya memakai lontong. Pecel populer di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Lotek lahir di Yogyakarta, sedangkan kupat tahu terkenal sebagai makanan khas Magelang.
Perbedaan lotek dan gado-gado, juga empat hidangan lain, terletak pada empat hal. Pertama, warga tiap daerah punya selera sendiri. Misalnya, pekerja kantoran di Jakarta memilih gado-gado karena bumbunya kental dan mengenyangkan. Sebaliknya, warung di Yogyakarta mengulek bumbu lotek di depan pembeli, sehingga kamu mencium kencurnya sebelum suapan pertama.
Kedua, penjual karedok memakai sayur mentah, sedangkan penjual gado-gado, lotek, dan pecel merebus sayurnya.
Ketiga, penjual lotek mengulek bumbu kasar sampai butiran kacang terasa, sedangkan penjual gado-gado menghaluskannya sampai licin.
Keempat, tiap hidangan punya pelengkap karbohidrat. Pecel datang bersama nasi, kupat tahu bersama ketupat, dan gado-gado bersama lontong.
Lotek dan Gado-Gado
Gado-gado dan lotek sama-sama memakai sayur rebus dan bumbu kacang. Penjual gado-gado menyiram bumbu halus di atas sayur, sedangkan penjual lotek mengaduk bumbu kasar bersama sayur di cobek.
Gado-gado
Gado-gado lahir dari budaya Betawi dan identik dengan Jakarta. Penjual merebus kol, kacang panjang, dan tauge, lalu menambahkan kentang, tahu, tempe, telur, dan lontong. Kerupuk atau emping menutup piring. Di Jakarta, kamu menemukannya di warung pinggir jalan, kantin kantor, dan gerobak keliling. Seporsi menjadi makan siang lengkap.
Lotek
Lotek lebih dekat ke tradisi Jawa dan Sunda. Penjual mengulek kacang goreng, cabai, bawang putih, gula merah, dan kencur sampai teksturnya kasar. Akibatnya, rasa kencur menonjol dan pedasnya terasa segar. Lotek hadir dengan sayur rebus, tahu, tempe, lontong atau nasi, serta rempeyek. Telur tidak wajib. Di Yogyakarta, banyak orang memesannya sebagai sarapan di warung dekat pasar.
Penjual lotek biasanya akan menyiapkan dan mengulek bumbu untuk satu porsi, memasukkan sayur rebus, dan mengaduknya di cobek. Aromanya segar dan kencurnya terasa tajam.
Penjual gado-gado menghaluskan kacang sampai licin, lalu mengencerkannya dengan air matang dan menyiramkannya di atas sayur. Pada lotek, sayur rebus masuk ke cobek, dan penjual mengaduknya bersama bumbu. Kamu merasakan butiran kacang di lidah.
Kalau kamu butuh porsi mengenyangkan, pilih gado-gado. Sebaliknya, pilih lotek untuk rasa segar dan pedas.
Pecel dan Karedok
Pecel dan karedok memakai bumbu kacang berkencur. Pecel merebus sayurnya, sedangkan karedok membiarkannya mentah.
Pecel
Hidangan ini berasal dari Jawa Timur, dengan Madiun sebagai kota asal yang terkenal. Penjual menyiram sayur rebus dengan bumbu kacang pedas yang encer. Bumbu itu memakai kencur dan daun jeruk purut. Sebagian penjual menambahkan kemangi atau bunga turi. Nasi hangat, tempe goreng, dan peyek menemani. Penjual membungkus nasi pecel dengan pincuk daun pisang. Banyak warga Madiun sarapan pecel di pasar pagi.
Karedok
Karedok datang dari tanah Sunda. Sayurnya mentah: kol, timun, dan terong bulat. Sayur itu tidak melewati panci. Bumbunya mirip lotek, tetapi pedasnya lebih galak karena cabai rawit dan kencur masuk mentah ke cobek. Hasilnya renyah dan segar, tetapi rasa kencurnya menyengat. Di warung makan Sunda, karedok menemani nasi liwet dan ikan asin.
Kencur menjadi penanda rasa pada lotek, pecel, dan karedok. Rimpang ini beraroma tajam dan menyegarkan. Gado-gado memakai kencur lebih sedikit, jadi rasanya condong manis.
Kupat Tahu dan Ketoprak
Dua hidangan ini memakai tahu dan lontong atau ketupat. Meski begitu, komposisi dan asalnya berbeda.
Kupat Tahu
Kupat tahu populer di Magelang dan sebagian Jawa Barat. Penjual menata ketupat, tahu goreng, dan tauge rebus di piring, lalu menuang bumbu kacang encer dan kecap manis. Bawang goreng dan kerupuk melengkapinya. Bumbunya lebih encer daripada bumbu ketoprak, jadi piringnya terlihat basah. Tahu goreng mengisi porsi terbesar.
Ketoprak
Ketoprak berasal dari Jakarta. Isinya lontong, tahu goreng, bihun, tauge, dan timun, dengan bumbu kacang dan kecap manis. Bihun membedakan ketoprak dari gado-gado. Selain itu, ketoprak tidak memakai sayur rebus beragam. Penjual keliling di Jakarta memotong lontong dan tahu di atas piring, lalu menaburkan kerupuk dan bawang goreng. Porsinya ringan tetapi mengenyangkan.
Ciri Khas Tiap Hidangan
- Gado-gado dari Jakarta memakai sayur rebus, bumbu halus yang manis, dan lontong.
- Lotek dari tradisi Jawa dan Sunda memakai sayur rebus, bumbu kasar berkencur, dan lontong atau nasi.
- Pecel dari Jawa Timur memakai sayur rebus, bumbu pedas yang encer, dan nasi.
- Karedok dari tanah Sunda memakai sayur mentah, bumbu kasar yang pedas, dan lontong.
- Kupat tahu dari Magelang memakai tauge rebus, bumbu encer berkecap, dan ketupat.
- Ketoprak dari Jakarta memakai tauge dan timun, bumbu kental berkecap, serta lontong dan bihun.
Memilih Sesuai Selera
Kalau kamu suka hidangan yang pedas dan segar, pilih lotek dan karedok. Kalau sedang ingin yang manis gurih, gado-gado dan ketoprak pilihan yang cocok. Pecel dan kupat tahu cocok untuk kamu yang suka bumbu encer. Enam piring ini berbagi satu bahan, dan setiap daerah punya racikannya sendiri.